Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Maafkan aku


Langit malam gelap gulita,guntur bergemuruh bersahut sahutan.Hujan turun dengan derasnya membasahi tanah yang mengering."Dinginnya malam ini,"lirihnya.Rio..lelaki ini kini tidak bisa memejamkan matanya setelah Cinta pulang kerumahnya.Bayangan kejadian tadi siang membuatnya membeku.Hatinya berdesir kala wajah Cinta melintas di benaknya.


Seumur hidupnya,baru kali ini ia merasakan dadanya berdebar debar,Degup jantungnya seperti akan meledak.Pipinya bersemu merah,senyumnya merekah kala mengingat wajah cantik itu."Inikah yang di namakan cinta?"ucapnya.


Cinta,wanita itu tengah berusaha memejamkan matanya.Namun pikirannya masih terus saja berputar-putar.Kini wanita itu benar-benar merasa malu dan berkecil hati.Nyalinya menciut jika nantinya bertemu dengan lelaki yang tengah menolongnya.Meski ia tidak mengingatnya,namun ia yakin.Ulahnya sudah pasti sangat memalukan,apalagi ia sedang dalam pengaruh obat perangsang.


Seingatnya ia berada di kamar mandi rumahnya sendiri.Dan ketika ia terbangun kenapa sudah ada di tempat tidur rumah Rio.Apalagi baju dan kerudung yang di kenakan bukanlah miliknya."Tidak mungkin Rio melakukan hal itu,lalu apa yang di lakukan lelaki itu mengatasi diriku?"gumamnya.


Ia merasa seperti wanita murahan,sungguh ia sangat takut jika harus bertemu lagi dengannya."Bukankah sebelumnya aku juga wanita murahan?" Jika saja Rio tahu tentang masa lalunya,apa tanggapannya?


akankah ia masih mau bertemu dengan wanita pendosa ini?


"Maafkan aku Yo,karena yang kau lihat ini hanyalah topengku untuk menutupi segala dosa-dosaku,"lirih Cinta.


Apalagi waktu di jalan tadi mereka berpas-pasan dengan seorang ibu-ibu.Sudah pasti itu akan jadi gosip terburuknya.Sudah biasa bagi Cinta jika orang-orang membicarakan keburukkannya.Namun ia tidak ingin jika Rio juga ikut menjadi bahan omongan orang karena keburukannya.


"Pendam dan kubur dalam-dalam Cinta,perasaanmu untuk lelaki itu,jangan biarkan cinta itu tumbuh bersemi di hatimu.Kau sangat tidak pantas untuknya,"lirihnya.


"Sekali lagi maafkan aku Rio untuk kebodohanku hari ini."


********


Pagi hari mentari bersinar cerah,setelah semalaman hujan deras mengguyur keringnya tanah di bumi.Sinarnya menerobos jendela kamar Milik Cinta,mengusik sang pemilik agar terbangun dari tidur nyenyaknya.Sebenarnya subuh tadi wanita itu sudah bangun,tapi karena merasa sangat letih dan begitu ngantuk,usai menjalankan kewajibannya ia mengambil selimut lagi.


Matanya mengerjap kala sinar sang surya menerangi wajahnya yang terlelap."Sudah siang ya,"lirihnya.


Cinta duduk di pinggiran kasurnya.Hari ini ia berniat ke cafe.Bukan untuk bekerja tapi ia berniat mengundurkan diri.Tidak mungkin Cinta kembali kerja di tempat itu.Setelah apa yang sudah terjadi kemarin,Cinta yakin bahwa atasannya itu yang menjadi dalangnya.


Baju panjang hingga menutupi sampai ke mata kakinya,juga kerudung yang membalut indah di bagian kepalanya hingga menjuntai sampai kedua tangannya tertutup.Cinta siap berangkat dengan tujuannya hari ini.


Seperti biasa,kendaraan yang paling di cintainya yaitu dengan berjalan kaki.Kini ia sudah terbiasa melangkahkan kaki meski terbilang jauh.


