Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
83. Ulah Abu Jahal


...Happy Reading...


Disaat Alisya masih menahan diri dari godaan sang suami, Nicholas sebagai pihak pebinor terbaring di ruang unit gawat darurat untuk bersiap-siap melakukan tindakan operasi pengambilan peluru di dua titik.


"Mas.. anak buahku sudah mendapatkan petunjuk tentang bisnis ilegal yang dilakukan Yoga disini, sepertinya aku harus mengecek langsung untuk memastikan kebenarannya."


Karena berada diluar negri, hanya Hanny dan Jeremy saja yang menunggu Nicholas dan sekaligus menjadi walinya.


"Jangan, aku tidak mau kamu mengambil resiko sendiri, biar aku saja nanti yang pergi." Jeremy langsung menolak ide istrinya, dia tidak rela jika nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Tapi kalau mau menjadi saksi, kita harus berada ditempat kejadian mas, kalau hanya mas saja yang menjadi saksi untuk Nicholas, itu kurang kuat mas, sedangkan yang kita hadapi bukanlah lawan yang biasa." Hanny sudah tau banyak soal Yoga, dan dia semakin mengkhawatirkan keadaan Alisya.


"Aku tetap tidak rela kamu pergi kesana sendirian sayang!" Jeremy tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai istrinya terluka karena masalah ini.


"Aku pergi dengan anak buahku, mereka pasti akan menjagaku!" Hanny tahu bagaimana anak buahnya bekerja.


"No, aku harus ikut denganmu dan memastikan kamu baik-baik saja." Jeremy tetap ngotot dengan pendapatnya.


"Lalu bagaimana dengan Nicholas, siapa yang akan menjaganya disini?"


"Untuk sementara ini, kita suruh beberapa anak buah kita untuk mengawasi dan menjaga Nicholas disini."


"Baiklah kalau begitu, nanti kalau Nicholas sudah keluar dari ruang operasi dan keadaannya sudha stabil kita bergerak."


"Tapi kamu kan perempuan sayang, masak ikut seperti ini?"


"It's okey mas, aku tidak selemah yang kamu kira, aku sedari dulu selalu melakukan semua hal sendiri dan mandiri."


"Tapi mulai sekarang kamu ada aku, dan apapun hal yang akan kamu lakukan harus atas seizinku, karena aku suamimu sekarang."


"Iya mamasku tersayang." Hanny tidak mau menjadi istri yang menuruti kehendaknya sendiri sekarang, dia sudah banyak belajar arti kesabaran dan lainnya di pondok pesantren dulu.


"Mana kiss nya?"


"Ckk... ini bukan saatnya mas, nanti malah kebablasan." Umpat Hanny yang tahu betul kebiasaan suaminya sekarang.


"Dikit aja!"


"Mas itu nggak pernah cukup dengan kata sedikit, nanti kalau kasus Nicholas sudah selesai baru kita bisa bebas mau terjang menerjang gunung dan lautan, okey?"


"Huft... kasian si Otong!"


Dan Jeremy hanya bisa tertunduk lesu menahan hasratnya yang kembali terpendam.




Akhirnya setelah operasi Nicholas berhasil dan berjalan dengan lancar, Hanny dan Jeremy pamit ingin pergi.



Dan Nicholas pun tidak keberatan, dia justru berterima kasih karena mereka mau membantu dirinya bergerak disaat dia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit.



Luka bekas operasi itu tidak seberapa sakitnya bagi Nicholas, karena tidak mengenai titik yang fatal ditubuhnya, hanya saja dia memang belum bisa bergerak bebas pasca operasi.



Tok



Tok



Tok



"Assalamu'alaikum."



Tiba-tiba saat Nicholas masih cemas memikirkan tentang apa dan kenapa hal itu bisa terjadi, muncullah seorang wanita yang sedari tadi bersarang di otak Nicholas.



"Wa'alaikum salam, Sayangku?"



Betapa bahagianya hati Nicholas saat Alisya muncul dari balik pintu ruang rawat inap itu.



"Siapa yang kamu panggil sayang tadi?"



