Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Berulah


"Aku yakin pasti dia mengikutiku, mana mungkin kebetulan," ucap Bianca saat berjalan ke dalam mobil. Walaupun sempat malu karena menuduh Selo, tapi rasanya tidak masuk akal ketika mereka bertemu di tempat yang sama.


"Sudahlah, apa urusanku," ucap Bianca lagi yang langsung masuk ke dalam mobil. Wanita itu segera menyalakan dan menjalankan mobil. Dia tidak ingin Selo mengejar lagi. Dia sudah cukup lelah dengan urusan di rumah sakit, dan dia tidak mau bertambah lelah karena lelaki itu.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di rumah. Wanita itu langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam. Lalu ternyata, sang ayah sedang duduk di halaman. "Kau baru pulang? Kenapa kau pulang telat?" tanya Lyodra.


"Aku harus mengamati sesuatu, Dad," ucap Bianca, dia mendudukkan diri di sebelah Lyodra kemudian langsung menyimpan pai buah di meja.


"Daddy perhatikan Roland tidak pernah datang lagi, ke mana dia?" tanya Lyodra yang tiba-tiba ingin tahu. Dia penasaran kenapa lelaki itu tidak datang lagi.


Di satu sisi dia bersyukur, tapi di sisi lain dia takut, sebab Gabriel baru saja memberitahu sepak terjang Roland yang sebenarnya membuat dia harus waspada juga menjauhkan pria itu. Namun saat Roland tidak datang lagi, tiba-tiba Lyodra merasa was-was.


Bianca tampak terdiam. Haruskah dia menceritakan semuanya pada sang ayah?


"Bi," panggil Lydora hingga Bianca menoleh.


"Kenapa Roland tidak datang ke sini?" tanya Lyodra kembali karena Bianca tidak menjawab, hingga wanita itu mengubah posisi duduk menjadi menyamping menatap ke arah sang ayah.


"Dad, sebenarnya aku meminta Roland untuk menjauh," ucap Bianca.


"Apa?" Lyodra terpekik saat mendengar ucapan putrinya. Ini lebih menyeramkan daripada yang ia duga. Jika Bianca yang meminta Roland menjauh, akan ada kemungkinan bahwa pria itu dendam pada putrinya, dan dia tidak mau Bianca menjadi korban dari Roland.


"Maksudmu?" tanya Lyodra.


Bianca bercerita panjang lebar. "Daddy, aku benar-benar merasa tidak nyaman padanya, jadi aku minta dia untuk menjauh sementara," ucap Bianca.


"Bianca, apa yang kau lakukan bisa saja ...." Lyodra menghentikan ucapannya ketika hampir saja mengatakan yang sebenarnya.


"Daddy, kenapa kau memarahiku?" tanya Bianca yang heran dengan reaksi sang ayah.


Lydora berusaha menormalkan ekspresi. "Maksud Daddy, kenapa kau harus meminta Roland untuk menjauh? Walau bagaimanapun kalian berteman dekat, bukan?" tanya Lyodra.


Lyodra sengaja mengatakan itu agar Bianca tidak curiga. Sekarang lelaki paruh baya ini dirasuki ketakutan yang luar biasa.


Bianca terdiam sejenak. Dia bingung bagaimana mendeskripsikan perasaannya pada Roland. "Entahlah, aku merasa ada yang aneh setiap dekat dengannya. Aku merasa ada yang janggal. Aku tahu dia memang selalu ada, tapi beberapa waktu ini hatiku tidak bisa dibohongi. Entah kenapa aku mulai risih dengan kehadirannya. Itu sebabnya aku menyuruh dia menjauh," ucap Bianca.


Jantung Lyodra berpacu dengan cepat saat mendengar apa yang putrinya katakan. Sekarang dia yakin Roland tidak akan diam saja dengan apa yang dilakukan oleh Bianca.


"Dad, kenapa kau terlihat khawatir?" tanya Bianca membuat Lydora tersadar kemudian menoleh.


"Ah, tidak tidak apa-apa," jawab Lyodra dengan gugup.


"Dad, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Bianca lagi.


"Mana mungkin? Memangnya apa yang Daddy disembunyikan? Sudah, Daddy harus masuk," ucap Lydora.


"Baiklah ayo, aku juga ingin istirahat," ucap Bianca.


Lyodra pun bangkit dari duduknya. Dia harus menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Bianca, sebab Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Roland.


Gabriel masih membutuhkan waktu beberapa saat lagi untuk menangkap lelaki itu, karena dia sedang berusaha untuk menahan bos yang berada di belakang Roland. Sebab jika dia saja yang ditangkap tapi bosnya tidak, maka itu semua akan sama saja.


***


Bianca masuk ke dalam kamar. Wanita itu langsung mendudukkan diri di sofa. Ada rasa penasaran yang menggelitik dirinya tentang reaksi sang ayah saat di mana dia mengatakan bahwa dia menjauhi Roland.


Ekspresi ayahnya terlihat gelisah, dan Bianca tahu sang ayah bukan keberatan karena dia menyuruh Roland menjauh, tapi ada alasan lain dibalik itu dan dia tidak tahu alasan apa yang dimiliki oleh Lyodra.


Kenapa perasaan Bianca mendadak tidak menentu, seperti ada hal yang akan terjadi. Namun tak lama, dia menggelengkan kepalanya.


Memangnya, apalagi yang harus terjadi? Toh, dia mengenal Roland bertahun-tahun. Walaupun sempat tidak nyaman dengan perasaannya pada Roland, tapi dia yakin pria itu adalah orang baik. Dia tidak akan pernah melakukan hal yang macam-macam padanya.