Baru sampai di jalan depan rumah tanpa sengaja Cinta menabrak seorang ibu-ibu yang membawa belanjaan.


"Eh kamu gak punya mata ya Cin?"cacinya sambil mendorong tubuh Cinta hingga jatuh ke tanah.


Baju hitam dan kerudung hitam pun terlihat sangat kotor begitu terkena jalanan yang berdebu."Astagfirulloh haladzim,"ucap Cinta.


"Maaf bu saya tidak sengaja."Cinta pun memunguti belanjaan ibu itu satu persatu."Ini bu belanjaannya,sekali lagi saya minta maaf bu."


Sang ibu itu pun langsung merebutnya."Jadi kotorkan belanjaanku kena tanganmu itu,heh menjijikkan."Belum ibu itu pergi datang ibu-ibu lain yang semalam berpas-pasan dengan Cinta.


"Iya bu saya juga jijik,tahu gak bu semalam Cinta habis jalan sama si Rio,anaknya bu Halimah dan pak Yusuf itu yang terkenal alim itu.Jangan-jangan Cinta habis nggodain Rio lagi.Soalnya ya bu aku lihat mereka keluar dari rumah Rio.Apa coba yang mereka lakukan berduaan di rumah itu kalau bukan main itu,"cerocos sang ibu yang baru datang.


"Astagfirulloh bu,itu tidak benar bu,"sangkal Cinta.


Meski mungkin itu benar-benar yang ia lakukan,tetapi ia tidak menyadari apa sudah ia lakukan.Semua di luar akal sehatnya.


"Halaaah,mana ada pela*ur mengaku,"hina mereka.


"Sabar Cinta,jangan sampai kau menangis di depan ibu-ibu itu,"ucapnya dalam hati menyemangati diri sendiri.


"Maaf bu saya permisi,"ucap Cinta segera.Tidak ingin mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan lagi, Cinta segera pergi meninggalkan ibu-ibu itu.


Ia kembali melanjutkan perjalanan.Tapi sayang sampai di depan rumah Rio,dia harus bertemu lagi dengan lelaki itu.Rasanya ia ingin sekali menyembunyikan wajahnya.Bersembunyi hingga tak terlihat lagi olehnya.


"Mau kerja ya Cin?"tanya Rio yang kebetulan sedang memanasi sepedha motornya.


"Tidak Rio,aku mau keluar cari kerjaan,"jawab Cinta yang terdengar sedikit kaku."Kalau gitu aku permisi dulu ya Yo,sedang buru-buru soalnya."


Melihat Cinta yang pergi begitu saja ia hanya memandangnya nanar."Mungkinkah ia merasa bersalah atas kejadian kemaren,tapi bukankah orang yang sedang seperti itu tidak akan mengingat apa yang sudah dia lakukan?"tanyanya dalam hati.


"Tunggu dulu,tadi Cinta bilang mau cari kerja? bukankah dia sudah bekerja di cafe itu? apa dia keluar dari tempatnya kerja ya? lebih baik aku susul dia."


"Cinta,"panggil Rio.


Cinta pun menoleh,melihat ke arah sumber suara.


"Rio,ada apa?"tanya Cinta.


Rio memberikan sebuah alamat."Datanglah ke alamat itu,ada perusahaan yang sedang butuh karyawan di bagian sales,"ucap Rio.


"Baik,terimakasih Rio,"kata Cinta.


"Kau tidak ingin bareng denganku,kebetulan aku kerja di sana juga,"tawarnya.


"Ah terima kasih Rio,tapi saya ada perlu sebentar.Berangkatlah nanti kamu terlambat,"tolak Cinta.


"Begitu ya,baiklah kalau begitu aku duluan ya Cin,"pamit Rio akhirnya.


Cinta pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya."Maaf Rio,sepertinya aku harus menjaga jarak darimu,aku tidak ingin perasaan dulu yang pernah ada akan tumbuh kembali."


Bersambung....