Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
82. Jangan main-main!


...Happy Reading...


Tidak ada daya dan kekuatan yang ada ditubuh Alisya, saat ada salah satu tangan kekar dan berotot membungkam mulutnya juga menarik tubuhnya untuk pergi dari sisi Nicholas saat itu.


Kejadian itu terjadi begitu cepat dan gerakan beberapa orang berpakaian serba hitam itu pun sangat gesit, sehingga kepergian Alisya tidak diketahui oleh Nicholas, apalagi keadaan disana ramai orang yang berteriak dengan heboh dan ketakutan.


Apalagi keadaan Nicholas lemas, saat satu tangan dan kakinya berhasil ditembak oleh pria berbaju hitam tadi.


"Hmpth... aaaaa... lepas!"


Alisya menangis ketakutan saat ini dan mencoba untuk bisa lepas dari pegangan tangan yang terasa kasar itu.


"Hei... ada apa ini, lepaskan dia! wanita ini istriku."


Saat Alisya masih mencoba memberontak, tiba-tiba Yoga sudah menunggu didepan kamar hotel mereka, sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai.


"Dengar nggak tuh, awas lepaskan aku!"


Alisya langsung mengibaskan lengannya dari cengkraman pria itu dan berlari mendekat kearah Yoga seolah mencari sebuah perlindungan.


"Pergi kalian!" Usir Yoga hanya dengan mengibaskan tangannya saja dan pria-pria itu pun patuh dan mengganguk lalu pergi berhembus begitu saja dari sana, bahkan tanpa berkata sepatah kata sekalipun.


"Kamu kenal mereka Yoga?" Tatapan Alisya mulai menyelidik.


"Enggak!" Jawab Yoga sambil menghisap puntung rokoknya dan menghembuskan asapnya ke wajah Alisya dengan tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Bohong!" Alisya langsung menyangkalnya begitu saja.


"Atas dasar apa aku harus mengenal mereka sayang?" Tanya Yoga sambil menoel dagu lancip milik Alisya.


"Lalu kenapa mereka seolah tunduk dan patuh denganmu?" Tanya Alisya kembali, walaupun Yoga seorang mafia, namun Alisya masih menggangapnya hanya sebagai teman masa mudanya dulu.


"Iya juga ya, atau mungkin mereka takut denganku? padahal wajahku nggak serem-serem amat kan, mana ganteng pula ya kan, ngapain mereka takut denganku?" Ucap Yoga seperti orang polos dan tidak mengenal kata dosa.


"Yoga, jangan bohong, apa mereka anak buahmu?" Alisya malah jadi gemas sendiri mendengarnya.


"Bagaimana aku bisa punya anak, kamu aja diajak buat anak nggak mau?" Ucap Yoga yang membuat Alisya hanya bisa memejamkan kedua matanya saja, karena Yoga selalu menjawab enteng semua pertanyaannya yang sebenarnya serius.


"Yoga, aku sedang berbicara serius!"


"Aku juga serius, bukannya kamu yang main-main tadi? apa kamu sudah puas main-mainnya dibawah sana?"


Degh!


Astaga, apa dia tahu kalau aku tadi bertemu dengan Nicholas, apa dia mengawasiku? atau mungkin memang pria-pria tadi anak buahnya? aish... bagaimana caranya aku bisa tahu semua tentangnya?


Otak Cerdas Alysa mulai berpikir, hidupnya akhir-akhir ini mulai berantakan dan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Siapa yang main-main, aku tadi pesen pembalvt, ehh... tiba-tiba ada sirine kebakaran dan..."


"Dan apa, apa terjadi sesuatu dibawah sana?" Tanya Yoga yang seolah ingin memancingnya.


Astaga, mas Nicholas? Apa dia baik-baik saja? huft... jangan panik, nanti aku bisa ketahuan, pasti Hanny dan pak Jeremy sudah menyelamatkannya, ya Tuhan.. tolong sembuhkan mas Nicholas.


"Entahlah, mungkin di dapur kafe kebakaran, kalau begitu aku masuk kedalam dulu Yoga."


Alisya sengaja tidak membahas sepenuhnya, dia ingin mencari tahu sendiri secara diam-diam,dia yakin semua ini pasti ada sangkut pautnya dengan suaminya.


"Itu saja? lalu kenapa pria-pria itu sampai membawamu paksa kemari, apa kamu melakukan sebuah kesalahan?"


