Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
94.Selingkuh?


...Happy Reading...


Alisya lama kelamaan merasa gelisah sendiri, walaupun mereka duduk di kursi kelas VIP, namun penumpang lainnya tetap bisa melihat mereka.


Apalagi Nicholas semakin lama dibiarkan dia semakin melunjak saja, bahkan tidurnya seolah semakin terlihat nyenyak.


"Astaga, apa masih lama ini sampainya? lenganku sepertinya sudah kebas ini?" Alisya bahkan tidak bisa bergerak bebas karena kepala Nicholas masih terus saja menempel ditubuhnya.


Hingga akhirnya pramugari dipesawat itu memberikan arahan kepada seluruh penumpang untuk bersiap, karena sebentar lagi pesawat akan segera mendarat.


"Pak, bangun." Alisya menepuk lembut pipi Nicholas.


Aish... kenapa cepat sekali sampai? entah kapan aku bisa memeluk dia seperti ini lagi?


"Hmmh." Nicholas malah semakin mengeratkan pelukannya, seolah tidak rela jika hal ini akan secepatnya berakhir.


"Astaga pak, ayo bangun, sudah mau sampai kita." Alisya bahkan sedikit mendorong paksa tubuh Nicholas.


"Eherm.. eherm... aku sedang apa , emm... apa aku tertidur? aduh.. Badanku sampai pegel-pegel semua." Dia langsung bangkit dan kembali meneruskan dramanya.


"Ckk... ya, pura-pura saja hilang ingatan atau tidak tahu karena itu lebih baik." Umpat Alisya sambil membenahi pakaian dan hijabnya yang sudah kusut karena ulah Nicholas.


"Ngomong apa kamu!" Lirik Nicholas dengan cepat.


"Aduh... kalau sampai ayah tahu kelakuanku ini, sudah pasti dia akan menghukumku, semoga Tuhan tidak marah denganku.' Umpat Alisya yang tidak mau melihat ke arah pria disampingnya.


"Amin."


Dengan santainya Nicholas menangkupkan kedua tangannya diwajahnya, seolah dia membantu doa.


"Ckk... Bapak ini!" Alisya langsung geram sendiri jadinya.


"Apa? orang aku tidak sadar kok, siapa suruh kamu tidak membangunkan aku? atau jangan-jangan kamu malah menikmatinya ya, kamu sengaja biar bisa bebas mau menyentuh tubuhku sesuka hatimu, iya kan?" Nicholas mulai memutar balikkan fakta.


"Woah... Anda luar biasa sekali, sudahlah aku malas membahasnya."


Alisya memilih tidak meladeni ocehan Nicholas, karena sudah pasti dia yang akan kalah, perubahan Nicholas saat ini adalah ia selalu saja menjunjung ego dan harga dirinya didepan Alisya.


Dan Alisya tidak mau ambil pusing lagi, dia memilih diam, bahkan dia enggan menatap wajah Nicholas bahkan saat mereka berdua sudah sampai disebuah kamar hotel yang akan mereka tempati.


"Mandilah terlebih dahulu, aku mau istirahat sebentar, kepalaku sedikit pusing." Ucap Nicholas sambil berjalan melewati tubuh Alisya yang sudah terbengong seperti sapi ompong sambil terpaksa menatap wajah angkuh Nicholas.


"Hah?"


"Apa sih, nggak usah hah, heh aja kamu, cepat mandi saja, nanti kita gantian atau sebenarnya kamu mau mandi bareng denganku ya, modus kamu?" Ledek Nicholas yang semakin membuat Alisya melotot kesal karenanya.


"Bukan begitu, tapi apa kita menginap dalam satu ruangan?"


Alisya terbengong saat dengan santainya Nicholas melenggang masuk dan meletakkan tas miliknya di meja ruangan itu.


"Iya, emang kenapa?" Jawab Nicholas dengan santainya.


"Pak, jangan begini dong, kita kan bukan muhrim?" Alisya mulai unjuk rasa, dia takut jika ada syaiton-syaiton yang akan menggoda mereka untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan sekarang.


"Iya aku tahu kamu itu istri orang, tapi kamar ini luas, kita tidak harus tidur bareng kan?"


"Kenapa nggak pesan dua kamar saja pak, aku yang kelas ekonomi pun tidak masalah kok." rengek Alisya kembali.


"Enak saja, kalau pesan dua kamar hanya akan menambah biaya akomodasi kita saja, lagian kita hanya menginap satu malam saja, besok sore mungkin kita sudah kembali bertolak untuk pulang."


