
Hari yang di tunggu,hari yang di nanti-natikan oleh kedua pasangan kekasih yang kini tengah duduk di berdampingan di depan penghulu.
"Saaah,"saudara-saudara Rio yang turut hadir melihat acara sakral itu berucap bersamaan.
Cinta mencium punggung tangan Rio,sedangkan Rio tersenyum kagum.Ia lantas mencium kening sosok wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Akhirnya,aku bisa menatapmu sepuas hatiku Cin.Setelah seminggu lamanya kita tak ketemu,"bisiknya di telinga Cinta,namum masih bisa di dengar oleh orang-orang sekitarnya.
"Dasar anak muda zaman sekarang..belum muhrim sudah maen rindu-rindu segala.Sekarang dah mukhrim hati-hati Cinta,nanti malam tidur sama ibu saja.Bahaya tidur sama dia!"ledek bu Halimah ibu Rio.
"Ibu ini ngajari yang gak bener!"
"Heeemmm,"bu Halimah mencibiri Rio.Namun setelahnya beliau memeluk anak semata wayangnya,mencium keningnya."Jadilah suami yang bertanggung jawab ya nak.Ingatlah...bahwa setiap rumah tangga itu pasti akan ada kerikil-kerikil kecil yang akan menghalangi langkah kalian.Semua itu adalah ujian,jika kalian mampu bersabar maka kalian akan bisa melewatinya,"dan masih banyak lagi wejangan-wajangan yang di sampaikan oleh ibunda Rio kepada pasangan pengantin itu.
Setelah acara ijab kobul usai,kedua pasangan itu di arahkan oleh perias pengantin untuk berganti baju santai terlebih dahulu untuk beberapa jam.Karena setelah beberapa jam waktu yang di berikan selesai mereka harus menjadi raja dan ratu yang di pajang di depan para tamu undangan.
Di tempat yang berbeda,seorang lelaki yang terlihat tampan tengah mematutkan diri di depan cermin.Jas hitam yang terlihat sangat mahal itu ia pakai untuk melengkapi penampilannya yang ganteng maksimal.Radit,tentu ia di undang oleh Rio yang kini menjadi sahabat sekaligus rekan kerjanya di acaranya yang sakral.Ia sudah mempersiapkan kado terbaiknya untuk sepasang pengantin itu.Sakit sebenarnya,melihat seseorang yang ia cintai bersanding dengan orang lain,namun Radit berusaha berlapang dada.Ia harus bisa menerima kenyataan,bahwa Cinta bukanlah miliknya.
Sudah siap dengan segala apa yang akan ia bawa,Radit menginjak pedal gas mobilnya menuju jalanan beraspal.
Di dalam kamar,sepasang pengantin yang sudah sah menjadi suami istri itu tengah berbaring di atas ranjang tanpa melakukan apapun.Sekedar melepas penat,Rio membiarkan Cinta hingga wanita itu tertidur.Ia tahu karena setelah ini resepsi akan di gelar dan sudah pasti akan membuat istrinya itu kelelahan.Saat ini mereka tengah berada di rumah Cinta,hingga 2 hari kemudian barulah resepsi akan di gelar kembali di rumah Rio.
Ia menatap wanita cantik yang tengah tidur pulas itu dengan senyum mengembang.Puji syukur ia panjatkan telah menjadi pendamping dan imam untuk wanita yang sudah menggetarkan hatinya untuk pertama kalinya.Saking fokusnya ia menatap Cinta sampai tak mendengar ketukan pintu berkali-kali.
Hingga ketukan untuk sekian kalinya barulah ia sadar setelah suara panggilan sang ibunda itu menggema.
"Riooo buka pintunya!"
Ceklek.
Rio membuka pintu."Ada apa sih bu?"
"Kamu itu yaaa,belum waktunya kamu enak-enak.Cinta itu capek masa iya kamu sudah ngerjain dia,"melihat penampilan anaknya yang acak-acakan.
"Enak-enak gimana? tu lihat,menantu ibu sedang tidur.Kami belum enak-enak bu."Mengarahkan dagunya ke Cinta yang tertidur sangat pulas.
"Wah Cinta kelelahan tapi bagaimana ada tamu di depan.Gak mungkin kan membiarkan mereka tidak ketemu Cinta."
"Emang siapa bu?"tanya Rio penasaran.
"Itu namanya bu Ningsih,sama anak-anak asuhnya."
"Rio bangunkan Cinta dulu bu,kasihan anak-anak itu jika tidak bertemu dengan Cinta.Lagi pula Cinta juga pasti sudah mengharapkan kedatangan mereka."
"Ya sudah kamu bangunkan Cinta terlebih dulu,biar ibu yang menemani bu Ningsih selama Cinta belum datang."Bu Halimah meninggalkan kamar itu.Kemudian menuju ruang tamu menemani Bu Ningsih yang terlihat bercengkerama dengan anak-anak asuhnya.
Sedangkan Rio,menghampiri Cinta yang masih setia dengan guling di pelukannya.Ia merangkak naik ke atas ranjang."Sayaang,"panggil Rio sambil menekan nekan pipi Cinta samping kanan menggunakan jari telunjuknya.
"Di depan ada bu Ningsih loo."
Mendengar bu Ningsih,Cinta bergegas bangun.Ia kemudian sedikit tergesa-gesa hendak keluar kamar.
"Eeeeee tunggu sayang kau mau kemana?"
"Loooo tadi katanya ada bu Ningsih mas."Rio tersenyum tipis,melihat istrinya yang belum seratus persen sadar dari tidurnya.
"Dengan berpakain seperti itu kau akan keluar dari kamar?"tanya Rio sambil menunjuk baju yang di kenakan Cinta.
"Astaghfirullah ya Allah mas maaf,aku sampai melupakan hijabku!"
"Berhenti di situ saja!"titah Rio yang kemudian beranjak dari ranjang menuju lemari pakaian.Matanya terlihat mencari-cari sesuatu,setelah ketemu ia menariknya pelan.
Rio menghampiri Cinta yang masih berdiri di dekat pintu tanpa membukanya.
Ia membuka lipatan kain hitam itu.
Cinta tersenyum melihatnya.Ia hendak mengambil kerudung itu dari tangan Rio.
"Diamlah,aku akan memakaikannya!"
"Tapi mas,"
"Sssttt,"Rio menutup mulut Cinta dengan ibu jarinya.Ia lantas memakaian kain itu hingga menutupi seluruh rambut hingga dadanya.
"Meski yang menunggumu seorang wanita dan anak-anak.Tapi di antara anak kecil itu ada laki-laki juga.Dan aku ingin seluruh tubuh yang kamu miliki itu hanya aku yang bisa melihatnya."Mencangkup kedua pipi Cinta dan mengecup bibir itu pelan.
Cinta tersenyum senang mendapatkan perhatian itu.Karena memang apa yang di katakan Rio benar adanya.Rambut juga termasut aurat dan aurat itu hanya bisa di lihat oleh seorang suami.
"Terima kasih ya mas."
Rio mengangguk menjawabnya."Keluarlah,mereka sudah menunggumu!"
"Mas nggak keluar?"
"Aku akan mengganti bajuku terlebih dahulu."
"Baiklah,aku temui mereka dulu ya mas."
Sekali lagi Rio hanya mengangguk.Ia lantas mengganti pakaiannya dan kemudian menyusul Cinta di ruang tamu.
Bersambung...