Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
81. Kekasih Gelap


...Happy Reading...


Perjuangan seorang Nicholas untuk merebut istri orang ternyata tidak mudah, setelah diselidiki lebih mendalam lagi, ternyata Yoga bukanlah Mafia biasa, dia bahkan memiliki banyak relasi dari organisasi rahasia.


Sejak lulus sekolah dia pindah ke negri Paman Sam dan belajar disana, dan ternyata pergaulan disana membuat Yoga terjerumus dalam organisasi kejahatan.


Dia memang terlihat seperti pengusaha penerus warisan keluarga pada umumnya, namun siapa yang menyangka bahwa dia banyak disegani para penjahat bahkan kelas kakap lainnya.


"Hei... Sarmin bin Bandit, gimana kalau kamu menyerah saja untuk menjadi pebinor kali ini?" Hanny sekedar memecah kesunyian diantara mereka bertiga.


"Maksud kamu apa?" Tanya Nicholas yang langsung meliriknya dengan nada tidak suka.


"Berita terkini dari hasil penyelidikan anak buahku, dia terlalu sulit untuk dilawan." Hanny menghela nafasnya berulang kali.


Bukannya dia tidak ingin membantu, namun kemungkinan gagal dari rencana mereka bahkan diatas lima puluh persen.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, demi Alisya apapun itu akan aku lakukan." Tekad Nicholas begitu kuat, karena baru kali ini dia merasa cocok dengan seorang wanita, namun sayang, ternyata halangannya sungguh berat.


"Memangnya kamu punya nyawa cadangan, kayak udah yang paling bener aja deh?" Hanny sebenarnya sangat setuju jika Nicholas bersama dengan Alisya, bahkan hubungan teman rasa saudara saat ini akan semakin erat.


"Jadi kamu mau menyerah begitu saja?" Tanya Nicholas yang sebenarnya tidak terima, pikirannya tetap akan mencari Alisya walau jalannya berliku tajam.


"Kenapa aku yang harus berusaha, yang mau jadi pebinor kan kamu bukannya aku!" Ledek Hanny kembali.


"Hei Bodat, jadi kamu tidak mau membantuku, teman macam apa kamu!" Hardik Nicholas yang lansung membentaknya.


"Jadi kamu sekarang menganggap aku sebagai teman, kalau ada maunya gituh?" Jika sudah begini, mereka pasti akan memulai kembali dramanya.


"Woah... awak benar-benar Biawak lah!" Hujat Nicholas yang semakin kesal.


"Hei... sudahlah, kenapa kalian jadi ribut sendiri, sayang sini kamu!" Jeremy selalu menjadi pihak ketiga diantara mereka.


"Asisten kamu itu lah, ngaku temen kalau lagi butuh, kalau enggak juga ngajak perang aja dia."


"Sayang... kamu ini suka sekali ngerjain anak orang, dia itu masih anak polos, kasihan dia."


"Siapa yang anda bilang masih polos itu? kalian berdua ini sama aja, giliran aku lagi jatuh aja kalian nggak mau bantu, padahal saat hubungan kalian kacau siapa yang selalu ada untuk kalian?" Karena kesal Nicholas tanpa sadar mengungkitnya.


"Pamrih lah itu, kamu minta balas budi ya?"


"Ngapain bawa-bawa Pak Budi segala, dia kan udah pensiun?" Jawab Nicholas yang merasa punya guru bernama pak Budi lamgsung protes.


"Astaga, kalian berdua ini, masih mau berdebat lagi!"


"Dasar Bodat!" Umpat Nicholas.


"Dasar Bandit!" Jawab Hanny semakin menggila.


"Nick, kata Hujan jangan lihat apa yang jatuh, tapi lihat apa yang akan tumbuh." Tiba-tiba kata itu mincul begitu saja.


"Wow.. ternyata suamiku seorang pujangga yang pandai merangkai kata."


Hanny langsung memeluk suaminya dengan gemas, merasa takjub dengan kata-kata yang tanpa sengaja keluar begitu syahdu.


"Berilah aku semangat, aku tahu mereka bukan lawan yang seimbang untukku, tapi aku hanya ingin menjaga Alisya dan hidup berdampingan dengannya sampai maut memisahkan."


"Wah... Udah dalem banget ini kayaknya!" Ledek Jeremy kembali.


"Apanya yang dalem yank? kan belum dimasukin?" Otak Jeremy lamgsung pitar tiga rtus enam pulih derajat.


"Mas, ngomong apaan sih, ngeres aja deh!"


"Hehehe.. habisnya kamu pakai kata begituan, entar malam gaya apalagi yank, gaya baru lagi nggak?"


