
...Happy Reading...
Setelah tragedi demi tragedi menegangkan yang Alisya dan Nicholas lewati, akhirnya mereka kembali menuju kota untuk menjalankan rutinitas seperti biasanya, namun sepanjang perjalanan pulang, tak ada obrolan yang terjadi didalam mobil itu.
Nicholas yang terus menatap lurus ke arah jalanan, begitu juga dengan Alisya yang termenung melempar pandangan kesamping dan yang pastinya pasangan halal yang tidur terlelap dikursi belakang sambil berpelukan.
"Alisya, kalau kamu ngantuk tidur saja." Akhirnya suara Nicholas memecah kensunyian.
"Nggak kok, lagian nanti kamu nggak ada temennya, tuh pasangan baru tidurnya sudah kayak orang pingsan, nanti kalau kamu menyopir sambil mengantuk bisa bahaya." Jawab Alisya yang sebenarnya memang tidak merasa ngantuk sedikitpun, karena suara jeritan-jeritan tadi masing terngiang-ngiang di kepalanya.
"Mereka pasti kecapekan bertempur tadi, jeritan mereka seolah tidak berhenti seharian, entah berapa puluh kali mereka tanding, apa pinggangnya nggak geser ya?" Ternyata apa yang ada di pikiran Nicholas pun sama, sebagai manusia yang masih jauh dari kata sempurna memang itu adalah hal yang wajar.
"Biarkan saja lah, mereka kan sudah halal." Alisya terus saja berpikir positif walau hatinya sempat deg-degan juga.
"Kamu kapan mau dihalalin?" Tanya Nicholas dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa sih?"
"Emang kamu nggak mau nikah?" Ledek Nicholas yang sudah menduga reaksi dari gadis polos yang ada disampingnya.
"Kalau aku mau, mungkin sudah dari dulu aku menikah?"
"Trus kenapa nggak mau, mau mengejar dunia dan karier begitu?"
"Karier apanya,aku hanya seorang cleaning service, pelayan kafe, apa yang bisa aku banggakan dari karierku?" Jawab Alisya dengan jujur.
"Katanya kamu kuliah?"
"Itu dia, aku hanya ingin merubah nasipku menjadi orang yang lebih baik."
"Emang selama ini kamu kurang baik?" Bukan Nicholas kalau tidak bisa membolak-balikkan kata.
"Jangan ngeledek deh pak, itu hanya bahasa kiasan saja." Umpat Alisya yang sebenarnya tidak pandai berkata-kata, apalagi dengan lawan jenis.
"Lalu kenapa kamu harus capek-capek kerja sambil kuliah, kenapa nggak menikah saja, biar ada yang menanggung semua kebutuhannmu."
"Kebutuhanku bukan hanya soal uang saja, aku juga masih punya orang tua, dan pengen sekali mengangkat derajat mereka agar tidak selalu dihina."
"Apa kamu butuh pewangi?" Tanya Nicholas yang berhasil membuat Alisya menaikkan kedua alisnya.
"Untuk apa?" Tanya Alisya yang menjawabnya dengan nada serius, karena tidak ada hubungan dari itu semua pikirnya.
"Ya, agar bisa mengharumkan nama keluargamu."
"Pak Nicholas yang terhormat." Sebenarnya Alisya ingin tertawa, tapi dia kesal juga.
"Hehe... cuma bercanda aja wahai adinda."
"Namaku Alisya, bukan adinda!"
"Ngambek ni ye?" Nicholas langsung memamerkan barisan gigi putihnya.
"Huft... Ngapain juga harus ngambek, kurang kerjaan aja."
"Mau kerja dikantor kami? aku akan merekomendasikan kamu nanti, atau mau jadi asistenku saja?" Akhirnya Nicholas punya trik jitu agar terus bisa berdekatan dengan Alisya.
"Masak asisten punya asisten?"
"Bos Jeremy pasti tidak akan menolak jika itu rekomendasi dariku, karena pekerjaan kami banyak, kamu bisa bantu aku mengantur jadwal dan lain-lain nantinya." Jelas Nicholas kembali.
"Nggak lah, aku belum sarjana."
"Kenapa, kamu bisa kuliah sambil kerja kan?"
"Entar ada yang iri, karena ijazahku cuma lulusan SMA, tapi bisa jadi asisten bapak."
Dunia realita memang kejam, bahkan rasa iri bisa membuat orang merasa tersakiti.
"Kenapa, kamu kan bestienya bu bos juga kan?"