Namun saat hati Nicholas seolah dibawa terbang oleh senyuman manis Alisya, tiba-tiba dia seperti dihempaskan ke dasar lautan bahkan terkena tajamnya bebatuan karang.



"Ngapain kamu kesini?" Ucap Nicholas yang langsung melengos karena menahan amarah yang memuncak saat melihatnya, entah kenapa pria itu bisa masuk kedalam ruangannya, apalagi penjagaan dirinya ketat didepan sana,mungkin karena ada Alisya disana sebagai alasannya, jadi Yoga bisa ikut lolos masuk kedalam ruangan itu.



"Istriku bilang, dia mau menjenguk temannya yang katanya terkena musibah kemarin." Ucap Yoga dengan santainya.



"Cih.. bilang aja mau pamer!" Nicholas langsung berdecih karenanya.



"Kamu ini sensitif sekali, sebagai suami SAH dari Alisya, aku harus menemaninya dong, kemanapun dia pergi, ya kan sayang?" Yoga langsung memamerkan keromantisannya dengan Alisya walau hanya sepihak, karena memang itu tujuannya kemari.



"Hmm."



Alisya tidak begitu antusias kepadanya, kedua mata Alisya terus tertuju ke arah Nicholas, sebenarnya dia ingin mendekatinya, menanyakan keadaannya, melihat dimana bagian yang sakit, namun dia tidak berani melakukan hal itu didepan suaminya.



"Panggil aku dengan sebutan sayang juga dong, apa kamu lupa janjimu? atau akan aku buat dia seperti sampah-sampah yang kamu dengar tadi?" Bisik Yoga dengan suara yang seolah mengancam.



Degh!



Alisya hanya bisa menghela nafas beratnya, kalau diberi pilihan, dia lebih memilih tidak usah menjenguk Nicholas jika harus membuat hatinya terluka seperti ini, namun ancaman suaminya begitu menakutkan baginya, karena ini menyangkut tentang keselamatan Nicholas.



*Flashback*



Alisya baru saja selesai mandi dan ingin mengeringkan rambutnya agar langsung bisa mengenakan hijabnya.



Namun saat dia mencari handuk yang bersih lainnya dia mendengar suara-suara aneh dari arah balkon kamar itu.



Dan ternyata itu suara suaminya sedang video call dengan seseorang disana, entah mengapa Alisya kepo ingin mendengar apa yang mereka perbincangkan.



Dengan langkah pelan tapi pasti, dia berjalan mengendap-endap keluar dan bersembunyi dibalik kursi untuk mengintip dan apa yang sedang mereka bicarakan pikirnya.



"Bos, apa yang harus aku lakukan dengan sampah yang satu ini!"



Terdengar suara dari smartphone milik suaminya.



"Habisi saja nyawanya!"



Degh!



Seketika Alisya langsung membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara, dia begitu terkejut saat suaminya benar-benar seorang mafia yang menggangap nyawa orang tidak berharga.



"Lalu bagaimana dengan bangkainya Bos?" Ucapnya lagi.



"Musnahkan saja, jangan sampai tersisa, sampai ke kuku-kukunya sekalipun, agar tidak ada lagi jejak sampahnya!"



"Siap Bos!"



"Dan ingat, jangan sampai aksi kalian dilihat oleh orang lain, main aman, main rapat jangan sampai bocor, mengerti!"



"Siap, mengerti Bos!"



Brak!



Klonteng!



Pyaarr!



Saat Yoga membalikkan tubuhnya ingin segera masuk kedalam kamar hotel itu kembali, Alisya terkejut dan tanpa sadar tangannya menyenggol meja vas bunga yang ada didekatnya.



"ALISYA!"



Suara Yoga sudah terdengar meninggi, sepertinya dia sangat marah kali ini.



"Eherm... ma.. maaf Yoga, aku sedang mencari jarum hijabku yang lepas tadi, tapi belum ketemu, mungkin jatuh dibawah kursi ini, jadi aku mencarinya."



Dugh!



Glodak!