"Woi... bisa nggak sih kalian ngertiin aku, kalau tidak bisa membantu setitaknya jangan bikin kepalaku semakin terasa ngelu dong!"


"Berisik lah, ayok kita berangkat, aku sudah sewa Jet Pribadi, agar kepergian kita tidak bisa dilacak oleh mereka!" Saat tiba masanya, Hanny langsung kembali mengejutkan mereka.


"Hah, pergi kemana?"


"Katanya mau memperjuangkan Alisya? Jadi nggak nih?"


"Kamu nggak bercanda kan Bodat?"


"Ya enggaklah, kamu pikir aku akan diam saja Alisya menikah dengan seorang Mafia, aku lebih mengkhawatirkan dia daripada kebucinanmu itu!"


"Walaupun kamu menyebalkan dan menjengkelkan, tapi terima kasih Bodat, hehe.."


"Heleh... basa-basi Luh, cium dulu tangan Nyai mu ini!"


"Baiklah!"


"Enak aja, jangan berani-berani menyentuhnya, walau hanya seujung kuku, atau aku ratakan wajahmu nanti!"


"Hehe... Bercanda mas, aku juga nggak mau dipegang-pegang ama dia."


Hanny langsung kembali menempel ditubuh suaminya, takut jika Jeremy beneran marah, sedari awal dia sudah merencanakan semuanya matang-matang, hanya saja dia tidak menyangka jika lawannya ternyata sangat berbahaya, jadi perlu kewaspadaan tingkat tinggi.


Akhirnya mereka bertiga bersama beberapa anak buahnya bertolak menuju ke negara dimana Alisya dan suaminya berada.


Sedangkan Alisya masih berada disebuah kafetaria dilantai bawah di hotel itu dengan ditemani satu cangkir kopi.


"Apa aku kabur saja ya, dia kan sudah berzina dengan wanita lain, aku punya alasan nanti untuk pergi meninggalkannya bukan? tapi bagaimana dengan keluargaku, apa ini akan menjadi alasan Yoga untuk menekan keluargaku? Astaga... apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan?"


Alisya meletakkan kepalanya yang terasa berat diatas meja, seolah sudah tidak lagi punya semangat hidup, bahkan mungkin sudah beberapa jam dia berada disana, padahal tadi suaminya meminta satu jam lagi untuk kembali ke kamar hotel.


Dia merasa risih sendiri, apalagi saat mengingat suara adu de sahan mereka tadi, sungguh membuat bulu kuduknya merinding sekaligus merasa jijik, bahkan lebih menjijikkan daripada muntahannya tadi.


"Tapi apa ini juga salahku ya, karena aku tidak memenuhi kebutuhan batin suamiku? tapi ya nggak gitu juga kan, lah.. sudahlah, lagipun aku tidak mau berjodoh terlalu lama dengannya, tapi kalau dia tidak mau pisah gimana, huft... aku tidak bisa berpikir dengan jernih untuk sekarang ini.


Tulilut!


Tulilut!


Tak lama kemudian ponsel Alisya berbunyi, terlihat ada panggilan dari nomor Hanny disana yang sebelumnya sengaja sudah dia ganti nama kontaknya.


"Posisi?"


"Gue share lokasi aja, bye!"


Alisya memilih langsung mematikan panggilan dari Hanny untuk berjaga-jaga, jika nanti misalnya ada yang mengawasinya dari kejauhan.


"Ya Tuhan, akhirnya mereka datang, tolong bantu mereka Gusti, semoga aku cepat bisa lepas dari suamiku."


Alisya langsung berdoa perlahan dan langsung mengirimkan lokasi dimana dia berada.


"Alisya, pergi ke parkiran bawah, kami menuju ke arah sana!"


Hanny meninggalkan pesan suara ke nomor Alisya, tidak butuh waktu yang lama untuk mereka sampai di Negara itu karena masih dikawasan Asia dan menggunakan Jet Pribadi pula.


Walaupun parkiran itu terlihat sepi, Alisya berlari seperti orang ketakutan, dia merasa ada yang mengawasinya, entah mengapa pikiran dan prasangkanya nya selalu buruk setelah dia menikah malam itu.


"Mana lagi mereka, kenapa lama sekali, aku takut ini!" Alisya bahkan sudah berkeringat dingin karena merasa gugup sekaligus takut juga.


"Sayang!"


Tiba-tiba ada suara teriakan pria menggema di parkiran itu.


"Aaaaaaaaaa!"


Alisya langsung duduk jongkok sambil menutup kedua telinganya dan memejamkan kedua matanya.


