
...Happy Reading...
Betapa terkejutnya seorang Ridwan ketika mendengar permintaan dari putrinya yang baru saja dia temukan.
Sebagai seorang Ayah, dia sebenarnya sangat malu ingin menceritakan hal itu, karena kisah itu sebenarnya adalah aib terbesar sepanjang masa lalunya.
Demi sebuah kata 'Maaf' dari putrinya yang memang tidak pernah dia sentuh semenjak dia melihat isi dunia ini, bahkan sampai dia sudah menikah sekalipun Ridwan sama sekali tidak punya kesempatan untuk melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah.
Dan alasan lain yang membuat dia tidak bisa menolak, karena ini adalah keinginan dari seorang ibu hamil, walau terkesan ekstrem dan sedikit gila.
"Aku tidak akan memaksa Ayah, tapi itu pilihan Ayah, semua terpulang pada kemauan Ayah sendiri."
Hanny memilih menyandarkan tubuhnya dibahu Jeremy, sambil menatap cuek kearah Ayahnya yang sudah keringat dingin sedari tadi.
"Tapi masalahnya Ayah sekarang guru mengaji di Pondok Pesantren nak, apa pantas menceritakan aib seperti itu?" Ridwan maaih mencoba sedikit menawar walau mungkin sudah tidak bisa.
"Aku kan tidak meminta Ayah melakukan hal itu lagi, aku hanya ingin Ayah menceritakan saja bagaimana proses tutorial 'Ngadon' nya."
"Tapi Ayah malu nak." Ridwan menutupi wajahnya dengan peci miliknya.
"Ayah, tidak ada orang lain disini, setiap orang juga pasti punya aib, dan yang terpenting kita sudah bertaubat dari masa lalu sang Pendosa bukan?" Entah kenapa Hanny ingin sekali mendengarnya.
"Betul, ini rahasia kita, kalau perlu bisik-bisik aja Yah." Jeremy pun tidak mau kalah menjadi pihak Pro disana.
"Apanya?"
"Tutorial adonan kuenya."
"Huft.. ya sudahlah, tapi adegan ini tidak boleh ditiru ya, karena keburukan Ayah ini adalah awal dari kehancuran hidup Ayah." Ujar Ridwan yang terpaksa bercerita.
Flashback
Ridwan adalah seorang pria pekerja keras, dia tidak pernah mengeluh apapun tentang bagaimana kerasnya hidup, walaupun dia hanya bekerja sebagai seorang office boy, namun dia melakukannya dengan sepenuh hati.
Wajahnya yang lugu dan tampan memang sering menarik perhatian rekan-rekan di kantor itu, bahkan karyawan disana banyak sekali yang sengaja memanggilnya untuk meminta minuman atau apapun itu dan memberikan tips untuknya dengan tujuan hanya sekedar untuk bisa melihat dirinya dan mencuri perhatiannya.
Hingga akhirnya gosip itu terdengar ditelinga Diana Claire, anak pemilik dari perusahaan besar yang kala itu masih menjadi staf karyawan juga, karena dia memang ingin memulai kariernya dari bawah terlebih dahulu.
"Permisi nona, ini pesanan makanan anda." Ridwan yang disuruh untuk membelikan makanan datang dengan senyuman, walau saat itu sudah melebihi jam kerjanya.
Ternyata gosip itu benar adanya, karena dia memang tampan, boleh nih buat teman ngobrol, hehe.
"Apa kamu yang bernama Ridwan?"
Diana adalah tipe wanita yang aktif, selalu ingin mencoba dan punya banyak rasa penasaran.
"Iya nona, ada hal lain yang bisa saya lakukan?" Tanya Ridwan dengan sopan.
"Ada, bisakah kamu menemaniku disini?" Diana sengaja menampilkan senyum terbaik yang dia punya.
"Hah, maksudnya gimana nona?"
"Saya harus lembur kerja dan aku takut sendirian di gedung sebesar ini, bisakah kamu juga ikutan lembur, nanti aku kasih ganti uang lembur kamu double, gimana?"
Ridwan yang masih single, dia tidak merasa keberatan jika harus pulang telat, karena memang tidak ada yang menunggunya, apalagi dapat bonus banyak, bisa menambah uang tabungan pikirnya.
"Emm... tapi saya tidak bisa membantu pekerjaan anda nona?"