Dengan satu kali sepakandan tendangan saja, kursi itu sudah tergeser jauh dari tempatnya, membuat Alisya jatuh terjengkang ke belakang karena merasa terkejut dan ketakutan.



"Mana, tidak ada apapun dibawah sana, kamu sengaja mengupingkan tadi?"



"Oww... tidak Yoga, aku ingin mencarimu tadi."



"Tadi nyari jarum, saat tidak ada jarum dibawah kursi kamu bilang mencariku, sudah aku bilang jangan pernah main-main dneganku, karena segala kebohonganmu akan teelihat olehku."



"Maaf, aku tidak sengaja tadi!"



"Cih... tidak sengaja kok sembunyi, apa yang ingin kamu dengar!"



"Yoga, sebenarnya apa yang kamu lakukan?"



"Apa yang aku lakukan itu urusanku dan urusanmu sebagai istri hanya melayaniku, mengerti kamu!"



"Yoga, jangan seperti ini, ingat dosa Yoga, walaupun kamu menutupi kelakuan kamu, tapi Allah itu maha Melihat dan maha Mendengar."



"Siapa kamu, kenapa berani menceramahiku!"



"Sesungguhnya aku tidak ingin menjadi siapapun dalam hidupmu, yang kamu lakukan itu jahat Yoga!"



"Diam kamu, atau kamu ingin lelakimu itu aku buat seperti sampah-sampah yang kamu dengar tadi?"



"Yoga, jangan bawa-bawa Nicholas dalam hubungan kita!"



"Owh... Namanya Nicholas?" Yoga langsung tersenyum dengan liciknya.



*Ya ampun, kenapa aku bisa kelepasan bicara*?



Alisya langsung merutuki dirinya sendiri, karena memang Nicholas sudah mengusai akal dan fikirannya apalagi sampai saat ini dia belum tahu kabar terkini dari keadaan Nicholas.



"Tidak, bukan itu!"



"Masih saja mau bermain-main denganku, apa yang ada dipikiranku cuma dia seorang?"



*Kok kamu bisa tahu*?



"Bukan begitu, dia hanya temanku saja, katanya dia lagi sakit, jadi tadi terlintas saja namanya!"



"Begitu? baiklah... karena aku suami yang baik, bagaimana kalau aku temankan kamu menjenguk dia?" Terlintas satu ide dari Yoga untuk menjadi kompor dalam hubungan mereka.



"Tidak usah, tidak perlu!" Alisya langsung menolaknya.



"Kenapa? aku sedang berbaik hati loh, aku sudah tau tempat dia dirawat, agar kamu tidak mengkhawatirkannya mari kita jenguk dia, tapi ingat satu hal, aku suami sahmu, jadi patuhi segala ucapanku mengerti!"



"Hmm... baiklah." Karena mau menolak pun dia tidak akan bisa.



"Dan jangan lupa panggil aku sayang!"



"Yoga?"



"Atau nyawa pria itu akan aku buat melayang!"



"Ckk... Iya, dasar Abu Jahal." Umpat Alisya dengan kesal.




"Yoga sayang!"



"Good Girl!"



Yoga langsung mengusap wajah cantik Alisya dengan gemasnya.



*Astaga, berarti dalang dari kejadian itu memang suamiku, tidak salah lagi! Ya Allah.. Tolong bukakan pintu Taubat untuk suami hambamu ini, kembalikan dia di jalan yang Engkau Ridhoi, Amin yarobal'alamin*.



Alisya kembali hanya bisa pasrah saja menerima perintah dari suaminya, dia tidak bisa protes jika itu menyangkut tentang keselamatan Nicholas, karena secara tidak langsung Nicholas terkena musibah itu karena dirinya, jika dia tidak bertemu dan berhubungan dengan dirinya sudah pasti Nicholas tidak menjadi incaran dari kejahatan Yoga Pratama.



*Flashback off*



Disaat Yoga terlihat menekan tubuh istrinya, Nicholas langsung mengalihkan perhatian mereka.