"Alisya sayang, ini aku kekasih gelapmu!" Teriaknya kembali.


"Ngaku juga dia ternyata kalau hanya sebatas kekasih gelap?" Ledek Hanny dari arah belakang tubuh Nicholas, dia sebenarnya ikut bahagia melihat mereka berdua bisa kembali bertemu.


"Jangan lama-lama kangen-kangenannya Nick, kita harus mengatur strategi selanjutnya." Ucap Jeremy ikut menimpali.


"Ayo sayang, kita tunggu mereka didalam mobil saja."


Jeremy dan Hanny sengaja memberikan kesempatan mereka untuk berdua saja, mereka bertiga berencana ingin menyelidiki apa yang akan dilakukan seorang Yoga pratama di negara ini.


"Sayang, kamu kenapa? apa terjadi sesuatu denganmu?"


Nicholas langsung menggengam kedua tangan Alisya yang terlihat gemetaran.


"Enggak.. enggak kok, aku fikir tadi yang memanggilku adalah suamiku, aku takut kalau ketahuan." Jawab Alisya yang mulai lega.


"Tenang saja, disini sepi, cuma ada kita berempat saja, tapi aku tidak bisa lama, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja saat ini, aku khawatir denganmu, pria gila itu tidak menyentuhmu kan, apa dia melukaimu?" Tanya Nicholas sambil mengecek seluruh tubuh Alisya, takut jika ada yang lecet.


"Tidak, aku baik-baik saja kok." Alisya tidak ingin membuat Nicholas begitu khawatir, walau sebenarnya keadaannya tidak baik-baik saja saat ini.


"Alisya, aku rindu." Bisik Nicholas sambil mengecvp mesra kedua jemari Alisya.


"Hmm... tapi aku rasa, ini bukan saatnya, apa kalian sudah punya rencana?" Tanya Alisya kembali, kalau di ikutkan kata hati dia pun merasakan kerinduang yang teramat dalam dengan pria dihadapannya kini, namun dia harus mawas diri dengan keadaannya sekarang.


"Tentu saja, kami akan segera mencari bukti kejahatan suamimu dan akan segera kita jebloskan ke penjara, kamu doain kita ya, agar semua terlaksana sesuai rencana."


"Amin, jaga diri kalian, aku menginap di kamar VIP nomor tujuh di hotel ini." Alisya langsung memberikan lokasi temoat menginapnya jika nanti mereka membutuhkannya.


"Okey siap, jaga diri kamu ya sayang, jaga juga hati kamu dan juga ragamu, selama aku masih berjuang untukmu." Pinta Nicholas dengan harap-harap cemas.


"Pasti, terima kasih mas."


"Semoga ujian hubungan kita tidak begitu rumit, owh iya.. aku bawain kamu sesuatu." Nicholas langsung mengambil satu kotak kardus dan memberikannya kepada Alisya.


"Apa itu mas, kenapa banyak sekali?" Alisya memicingkan kedua matanya saat melihat Kardus yang Nicholas bawa.


"Ini penting untukmu dan masa depanku nanti, bawalah, ini tidak berat kok." Nicholas bahkan mengangkatnya dengan satu tangan.


"Apa sih ini isinya, jangan aneh-aneh mas, aku takut nanti suamiku curiga lagi." Alisya menerima kardus itu dan langsung mengguncangnya karena memang tidak berat.


"Pembalvt." Ucap Nicholas dengan santainya.


"Hah? sebanyak ini, untuk apa mas?" Alisya langsung membelalakkan kedua matanya.


"Untuk perlindungan diri, pakai double kalau perlu biar aman dan tidak bocor."


"Astaga mas, nggak perlu sebanyak ini juga kali, aku bukannya datang bulan sungguhan." Bisik Alisya kembali disamping telinga Nicholas.


"Buat stock sayang, biar setiap satu jam bisa ganti, dan satu lagi aku sudah membelikan yang varian ekstrak daun sirih biar semriwing." Ucapnya dengan nada menggebu-gebu.


"Pfftthh... Astaga mas!" Dan perkataan itu cukup menggelitik perut Alisya.


"Kata Hanny kamu paling suka yang varian daun sirih, emang enak ya yank?"


"Kenapa mas nggak cicipin aja?"


"Emang boleh yank?"


"Bahaha... silahkan saja kalau mas mau." Tawa Alisya seolah tidak tertahankan lagi.


