Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
71. Jangan mengumbar Aib orang lain


...Happy Reading...


Tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidup ini, bahkan masalah terbesar sekalipun pasti bisa kita selesaikan dengan baik, hanya butuh waktu saja, asalkan kita tetap berada dijalan yang lurus, karena jalan menuju kebaikan memang tidak mudah dan pasti akan terjal dan banyak guncangan, namun jika pendirian kita kuat dan tidak mudah goyah, badai pasti akan berlalu.


Selama berada didalam Pondok Pesantren, Hanny banyak belajar bahwa menyelesaikan suatu masalah tidak harus selalu dengan cara kekerasan, bahkan dengan main cantik akan lebih terkesan dan mengena dihati sanubari.


"Hei wanita kotor, atas dasar apa aku bisa mempercayaimu kalau dia adalah ayahku?" Tanya Dinar dengan tampang bengisnya.


Video yang membuat dia terkejut bukan kepalang, tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri yang sedang bermain dengan hebohnya diatas ranjang bergoyang dengan dibanjiri ribuan de sahan dan juga keringat yang mengucur deras.


"Woah.. apa masih kurang jelas videonya, atau mata kamu sudah rabun karena terlalu banyak mencari kesalahan orang lain? banyak-banyaklah istirahat kawan, jangan terlalu menyiksa diri sendiri." Hanny selalu bisa mengimbangi apa yang Dinar katakan, bahkan masih bisa menyelipkan dengan sebuah senyuman.


"Bisa saja kamu yang mengedit foto ayahku ini kan, hanya sekedar untuk pembelaan diri?"


Dinar menggangap bahwa ayahnya adalah pria yang sempurna, seolah tanpa cela, selalu perhatian dengan dirinya dan juga ibunya, itu kenapa dia tidak pernah mencurigai ayahnya yang memang sering pulang terlambat, karena dia fikir ayahnya bekerja keras demi keluarga tercinta.


"Apa kamu pikir aku kurang kerjaan? daripada mengeditnya lebih baik aku melayani suamiku diatas ranjang, bisa puas mende sah ye kan?" Hanny terus saja menjawabnya dengan santai.


"Diam kamu!" Umpat Dinar yang langsung kepanasan saat baru membayangkannya saja.


"Nih ya, aku kasih bahan gosip terbaru, siapa tahu kamu mau up ke publik ya kan, bahwa tadi sebelum kami kesini, aku telah berhasil mendapatkan keperjakaan sahabat terbaik kamu itu dan rasanya itu wah... gerrrr... mantap sekali tauk, fuuh... sensasi perjaka memang beda, aku bisa menganalisanya bahwa aku pasti adalah wanita yang pertama dia sentuh!"


Semakin Dinar terlihat seperti cacing kepanasan, semakin senang Hanny membuatnya sebagai bahan gurauan, daripada harus beradu mulut mengeluarkan kata-kat kotor hanya akan menambah dosanya saja.


"Dasar wanita kotor, bisa-bisanya kamu pamer soal ranjang denganku!" Dinar semakin menatap Hanny dengan kebencian.


"Siapa tahu kamu kepo juga, sekedar informasi gitu, daripada kamu diam-diam menyelidiki aku lagi dan rela mengeluarkan uang yang banyak demi berbagai informasi dariku kan?"


Tidak akan mudah mencari informasi tentang Hanny dengan lengkap jika tidak menggunakan uang untuk menyelidiki semua tentangnya, karena dia memang tidak pernah mengumbar diri didepan umum dan selalu menutup akses jika ada yang ingin berteman darinya, hanya Alisya lah sosok satu-satunya teman dihidupnya.


"Aish... sialaan!"


"Jadi gimana ini enaknya? Kamu mau lanjut dengan misimu atau mau menghentikan sampai disini saja, aku tidak akan memperpanjang masalah ini jika kamu merelakan Jeremy menjadi milikku dan berjanji tidak akan mengusik keluarga kecilku?"


"Kamu pikir aku siapa, berani kamu mengancamku dengan hal itu, aku pun punya videomu, aku juga bisa sebark luaskan video itu ke publik, ahaha!" Bahkan tawa Dinar begitu menggelegar walau terkesan dibuat-buat.


"Silahkan saja, aku bukannya artis yang sering muncul di Televisi dan video itu akan hilang dengan sendirinya ditelan oleh waktu dan satu hal yang paling penting, Jeremy sudah tau segalanya dan bisa menerima diriku apa adanya, so... jika dia tahu ada yang ingin mencoba menghancurkan nama baikku didepan publik, sudah pasti dia akan bertindak duluan, jadi tidak masalah bagiku!" Hanny merasa tenang saja, karena Jeremy sudah tahu segala tentangnya, bahkan sebelum menikah.


