Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Menyerah


Setelah Kaisar tertembak dan lelaki itu terkapar di lantai, Gabriel menyeringai. "Bawa dia," ucap Gabriel pada anak buahnya dan juga beberapa polisi yang ada di belakangnya.


Sementara Kaisar yang terkena tembakan, hanya bisa berteriak. Darah mengucur di mana-mana. Dia sudah tidak memikirkan lagi bagaimana caranya kabur, yang dia inginkan adalah peluru ini segera dicabut dari kakinya.


Kaisar langsung di bawa untuk pergi, sedangkan Gabriel berdiam diri sejenak. "Sepertinya jika villa ini diberikan pada Lyodra, tidak akan masalah," kata Gabriel.


Ya, inilah kesepakatan yang mereka jalani. Lyodra ingin pulau milik Gabriel karena terletak di tempat yang sangat strategis dan sebagai balasan, Lyodra akan membantu Bianca kembali pada Selo ataupun mendukung Selo.


Lalu sekarang, Gabriel berpikir villa ini bertipe sama dengan Vila miliknya, dan dia yakin Lyodra mau. Jadi, Gabriel pikir villanya bisa tetap menjadi miliknya, dan ini bisa menjadi milik Lyodra. Tentu saja Gabriel tidak usah repot-repot membayar villa ini pada siapapun, karena tentu saja Kaisar Morone sudah ditahan.


Setelah cukup lama terdiam, Gabriel keluar dari kamar tersebut. Lelaki itu langsung turun mengikuti jejak anak buahnya.


Helikopter mulai mengudara. Sedari tadi Gabriel menyeringai ketika melihat Kaisar terus merintih kesakitan. Lelaki itu tidak bisa banyak bergerak, bahkan untuk merintih saja rasanya dia pun sulit, sebab dia diapit oleh kedua polisi yang menodongkan pistol padanya.


"Itu pasti sakit," ejek Gabriel membuat Kaisar menoleh. Lelaki itu tidak banyak berbicara.


***


Helikopter akhirnya mendarat di gedung rumah sakit milik Gabriel. Ada beberapa orang sudah menunggu di sana sambil membawa brankar. Mereka sudah diberitahukan akan menjemput pasien yang tak lain Kaisar Morone.


Saat Kaisar akan dibaringkan, lelaki itu sempat meronta. Dia lebih baik terjun dari gedung. Namun tak lama, polisi langsung menembak lagi kaki kanan Kaisar hingga pada akhirnya, Kaisar kembali merasa kesakitan untuk yang kedua kalinya, dan kali ini lelaki itu benar-benar tidak bisa berjalan membuat Gabriel menggeleng.


***


"Dad, kau sudah pulang?" tanya Selo ketika sang ayah berjalan ke arah Selo.


Sedari tadi Selo menunggu di luar rumah. Dia penasaran apa yang dilakukan ayahnya, sebab tadi ayahnya mengatakan ada misi yang sangat penting, dan dia tahu itu berhubungan dengan Roland.


"Jika kau melihat Daddy di sini, apa mungkin Daddy belum pulang?" tanya Gabriel membuat Selo berdecih.


"Daddy ini tinggal menjawab saja apa susahnya," jawab Selo.


Lelaki paruh baya itu memutuskan untuk mendudukkan diri sejenak, sebelum dia masuk ke dalam guna menetralkan rasa lelahnya.


"Momny sudah tidur?" tanya Gabriel.


"Mana aku tahu. Aku, 'kan, dari tadi di sini," jawab Selo yang membalas ucapan Gabriel, membuat Gabriel menggeleng.


"Apa kau sudah menemukan siapa di balik Roland?" tanya Gabriel.


"Sudah. Dia adiknya Chiko Morone.” ..


Bukankah Chiko yang pernah dilumpuhkan oleh kakak?" tanyanya.


"Setidaknya, kakamu lebih hebat daripada kau," ucap Gabriel.


"Ish Daddy ini," kata Selo.


"Jadi apa selanjutnya? kau akan terus mengejar Bianca?" tanya Gabriel.


Selo terdiam. Dia mulai pesimis sebab walaupun Maria sudah mengetahui Roland yang sebenarnya, tapi Selo yakin Maria tidak akan melupakan kesalahannya begitu saja. "Aku idak yakin Dad," jawabnya.


"Cih, kau ini seperti bukan lelaki," katanya, "Contoh Daddy dulu, Daddy juga ...."


