Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Kecelakaan


Fajar mulai meredup,cahayanya perlahan sembunyi di balik gelapnya malam,hembusan angin di malam ini begitu sangat dingin,hingga membuat sosok wanita cantik yang tengah mengajari anak-anak panti itu merinding kedinginan.Padahal ia sudah memakai kain penghangat yang ia telungkupkan menutupi baju gamisnya.Sejenak ia mengusap kedua telapak tanangannya lalu di tempelkan ke pipinya dan ia lakukan itu berulangkali untuk mendapatkan sedikit rasa hangat pada bagian wajahnya yang terbuka.


"Yuk anak-anak kita masuk,di sini dingin takutnya kalian masuk angin,"ajak Cinta.


"Iya kak,"jawab mereka kompak.


Mereka pun masuk ke dalam,tidak terkecuali Cinta.


Tidak jauh dari tempat itu,seorang lelaki dengan jaket tebalnya tersenyum kecil saat memperhatikan apa yang Cinta lakukan.


Melihat Cinta yang hendak menutup pintu,ia keluar dan berlari menghampirinya.


"Cinta,"teriak Rio.


Seketika wanita itu memicingkan matanya,ia menoleh ke belakang melihat anak-anak yang sudah duduk di ruang tengah.


"Kenapa kau malam-malam begini kesini?"ucapnya dengan memelankan suaranya.


"Ini masih sore Cinta,lihatlah jam itu masih pukul 7,"jawab Rio sambil menunjuk ke arah jam dinding.


Menghela nafasnya kasar,ia begitu tidak percaya kalau lelaki ini tiba-tiba muncul tanpa di undang.Bunyi mesin sepedha motornya pun juga tidak terdengar.


"Cinta,ada siapa?"dan mendengar keributan di luar,bu Ningsih pun menghampiri Cinta."Looh kok gak di suruh masuk nak Rionya."tanya bu Ningsih setelah tahu kalau pemilik suara itu adalah Rio.


Mendengarnya Rio tersenyum senang,i...


"Iya bu tadi saya sudah menyuruhnya masuk,tapi katanya tidak perlu karena terburu-buru,"Cinta pun memotong pembicaraan Rio dengan senyum penuh kemenangan.


Sedikit kesal dengan ucapan Cinta,padahal ia ingin ngobrol-ngobrol bersamanya.Terpaksa ia pun membenarkan apa yang di ucapkan oleh Cinta.


Di kediaman orangtua Rio,


Sang ibu begitu panik tidak mendapati putranya hingga malam hari,baju-bajunya pun sebagian juga kosong,pun dengan mobilnya.Beliau hanya bisa menangis,putra semata wayangnya akankah pergi dari rumah ini?


"Sudahlah bu biarkan anak itu pergi,aku sungguh muak dengannya,anak tak tahu di untung."Mendengar suaminya berbicara beliau lebih memilih diam,sebab beliau tahu emosinya masih belum stabil,salah sedikit saja pasti akan menjadikan masalah buatnya.Entahlah apa yang akan terjadi nantinya jika sang suami tahu dengan kenyataannya.


Sedangkan Rio setelah dari panti tempat Cinta ia kembali mengambil mobilnya.Mungkin karena suasana hati sedang tidak baik,ia melaju dengan kecepatan tinggi.Hingga tidak sadar sebuah mobil dengan laju tak terkendali dari arah berlawanan.Seketika Ia menginjak rem dan membanting setir berusaha menghindari tabrakan,Dan untung saja tidak terjadi hal yang buruk,hanya sedikit benturan di bagian keningnya ketika mobilnya menabarak sebuah pohon.


Rio melihat mobil lawannya yang menabrak sebuah pembatas jalan,saking kerasnya hingga membuat bagian depannya terlihat rusak parah,sudah banyak warga yang berusaha menyelamatkannya,ada pula yang beberapa warga yang menanyakan keadaan Rio.Ia melihat ke tempat kejadian,betapa kagetnya ia yang ternyata pemilik mobil itu adalah Radit.Tanpa pikir panjang Rio segera membawa Radit masuk kedalam mobilnya yang kebetulan tidak terjadi kerusakan.Hanya sedikit pesok bagian depannya saja.


