
...Happy Reading...
Perjuangan Nicholas kali ini memang sangat perih, bahkan disaat lukanya belum mengering dia harus berjalan tertatih-tatih menuju sebuah gedung tua yang terbengkalai disuatu tempat.
"Alisya, kamu dimana?"
Teriak Nicholas saat dia sampai disebuah gedung tua yang terlibat sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Kalian sudah datang?" Akhirnya muncul Yoga dengan beberapa anak buahnya yang berdiri di belakangnya.
"Mana Alisya!"
"Eits... Sabar dulu dong, ngapain sih buru-buru?"
"Apa yang kamu inginkan Yoga, apa tidak cukup kamu melukaiku saja, kenapa harus Alisya juga!" Teriak Nicholas yang seolah sangat benci dengan pria dihadapannya kini.
"Siapa suruh kamu melanggar janji-janjimu!"
"Aku melanggar apa?"
"Memang bukan kamu, tapi pasti karena suruhanmu bukan?"
"Dia tidak menyuruhku, tapi aku yang sudah jengah sendiri melihat kelakuan bejatmu itu saat menganggu kehidupan asistenku dan juga Alisya." Jeremy langsung maju mendampingi Nicholas.
"Kalian tidak perlu ikut campur dalam hubunganku dengan Alisya!"
"Why, apa kamu lupa kalau aku siapa, bahkan orang yang sampai saat ini masih setulus hati dalam menyayanginya." Nicholas tak gentar sedikitpun, dia bahkan masih sempat membanggakan dirinya dan perasaannya terhadap istri orang.
"Stttth... kenapa jadi curhat Nick, ngomong yang bener kamu, apa tujuan kita datang kemari Bandit!" Hanny malah jadi gemas sendiri melihat Nicholas.
"Apa yang kamu inginkan, dengan syarat atau apapun itu, asal kamu menyerahkan Alisya kepadaku, mana dia jangan coba-coba membohongi kami."
"Enak saja kamu, tidak semudah itu, hentikan pergerakan anak buah kalian, jangan coba-coba menghalangi jalanku, ini bukan urusan kalian mengerti."
"Okey, tapi mana Alisya!"
"Tidak semudah itu, apa jaminan kalian coba, bisa saja kalian menikungku dari belakang?"
"Kami akan pergi dari sini, dan pura-pura tidak mengenal semua tentangmu."
"Cih.. bisakah aku mempercayaimu?"
"Kenapa tidak, sedari awal aku tidak punya urusan denganmu, jika kamu tidak mengusik Alisya dan keluarganya, kami juga tidak akan mengusik dirimu dan semua kelakuan jahatmu!" Nicholas langsung mengeluarkan unek-uneknya.
"Hati-hati kalau bicara, kau yang ingin merebut istriku bukan?"
"Itu karena kau mengambilnya dariku duluan, sebelum aku menghalalkan dirinya." Nicholas langsung membalikkan ucapannya.
"Begini saja, kita selesaikan semua dengan kepala dingin, kamu menikahi Alisya karena keluarganya punya hutang banyak dan kamu menginginkan Alisya sebagai gantinya bukan?"
"Tidak, aku memang menyukai Alisya sejak dulu!"
"Haish, pria ini memang menyebalkan."
"Lalu apa Alisya menyukaimu?"
"Itu tidak penting, yang penting kami sudah menikah!"
"Kalau begitu, itu bukan cinta namanya, tapi sebuah obsesi!" Umpat Hanny yang langsung ikut menimpali.
"Aku tidak tanya pendapat kalian!"
"Bawa Alisya keluar, dan kamu tanyakan dia, diantara aku sama kamu siapa orang yang dia sukai!"
"Bawa Alisya keluar!" Yoga langsung memanggil anak buahnya.
"Sayang, are you okey?" Saat Alisya muncul, Nicholas langsung berjalan tertatih-tatih ingin mendekatinya, namun suara Yoga tiba-tiba seolah memekakkan telinga.
"Diam disana, jangan coba-coba maju walau hanya selangkah saja!"
"Aku akan membayar semua hutang keluarga Alisya, sekaligus dengan bunganya, jadi kita bisa damai sekarang, lepaskan Alisya dan kami juga akan melepas semua yang kami tahu tentangmu!" Hanny langsung maju ikut membela, kalau hanya masalah uang saja tidak masalah baginya.
"Aku ingin kalian menghancurkan barang bukti yang kalian punya tentangku disini sekarang juga."
"Bawa Alisya kemari, aku akan menyerahkan ponsel kami, karena semua bukti ada disana." Jeremy langsung memberikan ponsel miliknya kepada Nicholas.
"Okey!"
Walau sebenarnya enggan, namun Yoga membawa Alisya maju kedepan dan Nicholas pun maju membawa kedua ponsel milik Jeremy dan Hanny.
"Dalam hitungan ketiga, aku lempar dua ponsel ini dan lepaskan Alisya!"
"Satu."
"Dua"
"Ti..."
"Haish... Sialaaan, kenapa kalian menghubungi pihak berwajib!"
Yoga langsung ingin menarik lengan Nicholas untuk menodongkan pistol yang terselip dicelananya dan membuat Nicholas sebagai tawanannya, namun Alisya langsung mendorong tubuh Nicholas dan menyerahkan dirinya sendiri menggantikan Nicholas.