"Terima kasih, tapi aku mau mendapatkan pekerjaan dari hasil kerja kerasku sendiri, tidak harus menggunakan jasa orang dalam, agar tidak ada kesenjangan diantara para karyawan yang lainnya."
"Nice, ternyata kamu wanita berprinsip ya, doaku cuma satu untukmu?" Senyum Nicholas yang mahal itu selalu dia jual murah jika itu tentang Alisya.
"Apa itu?"
"Semoga kamu seperti surat Al-Fatihah."
"Kenapa?"
"Baru baca Bismilah sudah langsung Alhamdulilah."
Ber!
"Hah?" Antara kaget tapi juga seneng.
"Pokoknya kamu Alhamdulilah aja deh, Alisya besok kita makan malam yuk?"
"Tiap hari aku juga makan malam pak, ngapain nunggu besok?" Jawab Alisya yang tidak mau berharap lebih dengan orang yang menurutnya kastanya jauh diatasnya.
"Ya maksudnya itu berdua?"
"Biasanya aku juga berdua sama Hanny."
"Maksudnya denganku saja?"
"Kenapa harus dengan bapak, cuma makan malam doang kan, ngapain ribet amat sih?" Alisya salah satu orang yang tidak mau mempersulit sesuatu dan tidak manja dengan keadaan yang serba sulit saat ini.
Dugh!
"Dia ngajak kencan Alisya! dih... mau diem nggak komentar, tapi kok gemes banget akunya!" Hanny akhirnya menendang kursi Alisya didepannya.
"Pfffttthh!" Jeremy pun hanya bisa menahan tawa sambil terus mengusap rambut Hanny.
"Hanny, kenapa kalian sudah bangun, masih lumayan jauh ini sampainya?" Tanya Alisya dengan kaget.
"Gimana nggak bangun kalian ngoceh aja!" Jawab Hanny yang masih terlihat nyaman dipelukan suaminya.
"Maaf deh."
"Sudahlah, kalau besok kalian mau kencan nggak papa, aku kan sudah ada yang nemenin sekarang." Hanny sebenarnya senang jika mereka beneran bisa bersama.
"Cocok bu bos, mohon izin ya, berati anda sudah setuju kalau aku sama dia bos?"
"Itu sih terserah Alisya aja, aku kan sebagai teman hanya mendukung aja, lagian kalau kamu yang jadi pacar Alisya kan aku jadi mudah mengawasimu, kalau kamu berubah jadi buaya, aku bisa binasakan kamu dengan cepat!"
"Jadi sebenarnya anda ini mau mendukungku atau membinasakan aku?"
"Ya itu tergantung niatmu, kalau memang kamu mau jadi buaya, ya sudah terima kenyataanmu!"
"Kenapa anda jadi kejam sekali bu bos, emang siapa yang mau jadi buaya, aku manusia tulen ini?"
"Ini cuma perumpamaan Bandit, masa nggak paham juga?"
"Saya hidup di lingkungan manusia, bukan di kebun binatang, jadi mana saya tahu!"
"Ssst... sebenarnya kalian ini ngomongin siapa?" Alisya kembali ikut bersuara.
"Kamu lah!"
"Emang siapa yang pacaran dengan siapa?"
"Pfftthh!" Jeremy hanya bisa tersenyum saja sedari tadi tanpa mau berkomentar, dia lebih suka memandangi wajah istrinya yang terlihat semakin menggemaskan saat sudah berdebat dengan Nicholas seperti ini.
"Hah?"
"Aku tidak mau pacaran dengan siapapun, jika sudah saatnya tiba nanti aku lebih memilif ta'aruf, jadi kalian ngak usah berlebihan." Itu juga merupakan salah satu prinsip dari Alisya.
"Kode itu Nick, kamu tahu kan jalannya?" Sebagai Bos, Jeremy pun senang jika asistennya senang, jadi dia akan terus mendukung apapun keputusan darinya.
"Lewat mana?"
"Jalur dalam aja biar cepet, nanti aku berikan penerangan disepanjang jalan, biar langkahmu mulus tanpa hambatan." Ucap Jeremy dengan yakin dan mantap.
"Muehehe... Terima kasih boskuh."
"Kalian ngomongin apa sih sampai penerangan jalan segala? Mau bikin proyek baru?" Gantian Hanny yang otaknya kembali loading.
"Hu um, kasian dia cuma bisa nguping kegiatan kita saja, jadi biar mereka bisa praktek juga."
"Maksudnya?"
"Kita pulang aja sekarang, mau ke rumah aku apa ke apartement aja?" Jeremy tidak ingin membahas mereka lagi, karena hubungannya lebih penting saat ini.
