
"Dokter Bianca," panggil Adrian ketika mobil sudah melaju. "Dokter Bianca. Aku rasa kedua pria itu sedang bersaing untuk mendapatkanmu," tebak Adrian hingga Bianca terdiam tidak menjawab.
"Oh maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya seperti ini, tapi entahlah mereka tampan dan tampaknya juga bukan dari kalangan orang biasa, lalu kenapa kau tidak memilih mereka?" tanya Adrian. Dia takut bertanya seperti ini, dia takut mendengar jawaban Bianca.
"Panjang ceritanya, tapi salah satu mereka adalah mantan suamiku."
Adrian terpekik saat mendengar ucapan Bianca, hingga dia hampir menghentikan mobilnya mendadak. Namun, dia kembali bisa menguasai diri. "Maksudmu mantan suami?" tanya Adrian. "Maaf, bukan maksudku mencampuri urusanmu." Adrian langsung meminta maaf karena merasa dia terlalu
"Tidak apa-apa, Dok." Bianca tersenyum, seolah mengatakan tidak keberatan dengan pertanyaan Adrian
"Tapi saat itu kau berkata salah satu dari mereka adalah saudaramu?" tanya Adrian yang mengingat, bahwa Bianca pernah mengenalkan Selo hanya sebagai saudara.
"Bisa dibilang dia saudaraku. Kakeknya adalah paman dari kakekku. Rumah tanggaku menyakitkan, dia berselingkuh dengan wanita lain bahkan sebelum kami menikah. Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya kami memutuskan untuk bercerai dan dia menikah dengan selingkuhannya. Tapi sepertinya, dia sudah berpisah dengan selingkuhannya hingga dia mendekatiku lagi. Sedangkan lelaki yang satunya lagi dia orang yang menemaniku di masa sulitku ketika berpisah dengan Selo, dan ketika aku dilukai oleh mantan suamiku." Bianca sedikit mengecilkan suaranya, karena dia merasa sesak saat menceritakan tentang Sello.
"Jangan diteruskan jika berat, Bi," kata Adrian.
"Tidak, ini tidak berat sama sekali karena ini sudah berlalu," jawab Bianca lagi.
"Tapi, kenapa kau masih mau didekati oleh mantan suamimu, jika dia sudah melukaimu sedemikian rupa?" tanya Adrian yang penasaran.
"Karena hubunganku dan mantan suamiku menyangkut banyak orang, seperti yang aku bilang bahwa kami adalah saudara, jadi jika aku bersikap buruk padanya itu akan melukai mantan mertuaku yang juga saudara ibuku. Rumit bukan percintaanku?" Bianca mengakhiri ucapannya dengan kekehan membuat Adrian mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Berarti bisa dibilang Roland yang ada di masa sulitmu?" tanya Adrian, dia penasaran tentang lelaki itu.
"Dia selalu ada dan menemaniku, tapi sekarang aku merasa aneh," kata Bianca.
"Aneh?" ulang Adrian.
"Sulit dijelaskan, tapi aku merasa ...." Bianca menggantung ucapannya karena bingung harus bicara apa.
"Dan beruntungnya, tadi kau datang. Jika tidak, aku akan terjebak dengan pria gila itu," ucap Bianca.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah. Mata Bianca membulat saat melihat dua mobil terpakir di pekarangan, yang tak lain adalah milik Selo.
"Dokter, tolong masuk saja ke dalam," ucap Bianca. Sebab, jika dia turun sendirian, maka kedua lelaki gila itu pasti akan mengikutinya lagi hingga Adrian pun mengangguk.
Barusan setelah meninggalkan restoran, Selo sengaja tidak langsung pulang. Lelaki itu memutuskan untuk berbincang-bincang sebentar dengan Bianca, berharap dia mau bicara dengannya.
Namun sayang, Bianca malah langsung masuk ke dalam hingga Selo hanya bisa menggigit jari kemudian memutar balikan mobilnya. Tepat ketika berada sejajar dengan Roland, dia menghentikan sejenak mobilnya kemudian menekan klakson, hingga pria itu langsung membuka jendela.
Lalu setelah itu, Selo mengacungkan jari tengah pada Roland membuat matanya membelalak. Andai dia sedang tidak tidak takut berusaha dengan Gabriel, sudah dipastikan dia akan mengejar Selo dan menghajarnya.
Roland juga ikut memutarbalikan mobilnya, dia memutuskan untuk pulang dan akan mencoba mendekati Bianca lagi dengan cara yang lain.
"Dokter Adrian, terima kasih sudah mengantarkanku pulang," ucap Bianca ketika sudah sampai di pekarangan rumah, "maaf juga jika tadi melibatkanmu."
"Tidak masalah, aku justru senang melihat persaingan mereka berdua," kata Adrian, "karena aku tahu siapa pemenangnya."
"Maksud dokter?"
"Tidak apa-apa."
***
Selo masuk ke dalam kamar, lelaki itu langsung membanting tubuhnya di ranjang. Sejak masih menyetir, dia terus dibayangi ketakutan tentang kedekatan Bianca dan Adrian.
Sedari tadi, Selo berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan hati Bianca kembali. Saingannya selama ini adalah Roland, tapi sebentar lagi sang ayah akan mengurus lelaki itu.
Lalu ketika Roland pergi, malah ada Adrian dan itu membuat Selo benar-benar frustasi. Dia kini melihat jam di tangannya kemudian memutuskan untuk bangkit dari berbaringnya, kemudian menunaikan salat isya.
Setelah bersuci, Selo langsung berjalan ke mushola kecil. Dia sudah rapi memakai sarung dan baju koko. Lelaki itu membentangkan sajadah kemudian memulai ibadahnya.
Sebelah selesai salat, Selo tidak lantas bangkit dari duduknya, dia menengadahkan tangan sembari berkeluh kesah pada sang pencipta, meminta ampunan dari dosa yang dia lakukan.
Selo juga menyelipkan doa agar Bianca mau kembali padanya, karena dia sadar, sekuat apapun usahanya jika itu tanpa doa dan campur tangan Tuhan, dia tidak akan pernah mendapatkan Bianca.
Itu sebabnya, Selo membarengi usaha dengan doa, berharap Bianca benar-benar menjadi miliknya.