Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
Untuk istriku.


Sementara di sana,Rio baru saja selesai meeting dengan para rekan bisnisnya.Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan.Hampir saja ia meloncat karena begitu kaget setelah tahu sudah lebih dari jam 1 siang.Dengan tergesa-gesa ia membereskan berkas-berkas yang berserakan,bukannya rapi malah tambah berantakan.Sementara asistennya hanya geleng-geleng kepala melihatnya."Biar saya saja pak yang membereskan."


Mendengar itu Rio menghentikan aktivitasnya."Kamu benar,kenapa gak dari tadi kamu bereskan?"


"Bapakkan selalu menolak,"jawab sang asisten.


"Ah sudahlah,kamu bereskan ya! aku ada perlu."Begitulah lekaki itu,meski ia seorang atasan bukan berarti ia tidak mau membereskan barang-barang yang seharusnya di rapikan sang asisten,baginya sama saja.Asalkan cepat selesai maka ia juga akan turun tangan.


Rio melajukan mobilnya sedikit cepat,sebentar-bentar ia membunyikan klakson mobilnya guna menyalip kendaraan yang ada di depannya.Sementara lajunya ia kurangi,tangan kirinya memegang handphone menepelkan di telinga yang kemudian ia lepas di gantikan pundaknya dengan kepala di miringkan guna mengapit handphone.Berkali-kali ia melakukan panggilan itu ke nomor Cinta,tapi tetap saja tidak di angkat.Ia mulai khawatir,apalagi hujan turun begitu deras.Kembali ia menyetir dengan lebih cepat.


Sampai di depan sekolah,Rio mengedarkan pandangannya.Mencari-cari Cinta dan kemudian matanya menangkap sepasang sepatu yang terletak di bawah gandu."Cinta,"bisiknya.


Rio membawa mobilnya mendekati gardu.Benar saja,di sana Cinta tengah memeluk kedua tulutnya yang ia tekuk.


Rio segera mematikan mesin mobilnya,ia keluar menghampiri Cinta dengan berlari."Cinta,"sapanya saat naik ke atas gardu dan duduk di depan wanita itu.


"Cinta,"sekali lagi ia memanggil.Tak ada


sahutan,Rio melepas jasnya kemudian memakaikannya ke tubuh Cinta.Ia memegang lengan Cinta kemudian menggoyangkannya pelan.


Merasa tangannya ada yang menegang,Cinta mengakat kepalanya."Rio."


"Maafkan aku Cin,ayo kita masuk mobil."ajaknya.


Rio bangkit terlebih dulu,membuka pintu mobik untuk Cinta.Setelah Cinta masuk Rio berlari memutar menuju pintu kemudi.


"Maafkan aku ya,"sesalnya.


Cinta tersenyum,di dalam sini terasa lebih hangat apalagi di tambah jas yang menepel di tubuhnya.Berasa Rio memeluknya,"astaghfirulloh haladzim,"ia menggeleng-gelengkan kepalanya."Mikir apa sich aku ini,"gumamnya lirih.


"Cin,"panggil Rio.


Asik melamun sendiri sampai tidak dengar jika dari tadi Rio bicara dengannya."Haah iya Rio ada apa?"


Rio melongo,"dari tadi tadi aku bicara panjang kali lebar ternyata Cinta tidak mendengarkan ku?"batinnya.Ia tersenyum tipis.


"Maaf aku telat jemput kamu Cin,"ucapnya.


"Tidak apa kok,aku tahu kamu sibuk,"jawab Cinta.


"Kamu tidak marah Cin?"tanya Rio.


"kenapa mesti marah? kamu kan kerja.Lagi pula kamu sudah datang,lain halnya jika tidak muncul sama sekali."


"Terima kasih Cin,"Cinta tersenyum tipis sebagai jawabannya.


Rio pun kemudian menjalankan mobilnya kembali melewati derasnya hujan.Suara petir menggelegar,cahayanya seolah-olah ingin menyambar siapapun dan apapun yang terlihat.


"Aaaa,"teriak Cinta."Astaghfirulloh haladzim,"ucapnya.Ia menyembunyikan wajahnya di balik tas yang ia pakai.Hanya sedikit matanya yang terkadang terlihat untuk melihat situasi.


"Kamu tidak apa-apa Cin?"