"Apartement aja." Jawab Hanny dengan cepat.
"Emm.. aku takut!"
"Kenapa takut, kan ada suamimu ini."
"Tapi?"
"Setidaknya kita harus memberitahukan pernikahan kita kepada mereka, tenang saja apapun yang terjadi mas selalu ada disampingmu."
Jeremy adalah orang yang gentle man selama ini.
"Ya sudahlah."
Akhirnya mobil mereka sampai di pelataran rumah mewah milik keluarga Jeremy.
"Bandit, kamu antarkan saja Alisya pulang, kasian nanti dia kemalaman." Walaupun mereka sudah pamit, tapi semua orang tua pasti akan khawatir jika anak gadisnya belum pulang.
"Siap bu bos!"
"Jangan coba-coba mengambil kesempatan dalam kesempitan, mengerti kamu?"
"Astaga, pikiranny itu loh, kalau aku apa-apain juga, nanti aku mau tanggung jawab, santai aja bu bos.!"
"Enak aja kamu ini!"
"Sudahlah sayang ayok kita masuk, nanti kalau kemalaman orang tua aku juga sudah tidur, mumpung mereka masih ada disini hari ini. Jawab
"Okey, nanti kalau sudah sampai rumah chat ya Sya, kalau dia bernai macem-macem teriak aja, atau hubungi kantor polisi terdekat."
"Ya ampun,anda kira aku begal apa?"
"Bodo amat!"
"Sudah-sudah, ayok kita masuk, sini mas gendong."
Jeremy langsung memilih menggendong istrinya saja, kalau tidak dia tengahi bisa-bisa perdebatan mereka tidak akan usai sampai tengah malam.
Dan saat pintu utama rumah Jeremy terbuka, betapa terkejutnya dia saat melihat seluruh keluarganya berkumpul semua disana.
Degh!
"Dinar? kenapa dia mengajak keluarganya datang kemari?" Jeremy merasa ada yang aneh.
"Mas, sedang apa mereka, kenapa kedua keluarga kalian bertemu?"
"Jangan risau, semua pasti akan baik-baik saja." Ucap Jeremy, padahal sesungguhnya Jeremy merasa ada yang janggal dengan pertemuan dua keluarga ini.
"Jeremy, akhirnya kamu pulang juga nak?" Ibu Jeremy langsung beranjak berdiri dan mendekat kearahnya.
"Mom, ada apa ini?"
"Gimana sih, kok kamu bawa dia lagi?"
"Kenapa rupanya Mom?"
"Jeremy! untuk apa kamu membawa pulang wanita itu, bukannya dia sudah mempermalukan keluarga kita?"
"Dad, aku bisa jelasin semuany!"
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, sekarang keluarga Dinar sudah datang, daddy juga sudah membahas semuanya untu kalian."
"Membahas soal apa Dad?"
"Pernikahan kalianlah, mau sampai kapan kamu bersandiwara menikah seperti sekarang? kalau ada jamuan makan dengan bisnis, masak iya kamu mau terus membawa asistenmu dan merubahnya menjadi perempuan, kalau sampai ketahuan media bisa gawat, jadi sebelum terlambat menikahlah dengan Dinar."
Degh!
Perlahan tubuh Hanny mulai melemas, dia langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Jeremy.
Hatinya sungguh tidak karuan, baru saja dia ingin menyemai mahligai pernikahannya, namun sudah ada penghalang diantara mereka.
"Aku sudah menikah dengan Hanny Dad?" Jelas Jeremy dengan jujur.
"Hanny? wanita malam itu, apa kamu tidak malu menikah dengannya?" Daddy Jeremy menatap acuh ke wajah Hanny.
"Dad, itu hanya masa lalu, Hanny sudah berubah sekarang"
"Bahahaha.. walaupun sudah masa lalu, tapi bekasnya tidak akan pernah hilang nak, apa kamu tidak jijik saat menidurinya, dia bahkan sudah tidur dengan banyak pria gila di muka bumi ini." Hujat Daddy Jeremy dengan kejamnya.
"Dad, jangan begitu!"
"Pokoknya aku tidak setuju kamu menikah dengan dia,aku tidak mau punya menantu pel@cur seperti dia, mengerti kamu!" Teriak Dadsy Jeremy seolah menegaskan.
"Tapi aku hanya mau Hanny Dad, dan aku sudah menikahinya kemarin!"
"Aku tidak perduli, tinggal kamu Talak dia saja bereskan, lalu kamu nikahi Dinar, bukan begitu nak Dinar, kamu mau kan menerima Jeremy walau dia Duda, kan baru kemarin dia menikah?"