Setelah kejadian di pesawat itu, Nicholas sengaja mengubah strateginya, padahal dia memang sudah pesan dua kamar namun dia sengaja ingin melihat Alisya puas-puas malam ini.


"Tapi pak?"


"Sudahlah, nggak usah banyak tanya, kamu kira aku begitu tertarik dengan istri orang? Dih... sory ya, aku tidak sebodoh itu, apalagi yang model-modelnya play girl seperti kamu!" Hujat Nicholas yang mulai mengeluarkan unek-uneknya.


"Play girl?" Alisya kembali terbengong saat mendengarnya.


"Iyalah, kamu memberikan harapan kepadaku, tapi tidak mau melepas apa yang kamu miliki, bahkan kamu sudah mulai menikmatinya sekarang kan, apa itu namanya kalau bukan seorang pemain wanita!"


"Astaga, kenapa sampai berpikiran seperti itu sih?" Alisya hanya bisa menghela nafasnya berulang kali.


"Sudahlah, mandi sana, baru jadi asisten pendamping saja sudah banyak protes, kepalaku beneran pusing ini."


Entah kenapa kepala Nicholas tiba-tiba terasa kelu, mungkin dia sedang masuk angin, karena kurang istirahat dan melakukan perjalanan jauh.


"Ini benar-benar gila, walau aku tidak tidur satu ranjang dengan dia, tapi kami satu ruangan, sudah pasti akan melihat semua aktifitas, apalagi saat tidur, haish... apa aku harus tidur menggunakan hijab juga?"


Alisya hanya bisa mengumpat dengan diri sendiri sambil berjalan menuju ke kamar mandi dalam ruangan itu.


"Padahal pengen keramas tadinya, sepertinya rambutku sudah lepek, tapi mana mungkin aku pakai hijab dalam kondisi rambutku basah."


Alisya merasa tidak nyaman, namun dia bisa apa, tidak mungkin dia pesan kamar sendiri dengan uang miliknya pribadi, karena ini keperluan perusahaan, dia bahkan belum menerima gaji dari pekerjaannya, masak iya dia harus mengeluarkan uang untuk itu dan sudah pasti uang sewa kamarnya tidaklah sedikit untuk hotel sekelas yang Nicholas pesan.


"Kenapa selepas mandi kamu masih garuk-garuk kepala? sebenarnya kamu itu mandi atau hanya Tayamum saja, perempuan kok jorok banget?" Hujat Nicholas sambil memandangi langkah Alisya dari kamar mandi.


"Aku udah mandi pak, tapi aku belum keramas."


"Ya sudah, keramas saja apa susahnya? hotel semewah ini sudah pasti menyediakan shampo bahkan yang terbaik kan, kenapa ribet banget."


Ini karena ulahmu itu!


"Emm... bapak nggak mau keluar dulu kemana gitu, cuci mata, atau lihat pemandangan di kota ini?"


Pemandangan terindah dalam hidupku hanya kamu Alisya!


"Kamu mau mengusirku begitu? wah... Kamu benar-benar sudah berani sekarang ya?" Lain yang Nicholas pikirkan, lain pula yang keluar dari mulutnya.


"Bukan begitu pak, ya ampun sensitif banget deh, aku cuma mau keramas dulu sebentar pak."


"Ya sudah keramas sono, apa susahnya?" Nicholas malah menupangkan kakinya tanpa perduli dengan umpatan Alisya.


"Aku mau ngeringin rambut dulu, setelah itu bapak bisa masuk kembali."


"Keringin tinggal keringin doang, kenapa rempong amat!" Dia kembali memainkan smartphone miliknya.


"Bapak ini nggak ngerti deh, aku harus pake hijab kalau ada bapak."


"Astaga, Alisya aku bahkan sudah men---"


Ciummu, bahkan sudah memegang itu kamu!


Ingin sekali Nicholas mengatakannya, namun ucapannya terputus oleh Alisya.


"Sttth... Lima belas menit aja pak, pergilah jalan-jalan keluar, ayolah pak.. aku nggak bisa tidur kalau rambut aku lepek berkeringat begini."


"Fuuh... Yasudahlah!"


"Terima kasih bapak?"


"Ini tidak gratis!" Umpat Nicholas sambil beranjak berdiri.


"Astaga, apa saya harus bayar? bapak yang menjadikan aku sebagai bantal sesuka hati dalam perjalanan kemari saja aku nggak minta bayaran kok?"