"Tidak masalah, kamu hanya perlu duduk sebagai pajangan saja, itu sudah sangat membantu untuk kesehatan kedua mataku." Jawab Diana dengan asal.
"Pajangan?"
"Hehe.. maksud saya jadi teman ngobrol gitu, dari pada sendirian disinikan horor juga?"
"Baik nona."
"Sekarang kita makan bareng dulu yuk, aku udah lapar banget."
"Silahkan nona, saya masih kenyang." Tentu saja Ridwan menolak, dia tentu sadar diri dan juga sadar posisi untuk melakukan hal itu.
Krucuuk!
Krucuuk!
Namun panggilan perut memang sulit di kondisikan, apalagi siang tadi dia hanya memakan satu bungkus roti saja, karena ini sudah tanggal tua dan biasanya jam segini dia sudah pulang makan dirumah.
"Hahaha... mulutmu bisa berbohong, tapi perutmu terlalu jujur, sudahlah jangan sungkan, lagian nggak ada orang lain disini." Ledek Diana dengan senyuman miringnya, entah kenapa jika disuguhi pemandangan yang polos-polos begitu seolah menarik pribadinya.
"Tapi saya hanya seorang office boy nona,apa saya pantas makan bersama nona?" Tanya Ridwan kembali yang setahu dia, Diana adalah kepala bagian disana.
"Kenapa rupanya? Office boy juga manusia bukan? yang penting kan bukan hantu saja."
"Tapi---"
"Eh.. gimana kalau kita makan di rooftop atas, pemandangannya pasti bagus banget kalau sore begini." Terlintas satu ide untuk mencari suasana outdoor agar tidak terlalu canggung nantinya.
"Tapi diluar mendung nona?"
"Sudahlah, tidak masalah, ayok kita keatas."
"Tapi saya nggak enak nona."
"Lalu kalau nanti aku dalam bahaya, siapa yang akan jadi saksi matanya?"
Kalau Diana sudah berkeinginan, semua cara pasti akan dia lakukan. Hingga akhirnya Ridwan tidak lagi bisa menolaknya. Akhirnya mereka berdua duduk di pojokan rooftop yang memang sangat luas sekali.
"Nona, boleh saya tanya satu hal?" Tanya Ridwan yang merasa penasaran.
"Tentu saja, spesial hari ini jangan anggap aku sebagai atasanmu, anggap kita sebagai temanmu saja, lagian kayaknya kita seumuran kan, jadi santai saja."
"Kenapa nona lembur sendirian, bukannya rekan-rekan anda sudah pulang? apa nona melakukan sebuah kesalahan?"
"Kesalahan?" Diana sedikit terkejut mendengarnya, kenapa dia bisa berfikir seperti itu pikirnya.
"Maaf, mungkin nona melakukan kesalahan kerja begitu, jadi disuruh lembur sendirian?"
Apa dia tidak tahu siapa aku, tapi baguslah itu!
"Owh.. hehe, iya Wan!" Diana memilih mengiyakan saja. "Aku melakukan kesalahan fatal dan aku dihukum jadinya." Menurutnya lebih asyik mengobrol saat Ridwan tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya selain kepala bagian disana.
"Astaga, aku sudah menduganya tadi, padahal setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan kan nona, seharusnya tidak perlu dihukum, cukup diperingatkan saja agar kita berbenah diri ya kan?"
Uwh.. Manis sekali pria ini, makin tampan aja dia kalau sore begini, apalagi kalau malam ya kan, hehe?
"Eherm.. Iya, aku teraniaya kerja disini!"
"Benarkah? apa anda mau mencari kerja di tempat lain?"
"Apa kamu mau menemaniku juga?" Ledek Diana yang semakin menjadi.
"Maaf nona, kalau itu saya tidak bisa, saya bisa kerja jadi OB disini aja sudah syukur alhamdulilah, kalau ditempat lain entah bisa atau enggak."
"Jadi kamu tidak setia denganku?" Diana semakin senang untuk menggoda pria lugu model begini.
"Setia? kenapa harus setia, bukannya kita tidak punya hubungan apapun?"
"Pffthh... apa kamu ingin punya hubungan denganku?"
"Hah? maksud saya bukan begitu nona, aduh... gimana ya?"
"Bahaha... kamu lucu sekali Wan, apa kamu masih sendiri?"