"Tentu saja Om, itu tidak masalah bagiku, asalkan dia tetap bercerai dengan wanita itu, karena saya tidak sudi punya madu wanita malam seperti dia, cuih menjijikkan sekali!" Dinar pun tak kalah saat menghujat suaminya.
"Dinar, jaga mulutmu!" Jeremy merasa mulai tidak nyaman disana.
"Kenapa Jer, itu memang kenyataannya bukan?kamu sudah melihat semuanya! apa yang akan kamu banggakan dari dia coba?" Dinar maaih tetap pada pembelaannya.
"Anjay, eh.. Astagfirullohal'adzim!" Umpat Hanny karena terlalu kesal mendegarnya.
"Sayang, yang sabar ya?"
"Hmm... It's okey mas, pinjam dulu ponselmu, kita lihat aja nanti." Hanny lansung mengambil ponsel suaminya dan mulai mengotak-atiknya dengan cepat.
"Nak, Daddy dan Mommy tetap tidak sudi jika kamu menikah dengan wanita malam itu, apa kata Dunia jika masa lalunya terbongkar, bisa jatuh maruah keluarga besar kita."
"Daddy, tapi aku hanya mencintainya!"
"Makan itu cinta, pokoknya Daddy tidak perduli, ceraikan dia dan menikahlah dengan Dinar, titik!"
"Maaf, permisi ayah dan ibu mertua." Hanny mulai ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
"Cuih, aku tidak sudi kamu panggil ayah mertua!" Umpat Daddy Jeremy dengan tatapan benci.
Huuh... Sabar Hanny, main cantik aja, kamu sudah punya kartu Jokernya!
"Baiklah, tapi walau bagaimanapun juga saya sudah terlanjur menikah dengan mas Jeremy, jadi sebelum anda menginginkan kami berpisah, izinkan saya berbicara empat mata duludengan Dinar?"
"Sayang, mas tetap tidak ingin berpisah darimu, apapun yang terjadi!" Jeremy tetap tidak terima.
"Sssttt... Percaya saja denganku mas." Bisik Hanny disamping telinga suaminya.
"Sayang?"
"Bagaimana bapak dan ibu semuanya, apa saya boleh berbicara dengan Dinar sebentar saja?"
"Bagaimana nak Dinar?" Daddy Jeremy meminta persetujuan dari yang punya nama.
"Tapi Om?"
"Setelah kita bicara berdua, semua keputusan ada ditangan kalian, saya ikut saja." Hanny terlihat santai saja, tidak tegang seperti saat diluar tadi.
"Sayang! jangan macem-macem kamu, pokoknya sampai kapanpun itu kamu tetap istri sah dari mas."
Namun Hanny hanya tersenyum saja saat menanggapi ucapan suaminya yang sudah diliputi rasa emosi dan kekecewaan.
"Okey baiklah, kita bicara di luar saja!" Jawab Dinar yang seolah terpaksa.
"Sip deh!" Hanny mengikuti saja kemana kaki Dinar melangkah, tak ada rasa takut didirinya, walau hanya secuil.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu ucapkan, aku tidak sudi berbicara lama-lama dengan wanita kotor sepertimu."
"Kalau kotor yang tinggal dicuci aja kalau perlu pakai klorok, biar putih bersih seperti kamu ketika tidak tahu apa-apa!"Ledek Hanny dengan santainya.
"Maksud kamu apa?"
"Emm... menurutku memang penyelidikan kamu perlu aku acungi jempol, karena bisa mendapatkan bukti foto dan video saat aku mende sah."
"Cuih, jangan panggil aku Dinar jika masalah sepele seperti itu saja tidak bisa!"
"Lalu, aku harus memanggil siapa, jika melihat video ini?"
Degh!
"Karena kamu sahabat terbaik suamiku, aku akan menghormatimu, jadi jauhi Jeremy, cukup kamu restui saja hubungan kami, atau kariermu dan juga keluargamu yang akan hancur mulai detik ini."
Betapa terkejutnya seorang Dinar saat melihat video yang Hanny tunjukkan disana, bahkan air matanya langsung mengalir tanpa permisi, sedangkan Hanny hanya bisa menatap Dinar dengan sebuah senyuman.
Sempurna identik dengan rupa, tapi ketulusan selalu berkisah tentang hati, karena sejatinya Allah tidak memandang baik dan bagusnya bentuk rupa, apalagi melihat karier dan jabatanmu, melainkan hanya melihat hatimu.