Tiba-Tiba Gabriel menghentikan ucapannya saat hampir saja mengatakan masa lalunya pada Selo.


"Kau hampir apa?" tanyanya


"Tidak, lupakan," kilah Gabriel. Gabriel dengan cepat bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam.


Sementara di sisi lain, Maria terus berguling ke sana kemari. Dia sungguh tidak tenang. Entah kenapa dia merasakan firasat yang buruk.


Setelah Roland ditangkap, dia juga bergidik ketika membayangkan soal tadi, dimana dia masih berbincang-bincang hangat dengan Roland, tapi beberapa menit kemudian dia mengetahui yang sebenarnya.


Lyodra yang sedang memejamkan matanya, kembali membuka mata karena dia tidak bisa terlelap, sebab Maria terlalu banyak bergerak. "Sayang, kau kenapa?" tanya Lyodra dengan lemah lembut.


"Aku tidak bisa tidur. Aku teringat tadi," ucap Maria. Maria bisa membayangkan jika tadi tidak terbongkar, dia akan menjerumuskan Bianca ke dalam jurang kematian.


Lyodra mendekat kemudian dia memeluk Maria. "Sudah, jangan dipikirkan. Semua sudah berlalu dan Bianca aman," ucap Lyodra lagi.


Tiba-Tiba, Maria terpikirkan sesuatu. "Kau sudah tahu ini sejak lama?" tanya Maria.


Lyodra mengangguk. "Sudah, ya. Tidak usah dibahas lagi. Semua sudah berlalu. Bianca sudah aman," kata Lyodra. Jika dia menjelaskan semua dari awal, sudah dipastikan mereka tidak akan tertidur malam ini.


"Tunggu, apa kau juga mendukung Selo dan Bianca kembali?" tanya Maria.


"Sayang, Bianca punya pendirian sendiri. Sekali pun aku memaksanya untuk kembali pada Selo, jika Bianca tidak mau, kita biasa apa?" tanyanya balik.


"Jadi benar kau mendukung Selo?" tanya Maria.


"Sayang, ini sudah malam. Berhenti berdebat yang tidak penting," ucap Lyodra dengan tegas hingga Maria menunduk.


"Baiklah," jawabnya.


Pada akhirnya, Maria pun berbalik menghadap suaminya lalu membalas pelukan Lyodra.


***


Malam berganti pagi.


Maria menunggu untuk keluar. Dia harus berbicara pada suaminya. "Dad, cepatlah. Kau ini lama sekali," ucap Maria ketika Lyodra terus sedang berganti pakaian.


"Kenapa, hm?" tanya Lyodra.


"Aku ingin minta izin padamu," ucap Maria.


"Izin apa?" tanyanya.


"Aku ingin bertemu Selo," jawab Maria. Dia takut kejadiannya seperti kemarin, di mana dia terpergok bohong.


"Untuk apa kau menemui Selo?" tanya Lyodra lagi yang benar-benar tidak mengerti dengan pikiran Maria.


Lyodra terkekeh kemudian mengelus rambut Maria. "Lakukanlah apa yang bisa membuatmu tenang," kata Lyodra lagi.


"Tolong telepon dia, katakan padanya aku ingin bertemu," ucap Maria.


"Kau tidak ingin meneleponnya sendiri saja?" tanya Lyodra.


"Tidak mau, aku malas," jawabnya membuat Lyodra menggeleng, hingga Lyodra merogoh saku kemudian mengambil ponsel lalu mengutak-atiknya, mencari nomor Selo.


"Halo Paman," sapa Selo di seberang sana ketika mengangkat panggilan dari Lyodra.


"Apa kau sibuk?" tanya Lyodra lagi.


"Tidak Paman, aku hanya akan pergi ke kantor," jawabnya.


"Ada apa? Apa ada yang penting?" tanya Selo.


"Bibi Maria ingin bertemu denganmu," jawab Lyodra.


"Apa?!" pekik Selo.


Lyodra langsung menjauhkan ponsel dari telinga, sebab Selo berteriak di seberang sana. Rupanya, lelaki itu terlalu terkejut dengan apa yang didengar. Di dalam pikiran Selo, mungkin saja Maria ingin kembali merestuinya dengan Bianca, sebab Maria sudah mengetahui Roland yang sebenarnya, tapi tentu saja tidak. Maria malah akan mengatakan hal sebaliknya.