"Kamu mau itung-itungan denganku? Siapa suruh tidak membangunkan aku, hah?"


"Bapak tidurnya nyenyak banget, aku nggak tega."


Ya ampun Sya, kenapa kamu manis sekali? Tapi sayang kamu istri orang.


"Ya sudah, buruan keramas sana, haish... kalau sudah menyangkut masalah wanita itu memang ruwet!" Nicholas hanya bisa mengagumi wanita itu dalam diam.


"Memangnya bapak lahir dari batu apa, ibu bapak wanita, istri bapak juga wanita nanti kan?"


"Ya iyalah, masak jeruk makan jeruk!" Umpat Nicholas sambil mengusap dadaanya yang bergetar saat melihat senyuman Alisya yang membuatnya begitu tersiksa.


"Jadi Nutrisaro dong nantinya, hehe." Ledek Alisya kembali.


Akhirnya bukan hanya lima belas menit, bahkan hampir satu jam Nicholas keluar meninggalkan ruangan itu.


Tok


Tok


Tok


"Alisya sudah belum? aku mau masuk nih?"


"Sudah pak, silahkan masuk."


"Nih ambil, kamu belum makan kan?"Nicholas datang dengan membawa satu kantong paperbag ditangannya.


"Bapak sudah makan?" Tanya Alisya mendekat.


"Sudahlah, tidak mungkin aku keluar ke Kafe hanya numpang duduk selama itu?"


"Makasih, bapak baik banget deh."


Senyum Alisya melebar saat dibawakan satu paperbag makanan, karena perutnya memang sudah keroncongan sedari tadi, saat di dalam pesawat dia tidak jadi makan, karena Nicholas terus saja menempel ditubuhnya.


"Hmm."


Nicholas duduk di sofa sambil memijit punggungnya dan berganti memijit kepalanya sendiri.


"Bapak beneran sakit kepala? mau saya belikan obat pereda nyeri kepala di apotik terdekat?"Alisya tidak tega melihat orang kesakitan dihadapannya.


"Tidak usah, mungkin aku hanya masuk angin saja, aku mau mandi dulu dan istirahat sebentar juga pasti sudah enakan."


"Biarpun cuma masuk angin, kalau didiamkan saja nggak akan sembuh, apalagi AC di kamar ini dingin banget kan?"


"Sudahlah, habiskan makananmu, lalu istirahat, besok pagi-pagi kita harus menemui klien kita dan meninjau tempat proyek itu berlangsung." Dia langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Baiklah."


Setelah selesai mandi Nicholas berbaring di sofa masih dengan jubah mandinya dengan tidak nyaman, Alisya merasa kasihan, apalagi Nicholas terus saja memijit kepala dan lehernya dan menggerakkannya kekanan dan ke kiri.


"Bapak pernah dikerik nggak?" Alisya mengeluarkan uang koin dan obat gosok dari tas miliknya.


"Untuk apa?" Tanya Nicholas sambil menutup matanya denan satu lengannya.


"Kalau nggak mau minum obat, biasanya kalau cuma masuk angin dikerik saja sembuh kok."


"Tidak pernah, sudahlah jangan perdulikan aku, biasanya juga begitu, nggak usah sok perhatian kalau endingnya cuma bisa nyakitin!"


Dess!


"Astagfirullah, bapak ini ngomong apa sih?" Kata-kata Nicholas benar-benar frontal tanpa embel-embel saat menyindirnya.


"Memang itu kenyataannya kan?"


"Bapak hanya salah paham saja, sebenarnya aku sudah---" Ucapannya langsung terpotong oleh Nicholas.


"Sudahlah, aku tidak mau mendengar ocehan kamu itu, kamu itu bisanya cuma menorehkan luka dan menggangap aku ini tidak pernah hadir dalam hatimu, kamu pikir aku ini tidak punya perasaan apa!"


"Huft... sini aku bantu kerik biar nggak pusing lagi." Alisya hanya bisa menghela nafas panjangnya saja.


"Nggak usah sok perduli Alisya, kamu sengaja mau menyiksa batinku lagi kan?"


"Enggak, aku cuma mau ngobatin bapak, besok bapak harus ketemu klien, kalau bapak sakit ribet urusannya, aku nggak tau apa-apa soal pekerjaan ini, nanti malah kacau semuanya."


"Alisya, jangan mengalihkan pembicaraan kita, aku sedang marah ini!"


