
...Happy Reading...
Perubahan sikap dari seorang Nicholas nyatanya mampu membuat Alisya merasakan apa itu yang dinamakan galau, pada ada awalnya hasratnya untuk memiliki pria itu tidak terlalu menggebu, namun setelah Nicholas menjauh dan seolah-seolah tidak mengenal dirinya ternyata dia sadar bahwa kehadiran Nicholas ternyata sangat berarti untuknya.
Setelah melakukan sholat subuh, Alisya kembali berbaring di kasur empuk miliknya sambil mengguling-gulingkan tubuhnya didalam selimut sampai matahari mulai meninggi.
Dia masih berpikir, bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya kepada Nicholas, sedangkan jangankan untuk mendengar ceritanya, bahkan Nicholas sama sekali tidak mau melirik dirinya sedikitpun dan lebih parahnya lagi dia bilang tidak mengenal Alisya.
"Assalamu'alaikum, punten!"
Suara Hanny terdengar sangat nyaring ditelinga Alisya, karena Hanny tiba-tiba saja sudah nonggol didepan pintu kamarnya.
"Wa'alaikumsalam, kamu ini ngagetin aja Han!" Alisya bangun dari tidurnya dengan rambut yang masih acak-acakan setelah dia mengeringkan rambutnya dengan handuk tapi belum sisiran.
"Woyoo... lagi galau nie ceritanya Non?" Ledek Hanny sambil duduk santai di kursi kecil yang ada didalam kamar itu.
"Apasih jangan ngaco deh, tumben pagi-pagi udah kesini, nggak nambah senam pagi dua ronde tadi?" Alisya pun ternyata punya bahan ledekan untuk membalas pasangan suami istri yang semakin hari semakin menggila itu.
"Hellow.. udah jam berapa ini, kalau pagi itu waktu ronde nya singkat, jadi dalam satu jam bisa tiga kali tanjakan." Jawab Hanny tanpa rasa malu kalau hanya didepan Alisya saja.
"Astaga, apa nggak remuk itu badan?" Alisya merinding sendiri jadinya, dia pernah ditindih mantan suaminya sebentar saja sudah sesak nafas pikirnya.
"Segitu doang sih belum seberapa, biasanya lebih!" Jawab Hanny dengan jujur,
"Ngeri banget aku ngebayanginnya." Alisya langsung mengusap kedua lengannya yang tiba-tiba merinding.
"Ibadah itu namanya kawan, biar kelak bisa masuk Surga." Jawab Hanny dengan bangganya.
"Ibadah sih ibadah, tapi nggak ngebut juga kali." Alisya tersenyum getir melihatnya.
"Udah mandi belum kamu, anak perawan jam segini masih bau bantal, eh.. opsh, sebenarnya kamu masih perawan nggak sih?"
Alisya bahkan belum menceritakan kepada sahabatnya itu kalau dia sudah bercerai.
"Udah mandi keramas ini, cuma tadi tidur lagi, lagian aku perawan atau tidak juga nggak ada bedanya kan, tetep aja judulnya 'Janda'."
"Janda? Emang kamu sudah berpisah?" Hanny langsung bangkit dna mendekat ke arah Alisya.
"Hmm... kemarin."
"Wow, selamat ya Sya!"
Hanny ikut merasa lega karenanya, karena menurut dia wanita sebaik dan selembut Alisya tidak pantas tersakiti atau tertekan batin hanya karena hutang.
"Kamu ini, orang jadi janda kok di kasih ucapan selamat?" Alisya mencubit pinggang sahabatnya dengan senyum yang tersirat.
"Daripada kamu menikah tapi jadi tawanan mafia, kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan menghubungiku dan masalah hutangmu biar aku yang mengurusnya?"
"Maaf merepotkanmu ya Han."
"Aku tidak merasa repot kok, santai aja, yang penting kamu tidak harus berhutang budi atau apapun itu dengan mantan suami kamu itu."
"Iya juga sih, tapi ya sudahlah, aku berharap Yoga bisa cepat kembali ke jalan yamg lurus."
Alisya memang bukan tipe orang pendendam, lagi pula selama menjadi suaminya,Yoga hanya pernah meneriakkan suaranya saja, tidak sampai memukul atau melukai dirinya.