"Sebenarnya apa niatmu kemari hanya untuk pamer? kalau hanya itu maap-maap ni yee, saya tidak tertarik, jadi silahkan pergi, waktu jenguk kalian sudah habis!" Umpat Nicholas tanpa mau melirik kearah Alisya, takut jika dia tidak tahan ingin mendekat kearahnya.



"Istri kesayangan aku ini ingin menjengukmu, masak sambutanmu seperti ini, nggak sopan banget, ayo duduk dulu sayang, kamu pasti capek kan tadi jalan dari mobil kesini?" Yoga langsung merangkul bahu istrinya dan mengajaknya duduk walau sudah di usir.



"Nggak usah Yoga!"



"Alisya!" Yoga langsung melotot saat istrinya masih memanggil nama.



"Huuh... nggak usah sayang, kita langsung pulang aja yuk?"



"Cih, maksa banget pengen dipanggil sayang?" Ledek Nicholas dengan senyuman miringnya dan itu cukup membuat emosi Yoga mulai memuncak.



"Apa kamu terpaksa sayang?"



"Tidak."



"Sini sayang, duduk dipangkuanku!"



"Aku duduk disini saja, bangkunya banyak yang kosong kok."



"Alisya!"



"Nanti kaki kamu pegel dan kesemutan, kebas juga loh?"



"Aduh... Perhatiannya istri kesayangan aku ini, tapi aku rela kok jika itu untuk kamu, sini sayang, biar anget, ruangan ini dingin sekali nanti kamu masuk angin."



"Aish.. Sial!"



Nicholas seolah sudah tidak tahan lagi untuk melihatnya, dia memilih membuang pandangannya ke arah jendela, walau sebenarnya tidak ada pemandangan apapun selain awan putih yang seolah menertawakan dirinya.



"Sudah ya, aku berat loh?" Alisya langsung ingin bangkit karena tidak tega melihat raut wajah Nicholas.



"Okey, tapi cium aku dulu, kayak yang tadi malam itu loh yank?" Rengek Yoga tanpa perasaan.



"Dasar Kampreto!" Umpat Nicholas kembali yang seolah semakin terbakar api cemburu.



"Yoga sayang, jangan begini, atau lebih baik kita pulang saja?"



"Kenapa, kamu sudah nggak sabar ingin bermesraan hanya berdua denganku saja?"



"Bukan begitu, tapi nggak enak loh, ini dirumah sakit."



"Kenapa? nggak enak sama siapa, temanmu juga pasti paham, kita kan sudah sah sebagai suami istri bukan?"



"Yoga!"



"Alisya sayang, sebentar saja!"



"Tapi?"



"Kalau begitu biar aku yang memulainya!"



Cup!



Dengan sedikit memaksa Yoga menarik dagu istrinya dan juga menahan tengkuknya agar dia tidak bisa menghindari serangannya.



*Maaf... Maafkan aku Nicholas, demi keselamatanmu aku tidak bisa menolaknya*.



Alisya sama sekali tidak membalas ciuman itu, bahkan kedua matanya tertuju kearah tubuh Nicholas yang membelakangi dirinya.



Dugh!



Nicholas langsung melempar bantalnya kesembarang arah, untuk melampiaskan rasa kesalnya.



"Terima kasih sayang, bibiirmu begitu manis sekali rasanya, peluk aku juga dong!" Pinta Yoga kembali.



Brak!



Giliran kursi yang ada disamping ranjang Nicholas yang menjadi sasaran tendangannya, menggunakan kakinya yang tidak tertempel perban.



"Yoga, sudah ayo kita pulang!"



"Baiklah jika kamu memaksa, nanti kamu bisa memeluk dan menciumku sesuka hatimu, pokoknya aku serahkan tubuhku ini hanya untukmu." Ucap Yoga dengan senyum kemenangan.



"Huh, sabar.. sebenarnya aku pengen mual saat mendenger suara Abu Jahal yang satu ini." Umpat Alisya perlahan.



"Okey, kita pulang, tapi katanya kamu mau ngomong sesuatu dengannya."



"Nggak jadi kok Yoga, ayo kita pulang saja."



