Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
87. Bandit Mupeng


...Happy Reading...


Nicholas hanya bisa garuk-garuk kepala saat berada di sebuah ruangan tunggu kantor polisi setempat, dia tidak bisa membantah maupun mengelak, karena memang itu kenyataannya.


Dan Alisya hanya bisa menutup wajahnya dengan hijab yang dia pakai karena menahan rasa malu yang teramat sangat, entah kenapa dia bisa lupa kalau saat itu mereka sedang ada di negri tetangga.


"Hei... kalian datang kesini juga, gimana keadaan mafia itu, apa dia masih hidup?" Tanya Jeremy yang cukup terkejut saat melihat kedua pasangan tidak halal itu ternyata sudah duduk disebuah kursi tapi berjauhan, seperti orang yang sedang bertengkar.


"Mas, nanyaknya itu loh, walaupun dia seorang mafia tapi dia juga manusia kan?" Hanny seolah sedang menegur suaminya dalam bertutur kata.


"Emang harusnya gimana sayang?" Tanya Jeremy yang langsung memperhatikan istri kesayangannya.


"Harusnya, kenapa dia harus hidup?" Ucap Hanny yang membuat suaminya langsung menahan tawa.


"Pftth... Kamu ini, sama aja lah itu sayang, bahkan lebih parah!" Jeremy langsung mencubit gemas pipi istrinya yang semakin berisi.


"Hei... serius amat wajah kalian berdua, ada apa? apa yang terjadi?"


Hanny merasa heran sendiri, saat mereka membuat lelucon tapi tidak ada satupun diantara mereka yang tertawa, bahkan posisi mereka masih sama, pandangan mereka terus terarah ke depan dengan tatapan kosong.


"Apa mafia atau anak buah mereka membuat ulah lagi, lalu kalian sampai harus kesini, padahal cukup kami berdua saja yang menjadi saksi loh, dan semua sudah selesai, kita bisa langsung pulang kembali ke negara kita." Jeremy langsung mengerutkan keningnya saat mereka masih terdiam, bahkan tidak ada yang mengalihkan pandangan kearah pasutri itu.


"Nicholas and Alisya, sila masuk kat ruangan sebelah." Ucap salah satu anggota kepolisian disana.


"Apa yang terjadi dengan kalian berdua?" Jeremy kembali dibuat heran dengan keduanya.


"Haish... sudahlah, ayo masuk yank!" Nicholas langsung mengulurkan tangannya kearah Alisya.


"Mas, jangan lagi panggil aku sayang, nanti mereka semakin salah sangka, bisa makin runyam nanti urusannya." Alisya langsung mencubit lengan Nicholas saat mereka beranjak berdiri.


"Iya, aku lupa tadi, kebiasaan soalnya!" Nicholas tidak lagi mau memaksa.


"Lupa kok terus!" Umpat Alisya kembali.


"Wah.. wah.. sepertinya telah terjadi sesuatu yang kita lewatkan sayang, kita intip yuk?" Jeremy langsung tersenyum dengan liciknya, sudah lama dia tidak melihat tontonan seru pikirnya.


"Emang boleh kita intip mas?" Tanya Hanny yang langsung mengikuti langkah mereka.


"Kalau mengintip tidak boleh, kita terang-terangan aja masuk, bilang aja kita wali dari mereka masing-masing, gampangkan?" Jeremy memang selalu menganggap semua masalah menjadi mudah.


"Sip lah!"


Bukan Hanny kalau merasa ketakutan, karena dia juga merasa kepo dengan urusan kedua rekannya itu, apalagi tingkah mereka terlihat mencurigakan.


"Ape yang kalian berdua lakukan kat Hospital sana?" Tanya salah satu anggota polisi itu melakukan interogasi dengan Nicholas dan Alisya.


"Berpelukan Pak Ci?"


"Wow.. jujur sekali korang, Itu je ke?" Polisi itu bahkan menyunggingkan senyumannya.


"Iya Pak Ci." Jawab Nicholas dengan mantap.


"Iye ke?" Ledek Polisi itu sambil melirik wajah pucat Alisya yang memilih diam sedari tadi.


"Seriusan Pak Ci, cuma itu saja, sebenarnya mau lebih, tapi Alisya melarangnya." Nicholas kembali mewakilkan untuk bicara.


Plak!


"Apaan sih mas, ngomong yang bener, ini di negara orang tau nggak!" Bisik Alisya dengan kesal, dia tak habis pikir Nicholas dengan santainya berbicara seperti itu.


"Haish... aku sudah jujur ini, salah lagi kah?"


"Korang berdue sudah menikah ke?" Tanya Polisi itu kembali.


"Belum Pak Ci."


"Jadi awak tau, kalau bende tu dilarang?"


"Begini saja pak Ci, nikahkan saja kami, saya tisak keberatan sama sekali, langsung saja panggil pak penghulu, saya siap untuk menikahinya sekarang juga kok." Entah apa yang ada didalam pikiran Nicholas, namun jika memang hal itu bisa menyelesaikan masalah dengan mudah, dengan senang hati dia mau melakukannya.


"Awak nie cakap ape? Korang kire senang je ke bila nak kawin?" Polisi itu tidak semua paham apa yang diucapkan oleh Nicholas.


