Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
66. Anak peninggalan jaman Jahiliyah


...Happy Reading...


Kebahagiaan seolah meliputi hati Jeremy kali ini, walaupun tertunda namun setidaknya dia bisa mempersunting kekasih hatinya, walau harus penuh dengan rentetan sebuah drama.


Walaupun Jeremy, Nicholas, Hanny dan Alisya merupakan santri baru, namun kedatangan mereka cukup berkesan di pondok pesantren ini, jadi saat mereka pamit untuk pergi dari pondok itu, Abah dan Umi beserta dengan para santri ikut mengantarkan mereka sampai didepan gerbang Pondok Pesantren.


"Abah dan Umi, terima kasih banyak atas bimbingan dan juga ilmu agama yang telah diberikan kepada kami berempat dan kami mengucapkan beribu kata maaf karena sudah banyak merepotkan Abah dan juga Umi dan mungkin tidak akan pernah bisa membalas jasa dari Abah dan Umi.


"Hmm... semoga ilmunya bermanfaat untuk kalian semua, jangan jemu-jemu dalam menuntut ilmu, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sudah kalian dapatkan, teruslah belajar walau umur kamu sudah tidak lagi muda." Abah pun menepuk lengan Jeremy, beliau pasti ikut bahagia jika santrinya bahagia.


"Maksud Abah kami sudah tua begitu?" Bukan Jeremy kalau segala ucapan dan tingkah lakunya tidak membuat orang garuk kepala.


"Mas?" Hanny yang berdiri disampingnya langsung mencubit pinggang suaminya.


"Hehe... bercanda sayang, dih... gemes aku, jadi nggak sabar aku pengen..."


Baru disenggol sedikit saja, Jeremy langsung mencubit gemas kedua pipi Hanny dan berasa ingin melahapnya saat ini juga.


"Nak Jeremy, walaupun kalian sudah menikah tapi jaga sikapmu didepan anak yang belum cukup umur." Umi hanya bis amenggelengkan kepala saat melihat semua santri menatap kearah mereka.


"Sholeh ya? emm... walaupun kamu belum cukup umur, tapi kamu sudah banyak membantuku, ini kakak kasih hadiah untukmu." Jeremy memberikan sebuah kartu ATM beserta nomor pin nya tertempel disana.


"Apa ini kak?" Antara ragu namun juga penasaran juga, karena sedari kecil dia memang tidka pernah mendapatkan fasilitas seperti itu.


"Uang saku kamu selama kamu kuliah nanti, kalau kamu ingin mentraktir teman-teman kamu, bisa ambil di tempat pengisian bahan bakar disana."


Tanpa bantuan Sholeh, mungkin Jeremy tidak akan mendapatkan kesempatan untuk dekat dan menikah dengan Hanny, jadi Jeremy merasa berhutang banyak kepada anak itu.


"Kuliah?" Abah langsung mengerutkan kedua alisnya, karena Sholeh belum cerita apa-apa dengannya.


"Abah belum tahu, apa Sholeh belum cerita?" Tanya Jeremy.


"Memangnya kamu mau kuliah Sholeh?" Abah langsung menatap ke wajah Sholeh, anak asuk yang mereka rawat sedari kecil karena kedua orang tuanya sudah meninggal.


"Emm... begini Abah, kak Jeremy menawarkan kepada saya untuk kuliah dengan beasiswa dari perusahaan kakak, itupun kalau Abah dan umi mengizinkan." Maaih banyak peetimbangan yang Sholeh pikirkan, jadi belum sempat membicarakan hal itu kepada Abah dan Umi.


"Kalau kamu memang berniat untuk menimba ilmu, Abah dan Umi pasti mendukungmu, tapi dimana tempat kuliahmu?" Tanya Abah yang tidak keberatan jika memang untuk kebaikan Sholeh.


"Nanti biar saya yang mengurusnya Abah, soal tempat tinggal dan kebutuhan Sholeh juga Abah tidak perlu khawatir, pokoknya Sholeh sudah saya anggap sebagai adek saya." Jawab Jeremy yang berhasil membuat Sholeh tersenyum bangga karena pernah mengenal Jeremy.


"Kalau begitu saya selaku wali Sholeh mengucapkan banyak terima kasih juga atas semuanya."


"Tidak masalah Abah, saya yang tetap harus berterima kasih dengan Abah, apalagi ini tidak seberapa dibanding dengan ilmu yang Abah berikan kepada kami, apalagi sudah membantu saya untuk mendapatkan belahan hati saya, nanti kalau Sholeh sudah siap, bisa langsung menghubungi Nicholas saja, biar dia yang mengatur semuanya."


