
Saat mulai mengatakan semua tentang apa yang dirasakan oleh wanita itu, Tristan hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya seolah menyimak dengan apa yang diucapkan oleh Molly, padahal aslinya dia begitu mual rasanya dia ingin segera pulang dan menemui Bella di apartemennya.
"Jadi, dengan kata lain? Kau ingin menikah denganku?" tanya Tristan, dia memotong ucapan Bella karena dia terlalu kesal melihat Bella terus berbicara.
"hmm, tapi jika kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku hanya mengutarakan keinginanku saja," kata Molly, tentu saja dia mengatakan itu hanya berdusta.
"Sebenarnya ada yang harus kau tahu," ucap Tristan hingga Molly langsung menegakkan kepalanya lalu setelah itu, dia menatap Tristan dengan lekat.
"Kau ingin mengatakan apa?" tanya Molly ketika Tristan tidak kunjung berbicara. Sungguh, rasanya lidah Tristan kelu untuk mengatakan hal ini. Dia begitu jijik dengan apa yang akan dia ucapkan, tapi mau tak mau dia harus melakukan ini.
"Sebenarnya kita mempunyai perasaan yang sama," kata Tristan. Tristan mengepalkan tangan di bawah meja ketika mengatakan itu.
"Kau menyukaiku?" Molly langsung bangkit dari duduknya, dia begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Tristan dan dia tidak menyangka ternyata Tristan menyukainya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?" tanya Molly lagi, dia langsung mendudukkan diri kembali di kursi kemudian bersikap anggun.
"Aku hanya mementingkan pendidikan dan pekerjaan, tapi karena kau mengatakan bahwa kau menyukai aku, maka tidak ada salahnya kita mencoba. Toh, perasaan kita sama." Tangan Tristan semakin mengepal ketika mengatakan itu, rasanya dia ingin muntah dengan ucapannya sendiri dan tanpa diduga Molly langsung bangkit dari duduknya kemudian wanita cantik itu langsung beralih duduk di sebelah Tristan.
"Seandainya kau bicara dari dulu, tentu pasti kita menikah dan pasti sekarang kita memiliki anak," jawab Molly, dia, tidak sadar bersikap agresif pada Tristan karena dia terlalu girang dengan apa yang Tristan ucapkan.
"I-ia, bisa kau duduk lagi di tempatmu?" tanya Tristan hingga Molly tersadar dengan cepat
Molly-pun bangkit dari duduknya kemudian ke posisi semula.
***
Tristan turun dari mobil, dia baru saja sampai di basement. Rasanya dia ingin segera sampai kemudian melepaskan semua yang menempel di tubuhnya karena sebelum dia pulang, Molly sempat memeluknya. Ketika mereka berada di parkiran, beberapa kali ucapan Molly terngiang di otak Tristan hingga rasanya dia ingin mencuci telinganya agar tidak terus mendengar ucapan wanita itu.
Saat dia masuk, ternyata Bella sedang menonton televisi hingga Bella langsung menoleh.
"Tristan, kau sudah pulang?" tanya Bella yang bangkit dari duduknya karena ingin menghampiri Tristan.
“Tunggu jangan sentuh aku, aku ingin menghilangkan jejaknya dulu," jawab Tristan, di langsung bergegas masuk kedalam kamar.
"Hah?" Bella menatap kekasihnya dengan bingung, tapi dia tidak bertanya lagi dan membiarkan Tristan pergi ke kamar. Beberapa saat berlalu, Tristan keluar sambil membawa seluruh pakaian yang tadi dia pakai kemudian dia berjalan ke arah dapur lalu setelah itu dia langsung membuang pakaiannya ke tempat sampah.
"Tristan, kenapa kamu buang itu?" tanya Bella dengan terkejut.
"Kau tahu tadi dia memelukku?aku Geli sekali," jawab Tristan sambil bergidik. Seketika, Bella tertawa membuat Tristan mengerutkan keningnya.
"Sayang, kau tidak cemburu?" tanya Tristan pada Bella.
"Pada yang lain aku cemburu, tapi pada dia sepertinya tidak. Lihat saja kau langsung melepaskan semua yang kau pakai," ucap Bella.