Setelah puas melamun, Bianca pun langsung bangkit dari duduknya kemudian pergi untuk membersihkan diri.


***


Lyodra berjalan ke sana kemari. Dia sudah menyuruh anak buahnya mulai besok mengikuti Bianca, tapi tetap saja dia merasa gelisah. Haruskah dia memberitahukan kepada Bianca tentang apa yang dilakukan Roland?


Tapi jika Bianca tahu, putrinya itu pasti akan semakin panik, hingga itulah yang menjadi titik bingung dari Lydora.


"Tidak apa-apa, Sayang," ucap Lyodra, padahal dari wajah mengatakan sebaliknya. Dia yang tidak ingin dicurigai oleh Maria pun, bergegas pergi ke kamar mandi.


***


Malam berganti pagi. Sejak tadi Lyodra terus gelisah. Dia berharap hari ini Bianca tidak pergi ke rumah sakit.


"Dad, kenapa kau terus melihat kearah lift?" tanya Maria ketika Lyodra terus melihat ke arah lift, berharap Bianca tidak turun.


"Kenapa Bianca belum turun?" tanya Lyodra.


"Dia sepertinya tidak praktek hari ini, tadi dia mengatakan ingin istirahat," jawab Maria.


Lyodra menghela napas, dan itu tidak luput dari penglihatan Maria. Wanita itu merasa aneh dengan suaminya. "Kau seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu," ucap Maria.


"Aku sedang khawatir Bianca kenapa-kenapa dan ...." Lyodra menghentikan ucapannya.


"Maksudmu?" tanya Maria.


"Tidak maksudku, sekarang, 'kan, sedang hujan badai. Beberapa jalan retak dan aku takut Bianca terkena apa-apa. Jadi aku ingin menyarankan dia agar memakai sopir," ucap Lyodra.


Maria menggeleng. Tidak biasanya Lyodra seperti ini, tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya. Lagi pula, apa yang dibicarakan suaminya ada benarnya juga.


Setelah bisa tenang karena Bianca tidak pergi ke rumah sakit, Lyodra kembali melanjutkan sarapan. Namun tak lama, dia mendengar suara derap langkah hingga dia menoleh.


"Uhuk!" Lyodra tersedak saat melihat sang anak keluar dengan berpakaian rapi.


"Bianca, kamu mau ke mana?" tanya Lyodra. Dia hampir bangkit dari duduknya untuk bertanya, karena dia begitu terkejut saat Bianca sudah rapi.


"Oh, aku ada janji bersama Alice. Aku akan pergi ke sekolahnya," kata Bianca, karena memang hari ini dia akan menemani Alice untuk melukis di sekolahnya.


"Batalkan saja," ucap Lyodra membuat Bianca yang baru saja duduk dan bergabung di meja makan, mengerutkan kening.


"Maksud Daddy apa?" tanya Bianca.


"Tolong batalkan saja, Daddy ingin mengajakmu berkuda," kata Lydora, memberi alasan tidak masuk akal.


"Kuda? Bukankah kuda kita sedang dirawat di penangkaran?" tanya Bianca.


Maria tidak menimpali pembicaraan mereka. Dia melihat Lyodra lekat-lekat. Seperti ada yang disembunyikan oleh lelaki itu.


"Daddy ini ada-ada saja. Aku sudah berjanji pada anak itu, mana mungkin aku mengecewakannya," ucap Bianca. Dia langsung mengambil roti hingga Lyodra tidak lagi berbicara. Walaupun sudah memberikan pengamanan yang sangat ketat untuk putrinya, tapi tetap dia khawatir.


***


Bianca menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Rasanya, dia tak sabar untuk datang ke sekolah. Kegiatannya beberapa waktu ini sudah sangat menyita waktu, dan bermain bersama anak-anak membuatnya kembali bersemangat.


Saat berada di lampu merah, Bianca mengerutkan kening kala melihat ada beberapa mobil yang sedari tadi seperti mengikutinya membuat dia curiga.


Mobil itu berwarna sama, dan Bianca seperti pernah melihatnya, yang ternyata bahwa tujuh buah mobil di belakangnya merupakan anak buah Lyodra. Lyodra tidak tanggung-tanggung memberikan pengamanan untuk putrinya.


Tak lama, lampu merah mulai berganti dengan hijau hingga Bianca kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di sekolah. Dia pun turun lalu membawa buket bunga untuk Alice.


"Alice," panggil Bianca pada Alice yang seperti sedang menunggu dirinya.


Gadis kecil itu begitu sumringah kemudian dia langsung berlari menghampiri Bianca yang berkata, "Maafkan Bibi yang telat."


"Aku pikir Bibi tidak akan datang, ayo Bibi kita ke sana. Daddy sudah di sana," ucap Alice.


Alice langsung menarik lembut tangan Bianca, kemudian mereka pun masuk ke dalam area kelas dan ternyata Adrian sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki yang mungkin itu kepala sekolah.


Acara demi acara pun kini dimulai. Adrian menunggu di luar, sedangkan Bianca sedang dilukis oleh Alice.


"Bibi geser lagi," titah Alice ketika akan mulai melukis wajah Bianca, hingga Bianca langsung menggeser tubuhnya.


Tak lama, Bianca meringis saat kepalanya beradu dengan orang lain.


"Apakah begini sudah cukup?" ucap Selo tiba-tiba. Rupanya, pria itu menyusul, dan sekarang dia duduk di sebelah Bianca.