
...Happy Reading...
Bukan hal yang mudah untuk Jeremy memutuskan sesuatu hal yang sangat mendadak ini, dia tidak boleh gegabah dalam mengambil sebuah keputusan secara sepihak, karena sudah pasti akan banyak pihak yang akan dirugikan karenanya.
"Jeremy, trust me... tinggalkan wanita itu, dia sungguh tidak layak untukmu, ada aku yang bisa menggantikan dirinya." Dinar masih mencoba untuk meyakinkan hati Jeremy.
"Nicholas, mana Hanny? kenapa dia belum datang?" Jeremy seolah tidak memperdulikan rengekan dari Dinar.
"Seharusnya dia sudah datang bos, aku sudah menyuruhnya datang sedari tadi agar kalian bisa prepare sedari awal." Nicholas tadi sudah mengirimkan pesan berkali-kali kepada Hanny agar dia tidak telat karena nanti dia juga yang akan repot sendiri.
"Hubungi bodyguard Hanny sekarang!" Entah mengapa tiba-tiba dia merasa khawatir, takut terjadi hal-hal yang membahayakan wanitanya itu.
"Siap bos!"
Nicholas langsung menghubungi bodyguard yang selalu mengawal Hanny.
Dan dalam kurun waktu lima menit saja bodyguard itu sudah datang berlari ke arahnya.
"Siap bos, ada yang bisa saya bantu?" Bodyguard Hanny langsung memberikan hormat sambil mengatur nafasnya yang terlihat ngos-ngosan.
"Loh, kenapa kamu sudah ada disini, dimana Hanny?" Tanya Jeremy dengan wajah keheranan.
"Bukannya dia sudah berada disini tadi bos? saya sendiri yang mengantarkan nona Hanny dan nona Alisya sampai di pintu Lift depan tadi." Ucap Bodyguard itu dengan yakin, karena memang dia langsung turun mengikuti lift itu lagi setelah memastikan Hanny menuju ruangan itu.
"APA!" Teriak Jeremy dan Nicholas secara bersamaan.
"Apa nona Hanny tidak ada disini, saya benar-benar sudah memastikan dia turun ke lantai ini bos, saya tahu ada anda dan pak Nicholas didalam, jadi saya pikir saya menunggu dibawah saja tadi."
Karena perjanjian mereka, jika memang Hanny bersama dengan Jeremy, bodyguard itu tidak harus menjaganya.
"Kapan kamu mengantarkan Hanny turun ke lantai ini?" Tanya Jeremy yang mulai was-was karenanya.
"Sekitar setengah jam yang lalu." Jawab bodyguard itu sambil mencoba mengingatnya.
"Aish sial... pasti dia sudah mendengar semuanya, kamu cari Hanny sekarang juga, kerahkan seluruh teman-teman kamu untuk mencarinya!" Titah Jeremy yang kembali dibuat puyeng oleh kenyataan hidup yang serba menorehkan sebuah kejutan.
"Siap Bos!"
Bodyguard itu langsung berlari kembali dan bersiap mengemban tugas dari Jeremy.
"Jeremy, apa sih yang kamu harapkan dari wanita malam itu lagi, apa yang bisa kamu banggakan dari dia, kenapa kamu masih mau mencarinya?" Dinar langsung mulai berunjuk rasa disana.
"Sudahlah, biarlah ini semua menjadi urusanku sendiri." Jeremy lansung menghempaskan tubuhnya disebuah kursi.
"Aku yakin, jika dia mendengar semua perkataanmu, pasti dia tidak akan punya nyali untuk berhadapan dengan kamu lagi!" Dinar mencoba menakut-nakutinya.
"Maksud kamu apa Dinar, tolonglah.. aku berterima kasih karena kamu sudah memberikan informasi ini, tapi aku rasa semua sudah cukup Dinar, biar aku yang akan menyelesaikan semuanya."
Jauh didalam lubuk hati Jeremy yang terdalam, dia sebenarnya begitu takut kehilangan sosok Hanny, namun dirinya pun seolah ragu dengan perasaannya.
"Jer... aku akan tetap menunggu disini, sampai kamu membuat keputusan yang lebih tepat, pikirkan baik-baik Jer, demi masa depan kamu." Dinar mengusap lengan Jeremy dengan lembut, dari ketiga sahabat karibnya itu, memang selama ini Dinar lah yang sering menghiburnya.
Jeremy tidak bisa berkata apa-apa, dia kembali bangkit dan memilih mondar-mandir didalam ruangan itu sambil menunggu kabar dari anak buahnya.
Sedangkan waktu terus berjalan, hingga orang tua Jeremy datang menemui mereka.
"Jer, apa semua sudah siap nak? mana calon istrimu?" Tanya Daddy Jeremy saat tidak melihat ada pergerakan calon mempelai wanita sedari tadi.
"Em... dia lagi kena macet dad, mungkin sebentar lagi, aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencarinya." Jawab Jeremy yang tidak ingin mengaakan yang sebenarnya terlebih dahulu, karena masih ada waktu untuk menunggu Hanny pikirnya.