Bella menarik lengan Tristan kemudian dia membawa Tristan untuk duduk di sofa, hingga kini kedua insan itu sudah duduk berhadap-hadapan.
"Kenapa, hm?" tanya Tristan ketika Bella menatapnya. Bella menarik lengan Tristan kemudian dia menggenggamnya.
"Tristan jika tidak ada dirimu, mungkin aku tidak akan seperti sekarang. Terima kasih sudah banyak sekali berkorban untukku. Maaf jika aku terus merapotkanmu, maaf juga jika aku tidak bisa mengimbangimu. Seharusnya kau punya kekasih yang mempunyai value yang tinggi, yang punya pendidikan yang sangat tinggi dan pekerjaan yang jelas, tapi kau malah berakhir dengan aku yang bodoh dan tidak mempunyai value apapun," ucap Bella dengan nada sendu tak di pungkiri dia kerap merasa insecure.
Tristan menyentil kening Bella membuat Bella mengaduh kesakitan.
"Terus saja berkata seperti itu," kata Tristan, dia langsung menarik kakinya kemudian dia membaringkan tubuhnya di sofa dan berbantalian paha Bella.
"Aku tidak ingin mendengar hal semacam itu. Persetan dengan value, pendidikan dan lain-lain. Aku cukup kaya untuk menghidupimu dan menghidupi anak-anak kita," jawab Tristan membuat Bella ingin sekali menangis.
"Seandainya aku memberitahukanmu apa yang terjadi dari dulu, pasti aku sudah bertemu dengan ayahku," jawab Bella, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata wanita itu ketika mengingat kebodohannya.
Tristan langsung menggenggam tangan Bella kemudian lelaki tampan itu mencium tangan kekasihnya.
"Tidak ada yang salah, kau bersikap seperti itu karena terlalu banyak tekanan di masa lalu, kau takut melangkah karena kau takut ayahmu tidak baik-baik saja, jadi aku rasa tidak usah ada yang disesali," jawab Tristan dengan bijak hingga Bella langsung menghapus air matanya. Entah bagaimana lagi Bella harus bersyukur mendapatkan pasangan seperti Tristan, bahkan Tristan rela membeli cafe hanya untuk dia bekerja agar dia tidak bekerja di tempat lain dan bisa dibilang kafe itu sekarang milik Bella.
"Lalu, apa langkah yang akan kau ambil?" tanya Bella.
"Aku sudah mengatakan pada Molly kita akan menikah setelah dia mengabulkan keinginanmu," ucap Tristan.
"Maksudmu? Kau mengatakan itu? Kenapa kamu mengatakan itu?" Bella takut, Molly akan curiga.
Bella menghela napas, sekarang tinggal dia yang kuat. "Besok setelah kau pulang dari sini, Molly dan ibunya pasti akan menekanmu dan kau harus punya pendirian jika mereka mengancam melukai ayahmu, kau berpura-pura saja tidak peduli. Karena semakin kau Lemah mereka akan semakin puas, dan itu akan merugikan?”
Darren keluar dari ruang kerjanya, dia mencari Iriana, putri bungsunya sebab dia berjanji pada Iriana akan mengajak putri bungsunya berbelanja. Tak lama, ponsel berdering, satu panggilan masuk dari Shelby membuat Darren tersenyum kemudian lelaki itu langsung mengangkat panggilannya.
"Halo, Sayang?" panggil Darren ketika mengangkat panggilannya.
"Dad, bolehkah aku izin lebih lama, aku belum puas berbelanja," jawab Shelby.
Darren terkekeh Shelby sudah pergi bersama Angel sedari tadi pagi, Istrinya pamit untuk berbelanja dan sepertinya Shelby masih belum cukup hingga dia minta tambahan waktu pada Darren.
Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Shelby yang tadinya enggan memakai apapun milik Darren, berubah. Dia kini gila belanja, mungkin inilah cara Shelby melampiaskan apa yang tidak dia dapat di masa lalu.
