Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sekeping hati yang terluka


“Kenapa? kau takut bukan?” tanya Bianca saat Sello menarik tangannya membuat Sello berdecih lalu melepaskan tangan Bianca.


“Tidak, aku tidak takut sama sekali padamu. Aku hanya ....”


“Hanya karena kau takut semua fasilitasmu dicabut oleh Daddy Gabriel!”lagi-lagi Bianca memotong ucapan Sello, membuat Sello memejamkan matanya.


Perlahan, Bianca maju. Kemudian, ia mendekat ke arah Sello. Lalu, menunjuk-nunjuk dada Sello. “Ini bukan tentangmu lagi, ini tentang pernikahan kita. Di masa lalu, mungkin aku akan menurut padamu. Tapi tidak di masa sekarang, aku tidak akan menutup-nutupi lagi apapun yang terjadi dalam pernikahan kita. Entah Sekarang atau nanti, mereka pasti akan tahu yang sesungguhnya, tanpa aku harus memberitahu mereka!”


Setelah mengatakan itu, Bianca pun berlalu dari hadapan Sello,.meninggalkan Sello yang kesal setengah mati.


Bianca masuk ke dalam kamar, tangis yang sedari tadi ia pendam akhirnya luruh juga. Bohong, jika Bianca tidak merasa sakit, faktanya setiap melihat Sello, membuat Bianca benar-benar terpuruk, apalagi tadi mereka membahas soal anak.


Bianca mendudukkan diri di ranjang, kemudian Ia membuka laci. Lalu mengambil kertas yang selama ini ia simpan. Bianca mengusap kertas tersebut, lalu menyimpannya di dalam dada, kemudian menangis sesenggukan. Rasa sakit yang luar biasa, kembali menghantamnya saat mengingat masa lalu


Perlahan, Bianca menaikan kaki ke ranjang, kemudian ia langsung menarik selimut, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya, kemudian menggigit selimut tersebut Lalu menangis sekencang-kencangnya.


•••


Setelah Bianca pergi, Sello mengusap wajah kasar, ia pun langsung berjalan ke dalam kamarnya sendiri. Setelah sampai di kamar, ia merogoh saku, kemudian mengambil ponsel untuk melakukan video call pada Agnia, dan tak lama, Agnia pun mengangkat panggilan dari Sello


“Hai, Baby. Kau sedang apa?” tanya Sello, ia mengembangkan senyumnya saat melihat wajah Agnia yang tampak cantik.


“Sello, aku baru saja akan bersiap untuk pergi bersama temanku, tidak apa-apa, kan, aku ingin makan di luar bersamanya?” ucap Agnia, ia berbicara semanis mungkin pada Selo.


Sello mengangguk, “Kau boleh melakukan apapun asal tidak bersama lelaki,” ucap Sello dengan nada posesif yang kentara, membuat Agnia terkekeh di seberang sana.


“Sello!" Panggil Agnia.


“Apakah kau kekurangan uang?” tanya Sello lagi yang sepertinya sudah peka dengan keinginan Agnia.


“Aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu,” ucap Sello, membuat wajah Agnia di sebelah sana begitu berbinar.


Agnia mematikan telepon dari Sello, kemudian ia langsung bersiap untuk pergi berbelanja seperti biasa. Padahal kemarin dia sudah berbelanja begitu banyak, tapi kali ini ia ingin berbelanja lagi apalagi barusan, Sello mengirimkan uang yang sangat banyak untuknya.


•••


Saat ia akan masuk ke dalam store, ia menghentikan langkahnya saat tak sengaja ada yang menabraknya, hingga akhirnya ia langsung menoleh. Baru saja Agnia akan berkata kasar dan mengumpat orang yang menabraknya, ia menghentikan niatnya saat melihat siapa orang yang menabraknya, ternyata dia adalah Mayra adik dari Sello.


“Ma-Maira,” ucap Agnia..


Mayra mengerutkan keningnya saat melihat mantan dari kakaknya, Ia memang mengenal Agnia, karena Agnia pernah dibawa beberapa kali oleh Sello ke mansion keluarganya. Namun, bukannya menjawab panggilan Agnia. Mayra malah fokus pada blazer yang di kenakan oleh Agnia. Seminggu lalu, ia pernah melihat blazer itu ada di mobil kakanya.


“Maira .....”


Keesokan harinya


Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi, Bianca keluar dari kamar. Ia sudah rapi dengan tampilannya, karena ia akan pergi ke rumah sakit untuk bekerja. Ia menghela nafas lega saat tidak ada Sello di manapun, dan dia berharap Sello pergi dari apartemennya.


Namun, rupanya kelegaan Sello tidak bertahan lama, karena faktanya Sello sedang berdiri di depan pintu dan baru saja akan memakai sepatu. Sepertinya, Sello pun akan pergi ke kantor. Saat Sello belum selesai memakai sepatunya, Bianca mendahului Sello untuk keluar dari apartemen.


Setelah sampai di mobilnya, Bianca langsung merogoh saku untuk mencari kunci mobilnya. Namun tak lama, ia menyentak nafas kesal, kala ia menyadari bahwa kunci mobilnya tertinggal di kamarnya.


Bianca melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah sangat mepet dan ia tidak bisa lagi kembali ke apartemennya, apalagi ia sungguh malas berpapasan dengan Sello.


“Ekhmee!” tiba-tiba terdengar suara deheman dari arah belakang, membuat Bianca langsung menoleh


“Roland!” Panggil Bianca. Bianca mengembangkan senyumnya, saat bertemu Roland di basement, karena memang Roland tinggal di apartemen yang sama.


“Kau akan berangkat ke rumah sakit, Bi?” tanya Roland, Bianca mengangguk. “Hmm, tapi aku lupa membawa kunci mobilku.”


“Ayo ikut saja bersamaku, aku juga melewati rumah sakitmu. Tapi, itu pun jika kau tidak keberatan," ucap Roland, Bianca tampak berpikir, kemudian mengangguk.


“Baiklah Roland, terimakasih atas tumpanganmu." Roland mengangguk, kemudian ia langsung berjalan ke arah mobilnya dan diikuti Bianca di belakangnya. Saat udah berada di depan mobil, Roland membukakan pintu untuk Bianca, membuat Bianca tersenyum. Lalu Bianca pun masuk kedalam mobil Roland di susul Roland yang juga ikut masuk.


Tanpa Bianca dan Roland sadari, dari jauh ada yang memperhatikan interaksi mereka, siapa pagi kalau bukan Sello. Rupanya, setelah Sello sampai ke basement, ia melihat Bianca berjalan bersama seorang lelaki, dan ia juga melihat bagaimana Roland membukakan pintu mobil untuk Bianca.


Seketika .....


Gas komen ya.