"Trus ngapain elu keramas, bikin masuk angin doang, kalau begitu pakai baju yang rapi, gunakan hijabmu, cus... ikut aku!"
"Kemana?"
"Kerja."
"Kerja apa? emang kamu masih butuh asisten lagi?" Tanya Alisya dengan heran.
"Enggak juga, tapi asisten di kantor butuh."
"Hah? aku kerja di kantoran maksud kamu? emang ada yang mau nerima orang belum sarjana kerja jadi asisten di kantoran?"
Walau itu memang impian dia dan juga keluarganya, namun dia belum jadi sarjana pikirnya, mana mungkinn dia melamar kerja di kantoran dengan basic lulisan SMA saja.
"Ada, sudahlah nggak usah banyak tanya, daripada kamu kerja part time di beberapa tempat mending kamu kerja di kantor suamiku, gaji sudah pasti bisa dijamin, nanti kamu ambil kuliah sore dan malam saja, okey?"
"Tapi Han, aku kerja di bagian apa?" Alisya masih penasaran, banyak kata tanya yang bersarang di otaknya, kenapa tiba-tiba jadi kerja di perusahaan itu pikirnya.
"Cepat pakai bajumu, aku tunggu di mobil."
Hanny langsung melenggang pergi keluar dari kamar Alisya, dia sengaja tidak memberitahukan dengan detailnya pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu nanti.
Saat didalam mobil, Alisya kembali terdiam dalam lamunannya, Hanny langsung memilih membunyikan lagu sholawat agar tidak terlalu sunyi.
"Boleh aku request lagu?" Setelah satu lagu sholawat selesai diputar, tiba-tiba Alisya mulai bersuara.
"Tentu, kamu bisa pilih lagu sesukamu, pakai saja ponselmu." Jawab Hanny sambil menyandarkan tubuhnyadi kursi, mereka berdua duduk dibelakang, karena Hanny dilarang pergi oleh Jeremy kecuali menggunakan jasa sopir untuk mengantar dirinya.
"Aku terasa pilu, saat kau berlalu.. Hilang semua kisah cinta dalam hati.. Cintaku padamu tlah setinggi langit, namun kau tak merasakan.. Sayangku padamu kan ku ingat slalu, biar ku bawa sendiri.."
Baru saja terdengar satu bait lagu yang Alisya putar dari ponselnya, Hanny langsung melirik tajam ke arah wajah sahabatnya itu.
"Heh?" Dia merasa heran sendiri, karena tumben-tumbenan Alisya memutar lagu melow seperti ini.
"Aku tak bisa menahan langkah kakimu, aku tak bisa menahan kepergianmu, kamu terlaluu.. telah dengan yang lain untuk hidup nanti."
Bahkan Alisya ikut bersenandung seiring lagu itu terputar dari bagian depan mobil itu.
"Wuidiiih... beneran jadi sad girl kamu Sya, baru kali ini aku dengar kamu menyanyikan lagu selain lagu sholawat."
"Lagi pengen aja." Jawab Alisya sambil membuang arah pandangannya keluar jendela mobil.
"Woah... Terkadang cinta memang bisa membuat orang menjadi gila, apa perlu aku temankan kamu pergi ke dokter?" Ledek Hanny yang semakin gencar menggoda sahabatnya itu.
"Aku nggak sakit Han." Alisya langsung mengumpat kesal.
"Tapi sayangnya hatimu mengatakan tidak, pak sopir lebih cepat sedikit, dia harus bertemu dengan dokter cintanya." Ucap Hanny yang langsung memberikan perintah kepada sopir pribadinya.
"Alamatnya masih sama Non?" Jawab Sopir Hanny dengan senyum yang sudah tertahan.
"Masihlah, kan dokter cintanya si Nicholas Sarmin bin Bandit itu ."
"Pfffttthh." Bahkan tanpa sadar sopir Hanny langsung menahan tawanya.
"Ckk.. Apa sih kamu Han, resek deh." Alisya merasa malu sendiri jadinya.
"Kamu sudah berani mengumpatku sekarang?" Hanny langsung berkacak pinggang untuk kembali menjahili Alisya.
"Owh... Maaf, aku nggak bermaksud begitu, hehe." Alisya langsung memeluk lengan Hanny.