"Di mana Paman? Baiklah, aku akan aku bisa menemui Bibi Maria," kata Selo di seberang sana hingga Lyodra pun memberitahukan alamat restoran yang akan diperintahkan oleh Maria.


Selo bersorak kegirangan ketika menutup panggilan dari mantan mertuanya, hingga Maira yang sedang berada di kamar sang kakak menoleh. "Kau ini gila?" tanya Maira.


"Maira, apa kau tahu Bibi Maria ingin bertemu Kakak? Sepertinya Bibi Maria akan merestui Kakak kembali pada Bianca," ucap Selo dengan gembira. Raut wajahnya terlihat berbinar, tapi Maira hanya berdecak.


"Kau ini terlalu percaya diri sekali. Siapa tahu Bibi Maria menemuimu karena dia tidak ingin Bianca mendekatimu lagi," jawab Maira.


Raut raut wajah bahagia Selo hilang, berganti dengan rasa bingung. Apa yang diucapkan oleh Maira memang ada benarnya, tapi tak lama dia menggeleng. "Kita ini harus husnuzon, tidak boleh berpikiran buruk pada orang," kata Selo.


Setelah itu, dia langsung mengganti setelan kantornya dengan pakaian nonformal, karena dia tidak berniat untuk pergi ke kantor, dia tidak jadi untuk pergi ke kantor dan memilih untuk menemui Maria secepatnya.


***


Di sinilah mobil Selo terparkir, di sebuah restoran di mana Maria sudah menunggu di dalam. Selo turun dari mobil kemudian merapikan tampilannya, lalu lelaki itu masuk ke dalam. Saat masuk, dia melihat meja yang ditempati oleh Maria, begitu pun dengan Maria yang juga melihat ke arahnya.


Rasa senang karena tadi berpikir Maria akan mendukungnya dengan Bianca, hilang begitu saja ketika melihat ekspresi wajah Maria yang tetap menatapnya seperti semula. Datar dan dingin.


"Selamat siang, Bibi," ucap Selo ketika dia sudah berada di meja yang ditempati.


"Duduk," titah Maria. Alih-Alih menjawab salam Selo, Maria langsung menyuruh Selo untuk duduk. Dia tidak ingin berbasa-basi dengan mantan menantunya, hingga jantung Selo berdetak dua kali lebih cepat.


Selo menyesal telah menyetujui ucapan Maria untuk bertemu. Seharusnya dia menolak bertemu Maria. Saat duduk, Maria menatap lelaki itu. Selo tidak berani menatap Maria.


"Kau pasti tahu tujuanku untuk memanggilmu kemari," ucap Maria. Dia tidak memanggil dirinya bibi pada Selo, lebih memilih untuk berbicara secara formal, karena dia tidak ingin mantan menantunya melanggar batasan dan terlalu berani padanya.


"Aku tidak tahu Bibi," jawab Selo dengan ragu. Lelaki itu semakin menundukkan kepalanya.


"Kisah kau dan Bianca sepertinya memang sama seperti kisah Ferhad dan Stevia, tapi aku tidak mau membiarkan kau seperti kakakku yang mendapat kesempatan kedua," ucapnya.


Mendengar itu, seketika Selo mengangkat kepalanya.


"Maksudku, aku tahu saat ini kau sedang berusaha untuk mengejar Bianca, berharap Bianca kembali lagi padamu karena kau sudah bertobat. Bukankah begitu?" tanya Maria sedangkan Selo menggigit bibirnya. Dia tidak berani mengiyakan atau berani mengelak.


"Perlu kau ketahui aku membesarkan Bianca dengan sepenuh hati, memberikan dia kasih sayang dan aku sebagai ibunya tidak akan rela membiarkan Bianca kembali padamu lelaki brengsek yang pernah melukainya," kata Maria dengan tegas.


"Jika kau berpikir atau kau sudah dewasa, kau akan mengerti apa yang aku katakan," lanjutnya.


Selo mengangkat kepalanya kembali kemudian menatap Maria. Dia bertanya, "Bibi, apa aku salah ingin memperbaiki hubunganku dengan Bianca dan menebus kesalahan?"


"Salah, sangat salah. Keputusan terbaik yang kalian alami adalah perceraian. Jika kau memang benar ingin Bianca bahagia dan menebus kesalahanmu, pergi dari hidupnya. Kau mengerti maksudku?" tanya Maria.