Yoga memilih berjalan membuntuti istrinya setelah memastikan pintu kamar hotel itu tertutup.


"Kamu pasti mengenal mereka bukan?"


"Kamu juga pasti berbuat sesuatu dibawah sana kan?" Yoga kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"Apa kamu yang melakukan ini semua Yoga?" Alisya sudah menduganya, namun dia hanya ingin tau alasan Yoga saja.


"Melakukan apa sayang, apa kamu tidak bisa melihat, kalau aku tetap berada dikamar ini? bahkan aku menunggumu didepan kamar tadi kan, apa kamu sudah lupa?"


Yoga duduk sambil menyilangkan kedua kakinya sambil menatap wajah cantik istrinya sambil terus merokokdan memainkan asapnya, tanpa perduli ruangan itu ber AC sekalipun.


"Lalu kenapa kamu tahu jika aku... emm!" Alisya langsung membungkam mulutnya dan membuang arah pandangannya.


"Aku apa? Kamu kenapa? apa kamu selingkuh dariku?"


Yoga masih tetap terlihat tenang, tanpa mengeluarkan amarah sedikitpun.


"Yoga?" Tanpa sadar Alisya menaikkan intonasi suaranya,itu berhasil menguji kesabaran Yoga.


"Hei... dengar sini kamu, jangan coba-coba bermain-main denganku, aku sudah memperlakukan kamu dan keluargamu dengan layak, mengerti kamu!" Yoga bahkan menarik lengan Alisya dan mulai mencengkeram dagunya.


"Yoga, sakit!" Rintih Alisya seketika.


"Lebih sakit lagi aku, kamu berani bermain-main dengan pria lain dibawah sana bukan!" Bisik Yoga dengan penuh penekanan.


"Bukannya kamu juga bermain-main dengan wanita lain, bahkan kamu sampai melakukan zina dengannya!" Emosi Alisya seolah tidak terkendali, dia langsung menajamkan pandangannya ke arah Yoga.


"Itu karena kamu tidak bisa melayaniku sebagai seorang istri!" Jawab Yoga yang tidak menampiknya.


"Tapi nggak begitu juga Yoga!"


"Yoga, apa inti dalam hidupnya hanya tentang nafsv semata?" Alisya merasa dia bukan lagi Yoga teman sekolahnya dulu lagi, sifatnya sudah jauh berbeda.


"Itu juga sebuah kebutuhan Alisya!" Jawabnya dengan enteng, dia sebenarnya tidak ingin berbuat kasar sedikitpun dengan Alisya, karena memang dia mengagumi Alisya sejak dulu.


"Tapi nggak harus berzina juga kan, apa memang kebiasaan kamu selama ini selalu celap-celup sana sini sesuka hati?"


"Itu bukan urusanmu!" Yoga membuang arah pandangannya.


"Iya, aku rasa memang begitu, kita memang nggak cocok untuk hidup dalam satu rumah tangga, lebih baik mulai saat ini dan sampai seterusnya semua yang ada pada dirimu bukan lagi menjadi urusanku!"


"Maksud kamu apa?" Amarah Yoga kembali terpancing.


"Yoga, untuk apa kita teruskan rumah tangga yang seperti ini." Alisya sebenarnya juga tidak mau berteriak-teriak, dia ingin menyelesaikan semua masalahnya secara baik-baik.


"Seperti ini yang bagaimana maksud kamu?"


"Kenapa kamu masih bertanya? aku sama sekali tidak setuju dengan kelakuan kamu yang dengan mudahnya berbuat zina dengan wanita lain?"


"Apa kamu ingin aku setia hanya denganmu seorang? Lalu apa kamu bisa setia denganku saja dan berjanji tidak ada pria lain dalam hidupmu selain aku?"


Yoga kembali membalikkan sebuah pertanyaan yang memang langsung menohok ke arah Alisya.


Yoga bukan pria sembarangan, dia bisa tahu tentang apa yang ingin dia tahu dalam waktu sekejab saja.


Duar!


Alisya jadi bingung sendiri mau menjawabnya bagaimana dan seperti apa, pasalnya memang sejak dari awal dan sampai saat ini ada Nicholas dihatinya.


"Kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak bisa menjawabnya?" Yoga langsung tersenyum getir saat menatap wajah Alisya yang hanya bisa menunduk saja.