****


"Bagaimana dok keadaannya?"tanyanya saat sudah sampai di rumah sakit.


saudara Radit kemungkinan akan mengalami amnesia,benturan di kepalanya sangat keras,sehingga menyebabkan kerusakan pada bagian otaknya,apalagi teman anda seorang peminum alkohol," Mendengar penjelasan sang dokter Rio jelas terlihat bingung.


"Di mana keluarganya?"tanya sang dokter.


"Saya tidak tahu dok,karena saya tidak pernah mencari tahu tentangnya,dan saya hanya sebatas kenal saja."


"Kita lihat saja nanti saat dia sadar."


Beberapa jam kemudian,Rio yang mulai jenuh hanya berdiam diri saja apalagi sang asisten tak kunjung datang setelah ia menghubunginya beberapa jam yang lalu.


Sedangkan di perusahan,sang asisten kalang kabut,sebab ayah Rio tiba-tiba memutuskan untuk mengambil alih perusahaannya kembali,semua itu beliau lakukan bukan tanpa alasan.semua fasilitas yang Rio dapat dari orangtuanya belian cabut hingga tak tersisa sedikitpun.


Sang asisten tidak berani berbicara apapun pada atasannya saat menelfonnya tadi,sebab ayah Rio mengancam akan memecatnya juga jika sampai sang asisten berbicara sedikit saja.


Kembali ke RS,


Saat ini Rio tengah frustasi,ia tak habis pikir kenapa semua kartu yang di milikinya tak bisa di gunakan,semuanya di blokir dan ia tahu sudah pasti sang ayah yang melakukannya.Sebenarnya ada 1 kartu miliknya pribadi,namun uang yang tersimpan di situ tidaklah seberapa banyak dan itu murni hasil dari jerih payahnya sendiri dan uang itu juga akan ia gunakan untuk pernikahannya nanti dengan Cinta.Meski ia belum mendapat restu dari orangtuanya.Tapi untuk saat ini sepertinya tidak ada pilihan lain,ia terpaksa menggunakannya.


Menghela nafasnya kasar saat melihat raut wajah pucat yang terbaring di ranjang pasien.Mengingat betapa lelaki ini teropsesi dengan Cinta.Ya jika mengingatnya ia begitu geram tapi saat ini lelaki ini terlihat sangat tidak berdaya,tidak mungkin juga ia membiarkannya begitu saja.


"Hei..Radit bangunlah! apa kau tidak lelah tidur terus? aku yang duduk di sini saja sudah lelah,ayo bangunlah!"Sedikit keras Rio menggoyang-goyangkan tubuh lelaki itu,dan ia sungguh tak menyesal melakukannya.Radit merespon,jemari tangannya bergerak.


"Dokter dokter,"teriak Rio saat mengetahui Radit mulai sadar.Padahal di sebelahnya ada tombol untuk memanggil sang dokter tanpa harus berteriak-teriak,tapi karena saking senangnya dia sampai melupakannya.


Lelaki itu membuka matanya perlahan,bersamaan dengan datangnya dokter Rio tersenyum melihatnya.


"Syukurlah akhirnya teman anda sudah sadar,"ucap sang dokter dan kemudian memeriksanya.


"Kenapa aku bisa ada di sini dok?"tanya Radit mulai membuka mulutnya.


Dan dokter pun memberi penjelasan."Dan itu siapa?"tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah Rio.


Keduanya saling menatap,Rio melirik ke arah dokter,meminta penjelasan dengan apa yang ia dengar."Seperti yang aku katakan tadi mas Rio,"ucap sang dokter.


"Apa anda ingat siapa nama anda sendiri mas?"


"Saya dok?"seperti orang kebingungan saat mendapat pertanyaan tentang dirinya."Aaah,"sambil memegang kepalanya yang merasa kesakitan saat ia berusaha mengingat siapa dirinya."


Bersambung....