"Karena kamu lagi galau, kali ini aku maafkan!"
Hanny sudah menyusun rencana bersama suaminya untuk mempertemukan keduanya nanti di kantor.
Suasana pagi itu sudah terlihat ramai, seperti biasa Hanny langsung masuk saja keruangan suaminya.
"Assalamu'alaikum mas."Sapa Hanny yang langsung berlari ke kursi singgasana milik suaminya.
"Wa'alaikum salam, kok baru sampai yank, aku udah nungguin loh daritadi." Jawab Jeremy sambil merentangkan kedua tangannya kearah Istri tercintanya.
"Maaf, tadi nunggu si galau ini berdandan dulu, katanya harus terlihat cantik didepan pangerannya." Ucap Hanny sambil menendang kaki Nicholas yang ada disebrang kursinya.
"Apaan sih Han?" Alisya langsung terlihat malu sendiri, apalagi Nicholas seolah tidak ada reaksi saat mendengarnya.
Bahkan saat Hanny menendang kakinya pun Nicholas memilih memindahkan kakinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
" Okey Nick, rapat diluar kota kali ini kamu pergi bersama Alisya sebagai asisten pendampingmu." Ucap Jeremy yang membuat Nicholas langsung menoleh kearah Jeremy.
"APA!"
Bukan hanya Nicholas, tapi Alisya pun ikut berteriak bersamaan karena merasa terkejut.
"Aku mau pergi ke suatu tempat dengan istriku, lagian rapatnya sudah kamu persiapkan dengan matang bukan, dan aku sudah menghubungi klien kita bahwa kamu saja yang mewakilkan aku dan mereka tidak keberatan, karena pihak mereka lah yang memang meminta kerja sama ini, so... tidak ada masalah bukan?"
"Lalu kenapa dengan saya pak?" Alisya memberanikan diri untuk bertanya.
"Loh... memangnya istriku belum mengatakan kepadamu, kalau kamu diterima kerja disini?" Ucap Jeremy sambil merapikan hijab istrinya.
"Iya, tapi kenapa harus asisten pendamping pak Nicholas?" Alisya tidak menyangka, walau sebenarnya dia suka.
"Kenapa memangnya, ada masalah? lagipun pekerjaan dia terlalu banyak, jadi harus ada yang membantunya." Jawab Jeremy sesuai dengan keinginan istrinya.
"Pergilah dengan Alisya, kamu harus mengajarinya banyak hal, dia akan menemani kamu mulai sekarang."
"Tidak perlu, saya sudah terbiasa melakukannya sendiri, lagipun saya mampu tanpa dia." Nicholas tetap mencoba untuk menawar walau sebenarnya hanya sia-sia.
"Yaelah, dia pakai acara curhat lagi?" Umpat Hanny yang masih menempel ditubuh suaminya.
"Sungguh nona, saya tidak memerlukan asisten pendamping, apalagi dia orangnya." Bahkan untuk melirik Alisya saja Nicholas seolah tidak mampu, karena bayangan pelukan hangat itu masih terekam dengan jelas di pikirannya.
"Kamu ini kalau ngomong kebiasaan deh, singkat tapi menyakitkan, aku tidak mau tahu, kamu harus mengajak Alisya sebagai asisten pendamping, kalau kamu menolak.. emm."
"Apa? anda mau mengancam saya soal gaji?" Ledek Nicholas tanpa rasa takut sedikitpun.
"Mamasku tersayang, kalau Nicholas menolak suruh dia kerja lembur setiap hari sampai malam tanpa diberi gaji tambahan."
"Siap sayang."
"Bos!" Teriak Nicholas yang semakin kesal.
"Sory Nick, tapi aku tidak bisa menolak permintaan istriku." Jawab Jeremy dengan santainya.
"Werk!" Hanny langsung menjulurkan lidahnya kearah Nicholas.
"Lagian kan enak, kamu jadi ada temannya?"
"Haish, sudahlah aku mau menyiapkan berkas yang harus aku bawa dulu." Nicholas memilih bangkit dari sana, karena kalau sudah keinginan Hanny, big bosnya itu pasti akan patuh begitu saja.
"Alisya, bantu Nicholas sana." Hanny langsung menyuruh Alisya untuk mengikuti asisten suaminya itu.