"Ini waktunya sudah mepet nak, pak Penghulu sudah datang itu, tinggal menunggu kalian semua siap saja." Mommy Jeremy pun ikut menimpali.
"Jer, mereka orang tuamu, kenapa kamu harus membohongi mereka." Dinar seolah mencari kesempatan disaat waktu sudah mepet seperti ini.
"Dinar cukup, kamu memang sahabatku, tapi jangan terlalu jauh mencampuri urusanku, mengerti kamu!" Bisik Jeremy dengan ucapan penuh dengan penekanan.
"Om, Tante sebenarnya?" Dinar ingin nekad bicara jujur, namun suara Jeremy langsung menghentikan suaranya.
"DINAR, APA KAMU TIDAK PAHAM DENGAN BAHASAKU!"
Baru kali ini Jeremy benar-benar merasa marah dengan sahabat karibnya itu, entah mengapa dia seolah tidak rela kehilangan Hanny begitu saja.
"Okey fine."
Dinar tidak ingin membuat Jeremy marah dan membencinya, karena sebenarnya dia sangat mencintai Jeremy.
"Jeremy, cepat katakan dengan Daddy, sebenarnya apa yang terjadi!" Intonasi suara Daddy Jeremy mulai melengking dengan nyaring.
"Maaf ayah, sepertinya Akad Nikahku akan diundur." Ucap Jeremy yang terus mencoba untuk tenang.
"APA!" Teriak Daddy dan Mommy Jeremy secara serentak.
"Hanny sedang ada masalah, jadi mungkin tidak bisa datang hari ini."
"JEREMY.. JANGAN COBA-COBA MEMPERMALUKAN DADDY KAMU!" Daddy Jeremy sudah mulai berkacak pinggang disana.
"Nak, sebenarnya Hanny kemana?" Mommy Jeremy mencoba berbicara dengan tenang, agar suasana tidak semakin runyam.
"Dia sedang ada urusan mom." Wajah Jeremy sudah mulai pucat karenanya, dia pun bingung harus bagaimana dan seperti apa.
"Tapi urusan apa nak, ini hari pernikahan kalian loh?"
"Pokoknya daddy tidak mau tahu, pernikahan ini harus terjadi, jangan sampai kamu melempar kotoran di wajah Daddy, mengerti kamu!" Ancaman demi ancaman terus saja keluar dari mulut Daddynya, hingga membuat Jeremy semakin tertekan dengan keadaannya.
"Tapi Dad?"
"Kalau sampai kamu menggagalkan resepsi pernikahanmu, dan membuat Daddy malu didepan semua relasi dan rekan kerja Daddy, jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang!"
Peringatan dari Daddy Jeremy memang tidak pernah main-main, karena Jeremy sendiri pernah melihat betapa teganya Daddynya melepas kakak kandungnya sendiri dari kartu keluarga mereka, hanya karena tetap ngotot dengan pendiriannya untuk menikah dengan orang biasa yang tidak mereka restui.
"Dad?" Jeremy ingin memohon, namun dia seolah kehabisan kata-kata.
"Kamu tahu resikonya bukan? apa kamu siap jadi gelandangan hanya karena pernikahanmu hari ini batal?" Tidak ada belas kasihan disana, yang ada hanya amarah yang terus saja memuncak.
"Maafkan aku Dad!" Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan saat ini.
"Aku tidak butuh kata maaf darimu, cari perempuan itu sampai dapat, kalau sampai kamu tidak membawanya di waktu Resepsi nanti, bawa siapapun untuk menggantikan dia, paham kamu!" Titah Daddy Jeremy kembali.
"Aku siap menggantikannya Om dan Tante." Begitu ada kesempatan emas, Dinar langsung mempromosikan diri sendiri.
"Terserah kalian saja, aku tidak mau tahu soal itu! Ayo sayang, kita pergi saja dari sini, aish... kepalaku rasa-rasanya mau pecah karena ulah mereka!"
Hanya demi reputasi semata, kedua orang tua Jeremy tidak mau tahu tentang alasan apapun, apalagi tentang kebahagiaan anaknya, karena didalam pikirannya, harta adalah segalanya.
Dia sungguh tidak rela, jika hasil kerja kerasnya yang dulu dia rintis semuanya dari nol, harus hancur dalam kurun waktu sehari saja.
"Sabar sayang, nanti darah tinggi kamu naik lagi loh?" Mommy Jeremy mencoba menenangkan suaminya, karena kalau kambuh penyakitnya, dia juga yang harus susah payah mengurus nantinya.
"Ini semua gara-gara anak kamu itulah, dia yang ngotot datang dan nekad meminta restu, tapi lihat apa yang terjadi dengan pasangannya, mereka sungguh tidak berguna!"
Dengan amarah yang sudah memuncak, Daddy Jeremy menarik lengan istrinya dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu.
Sungguh sangat disayangkan, jika sudah menyinggung soal harta, seolah manusia sudah buta, bahkan bukan lagi perasaan anaknya yang orang tua mereka pikirkan, tapi hanya masalah harga diri dan juga saham dari perusahaan mereka.
TO BE CONTINUE...
Kita lanjut ya, tapi jangan lupakan jejak kalian ya bestie, apapun itu tidak masalah😊