Selain Sholeh, Abah juga salah satu orang yang sudah mempersatukan Jeremy dan Hanny, dan jasa itu akan dia kenang sampai kapanpun itu.


"Baiklah kalau begit semoga kamu dna keluargamu diberikan kesehatan, rejeki yang semakin berkah dan barokah."


"Amin Abah, kalau begitu saya bersama rombongan pamit undur diri dulu dan ini ada hadiah kenang-kenangan untuk Abah dan semua santri di pondok pesantren ini, semoga membantu." Jeremy menyuruh Nicholas membawakan sesuatu untuk mereka.


Nicholas langsung mengangkat satu karung Goni besar yang hanya diikat dengan tali rafiah saja.


"Apa ini nak, bukan bom kan?"


Abah terlihat mengamati karung goni dihadapannya itu dengan tatapan heran.


"Itu bahkan lebih mengejutkan daripada Bom, kalau Abah penasaran boleh langsung dibuka saja Bah." Jeremy langsung tersenyum seketika.


"Kamu ini, jangan bercanda Nak!" Abah pun sebenarnya takut, tapi dia penasaran, kalau dinalar juga nggak mungkin bom hanya dibawa dengan karung goni, pikirnya.


"Hehe... silahkan dibuka Bah, tapi jangan terlalu dekat, jangan lupa pakai pakaian APD lengkap untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, kami juga sudah menyediakannya didalam kantong kresek itu." Ucap Jeremy dengan tatapan wajah serius dan terlihat meyakinkan.


"Hah? sebenarnya kamu mau memberikan kenang-kenangan atau virus nak Jeremy, kalau sekiranya ini membahayakan untuk kami, kamu bawa pergi saja, Abah tidak mau mengambil resiko karenanya, sana kamu bawa pulang saja." Abah langsung memundurkan langkahnya.


"Ckk... Abah ini, jangan begitu, itu namanya menolak pemberian tulus dari kami, apa salahnya jika saat membuka pakai baju APD lengkap, kita kan nggak tahu kesterilan dari barang ini, bukannya mencegah lebih baik daripada mengobati? sini Abah, saya bantu pakaikan APD nya."


Entah mengapa Jeremy terlihat semangat sekali untuk membantu memakaikan pakaian yang sudah mirip seperti astronot itu ke tubuh Abah.


"Nak Jeremy, apa perlu begini?" Abah semakin merasa ragu karenanya.


"Iya Abah, kita kan tidak pernah tahu yang mengemasi barang ini bersih dari virus atau tidak kan." Jeremy tetap saja ngotot dengan pendapatnya.


"Kenapa cuma Abah saja yang memakainya?"


"Kan ini hadiah untuk Abah, sebagai pemilik pondok pesantren ini." Jawab Jeremy dengan santainya.


"Tapi nak?" Abah tidak lagi bisa mengelak keinginan Jeremy.


Saat pakaian APD itu sudah terpasang sempurna ditubuh Abah, Jeremy segera mengambil alih komando.


"Semuanya mundur beberapa langkah, hanya Abah saja yang boleh membuka karung goni itu."


"Kak, jangan main-main deh, kasian Abah?" Sholeh langsung mendekat dan berbisik ke arah Jeremy.


"Tidak apa-apa, itu untuk melatih kesehatan jantung Abah, okey?"


"Mas... Jangan kelewatan deh, sini biar aku saja yang menggantikan Abah." Hanny merasa tidak enak hati karenanya.


"Eits... Hanya Abah yang boleh membukanya."


"Tapi mas?"


"Semua santri, MUNDUR!" Teriak Jeremy memberikan peeintah dan itu semakin membuat jantung Abah berdetak semakin kencang, namun tetap masih penasaran juga dengan isinya.


Semua santri yang akan mengantarkan kepergian Jeremy dengan serentak mundur bahkan jauh kebelakang, seolah karung Goni itu akan meledak hebat setelah dibuka oleh Abah.


"Abah? tinggalakan dulu pesan-pesan buat kita." Karena ikut panik, Umi bahkan sudah berpikiran hal lain.


"Jaga diri kalian, tetap jaga Iman, ilmu dan amal kita semuanya." Abah pun tanpa sadar memberikan pesan itu kepada semuanya.


"Ayo buka Abah!" Ucap Jeremy yang langsung merangkul bahu Hanny dan mengajaknya mendekat ke arah mobil mereka.