"Tapi Han?" Tiba-tiba Alisya merasakan gugup.
"Buruan, jangan lelet kalau kerja denganku!" Teriak Nicholas dengan suara yang seolah menusuk hati.
Degh!
*Astaga, kenapa dia jadi galak sekali denganku*!
Alisya hanya bisa mengusap dadaanya berulang kali.
"Hati-hati ya Alisya, kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungiku, aku akan memberikan tips-tips untuk menakhlukan hati seorang pria." Bisik Hanny dengan senyum jahilnya.
"Tapi Han, aku kok tiba-tiba jadi takut ya!" Bahkan tangannya sedikit gemetaran, karena Nicholas menjadi sosok yang berbeda.
"Tenang saja, dia nggak gigit kok, lagian kalau digigit sedikit kan malah enak." Ledek Hanny dengan jahilnya.
"Dih jorok deh kamu!" Pikiran suci Alisya pun terarah ke jalur Hanny, karena dia memang pernah merasakan apa yang Hanny maksudkan.
"Emang gue ngomong apaan? Woah... sepertinya kamu sudah tidak ori seratus persen ya?" Ledek Hanny yang sengaja ingin membuat hati Nicholas terbakar.
"Hanny, jangan ngomong begitu, walaupun rasanya emang enak sih, tapi... Astagfirullah?"Umpat Alisya kembali yang langsung kembali nyebut.
"Wahahaha... ternyata sudah ada yang Hiking dan Tracking di gunung merbabu milikmu ya, gimana? nagih kan rasanya, hayowloe?"
Glodak!
Klonteng!
*Sial, aku bahkan belum sempat merasakannya, padahal aku sangat menginginkannya*!
Dengan sengaja Nicholas menendang tong sampah disudut ruangan itu dengan amarah yang memuncak, saat mendengar perbincangan Hanny dan Alisya dari belakang.
"Waduh... Ngamuk singanya itu, sepertinya nanti dia bukan orang yang pertama naik gunung nih?" Namun Hanny malah semakin gencar menggodanya.
Bahkan Alisya dan Hanny langsung ber tos ria dibelakang tubuh mereka saat melihat Nicholas terlihat sangat kesal dan sudah pasti cemburu karenanya.
Dengan tatapan tajam dan mematikan Nicholas langsung memalingkan wajahnya dan melotot kearah Hanny.
"Haha.. ampun bro, makanya jangan gengsi aja digedein, nanti diembat orang lagi mewek aja kamu bisanya!" Teriak Hanny yang membuat Jeremy ikut tersenyum karena ulah istri jahilnya.
"Emang dia pernah nangis?" Tanya Alisya yang seolah mendapatkan kartu As.
"Mewek kejer dia, saat kamu dipinang oleh si Mafia itu, nggak tau aja mukanya udah kaya keset lantai semalaman."
"Benarkah?" Kedua mata Alisya langsung berbinar.
"Diam kamu Bodat, jangan fitnah orang aja bisanya." Nicholas langsung mengumpat kesal dengan bu bos nya. "Dan kamu cepat pergi keruanganku, ambil berkas yang harus dibawa, jangan malas kamu nanti!" Nicholas langsung beranjak keluar duluan.
"Baik mas."
"Sejak kapan aku jadi masmu!" Umpat Nicholas yamg mencoba meredakan emosi, dia kembali membayangkan Alisya digerayangi oleh Yoga, dan itu membuat hatinya seolah teriris.
*Awas aja kamu nanti, pengen tahu reaksimu kalau aku sudah jadi janda sekarang, setelah itu akan aku balas semua sikap jahatmu terhadapku, akan aku buat juga kamu cemburu buta disana,ehh... tapi dosa nggak ya, astagfirullahal'adzim*.
"Fuuh... Baik pak Nicholas."
Untuk saat ini Alisya hanya mampu menghela nafasnya berulang kali, walau sebenarnya dia malas harus pergi ke luar kota, namun sepertinya hanya ini jalan satu-satunya agar dia bisa menceritakan segalanya dan kembali dekat, karena mereka pasti punya banyak waktu nanti saat perjalanan bisnis keluar kota hanya berdua saja.
Memang sangat sulit untuk bersabar, tetapi menyia-nyiakan pahala dari kesabaran itulah yang lebih buruk.