"Bapak bisa marah?" Alisya malah sengaja tersenyum saat memandangnya.


Sial, dia semakin cantik sekarang!


"Kamu pikir karena aku tulus menyayangimu, aku tidak bisa kesal dan marah denganmu, aku ini manusia biasa Alisya!" Nicholas langsung melengos karena tidak tahan melihat Alisya.


"Yang bilang bapak manusia Alien juga siapa, kenapa bapak jadi curhat begini? sini baring di pangkuanku mau nggak?" Alisya langsung duduk di ujung sofa panjang itu.


"Kamu ini jadi wanita jahat banget, sana sini mau aja, jadi wanita itu berprinsip, kalau satu ya satu aja." Nicholas masih saja ngedumel, tapi dia tidak menolak saat disuruh tidur dipangkuan Alisya.


"Buka sedikit jubah mandinya, biar aku kerik dulu." Alisya membenahi kepala Nicholas dalam pangkuannya.


"Kamu jangan ambil kesempatan dariku ya, aku sudah cukup terluka karenamu, mengerti!" Umpat Nicholas sambil meregangkan tali jubah mandinya.


"Mengerti bapak, aku berjanji tidak akan melukai bapak lagi, maafkan aku ya?" Alisya memang selalu membawa obat gosok jika keluar kota, karena dia memang mudah masuk angin.


"Bohong!"


Tidak dapat dipungkiri, Nicholas merasakan kenyamanan yang teramat sangat saat tangan Alisya menyentuh tubuhnya.


"Kok bohong sih pak, seriusan ini." Jawab Alisya sambil memijit leher Nicholas setelah mengeriknya terlebih dahulu.


"Buktinya saat itu kamu bermesraan dengan suamimu, katanya kamu tidak menyukainya, katanya kamu hanya cinta sama aku, nyatanya apa? semua ucapan wanita memang hanya manis saat di mulut saja, apalagi kamu, menyebalkan sekali."


Woah... dia benar-benar ya, kalau menghujat orang itu langsung nggak pake basa-basi, awas kamu Mas, aku kerjain kamu sekalian.


"Begitu ya, emang sebesar apa rasa sayang kamu terhadap aku?"


"Kamu naenyaaak? kamu bertanya-tanya?"


"Seriusan ini pak!" Alisya langsung tersenyum miring dan menggeratkan barisan gigi putihnya, entah kenapa dia kesal sekali jika ada orang yang berucap seperti itu.


"Aw... sakit Alisya!" Nicholas langsung meringis saat dia kembali mengerik leher Nicholas bahkan sekuat tenaga.


"Makanya kalau ngomong itu yang benar!" Dia gemas sendiri jadinya.


"Aku melihat sendiri saat itu, kamu tidak tahu kan betapa sakitnya hatiku kala itu, aku yang sudah bersungguh-sungguh ingin mendapatkan kamu, melakukan hal-hal gila demi kamu, nyatanya kamu malah menikmati kesempatan itu tanpa memikirkan perasaanku, kamu hanya mau mempermainkan aku saja kan? apa kamu tidak benar-benar menyukaiku, kamu hanya bohong saja kan selama ini?"


"Aku tidak pernah berbohong pak, apalagi soal hati."


"Lalu kenapa kamu masih bersama suamimu itu?"


"Pak, emm... gimana kalau kita selingkuh aja?" Terlintas satu ide untuk mebjahili Nicholas.


"HAH! yang benar aja kamu Alisya!"


Kena kamu Pak, hehe...


"Bukannya kita memang sudah sering berdua begini, apa ini tidak termasuk kategori selingkuh?" Ledek Alisya kembali, dia sengaja main-main kali ini.


"Ya beda lah."


"Samain aja lah, lagian selingkuh itu indah kata orang kan, kenapa kita tidak mencobanya saja?" Alisya bahkan dengan genitnya mengedipkan satu matanya.


"Woah... kamu benar-benar ya, siapa yang mengajari kamu seperti ini, hah? dimana-mana selingkuh itu tidak selamanya indah, pokoknya aku mau resmi berhubungan denganmu, nggak mau selingkuh, cepat tinggalkan suamimu Sya, aku sudah tidak kuat seperti ini terus!" Nicholas malah kelabakan sendiri jadinya, saat Alisya tidak biasanya bertingkah seperti ini.


"Heleh... kemarin aja sudah bisa ketawa-ketawa sama cewek seksih, mana pura-pura nggak kenal aku lagi, memang yang punya hati situ aja!"