"Benarkah, apa kamu lupa kalau dia sahabatku bahkan kami sudah berteman baik sebelum dia mengenalimu!" Dinar mencoba menyombongkan diri, namun sayang dia melakukan hal itu dengan orang yang salah.


"Apa kamu juga lupa kalau aku itu istrinya saat ini, jika suami adalah kepala rumah tangga, jadi aku sebagai istri adalah lehernya, yang menggerakkan kepalanya ke kanan juga ke kiri, dan yang lebih penting adalah..."


Hanny memilih menggantung perkataannya agar Dinar semakin terlihat kalut dan emosi agar tidak bisa berfikir dengan cerdas.


"Dan apalagi, jangan coba-coba mengancamku!" Teriak Dinar kembali, yang sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


"Ow... sorry, kata Umi ustadzahku tidak baik saling mengancam, hanya saja jika kamu tetap ingin meneruskan obsesimu terhadap mas Jeremy silahkan saja, tapi jangan salahkan aku jika nama baikmu sebagai pengacara kondang akan tercoreng dan lebih parahnya lagi karier ayahmu sudah pasti akan terkena dampaknya." Hanny langsung menjelaskan ke point intinya.


Sesungguhnya Hanny tidak ingin mengusik hidup dan privasi orang lain, namun apa mau dikata, Dinar yang mulai memancing duluan, jadi terpaksa dia membongkar semuanya didepan Dinar.


"Hei... Jangan macam-macam kamu ya!" Sesungguhnya Dinar hanya merasa ketakutan saja dan seolah masih belum bisa percaya dengan kenyataan yang ada.


"Tidak, aku mana berani dengan pengacara handal sepertimu, sekarang kamu hanya tinggal memilih saja, terus menjalankan obsesimu itu atau rumah tangga orang tuamu akan hancur begitu saja setelah mendengar kabar ini dan menurut penyelidikan dari anak buahku, ibu kamu punya penyakit jantung akut bukan, apa kamu tetap ingin mempertahankan keinginanmu dan mengorbankan ibumu?"


Menurut info yang Hanny dapatkan dari anak buahnya, keluarga itu memang tampak harmonis dari luar namun siapa sangka ternyata ada sebuah keretakan dalam rumah tangga kedua orang tuanya, apalagi sang ibu ternyata mengidap penyakit yang cukup serius.


"Kurang ajar kamu!" Dinar lansung menaikkan satu tangannya ingin menampar Hanny, namun dengan sigap Hanny langsung menangkisnya.


"Dih... bukannya kamu yang mengajariku? emang cuma kamu doang yang punya anak buah, gue juga punya mbaknya, bahkan hanya dalam hitungan menit saja semua informasimu dan juga keluargamu sudah berada di dalam genggaman tanganku, hehe... maaf loh ya?" Hanny tidak terpancing emosi sama sekali, dia bahkan terlihat lebih mengemong sifat Dinar yang mudah terbawa emosi.


"Apa kamu merasa pantas mendapatkan Jeremy? dia orang baik sedangkan kamu, cih.. nilailah sendiri!" Ejek Dinar kembali.


"Emm... aku tahu, kalau aku ini wanita yang jauh sekali dari kata sempurna, tapi di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti punya keburukan dan asalkan kita mau berusaha memperbaiki diri itu lebih baik, yang pasti aku berusaha berproses untuk membenahi diri dengan usahaku, tanpa harus menjatuhkan orang lain!" Ucap Hanny yang sebenarnya ingin menyindir juga tentangnya.


"Cuih... Bahasamu itu!"


Entah mengapa pengacara Handal seperti Dinar bisa dibuat kehabidan jata oleh orang seperti Hanny.


"Terserah kamu saja, itu pilihan kamu, aku tidak akan memaksamu!"


Hanny tetap sabar menanti, walau sebenarnya dia punya keyakinan dalam hati bahwa Jeremy memanglah jodohnya, karena terbukti sejauh apapun dia pergi dan bersembunyi namun Jeremy bisa dengan mudahnya untuk menemukan dirinya, karena kalau memang sudah jodoh, sejauh apapun pergi akan tetap kembali.


"Apa kamu juga pernah tidur dengan Ayahku?" Satu pertanyaan yang berhasil membuat Dinar merasa khawatir sedari tadi.