"Haish... punya Bos satu aja tapi tingkahnya bikin semua orang sakit kepala." Umpat Nicholas yang hanya bisa pasrah jika Jeremy sudah memberikan titah.


Nit!


Saat Abah sudah mulai membuka tali rafiah itu dan terbuka, Nicholas sebagai tim penggeraknya segera menekan satu tombol yang berada ditangannya.


DOR!


Sebuah ledakan kecil terdengar disana dan menyemburkan ribuan perca plastik ke atas sana.


"Abaaaaaaaaaaaahhh!"


Umi dan semua santri berlari menuju ke arah Abah yang terduduk dilantai dengan mulut mengaga, sambil menikmati plastik-plastik kecil berwarna-warni yang menyembul ke udara kemudian jatuh menghujani tubuhnya yang berasal dari dalam karung goni tersebut.


"Selamat ulang tahun Abah, semoga uangnya bisa bermanfaat untuk pondok pesantren ini, kami pamit Abah, assalamu'alaikum."


Padahal saat itu bukan hari ulang tahun Abah, Jeremy hanya asal bicara saja.


Disaat orang maaih sibuk mendekat le arah Abah, Jeremy langsung membukakan pintu mobil untuk Hanny dan memaksanya masuk padahal istrinya masih terlihat khawatir dengan Abah.


Nicholas yang merasa bersalah pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membukakan pintu depan untuk Alisya yang seolah masih tidak percaya dengan kelakuan Jeremy yang terkesan berani dan kurang ajar.


"Mas... Kamu keterlaluan tau nggak?" Umpat Hanny perlahan.


"Hukuman dari Abah bahkan lebih kejam daripada aku." Jawab Jeremy sambil menoel hidung mancung Hanny.


"Tapi mas?"


"Itu bukan Bom sayang, itu uang ratusan juta rupiah yang aku berikan sebagai santunan untuk pondok pesantren ini, kamu tenang saja"


"Jadi didalam karung goni itu uang semua?" Tanya Hanny yang seolah tidak percaya.


"Iya, baru saja Nicholas mengambilnya tadi di salah satu Bank terdekat dari sini."


"Tapi kenapa harus ada yang meledak, ngapain juga pake karung, pake koper gitu kan bisa?" Hanny masih tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.


"Itu cuma mainan sayang, tidak berbahaya, aku cuma mau memberikan bantuan yang berkesan untuk Abah dan semuanya, hehe.." Jeremy bahkan tidak punya rasa bersalah sedikitpun.


"Tapi?" Hanny masih ingin protes tapi Jeremy tidak ingin membahasnya lagi.


"Nicholas, ayo kita berangkat!" Teriak Jeremy kembali.


Akhirnya mobil itu melaju meninggalkan Abah dan semua penghuni pondok pesantren yang masih terkejut melihat hadiah yang Jeremy berikan kepada mereka.


"Astagfirullohal'adzim... Allohu Akbar! apa dia salah satu anak peninggalan jaman Jahiliyah? kenapa Jahilnya tidak ketulungan, anak muda jaman sekarang memang sulit dipahami, semoga harinya selalu senin!" Umpat Abah sambil menghela nafas beratnya berulang kali, setelah beliau dikejutkan dengan suara mainan itu, bahkan untuk beberapa waktu beliau masih terduduk di pelataran pondok pesantren sambil membuka baju APD yang membuatnya semakin sesak nafas.


Sebagai seorang pemilik pondok pesantren, Abah tidak pernah mau mendoakan jelek kepada semua santrinya, apalagi saat melihat isi didalam karung itu adalah tumpukan atau gepokan uang berwarna merah yang bernilai ratusan juta rupiah, yang sangat beeguna bagi pembangunan pondok pesantren itu.





"Sayang.. ayo kita turun!" Jeremy sudah stand by membukakan pintu untuk istrinya.



"Kita nggak pulang ke Apartement saja?" Tanya Hanny yang merasa belum nyaman dengan apa yang terjadi.



"Besoklah, sekarang hari sudah mulai gelap, kita nginep disini saja."



"Apa nggak sebaiknya kita ke Apartement saja, ada Alisya juga loh mas."



"Kenapa rupanya dengan Alisya? ada Nicholas juga disini?"



"Tapi mereka bukan mahromnya mas." Sudah banyak hal yang Hanny pelajari di pondok itu.



"Memangnya siapa yang menyuruh mereka menginap dalam satu kamar, ada banyak kamar disini, tapi kok kelihatannya ramai sekali ya?" Jeremy memnag sudah berencana menyewa tiga kamar nantinya.