Setelah mengatakan itu, Maria pun bangkit dari duduknya. "Ingat jika kau memang mencintai Bianca, biarkan dia hidup bahagia dan ingin menebus kesalahanmu, jangan pernah tunjukkan lagi batang hidungmu di depan putriku," ucap Maria sebelum pergi, hingga setelah mengatakan itu Maria pun langsung meninggalkan Selo begitu saja.


Selo mematung. Sepertinya ucapan Maria menampar Selo, menyadarkannya bahwa semua tidak semudah yang dia pikir.


Jika di-flashback ke belakang, bagaimana cara dia mengejar Bianca, dia melihat betul Bianca sangat membencinya. Dia juga mengingat kesalahannya pada istrinya dari mulai mereka berpacaran sampai menikah, dan yang paling menyakiti adalah ketika dia tahu Bianca kehilangan anak mereka karena dia sibuk dengan Aghnia.


Mata Selo berkaca-kaca. Benar kata Maria, dia melukai berlebihan Bianca hingga pada akhirnya Selo mengambil keputusan bahwa dia tidak akan pernah lagi mengejar wanita itu. Pertemuan dengan Maria singkat, tapi mampu memberantakan perasaan lelaki itu, dan mampu menyadarkan tentang betapa besarnya kesalahan dia di masa lalu. Dia juga mengingat ucapan Bianca tentang dia yang mudah tergoda.


Selo menarik napas kemudian mengembuskannya. Dia menghapus sudut matanya yang berair. Lelaki itu menelepon Bianca. Sekali, dua kali, tiga kali tidak diangkat, hingga keempat kali akhirnya Bianca mengangkat panggilannya.


"Ada apa? Aku sibuk. Jangan ganggu," ucap Bianca.


"Tunggu sebentar," ucap Selo hingga Bianca kembali menghentikan niatnya yang akan mematikan panggilan.


"Apa?" tanya Bianca.


"Menurutmu, bagaimana sikapku beberapa waktu ke belakang yang ingin mengejarmu?" tanya Selo.


"Selo, kau ingin aku jujur?" tanya Bianca.


"Aku ingin jujur," ucap Selo.


Bianca terdiam di seberang sana. "Selo entah kau menanyakan ini untuk bercanda atau serius, tapi tolong dengarkan aku. Dari saat kau bertemu dengan Aghnia, sikapmu sudah sangat berubah. Saat kita berpacaran dan akan menikah, aku mengemis meminta waktumu untuk mempersiapkan semuanya, tapi kau bersenang-senang dengan Aghnia.


"Saat aku meminta waktumu untuk menemaniku, kau beralasan sedang sibuk tapi kau menghabiskan waktumu dengan dia. Saat malam pertama kau melakukannya tanpa perasaan, meninggalkan aku yang dalam kebingungan. Saat kita berbulan madu, kau pergi dengan Aghnia membuat aku keguguran, karena kelelahan mencarimu saat kita sudah menikah. Kau mendiamkanku seolah aku yang bersalah, dan kau lebih banyak waktu dengan Aghnia.


"Setelah kita bercerai dan setelah kau dicampakkan oleh Aghnia, kau datang padaku mengatakan ingin kembali dan memperbaiki semuanya. Maafmu memang sudah terucap, tapi kelakuanmu tidak akan pernah terhapus oleh apapun. Aku bahkan trauma dengan pernikahan, hingga rasanya aku tidak mau menikah lagi dan itu semua karena kau. Kau tidak akan tahu betapa pedihnya aku ketika hanya bisa memandang USG calon anak kita, tanpa bisa melihat wujudnya karena aku kehilangan dia. Jadi tolong jangan buang waktumu untuk mengejarku, karena sudah tidak ada pintu untuk kau kembali. Kau juga tolong sadar diri bahwa kesalahanmu lebih besar daripada apapun.” Bianca berucap dengan panjang lebar. Wanita itu mengeluarkan keluh kesahnya.


Tanpa terasa bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Selo saat mendengar untaian kata dari Bianca. Dia menarik napas kemudian mengembuskannya.


"Baik Bi, maafkan aku juga karena dengan tanpa tahu malu aku terus datang padamu, tapi mulai sekarang aku berjanji aku tidak akan datang lagi untuk menemuimu," ucapnya.


"Baguslah kalau begitu, mungkin kita hanya akan bertemu sebagai saudara. Tidak lebih dan jangan terlalu akrab denganku," jawab Bianca.


Setelah mengatakan itu Bianca langsung mematikan panggilannya.