"Pffthh... Hei Bandit Mupeng, bukan itu artinya, aish.. lain kali sering-sering nonton film duo gundul, biar paham bahasanya dan nggak malu-maluin begini." Bisik Hanny yang langsung menahan tawanya.


"Kalian berdue siape?" Polisi itu beralih menatap dua orang yang berdiri di dekat pintu.


"Maaf Pak Ci, kami berdua wali mereka." Jawab Jeremy yang langsung sedikit membungkukkan tubuhnya dengan hormat.


"Iye ke? Korang tau apa yang mereka buat?"


"Tidak Pak Ci, tapi sebelumnya kami mohon maaf, sebenarnya mereka berdua itu memang sepasang kekasih, tapi ditikung sama orang yang melakukan tembakan bunuh diri tadi."


"Begitu ke? so.. maknanye awak orang ketiga dalam hubungan mereka lah?" Anggota kepolisian itu kembali bertanya ke Nicholas.


"Hah?" Otak Nicholas tiba-tiba loding.


"Maaf Pak Ci, ini hanya salah paham saja, sekali lagi kami mohon maaf, sebenarnya rekan saya ini masih dalam masa penyembuhan, jadi tubuhnya sedikit lemah, ada kok buktinya dari rumah sakit yang dia rawat, kami terpaksa meninggalkan rumah sakit karena ada kejadian itu." Akhirnya Alisya mulai buka suara.


"Iya ke?"


"Betul Pak Ci, kami saksinya." Hanny pun langsung ikut membela.


"Baiklah kalau macam tu, tapi lain kali jaga sikap kalian, bila korang berada di tempat khalayak ramai, mengerti korang berdue?"


"Mengerti Pak Ci, sekali lagi kami mohon maaf." Alisya langsung membungkukkan tubuhnya tanda terima kasih.


"Baiklah, korang berdue boleh pergi."


"Terima kasih Pak Ci."


Akhirnya Alisya bisa bernafas dengan lega, dia sudah ketakutan tadi, untung saja Jeremy dan Hanny berada disana untuk membantu.


"Ckk... coba di kampung aku, pasti kita sudah menikah tadi yank, kan asyik bisa sekalian bulan madu disini." Lain pikiran mereka lain pula pikiran Nicholas yang malah berharap lain.


"Astaga mas, aku ini statusnya masih istri orang tau nggak?"


"Baru istri siri kan? Tidak terlalu berat untuk lepas dari dia, lagian juga kamu belum dijebol, jadi nggak perlu ada masa iddah juga nanti kan?"


"Apa? jadi kamu masih ori Sya? wah.. Rugi banget, kirain udah pecah telor kemarin." Ledek Hanny langsung ikut menimpali.


"Hei Bodat, jangan jadi kompor kamu ya!" Teriak Nicholas yang mulai bersiap beradu argument dengan Hanny.


"Padahal enak banget tuh Sya, apalagi dia berotot gitu, wah... pasti mantep tuh, klenyer-klenyer sedep, hihi!" Ucap Hanny dengan gilanya.


"Sayang!" Jeremy langsung melotot kearah Hanny, dia tidak suka istrinya memuji pria lain walau hanya secuil saja, apalagi dihadapannya.


"Marahin dia bos, pikirannya mesvm aja terus dia, katanya sudah Tobat, pehh... Tobat sambel kalau dia sih!"


"Dasar Bandit Mupeng, aku bercanda doang tadi!"


"Sayang, apa kamu memikirkan hal itu, apa aku belum bisa memvaskan kamu!" Jeremy mulai menekan istrinya.


"Bukan begitu, maaf mas, aku cuma mau ngeledek mereka aja tadi loh."


"Wah.. namanya juga Suhu bos, pasti sangat sulit membuat dia berteriak Ahh, mungkin anda perlu sedikit berusaha lebih keras lagi bos, semangat bos?" Nicholas bahkan membuat darah kejantanan Jeremy seolah mendidih.


"Hei Bandit, awas kamu ya!" Hanny langsung mengepalkan satu tangannya ke arah Nicholas.


"Apa benar begitu yank, kalau begitu kita balik hotel sekarang, akan aku buat kamu nggak bisa berjalan dengan nyaman!"Jeremy langsung menarik lengan istrinya.


"Jangan kasih ampun bos, gempur dia dari segala sisi!"


"Sarmin bin Bandit, bisa diam nggak kamu, besok kita harus pulang pagi-pagi tau nggak!" Hanny bukan tidak mampu, hanya saja jika suaminya terus menggarap ladang gandum miliknya, sudah dapat dipastikan dia tidak akan bisa istirahat nantinya. "Alisya, kasih pelajaran dulu itu kekasih gelapmu!" Hanny langsung mencari sekutu untuk membalas perbuatan Nicholas.


"Hedeh... makan nasi lemak sama teh tarik enak kayaknya nih!" Namun Alisya tidak menggubrisnya, baginya masalah ranjang adalah hal tabu untuk dibicarakan dengan orang lain, apalagi dia belum pernah mencicipinya, jadi pura-pura tidak dengar adalah solusi terbaiknya.




To be Continue...