"Dulu memang ayahmu pernah menginginkan aku, bahkan memintaku berulang kali, tapi aku tolak karena sebelum aku bertemu dengan klienku, aku selalu menyelidiki latar belakangnya dan juga kondisi keluarganya, jika memang dia punya keluarga yang harmonis aku tidak pernah mau merusaknya, walaupun itu atas permintaan dia sendiri."


Itulah prinsip Hanny sedari awal dia masuk ke dunia lembah hitam.


"Aish... kenapa harus ada sampah-sampah sepertimu di dunia ini!" Dinar sampai kehabisan kata-kata.


"Waduh... Sampah pun bisa didaur ulang menjadi barang berharga mbaknya, jangan terlalu menghina, ayah kamu bahkan sering bermain dengan wanita rendahan diluar sana, dan sampai saat ini ayahmu masih sering jajan di luar, bahkan cari yang murah." Jawab Hanny masih dengan mode tenang.


"Tutup mulutmu Hanny!" Cibir Dinar berulang kali.


"Dan ada satu kabar buruk lagi untuk kamu dan juga keluargamu!" Demakin Dinar menjelekkan dirinya, semakin Hanny nekad membuka aib keluarganya.


"Bisa diam nggak loe, dasar j@l@ng!" Hardik Dinar yang sudah kalah telak.


"Sekedar info saja, bahwa ternyata kamu punya adek lagi loh."


Ternyata setelah ditelusuri sampai ke akarnya lagi,baru saja dia mendapatkan bukti yang cukup mengejutkan tentang ayah Dinar.


"Jangan menfitnah kamu, aku anak terakhirnya!" Dinar merasa tidak terima, bahkan dia sampai berkacak pinggang dihadapan Hanny yang terus stay tersenyum.


"Iya, itu kan dari ibumu, tapi dari ayahmu kamu bukan anak terakhir!"


"Apa kamu ingin aku mengungkapkannya lebih detail lagi didepan kedua orang tuamu sekalian, atau perlu aku datangkan, rekan sejawatku dulu yang menjadi j@l@ng milik ayahmu itu!"


"Aish... okey fine, kamu boleh mengambil Jeremy dariku!"


Dinar memilih menyerah saja, karena sudah tidak kuasa lagi mendengar informasi dari Hanny yang terasa menyakitkan baginya.


Ayah yang selama ini dia bangga-banggakan dan menjadi panutan dirinya ternyata tidak sehebat yang dia kira.


"Dih... maaf-maaf ni ye, bukan aku yang mengambil Jeremy darimu, jelas-jelas kamu yang mau merebutnya dariku, Jeremy suami gue sekarang mbaknya, ingat itu!"


"Kalau kamu berani mengusik keluargaku lagi, jangan salahkan aku jika aku menyalahgunakan videomu!"Entah apa yang ada di otak Dinar, bisa-bisanya dia mengancam Hanny kembali.


"Terserah kamu saja, aku tidak masalah tentang video itu, kalau kamu mau menyimpannya dan melihat betapa hebatnya aku diatas ranjang dulu juga tidak apa-apa, mungkin bisa kamu jadikan referensi gaya-gayaku setelah kamu menikah nanti, agar suami kamu bisa mende sah berulang kali, it's okey... kamu bisa banyak belajar dari video itu tanpa royalti." Hanny bahkan menyandarkan tubuhnya di tembok sambil bersidekap saat menanggapi ocehan Dinar.


"Kamu memang wanita yang menjijikkan."


"Memang aku akui, dulu aku sangat menjijikkan, tapi setidaknya aku tidak mengusikmu dan menjatuhkanmu demi sebuah obsesi!"


"Menyesal aku bicara baik-baik denganmu!"


"Berarti bisa kita simpulkan bahwa ini adalah kesepakatan kita bersama ya!"


"Terserah kau saja, aku sudah tidak perduli lagi denganmu!"


"Bagus itu, tapi ada satu syarat lagi sebagai jaminan bahwa kamu memang tidak akan lagi mengusikku, ya... biar sama-sama tenang lah, aku tenang dengan keluarga kecilku dan kamu juga tenang dengan keluargamu, dan yang pasti tenang dengan keadaan ibu kamu yang punya penyakit lumayan serius itu."


"Apalagi Hanny!" Dinar sudah seperti orang yang tertekan dan kehilangan arah mendengar kenyataan yang pahit ini.


"Boleh minta tolong nggak, berikan saran kepada Ayah mertua agar beliau menerima aku sebagai menantu terbaiknya, hehe..."


"Cih... dasar kamu, wanita tidak tahu malu."