Cinta hanya geleng-geleng kepala.Biar bagaimanapun ia tetap takut melihat kilatan cahaya yang seolah-olah akan menyambarnya.


Tak lama kemudian mobil yang di kemudikan Rio masuk ke komplek perumahan yang terlihat begitu rapi dan menawan.Bagaimana tidak,sebab dari mulai masuk komplek,tanaman hias berjejeran rapi memenuhi pinggiran jalan hingga tak ada celah sedikitpun.Jalannya pun sepertinya memang di buat secantik mungkin,layaknya kapet hijau yang memanjang di setiap sisinya.Cinta di buat takjup melihatnya hingga ia melupakan sejenakan suara petir yang bergemuruh.


Melihat Cinta yang sepertinya kagum dengan yang ia lihat,Rio menggandeng jemari tangan Cinta.Cinta melihatnya,namun ia tak melepaskannya.Hanya matanya yang sedikit melotot dan langkahnya terhenti."Ayo,"ajak Rio.


Pandangan Cinta beralih pada lelaki di sampingnya.Rio tersenyum manis lalu membawa Cinta mendekati rumah itu.Sampai di depan pintu Rio mengambil kunci dan membukanya.


Lagi-lagi Cinta takjup di buatnya."Rumah siapa ini Rio?"


"Istriku,"jawaban Rio yang suskes membuat Cinta langsung beralih menatapnya.


"Maksudnya?"Cinta melepaskan genggaman tangan Rio.


Tersenyum,Rio berjalan menuju sebuah laci yang terletak tidak jauh dari tempatnya.Lalu ia mengambil sebuah map dan menyerahkannya pada Cinta."Bacalah."


Cinta membukanya,betapa terkejutnya ia bahwa yang ia pegang merupakan sertifikat rumah dengan pemilik rumah atas namanya.Cinta menatap Rio,"kenapa ada namaku di sini Rio?"


"Rumah ini milikmu,lebih tepatnya milik kita.Setelah mendengar kau bersedia menikah denganku aku membeli rumah ini untuk kita."


"Tapi kenapa atas namaku? bukankah kau yang membeli ini?"tanya Cinta.


"Kado untuk istriku,karena sudah menerimaku,"jawabnya tulus."Dan kamu bisa menempatinya mulai hari ini.Dan ini lihatlah!"


Rio memberikan satu map lagi pada Cinta.


"Apa ini?"tanya Cinta.


"Bukalah dan kamu akan tahu."


Cinta membukanya perlahan,setelah membacanya ia menutup mulutnya.Matanya berkaca-kaca,hingga ia tak mampu lagi menahannya dan jatuhlah air mata itu."Rio."


"Aku tahu,kamu sebenarnya tidak mungkin ingin menjual rumahmu yang merupakan peninggalan dari almarhum orangtuamu.Maafkan orangtuaku Cin,andai aku tahu dari awal..."


"Sssssst,"Cinta menutup bibir lelaki itu dengan jemarinya."Terima kasih,"ucapnya kemudian.


"Hatimu begitu baik Cin,tidak salah jika aku mencintaimu."


"Dan begitu juga dirimu,"jawab Cinta.


Hujan di luar sana masih begitu deras,suara petir kembali terdengar,Cinta menutup mata dan telinganya rapat-rapat.


Tidak dengan Rio lelaki itu tersenyum melihatnya,ia maju mengikis jarak antara mereka.


Cinta membuka matanya saat merasa ada hembusan nafas yang menerpa wajahnya."Kau mau apa?"tanya Cinta kaget.


"Maafkan aku,"Rio memalingkan wajahnya kakinya melangkah sedikit menjauh.


Bahaya jika hanya berdua,pasti yang ketiganya setan.Apalagi dalam situasi begini,pasti akan lebih banyak tergoda bisikan setan.


"Kamu mau melihat-lihat isi ruangannya Cin,yuk aku temani,"ajak Rio.


Tanpa sepengetahuan Rio,Cinta tersenyum kecil,ia mengikuti langkah lelaki itu,menyusuri setiap ruangan yang ada.Dan ia bersyukur,lelaki ini begitu baik,tepat menjadi imamnya.


Tinggal menunggu beberapa minggu lagi,semua persiapan sudah 100 persen selesai,tinggal menunggu hari H nya maka wanita di sampingnya sah menjadi istrinya.


Bersambung...