"Tidak nona, saya di kontrakan ada beberapa teman, tidak sendiri, lumayan nona bisa menghemat ongkos sewa rumah." Entah mengapa pikirannya mengarah kesana.
"Bahaha... bukan di kontrakan Ridwan, tapi status kamu!"
"Owh... Maaf nona, saya tidak paham tadi." Ridwan merasa malu sendiri, dirinya yang berasal dari desa datang ke kota hanya bertujuan untuk mencari uang, tidak memikirkan masalah jodoh itu membuat pikirannya lurus tanpa ada belokan.
"Ahaha... sudah-sudah, jangan terlalu serius begitu, santai aja Wan!"
Diana Claire begitu terpesona dengan kepolosan seorang Ridwan, yang menurutnya sangat lucu itu dan bisa menghiburnya dikala penat melanda kesehariannya yang terus saja disuguhi masalah bisnis saja.
Gleerr!
Tiba-tiba terdengar suara guntur menggelegar di langit yang memang sudah mulai menghitam sedari tadi.
"Nona, sepertinya akan hujan lebat, apa pekerjaan Nona sudah selesai?"
"Tenang saja, hujan masih air." Jawab Diana sambil menaikkan kedua bahunya.
"Kalau hujan batu bisa remuk semuanya Nona."
"Biarkan saja."
"Nona lagi banyak pikiran ya? resah, gundah gulana atau gimana gitu?" Saat melihat Diana terlihat cuek dengan keadaan mereka dia malah merasa ada yang aneh pikirnya.
"Hmm... Aku resah karenamu." Umpat Diana dengan senyum yang tertahan.
"Owh ya? aku juga kalau lagi resah, es batu aku selimutin biar nggak kedinginan."
"Apa!" Diana tersentak, saat Ridwan ternyata bisa membanyol dan itu sangat mengasyikkan menurutnya.
"Hehe... bercanda Nona, dari tadi Nona terus yang ngetawain aku, kalau gantian gimana?" Akhirnya senyum tampan itu terbit disana.
"Owh... sama dong, aku juga kalau lagi nggak ada kerjaan matahari yang panas begitu aku suruh minum obat turun panas, biar nggak panas lagi."
"Pfffthh... bahaha, ternyata nona lucu juga!" Bahkan Ridwan langsung membungkam mulutnya agar tawanya tidak menggelegar.
"Satu lagi."
"Apa?"
"Aku juga kalau lagi menganggur buaya di rawa itu aku ajak dangdutan." Entah kenapa tawa dari Ridwan seolah candu bagi Diana, dan membuatnya ingin melihat lagi dan lagi.
"Wahaha... sudah nona, hujannya semakin deras ini, kita masuk keruangan kembali yuk, nanti Nona sakit aku nggak bisa jadi obat untuk nona, hehe."
"Haha... ternyata kamu asyik juga buat ngobrol ya, besok pulang kerja kita makan bareng lagi ya?"
"Aku nggak enak Nona, aku ini hanya seorang OB loh?" Dia langsung merasa insecure duluan.
"Kalau nggak enak kasih saos tiram dan sedikit penyedap masakan, pasti lezat nantinya."
"Wahaha.. Nona bisa aja!"
Dari obrolan yang kaku kemudian beralih ke candaan dan berakhir dengan gelak tawa, begitulah sosok Diana Claire yang memang mampu mencairkan suasana dimanapun, kapanpun dan dengan siapa pun.
Grek!
"Nona, apa anda mengunci pintunya tadi?" Saat Ridwan ingin mendorong pintu itu, namun terasa sangat sulit.
"Tidak, emang kenapa, apa tidak bisa dibuka?" Diana langsung ikut memeriksanya.
"Pintunya terkunci dari dalam nona, bagaimana ini?" Ridwan mencoba membuka paksa namun sangat sulit sekali.
"Security jaga Nona."
"Aish.. sepertinya dia tidak tahu kalau masih ada kita diluar."
"Apa nona bawa ponsel, kita bisa menghubungi pihak security dibawah."
"Ponselku tertinggal di meja kantor Wan."
"Aduh... ponsel saya juga ada ditas saya Nona, bagaimana ini?"
"Mau gimana lagi, terpaksa kita bermalam disini, tapi dimana kita harus berteduh Wan, hujannya gede banget ini."
"Ada gudang kecil diujung sana Nona, tapi hanya tempat sapu dan yang lainnya."