"Owh.. kalau begitu aku satu kamar dengan Alisya saja kan, mas satu kamar dengan Nicholas?"



"Enak saja, masak aku satu kamar sama dia, sudah menikah dengan..." Jeremy hampir saja keceplosan bicara.



"Dengan apa?"



"Emmm... pokoknya nanti kita pesan kamar sendiri-sendiri buat mereka, tapi sebelumnya kita makan dulu, mas laper banget!"



*Aku ini kenapa ya? begitu sudah halal kenapa aku malah jadi takut begini, bukannya sedari dulu aku berusaha keras dan mati-matian untuk bisa memiliki tubuhnya, lalu apa kabar sekarang? kenapa nyaliku ciut sekali*?



Hanny hanya bisa protes dengan dirinya sendiri didalam hati.



"Huft, ya sudahlah kalau begitu."



Akhirnya Hanny menurut saja perintah dari suaminya, karena saat ini dirinya memang sudah menjadi hak Jeremy, dia punya kuasa lebih dengan semua yang ada pada dirinya bahkan seluruh tubuhnya.



"Permisi mbak, mau pesan tiga kamar VIP disini?" Ucap Jeremy yang sedang memesan kamar di hotel itu.



"Untuk kamar VIP nya hanya tinggal dua kamar bapak." Jawab receptionist hotel itu dengan ramah.



"Hah? Satu lagi nggak ada?"



"Mohon maaf bapak, karena ini liburan anak sekolah jadi hotel kami penuh, kalau di kelas VIP memang masih tersisa dua kamar."



"Gimana Nick, tinggal dua kamar aja yang VIP."



"Good, itu saja bos, aku bisa kongsi satu kamar dengan Alisya kok." Jawab Nicholas dengan liciknya, seolah dunia memberikan kesempatan kepada dia untuk mengenal Alisya lebih dekat lagi.



"Okey mbak, pesan dua itu ya."



"Baik bapak, ini kuncinya, silahkan menikmati liburannya, kalau butuh apa-apa bisa hubungi customer service kami."



"Tunggu, aku tidak mau satu kamar dengan dia, aku tidak di kamar VIP tidak apa-apa kok, kamar biasa juga nggak masalah." Alisya langsung protes, dia tidak mau satu kamar dengan pria.



"Hah?"



"Pesankan aku satu kamar biasa aja mbak, nggak masalah." Alisya teap ngotot dengannya.



"Bilang saja habis, nanti aku kasih tips!" Nicholas langsung melotot dan berbicara tanpa suara kepada Receptionist hotel itu.



"Maaf nona, kamar kelas biasa kami juga sudah penuh, hanya tinggal ruangan VIP saja, tapi itu kamarnya luas banget nona, bahkan bisa dipakai satu keluarga sebenarnya, jadi kalian juga bisa tidur asing nantinya." Karyawan tadi hanya bisa tersenyum saja melihat muda-mudi jaman sekarang.



"Sudahlah, jangan takut denganku, aku tidak akan menggigitmu, kamu pikir tubuhmu itu terlihat menggugah selera apa, bahkan tidak seberapa jika dibandingkan dengan mie selera pedas, lihat saja bentuk tubuhmu itu, lurus penuh!" Nicholas dengan sengaja langsung meledek Alisya agar dia merasa tertantang.



"Woah... Astagfirullah, cara ngomongnya itu loh, santai tapi terasa menusuk, sakit tapi tidak berdarah." Umpat Alisya.



Sebagai seorang wanita dibelahan dunia manapun, pasti akan tersentil jika seorang pria hanya memandang soal fisik saja.



"Alisya, are you okey kalau satu kamar dengan Nicholas?" Hanny langsung berjalan mendekat ke arah Alisya.



"Tidak masalah, lihat saja nanti, jika memang tidak ada ujian untuknya, aku yang akan datang untuk mengujinya!"



Alisya langsung bergegas berjalan mengikuti kepergian Nicholas sambil mengepalkan kedua tangannya dengan segala umpatan didalam hati.



"Pfffthh."



Hanny hanya bisa menahan tawanya, selama berteman dengan Alisya, baru kali ini Hanny melihat sahabatnya itu terlihat sangat kesal dalam menghadapi seorang pria.



Saat kita tetap percaya kepada Tuhan bahkan dalam masa tersulit sekalipun, saat itulah kesulitan akan berubah menjadi sebuah keajaiban yang tidak pernah kita sangka dan kita duga dalam hidup ini.