
Rio mengeryitkan kedua alisnya."A...
"Apa mau mu?"tanya Cinta memotong ucapan Rio.
"Hahaha...santai Cin,kenapa mesti takut begitu sih? gak nyangka aku bisa ketemu kamu di sini."ucap dengan tawa mengejek.
"Maaf aku harus pergi,"Cinta pun reflek menarik tangan Rio.
"Hei p***r,"teriaknya merasa di abaikan.
Cinta pun menghentikan langkah kakinya mendengar ucapan dari wanita itu.Ia mendongak sebentar untuk menghalangi air matanya yang mulai menggenang.Rio melihatnya"tidak bisa kah kau bicara sedikit sopan?"
senyum sinis terbit dari bibir wanita itu,ia pun berjalan mendekati Cinta yang berada beberapa langkah di depannya."Harusnya dia yang kau ajari tentang sopan itu,"ucapnya sambil menunjuk ke muka Cinta."Tak tahu malu,hah... aku sampai lupa p***r mana ada yang punya rasa malu,puas kamu sudah membuat Cito menceraikanku dan sekarang kau bersama lelaki lain lagi dengan penampilanmu yang sok alim itu."
Cinta hanya menunduk,tak ada kata yang ingin ia ucapkan.Bibirnya gemetaran menahan isak tangis yang sebenarnya begitu susah ia tahan.Ia tahu kalau dirinya salah,tapi di sisi lain ia juga merasa di rugikan,dendam yang membuatnya buta akan kesalahan.
"Cukup,"ucap Rio,ia kemudian menarik tangan Cinta hendak keluar dari butik,namun Cinta melepaskan tangan itu.Rio pun bingung,ia menatap sang kekasih seolah ingin tahu ada apa.
"Maafkan aku,"ucap Cinta tiba-tiba.
Rio semakin tidak mengerti kenapa Cinta berkata seperti itu.Begitu juga dengan wanita itu.
"Maaf karena sudah membuat kamu di ceraikan Cito,"ucap Cinta kemudian.
Mendengar itu,ia tersenyum sinis."Maaf kamu bilang? setelah apa yang sudah kamu perbuat kau minta maaf? heh...mudahnya kau mengucapkan maaf.Kau tahu gara-gara kamu aku dan anakku hidup seperti gelandangan,suami menceraikan tanpa menafkahi,orangtuaku..."ia menjeda kata-katanya sejenak."Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya.Hingga aku harus kerja keras sendiri demi sesuap nasi,dan kau..."air matanya lolos membanjiri pipi mulusnya.
Cinta begitu tertohok mendengarnya,bisa sampai segitunya nasib wanita itu."Maafkan aku,"ucap Cinta.
"Aku pastikan kau akan mendapat balasan atas apa yang telah terjadi padaku dan anakku Cin,"ucapnya lagi.
"Cinta kan sudah minta maaf,tidak bisakah kau memaafkannya?kau setidaknya juga bisa melihat jika Cinta juga sudah berubah dan menyesali perbuatannya kan?"ucap Rio.
Heh...ia tersenyum sinis,"wanita p***r sepertinya tidak akan mungkin pernah bisa berubah,"ucap wanita itu dengan emosi menggebu-gebu.
yang menutupi seluruh tubuhnya tak kan membuat orang yang melihatnya itu percaya.
Tapi...ia tidak butuh kepercayaan oranglain padanya.Yang ia butuhkan hanya Tuhannya,Allah yang menciptakannya percaya dan yakin dengan apa yang sudah ia lakukan.Ia hanya percaya jika semakin buruk ia di mata manusia,maka di mata Allah kebalikannya.
Ia pergi dengan segala rasa pedih di hatinya.Bukan karena penghinaan,tapi karena hari-hari yang di lalui oleh mantan istri Cito.Pasti begitu sulit hingga ia mampu merasakannya dan itu karenanya.
"Sudah Cin lupakan yang tadi,suatu saat nanti dia pasti bisa memaafkanmu"Rio memecah keheningan di antara mereka berusaha menghibur wanitanya.Setelah kepergian mantan istri Cito keduanya bergegas memilih gaun dan di sinilah mereka sekarang di dalam mobil menuju panti.
****
Di bukanya lebar-lebar tirai jendela yang menghalangi masuknya sinar sang surya.
Sreeeek...
Suara tirai itu,begitu tirai di buka cahayanya menyilaukan matanya,sedikit menyipitkan penglihatan.Di hirupnya udara pagi yang masih bersih tanpa polusi,begitu dalam hingga ia rasa udara itu telah memenuhi rongga-rongga di dalam dadanya ia hembuskan kembali dengan teratur."Segaaar,"begitu katanya.
Minggu pagi ini ia libur bekerja,setelah menjalankan sholat subuh tadi matanya begitu terasa lengket sekali,begitu ngantuk hingga tak sadar Cinta tertidur dengan terduduk di sebuah kursi dengan kepala di atas meja menghadap pas ke arah jendela.
"Kakak..kak..kakak..,"panggil salah seorang anak panti.
Cinta bergegas membuka pintu,di dapatinya gadis cantik dengan poni sebatas alis,rambutnya di kuncir kuda menambah betapa manisnya gadis cilik itu.Apalagi dengan melihat pipinya yang tembem seperti bakpau,serasa ingin mencubitnya.Sungguh orangtua yang tidak pernah mensyukuri kehadiran gadis itu yang beberapa tahun lalu di tinggalkan begitu saja di teras panti,begitu menurut penuturan bu Ningsih.
"Iya sayang ada apa?"tanya Cinta.
"Kak kata bunda kakak di suruh cepatan mandi,karena hari ini bunda mau pergi berbelaja ke pasar dan bunda minta kak Cinta menemaninya,"ujar gadis itu yang memanggil bu Ningsih dengan sebutan bunda.Dan memang semua anak panti memanggil beliau dengan sebutan bunda,kecuali dirinya yang lebih nyaman dengan panggilan ibu.
Cinta tersenyum mendengarnya,"okeee cantik,"jawabnya sambil mencubit pipi gembul itu.
Gadis itu pun bersungut karena di cubit pipinya,"saki kakak,"jawabnya sambil berlari menjauh takut jika di cubit lagi.
Bersambung..