"Ya sudah, kita bersihin daripada kita basah kuyup disini kan?"
"Baik nona."
Akhirnya dengan cekatan Ridwan membersihkan ruangan kecil itu, hingga akhirnya mereka bisa berteduh didalam dengan beralaskan koran bekas, karena pintu itu pasti baru akan terbuka besok pagi-pagi sekali.
"Wan... kenapa ini dingin sekali?"
Setelah mereka berada didalam ruangan itu selama kurang lebih dua jam, akhirnya Diana kembali bersuara.
"Karena diluar masih hujan Nona, tapi sudah tidak deras lagi kok, hanya tinggal anginnya saja yang memang agak kenceng Nona, karena kita berada di atap bangunan." Tutur Ridwan kembali.
"Rasa-rasanya aku tidak kuat lagi Wan."
"Nona, jangan ngomong begitu aku jadi takut, aku nggak mau jadi saksi Nona." Ridwan mengingat ancaman awal dari Diana.
"Wan... aku juga belum mau mati, aku cuma kedinginan, bantu aku Wan."
"Caranya?"
"Apa kek, cari cara dong Wan Bakwan?" Tangan dan kakinya sudah bergetar menahan kedinginan sedari tadi.
"Cara apa dong, masak dipeluk?"
"Lakukan Wan, cepat! tubuhku menggigil ini." Pinta Diana yang sudah tidak bisa berpikir panjang lagi, karena memang tubuhnya sudah mengigil kedinginan saat itu.
"Aduh... tapi aku nggak enak Nona?"
"Cepetan Wan, kamu mau melihat aku terbujur kaku dan mati kedinginan disini?"
"Baiklah, permisi, maaf nona."
"Aku suruh kamu meluk, kenapa harus pake permisi segala!"
Grep!
"Maksudnya aku minta izin dulu tadi, takut ada kesalahan gitu." Ridwan langsung merengkuh tubuh Diana dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
"Makasih Wan, tubuh kamu hangat sekali." Diana semakin mengeratkan pelukannya dan mengungselkan wajahnya didadaa bidang Ridwan.
Wah... kalau begini ceritanya aku yang tersiksa.
Ridwan hanya bisa menghela nafasnya berulang kali untuk menghilangkan rasa canggung didirinya.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa naluri lelakinya pun merasakan kenyamanan disana, seolah botol yang ketemu dengan tutupnya, saling melengkapi diantaranya.
"Wan... kamu belum punya pacar kan?" Diana menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah Ridwan.
"Eherm.. Belum Nona, kenapa?"
"Kalau dingin-dingin begini ciuman enak kali ya Wan?" Entah kenapa pikiran Diana terus menjurus kesana.
"HAH? maksud Nona apa?"
Cup
Kedua mata Ridwan langsung mendelik saat bibiir lembut itu menempel dibibiirnya yang memang juga sedingin es itu.
"Enak kan Wan?"
"Hmm."
Kedua mata Ridwan seolah terhipnotis dengan tatapan sendu kedua mata cantik berbulu mata lentik itu, dan tanpa sadar dia menggangukkan kepalanya dengan patuh.
"Mau lagi?"
"Hmm."
Entah kenapa jiwa dan raganya sulit sekali untuk mengatakan menolak dan berkata tidak.
Cup
Dan akhirnya mereka melakukan hal itu kembali dengan suka rela, tanpa sebuah paksaan, hingga akhirnya dari sebuah kecvpan berubah menjadi pagvtan dan berlanjut menjadi sebuah lvmatan yang semakin mendalam, semakin menuntut dengan ditemani oleh rintik-rintik hujan diluar sana.
"Eugh.. iss!" Mulut Ridwan mulai berdesis.
Karena terlalu lama mereka melakukan hal itu berkali-kali bahkan berulang kali tanpa bosan, senapan milik Ridwan pun bangun dengan tegaknya.
Pria Normal tahu sendiri dong?
"Wan, apa ini?" Karena benda itu terus membesar dan akhirnya seolah mendesak tubuh Diana yang terhimpit didepannya, Diana kembali merasa penasaran.
"Mm.. ma.. maaf Nona, itu.. emm.. anu."Ridwan bingung mau menjelaskan bagaimana.
"Boleh aku melihatnya?"
"Hah?"