"Alisya, dia hanya karyawan biasa."


"Lalu kenapa kamu nyuekin aku, bersikap sombong denganku dan bahkan seolah tidak sudi melihatku!"


"Aku hanya kesal denganmu!"


"Lalu kamu ingin balas dendam denganku?"


"Kalau iya emang kenapa, emang cuma kamu aja yang bisa nyakitin aku, hello... Aku juga bisa Alisya!"


"Dih... Awas sana, aku benci sama kamu." Alisya langsung bangkit dan meletakkan kepala Nicholas di sofa dengan kesal.


"Aw... Aw... Alisya, kepalaku masih sakit." Dia langsung mengusap kepalanya.


"Bodo amat!"


Grep!


"Alisya, jangan begini, aku tidak mau kehilangan kamu lagi."


Saat Alisya ingin beranjak pergi, Nicholas langsung memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat.


"Huft... makanya kalau mau berbuat sesuatu itu dipikir dulu."


"Aku tidak sanggup melihatmu dengan yang lain sayang, kembalilah padaku, hidupku kacau saat memikirkan kamu pergi meninggalkan aku!" Suaranya bahkan sudah terdengar sengau.


"Bapak Nicholas yang terhormat, aku sama sekali tidak punya niatan untuk meninggalkan kamu, sedari awal sampai saat ini perasaanku masih sama seperti dahulu, masih dengan gilanya menyayangi kamu, bahkan sampai tahap mencintai, tapi kalau kamu sudah punya wanita lain ya sudahlah.."


"ENGGAK! Aku mana punya wanita lain, kemarin itu bukan siapa-siapa, kamu bisa tanya sendiri, aku hanya berpura-pura asyik mengobrol, hanya ingin kamu cemburu saja, maafkan aku Alisya, aku janji nggak seperti itu lagi." Nicholas langsung membalikkan tubuh Alisya dan memegang kedua pipinya.


"Kalau kamu bohong aku apain?"


"Aku pasrah, mau kamu pukul, tampar, tendang atau apapun itu terserah, aku akan menerimanya, tapi jangan pergi dariku ya sayang."


"Ya sudah."


"Sudah apa?"


"Ya kita baikan lagi."


"Tapi aku mau resmi,nggak mau jadi selingkuhan Alisya."


"Hehe... tadi cuma bercanda, emang siapa yang mau punya pasangan dua, punya satu aja udah bikin pusing kepala!" Alisya mencubit gemas pinggang Nicholas.


"Siapa?"


"Kamu lah." Alisya menunjuk hidung mancung pria itu.


"Aku satu-satunya, lalu suamimu itu bagaimana, kamu kemanain dia?"


"Dia sudah menjatuhkan talak denganku, aku sudah resmi berpisah darinya dihadapan kedua orang tuaku."


"Hah?" Nicholas langsung melotot, dia begitu tidak menyangka saat mendengarnya.


"Kenapa? kamu nggak mau? emm... Kalau aku pikir-pikir sebenarnya kalau selingkuh itu seru kan pak?"


"Enak saja, nggak! aku cuma mau jadi satu-satunya untukmu dan kamu juga menjadi satu-satunya dalam hidup aku selamanya,TITIK."


"Benarkah?"


"Aaaaaaaaaaaa... aku tidak sedang bermimpi kan yank, kamu beneran sudah berpisah dengan suami kamu kan yank, kamu beneran sudah sah jadi Janda kan?" Kalau tidak malu, mungkin Nicholas ingin melompat-lompat disana.


"Apa sih pak!"


"Panggil aku sayang, jangan pak lagi, karena kamu sudah kembali menjadi sayangnya aku sekarang, yeay!"


"Lebay banget kamu ini, kemarin aja aku panggil mas mencak-mencak suaranya kayak kaleng rombeng!"


Cup!


"Bodo amat, yang penting kamu milikku!"


Betapa bahagianya hati Nicholas saat ini, bahkan dia langsung menggendong dan memutarkan tubuh Alisya karena terlalu girang.


Tuing!


Wakwao!


"Hah! Aaaaaaaaa... Apaan tuh!" Alisya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Saat Nicholas menurunkan tubuh Alisya, ternyata tanpa sadar tali jubahnya sudah terlepas dan kini kini ia menampilkan isi didalamnya.


Noh... walau siang, author kasih part puanjang banget, semoga tidak bosan, hehe..