"Aku sudah tobat, ayahmu itu yang belum tobat, tapi akan aku doakan semoga ayah kamu cepat sadar dan kembali ke jalan yang benar." Hanny bahkan dengan santainya menepuk bahu Dinar.


"Dasar Kimcil kamu, menjijikkan, jangan sentuh aku!" Dinar langsung mengibaskan tangan Hanny karena merasa terpukul dengan fakta dari ayahnya.


"Hedeh... mulutmu itu, sepertinya sekali-kali baiknya di Ruqyah, intinya mau nggak nih, udah pake kata tolong loh tadi, kalau enggak aku kirimkan semua bukti yang aku dapatkan langsung ke nomor ibumu."


"Iya, berisik!"


"Sip deh, terima kasih Dinar, hehe!"


Yess... Misi berhasil, terima kasih Tuhan, sekali lagi Engkau telah membantu hambamu yang berlumuran dosa ini.


Akhirnya dua wanita cantik itu berjalan beriringan masuk kembali kedalam rumah Jeremy yang masih diliputi dengan suasana yang tegang.


"Sayang, are you okey, apa Dinar menyakitimu?" Begitu mereka baru muncul didepan pintu, Jeremy langsung berlari menyambut Hanny.


"Tentu saja tidak, mana ada yang berani menyentuh istri tercinta kamu ini, hehe." Bisik Hanny dengan wajah yang penuh dengan senyuman.


"Lalu bagaimana, apa yang terjadi diluar sana, kenapa mas nggak boleh tahu?" Jeremy terlihat penasaran sekali.


"Kita dengar dulu penjelasan dari Dinar, pokoknya mas tenang saja, tidak akan ada seorang pun yang bisa memisahkan takdir cinta kita, kecuali atas kehendak yang diAtas sana, jadi mas tidak perlu khawatir dan meresahkan tentang hubungan kita."


"Fuh... syukurkah kalau begitu."Akhirnya Jeremy mengusap dadaanya yang bergemuruh sejak tadi.


Dengan langkah beratnya, Dinar mendekat kearah Ayah Jeremy.


"Begini Om, sepertinya aku tidak mau menjadi pemutus hubungan mereka, maaf sudah menggangu kegiatan Om hari ini, Dinar mau pamit saja!"


"Loh Dinar, memang apa yang terjadi, apa yang dikatakan wanita itu sehingga kamu mundur dari rencana kita?" Ayah Jeremy merasa heran sendiri.


"Maaf Om, mungkin memang wanita itu yang cocok menjadi pendamping Jeremy."


"Maksudnya?"


"Aku mundur Om, maaf aku tidak bisa melanjutkan rencana kita, ayo Mah kita pulang!"


"Dinar, apa yang kamu lakukan, jangan permalukan ayah didepan keluarga Jeremy nak?" Ayah Dinar ikut protes.


"Bukan aku yang mempermalukan Ayah didepan keluarga ini, tapi ayah sendiri yang melakukannya!"


"Maksud kamu apa nak?" Giliran Ayah Dinar yang dibuat kebingungan.


"Ayo Mah, kita pulang, Om dan Tante permisi dan kamu Jeremy semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." Dinar langsung menarik lengan ibunya yang maaih belum paham.


"Terima kasih Dinar, semoga kamu juga segera bertemu dengan jodohmu nanti." Jeremy menggangukkan kepalanya, mau seperti apapun Dinar sekarang Jeremy tetap memaafkannya, asal tidak kembali mengusik istrinya, karena dia juga salah satu teman baiknya.


"Okey."


"Sabar Dinar, cinta tak harus memiliki, percaya saja dengan Tuhan, dia pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu kelak."


Hanny tidak lagi ingin menjadi sosok pembenci, dia percaya bahwa Tuhan selalu ada bersama di hati kita masing-masing.


"Hmm."


Sebisa mungkin Dinar menahan bendungan air matanya, karena memang dia sangat mencintai Jeremy bahkan sudah sejak dari dulu lagi.


Cintanya tidak salah, mungkin hanya caranya saja yang salah dalam mengungkapkannya, dia terlalu memaksakan diri demi sebuah obsesi.


Namun setelah Dinar masuk kedalam mobilnya, tangisannya pecah didalam pelukan ibunya, dia seolah tidak ingin menatap wajah ayahnya dan disaat itulah Ayahnya baru menyadari bahwa ada yang salah, saat dia mengingat sosok Hanny.


Jangan mengumbar Aib orang lain, karena mungkin aib kita sendiri bahkan lebih banyak, namun masih ditutup rapat oleh Allah.