"Alisya!"
Semua orang panik, terlebih lagi Nicholas yang seolah tidak rela melihat wanita kesayangannya dalam bahaya.
"Jika kamu ingin membunuh, bunuh saja aku, karena yang melapor kepada polisi bukan mereka, tapi aku!" Alisya mengakui semuanya, karena tadi saat Yoga lengah dia sengaja meminta bantuan kepada pihak yang berwajib lewat telpon darurat.
"Alisya, aku suamimu!" Bisik Yoga dengan tatapan tajamnya.
"Astaga Alisya, kenapa kamu ceroboh sekali!" Hanny pun sangat menyayangkan kejadian ini, karena dia sendiri yang akan menajdi korbannya.
"Apa kamu sudah siap menghantar nyawamu demi pria seperti dia?"
"Yoga, aku tahu kamu tidak sejahat itu!"
"Lalu kenapa kamu memanggil polisi itu untuk menangkapku!" Yoga benar-benar meletakkan ujung pistol itu dikepala Alisya, bahkan dia sudah menarik pelatuknya, jika terlepas atau tersenggol sedikit saja sudah pasti peluru itu akan menembus kepala Alisya.
"Aku hanya ingin kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu Yoga."
"Alisya, kamu sama saja ingin melihat aku membusuk di penjara bukan!"
"Yoga, jika aku boleh memilih, aku lebih suka kamu yang dulu, yang culun tapi diam-diam kamu selalu baik dengan semua teman-teman kita."
"Cih... Bahkan kebaikan ku tidak pernah kalian anggap, karena aku tidak setenar bintang kelas kita saat itu!"
"Yoga, apa dulu kamu menyukaiku?" Alisya sengaja memancingnya.
"Apa kamu tidak tahu?"
"Kenapa kamu tidak mengatakannya, tau gitu aku bisa mempertimbangkannya bukan?"
"Kamu tidak pernah meresponku!"
"Karena aku tidak tahu, Yoga segeralah kembali kejalan yang benar, aku tahu kamu sebenarnya orang baik, hanya saja kamu salah pergaulan saja, hidup hanya sekali Yoga, bahkan kita tidak tahu sampai kapan, segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput kita."
Alisya seolah tidak punya rasa takut sama sekali, padahal orang yang melihatnya sudah ketar-ketir sendiri.
"Kalau aku bertaubat, apa kamu mau menerimaku?"
"Bukannya sekarang aku sudah menjadi istrimu?"
"Tapi kamu menyukai orang lain dan hatimu bukan untukku!"
"Yoga, mencintai dan dicintai itu hanya sebuah kosa kata, jika kamu selalu bersyukur Insya Allah semua orang sayang sama kamu Yoga."
"Jika aku tidak bisa berjodoh denganmu saat ini, apa kelak dimasa depan kita bisa berjodoh?"
"Enak saja, dia jodohku!" Nicholas langsung protes karenanya.
"Hei.. Diam kamu, atau aku lepas jariku ini!" Ancam Yoga kembali.
"Hei Sarmin.. sabar bisa nggak sih, Alisya sedang membujukya!" Bisik Hanny sambil menarik lengan Nicholas.
"Ckk... tetap saja aku tidak rela!"
Alisya hanya bisa memejamkan kedua matanya, saat pistol itu terasa menekan ke kepalanya dan pasukan polisi pun sudah mengarahkan semua senjatanya kearah Yoga.
"Yoga, aku rindu kamu yang dulu, aku lebih suka kamu yang dulu, kembalilah seperti Yoga yang aku kenal dibangku sekolah, aku yakin kamu pasti akan baik-baik saja."
"Mau aku balik ke masa lalu pun hatimu tetap tidak bisa menjadi milikku bukan?"
"Walaupun bukan aku, pasti ada wanita lain yang akan hadir didalam kehidupanmu Yoga, ayolah... serahkan dirimu saja, kamu bisa mulai semuanya dari awal lagi, kalau perlu aku akan mendampingimu, jadi tidak ada gunanya kamu menembakku, karena kamu juga akan mati tertembak oleh pihak yang berwajib, mereka sudah mengepung kita semua Yoga."
"Alisya, bagaimana kalau kita mati berdua saja?"
"HEI...!"
Nicholas ingin kembali berontak, tapi Jeremy langsung membungkam mulutnya.
"Yoga, Tuhan selalu memberikan kesempatan kedua bagi kita yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh." Alisya bahkan menggengam jemari Yoga yang satunya.
"Jika aku tidak mau, bagaimana?" Yoga semakin menekankan pistol miliknya.
"Yoga?" Alisya kembali ingin membujuknya, tapi...
Doooorrrrrr!
Akhirnya satu tembakan benar-benar terlepas dari pistol yang Yoga pegang, daraah segar mulai mengalir deras membasahi lantai gedung tua itu.
Tidak banyak yang tahu, bahwa Yoga sebenarnya sangat menyukai Alisya sejak dulu, namun dia dulu tidak seberani sekarang, sehingga hanya menyimpan semua perasaannya didalam hati saja.