"Yoga, aku memang bukan wanita yang sempurna tapi aku tidak sampai berzina dengan pria manapun itu."


Akhirnya dia memilih jujur, karena sepertinya Yoga sudah tau semua tentangnya.


"Apa kamu fikir bahwa kamu itu sudah lebih baik dari aku?" Yoga kembali mendekati Alisya dan duduk dihadapannya.


"Yoga, jangan menyudutkan aku!"


"Aku tidak menyudutkan kamu sayang, kalau kamu memang tidak melakukan kesalahan kenapa harus takut mengakuinya?" Yoga tersenyum dengan liciknya.


"Itu kenapa lebih baik kita sudahi saja hubungan kita." Ucap Alisya yang tidka lagi bisa berpikir yang lain selain kata berpisah.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


"Yoga, kalau kamu lepas dariku bukannya kamu bisa bebas mau tidur dengan siapa pun dan dimanapun, kenapa kamu harus capek-capek menikah denganku?" Alisya tidak habis pikir dengan apa yang Yoga pikirkan dan inginkan dari dirinya.


"Itu urusanku, karena memang aku ingin memilikimu!"


"Yoga tolonglah, aku akan membayar hutangmu, jadi lepaskan aku!" Dia bisa meminta bantuan dengan Hanny nanti pikirnya.


"Sampai kapanpun itu aku tidak akan melepasmu, karena kamu adalah milikku!" Jawab Yoga dengan penuh penegasan.


"Hmpth.. Yoga!"


Alisya langsung kembali berontak saat Yoga menyambar bibiirnya dan memainkannya sesuka hati, apalagi bau asap rokok itu terasa menyengat dihidungnya.


"Kalau kamu ingin aku tidak berzina dengan wanita lain, layani aku, serahkan tubuhmu hanya untukku, aku pasti tidak akan mencari yang lain asalkan kamu tidak berkhianat denganku!"


"Lalu bagaimana kalau aku berkhianat?" Tanya Alisya kembali.


"Kamu tahu spongebobe?"


Tiba-tiba pertanyaan Yoga kembali menggelitik dan berhasil membuat mulut Alisya terngaga.


"Hah, Film kartun itu?"


Walaupun tidak pernah menonton film anak itu, tapi nama-nama tokoh kartun itu memang sangat populer.


"Dia pernah berkata, bagaimana jika suatu hari nanti aku mengkhianatimu? lalu si Patrike sahabatnya itu menjawab; mempercayaimu adalah keputusanku dan membuktikan bahwa keputusanku salah, itu adalah Pilihanmu, so... begitu juga denganku!"


"Haish... Film kartun itu terlalu bagus buat anak-anak!" Alisya sebenarnya paham dengan apa yang dia maksud.


"Jadi, bisakah kamu mencicilnya terlebih dahulu?" Yoga mulai kembali berulah dengan tingkahnya.


"Mencicil apa, kamu kira aku Bank bisa dicicil?" Alisya mulai menggeser tubuhnya menjauh dari Yoga.


"Kamu memang bukan Bank, tapi kamu adek Abang sayang!"


Yoga langsung mendorong tubuh Alisya ke atas ranjang dan mulai menindihnya, walaupun dia melewatkan bagian bawahnya, namun Yoga mampu bersenang-senang dibagian atasnya.


Ya Tuhan, sampai kapan cerita ini akan berakhir, aku harus bagaimana jika suamiku setiap saat nempel seperti ini jika berdekatan denganku?Babang Nicholas, cepatlah datang!


Alisya tidak bisa berbuat apa-apa, saat Yoga kini mencvmbvi tubuhnya, karena mau berontak pun dia tidak bisa, mau teriak minta tolong juga pasti hanya akan ditertawakan oleh orang, karena mereka berdua memang sah sebagai pasangan suami istri, lagi pula Yoga melakukan hal itu dengan penuh kelembutan, seharusnya dia tidak berteriak marah tapi wajarnya mende sah, namun inti permasalahnya, ini Yoga Pratama bukan Nicholas Anggara.


Dan kini Alisya hanya mampu berkata; "Kawula namung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukmo."


(Lakukan semua sebisa mungkin, setelah itu serahkan kepada Tuhan)


Pengennya sih To Be Continue tapi dunia nyata memaksa author untuk keluar dari dunia maya ini sejenak, jadi lanjut besok ya bestie, hehe...