"Alisya, kamu cantik kalau tersenyum seperti ini, andai waktu bisa ku putar kembali, pasti aku akan menikahi kamu saat pertama kita bertemu, agar tidak ada lagi penghalang dalam hubungan kita." Ucap Nicholas sambil merapikan hijab Alisya


"Sudahlah mas, semua sudah terjadi, walau terlambat semoga tetap ada takdir yang baik untuk hubungan kita."


"Sabar ya sayang, aku akan berjuang untukmu, tunggu aku okey?"


"Hmm... pasti, aku akan selalu menunggu kamu, tolong jaga diri kalian ya?"


"Iya sayang, emm... boleh aku peluk kamu?" Pinta Nicholas yang semakin menjadi.


"Tapi mas?" Alisya merasa sedikit keberatan, walau sebenarnya hatinya pun teringin.


"Sebentar saja, aku kangen banget sama kamu Alisya, biar jadi penyemangat juga." Renggek Nicholas yang sedikit memaksa.


"Ya sudah, tapi sebentar saja ya?" Ucap Alisya yang memang lemah pertahanannya jika sudah menghadapi Nicholas.


Grep!


"Aku sayang kamu Alisya, sayang banget!"


Tanpa membuang-bunag waktu lagi, Nicholas langsung memeluk tubuh Alisya dengan erat, ada rasa tidak rela mereka harus terpisah diantara cinta segitiga ini, namun Nicholas tidak mau patah arang dan menyerah saat ini juga, dia akan berjuang sampai titik daraah penghabisan.


Uwiw!


Uwiw!


Uwiw!


Tiba-tiba sirine kebakaran terdengar melengking di parkiran mobil itu, dengan waktu sekejab saja ramai orang yang berlari berhamburan kesana kemari.


"Ada apa ini?" Mereka berdua langsung terlihat panik.


"Entahlah, mungkin ada kebakaran diatas." Alisya hanya menduga saja.


"Kita keluar aja sekarang." Dengan terpaksa Nicholas melepas pelukannya, walau sebenarnya dia masih ingin.


"Iya mas."


Doorr!


Doorr!


Tiba-tiba saat Nicholas ingin menggengam tangan Alisya untuk pergi dari parkiran itu, ada seseorang yang menembak lengan dan kaki Nicholas.


"Argh!"


Akhirnya genggaman tangan Nicholas terlepas begitu saja dan membuatnya jatuh tersungkur dilantai.


"Nicholas!"


Hanny dan Jeremy yang baru saja ingin mendatangi mereka tiba-tiba sudah melihat Nicholas tergeletak di lantai dengan dua tembakan.


"Alisya... Alisya, kamu dimana sayang!"


Saat situasi didalam parkiran semakin ricuh karena suara sirine dan juga suara tembakan, Nicholas baru menyadari kalau Alisya dalam sekejab mata sudah tidak ada lagi disampingnya, bahkan tanpa sepatah kata sedikitpun.


"Nicholas, ayo kita pergi dari sini!"


Jeremy yang melihat Nicholas lemas tak berdaya langsung segera berlari dan menggendong di punggungnya.


"Alisya hilang bos, aku harus mencarinya, aku takut Alisya kenapa-kenapa!" Ucap Nicholas sambil memegangi lengannya yang terus mengeluarkan daraah.


"Tapi kamu terluka Nick, kamu harus kerumah sakit sekarang!"


"Aku tidak perduli, aku mau mencari Alisya!" Ucapnya dengan kekeh.


"Diam kamu Sarmin, aku yakin Alisya pasti baik-baik saja, kita harus segera pergi dari sini, cepat ayo kita bawa dia pergi mas." Hanny langsung membantunya.


"Tapi Alisya gimana?" Tanya Nicholas kembali yang seolah tidak perduli dengan dirinya sendiri.


"Keselamatanmu lebih utama sekarang, jika kamu sekarat, siapa yang akan menolong Alisya nantinya!"


"Alisya, maafkan mas!"


"Ini pasti ulah suaminya, sekarang posisi kita tidak aman, karena kita tidak membawa anak buah, kita ubah strategi, kita mundur dulu sekarang, go go go!"


Akhirnya Jeremy memilih kembali menggendong Nicholas tanpa memperdulikan rengekan asistennya itu, karena yang terpenting untuk saat ini adalah keselamatan mereka.


Jeremy dan Hanny juga yakin kalau Alisya pasti sudah dibawa kabur oleh seseorang yang sengaja mengacaukan tempat itu dan mungkin itu adalah ulah suaminya sendiri yang tidak rela jika istrinya bersama dengan pria lain.


Jika keyakinan adalah alasan terbesar seseorang untuk bangkit dan berjuang meraih sesuatu, maka sabar adalah pendampingnya.