Sekarang, Shelby selalu menghabiskan waktunya dengan berbelanja, berburu barang mahal bersama Angel. Tentu saja Darren tidak masalah, dia mendukung apapun yang istrinya mau, dia tidak keberatan berapa pun uang yang dikeluarkan istrinya untuk berbelanja, bahkan Darren juga memberikan satu ruangan khusus yang sangat-sangat besar untuk menampung semua koleksi Shelby.
Setelah mematikan panggilan dari sang istri, Darren langsung berjalan ke arah luar kemudian dia mencari Arini dan ternyata Arini sedang berada di taman dengan Theresia.
"Kita pergi sekarang," ajak Darren hingga Theresia yang sedang membaca majalah, langsung menoleh.
"Kalian mau ke mana?" tanya Theresia, menatap ayah dan adiknya secara bergantian.
"Kami ingin belanja buku," jawab Iriana sambil bangkit dari duduknya.
"Kalian tidak mau mengajak aku?" protes Theresia.
"Emangnya kau mau diajak?" Tanya Dareen, karena biasanya Thresia paling malas jika pergi bersama ayah dan adik bungsunya karena menurut Thresia adik bungsunya selalu rewel.
"Tidak," jawabnya sambil mengibaskan rambut. Awalnya, Theresia memang tidak menyukai adiknya karena dia takut perhatian Darren terbagi, tapi lambat laun dia sudah bisa bersikap layaknya seorang kakak pada Alden ataupun pada Arini.
"Ya sudah kalau gitu, Daddy pergi. Jangan keluar dari rumah apalagi kalau sedang batuk," ucap Darren pada Theresia.
"Iya," jawab Thresia dengan tidak meyakinkan.
"Iya tidak berjanji maksudmu?" ulang Darren hingga Theresia memutar bola matanya jengah.
Setelah itu, Darren pun langsung berlalu dengan putri bungsunya.
***
Bella masuk ke dalam rumah, dia baru saja sampai dan tepat seperti dugaannya, Molly sudah menunggunya.
"Eh, kemari kau," ucap Molly hingga Bella langsung berjalan ke arah Molly.
"Ada apa?" tanya Bella. dia menahan degupan jantung yang sangat kencang ketika melihat Molly.
"Aku dan Tristan akan menikah, jadi jika Tristan menanyakan apa aku sudah memberikan apa yang kau mau, katakan saja sudah," ucap Molly. Benar dugaan Tristan bahwa Molly akan mengatakan hal seperti ini dan menyuruh Bella untuk berbohong.
"Tidak mau," jawab Bella membuat mata Molly membulat.
"Apa maksudmu? Kau berani melawanku?" tanya Molly, dia hampir sama menampar Bella.
"Jika dipikir, aku sudah lelah menghadapi kalian. Terserah saja jika kau tidak akan memberitahukan keberadaan ayahku," ucap Bella, "dan juga jika kamu memang tidak ingin memberitahukan keberadaan ayahku, Tristan tidak akan pernah menikah denganmu. Bukankah agar kalian menikah, kau harus membuktikan janjimu?"
Mata Molly membulat saat mendengar itu, dia tidak menyangka bahwa Bella tahu tentang syarat yang diajukan Tristan.
"Sedekat itu kau dengannya sampai kau bisa tahu dengan pembicaraan kami?" tanya Molly lagi.
"Kita tidak terlalu dekat, hanya bos dan karyawan, tapi tadi Tristan mengatakan padaku, dia berterima kasih karena aku telah menyatukan kalian dan karena terima kasihnya, dia akan menikah denganmu setelah kau menepati janjimu," ucap Bella.
Molly menghela napas kemudian mengembuskannya, dia menyesal ketika tadi dia mengatakan bahwa dia sudah menjanjikan sesuatu pada Bella untuk menyatukan mereka.
Molly melihat ke sembarang arah, memastikan keberadaan ibunya. Dia harus mengatakan pada Bella di mana keberadaan ayah tirinya agar dia bisa secepatnya menikah dengan Tristan, dia tidak peduli harus melawan ibunya karena ibunya melarangnya untuk memberitahukan keberadaan ayah tirinya.
Molly pun maju kemudian dia berjalan ke arah Bella lalu berbisik. Mata Bella membulat saat mendengar apa yang dikatakan oleh Molly, ternyata selama ini ayahnya.