Ridwan tidak mengiyakan, namun dia juga tidak menolaknya, sehingga Diana yang punya watak penasaran terus saja berusaha membuka resleting celana milik Ridwan.
"Wan... ini kalau dimasukin mungkin akan lebih hangat kali ya." Dengan santainya Diana memegang benda yang terus mengembang didalam sangkar kain itu.
Wah... kalau terus-terusan seperti ini bisa terjadi kecelakaan lalu lintas ini, tapi kok enak gini.. ehh..
"Tapi Nona?"
"Mari kita coba, sekali saja Wan." Pinta Diana dengan gilanya.
"Tapi itu bukan mainan Nona, sekali dicoba tidak bisa kembali seperti semula loh?"
"Apanya?"
"Ya itunya... aduh gimana jelasinnya ya?"
"Tapi aku tetap ingin mencobanya Wan, boleh ya?"
"Jangan Nona, nanti Anda menyesal."
"Tidak, resiko biar aku yang nanggung!"
Slep!
Diana langsung duduk dipangkuan Ridwan setelah memastikan pulpen itu masuk tepat didalam lubang serutannya.
"Aw... aw... Wan, kok sakit?" Rintih Diana setelahnya.
"Aku nggak tahu Nona, aku tidak pernah melakukannya, mungkin butuh pelvmas, biasanya aku pake sabun biar licin kalau lagi mandi." Jawabnya tanpa sadar.
"Tapi disini nggak ada sabun mandi Wan, adanya air sabun lantai, aduh... Perih banget ini Wan!"
"Kasih air aja mau?"
"Boleh deh Wan, daripada pakai sabun pel, aku kan bukan lantai." Jawab Diana tanpa pikir panjang.
"Okey Nona."
"Aduh Wan, tapi kok masih sakit?" Rintih Diana kembali.
"Ulang lagi aja Non, mungkin dia masih cari jalan terang?"
Jalan Terang? okey deh karena didalam kan memang gelap, kagak ada lampunya ya kan?
"Tapi sakit Wan, aku tidak tahan lagi."
"Tapi hangat kan Nona?"
"Iya sih, tapi pedih Wan!"
"Sini, biar aku yang coba menggerakkan!" Ridwan langsung berinisiatif menggambil alih dan menjadi pemandunya.
Pung!
Ketimpang!
Ketimpung!
Suara gendang bertalu-talu...
"Urrrr... kok lama-lama enak ya Wan."
Walau mereka hanya melakukan gaya jungkat-jungkit dipangkuan dan dalam ruangan yang sempit, namun karena cuaca yang sangat mendukung, nyatanya Ridwan mampu membuat mulut Diana terus saja mende sah berulang kali.
"Iya Non, pake banget lagi, mau aku tambah kecepatannya Non, biar tambah enak?"
Jika isi senapan itu sudah masuk dan terkait dengan sempurna, sudah pasti suara tembakan dari senapan itu akan nyaring bunyinya dan begitulah kira-kira alur mereka.
"Mau banget!"
Bahkan tanpa kasur empuk dan hanya berlapiskan koran bekas saja dia bisa merem melek akibat ulah Ridwan yang ahli secara otodidak.
"Hrrrrrr... maaf aku pipis didalam Nona!" Karena Ridwan merasakan kenikm4t4n yang melebihi saat dia bersolo karier dengan sabun saat remaja dulu, akhirnya dia tidak bisa menahan tembakan dari senapan miliknya.
"Nggak papa, tambah anget Wan, aku mau lagi Wan, ayok lakukan lagi Wan!" Diana seakan sudah lupa daratan, karena pikirannya sudah melayang ke langit ke tujuh.
"Siap Nona!"
Akhirnya mereka berulang kali melakukan hal itu, melupakan resiko dengan apa yang akan terjadi setelah itu nantinya.
Memang benar bahwa, jika seorang laki-laki dan perempuan itu tidak boleh berduaan saja, apalagi jika salah satu dari mereka ada yang merasa tertarik, karena akan ada pihak ketiga yaitu SETAN yang akan mengelabuhi mereka, sehingga dua ingsan itu melupakan segalanya.
Flashback off
Maaf JOMBLO minggir dulu ya bestie, bacaan khusus untuk yang sudah menikah...🤣😂
Kalau episode yang beginian nggak bisa pendek dan terpotong-potong, jadi author kasih bonus part panjang walau kesorean.🤣