"Alisya!"



"Huft... boleh aku bicara berdua saja dengan Nicholas?"



"Tentu saja!"



"Terima kasih Yoga Sayang!"



"Tentu saja tidak boleh, katakan cepat aku tunggu!"



"Fuuhhh... Sabar!"



"Cepat Alisya!"



"Mas, jangan lagi berharap apapun tentangku, aku sudah bahagia menjadi istri Yoga Pratama yang tampan itu." Alisya berjalan mendekat kearah Nicholas dna mengucapkan kata-kata yang diperintahkan oleh suaminya.



"Heh?" Nicholas langsung memicingkan kedua alisnya.



"Tapi bohong!" Ucap Alisya walau tanpa mengeluarkan suara, karena Yoga berdiri tepat dibelakang tubuhnya.



Ting!



"Hmm... Baiklah, jaga dirimu baik-baik Alisya."



Nicholas mengiyakan saja, karena Alisya sudah memberikan tanda dengan mengedipkan satu matanya.



"Telinga kamu sudah mendengar sendiri kan, Alisya sudah bahagia denganku, jadi jangan coba-coba mengusik dia apalagi berharap dengannya, mengerti kamu!" Hardik Yoga kepada saingan dalam kisah cinta segitiga mereka.



"Owh ya?"



Cup



"Iya kan Alisya sayang!" Yoga bahkan dengan sengaja mencium istrinya dihadapan Nicholas secara langsung.



"Ayo kita pulang Yoga!" Alisya langsung mendorong perlahan tubuh kekar Yoga.



"Baiklah sayangku, sini aku gendong?" Yoga sengaja memamerkan aksi-aksi romantisnya walau terlihat sekali kalau dia buat-buat agar hati Nicholas terbakar api cemburu.



"Yoga, sudahlah, aku bisa jalan sendiri!"



"Tidak akan aku biarkan bidadariku ini kecapekan sedikitpun!"



"Tunggu!" Teriak Nicholas kembali.



"Kenapa, ada yang ingin kamu sampaikan, atau kamu mau mengucapkan selamat atas pernikahan kami?"



"Cih... satu yang perlu kamu ingat, raga dan tubuh Alisya memang bisa kamu dapatkan dan kamu kuasai, tapi hati Alisya hanya untukku seorang, dan tidak akan pernah menjadi milikmu, cam kan itu!" Walau wajah Nicholas tersenyum namun hatinya seolah teriris sembilu tajam saat ini.



"Jaga mulutmu!" Yoga merasa tidak terima.



"Itu kenyataan yang harus kamu terima, lanjutkan saja, sampai tiba masanya nanti dan satu lagi, jaga istrimu, kalau tidak jangan salahkan aku jika aku merebutnya nanti."



"Jangan mimpi kamu! Ayo sayang kita pulang!"



Yoga langsung menarik paksa tubuh Alisya agar keluar dari ruangan itu.



"I'm so sory and i love you!"



Alisya sempat menoleh dan berkata-kata tanpa suara kembali kearah Nicholas, bahkan memberikan tanda finger heart dengan menyilangkan jari jempol dan jari telunjuknya ke arah Nicholas dengan manisnya.



"I love you too sayang, tunggu kedatanganku untuk menjemputmu!"



Nicholas memberikan kiss bye dengan Alisya, dan itu cukup membuat senyum Alisya kembali terbit.



"Astagfirullah.. aku kangen bibiir istri orang itu Tuhan, ternyata pura-pura tegar itu sangat menyakitkan, ragaku terlihat kuat tapi atiku Ambyaaarr!"



Akhirnya setelah kedua orang itu hilang dari pandangan, Nicholas langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan meluapkan kekesalannya dibawah sana.



"Aaaaaaa... sebenarnya aku tidak rela ada yang menyentuh Alisya selain aku, hiks.. hiks.."



Seumur-umur baru kali ini Nicholas mengeluarkan air matanya untuk seorang wanita, yang sebenarnya sangat ingin dia perjuangkan di dunia ini, bahkan sampai kelak di Surga nanti.