
"Tidak apa-apa Mommy, tidak apa-apa," kata Theresia ketika Shelby memeluknya. Dia bisa saja mengatakan tidak apa-apa, tapi hatinya berdenyut nyeri. Dia tidak ingin sang ibu menangis, hingga dia langsung mengatakan hal seperti itu karena Theresia paling tidak bisa melihat Shelby seperti ini.
Mendengar ucapan Theresia yang begitu bijak, Shelby melepaskan pelukannya kemudian dia menghapus air matanya.
"Ayo kita tunggu di kamar, kita tiup lilin nanti malam," kata Shelby hingga Theresia mengangguk. Sepasang kedua anak dan ibu itu langsung berjalan ke arah kamar mereka, untuk menunggu pukul dua belas nanti di kamar.
Pada akhirnya, setelah menunggu beberapa jam, sebentar lagi akan menuju pukul dua belas, di mana Shelby dan Theresia akan tiup lilin. Shelby masuk ke dalam kamar, dia baru saja dari dapur untuk mengambil cake yang sudah dia beli. Rasa sedih menyelimuti Shelby. Selalu seperti ini, setiap tahun mereka selalu merayakan ulang tahun Theresia berdua.
Shelby sudah duduk di lantai kemudian dia menyimpan kue di bangku kecil, lalu setelah itu Shelby menoleh ke arah Theresia. Lagi-Lagi, Shelby merasa hatinya hancur ketika melihat wajah Theresia yang menatap kosong ke arah cake yang barusan dia bawa.
Shelby melihat jam, ternyata hanya tinggal dua menit lagi menuju ke pukul dua belas malam tepat.
"Ayo Theresia, berdoa sebelum meniup lilin," kata Shelby hingga Theresia tersadar. Gadis kecil itu langsung menyatukan tangannya kemudian mengepalkannya, lalu menyimpannya di bawah. Dia memejamkan matanya kemudian berdoa.
Cukup lama doa yang dipanjatkan, hingga gadis itu kembali membuka mata lalu setelah itu dia langsung meniup lilin hingga saat ini, langsung bertepuk tangan dengan hati yang pedih.
"Happy birthday, Sayang," kata Shelby. Dia berpindah duduk di posisi Theresia kemudian memangku putrinya, lalu menyerahkan pemotong cake pada Theresia. Namun, Theresia menggeleng.
"Mommy, aku ngantuk. Ayo kita tidur saja. Kita nikmati kuenya besok," kata gadis kecil itu hingga Shelby mengangguk.
"Ya sudah, kau berbaring terlebih dahulu. Mommy akan menyimpan cake ini ke dalam kulkas." Setelah mengatakan itu, Shelby pun langsung menurunkan Theresia dari pangkuannya, kemudian dia langsung mengambil cake lalu setelah itu dia kembali keluar untuk menyimpan cake di tangannya.
Setelah menyimpan cake di kulkas, Shelby tidak langsung masuk. Dia mendudukkan diri sejenak di kursi yang ada di pantry. Tatapannya lurus ke depan, dia melihat ke sekeliling apartemen ini. Apartemen ini sudah dia tempati selama tujuh tahun. Banyak sekali kenangan yang menyakitkan di sini, beberapa kali dia ingin berpisah dengan Darren, tapi dia juga memikirkan Tristan.
Shelby sudah berusaha berbicara dengan Tristan bahwa dia ingin berpisah dengan Darren, dan menyuruh Tristan untuk tinggal bersama Darren. Namun, Tristan tidak mau, dia tetap ingin satu atap bersama ayah dan ibunya. Di satu sisi, dia tidak tega menolak keinginan Tristan, tapi di satu sisi lain bagaimana dengan mental Theresia yang selama sepuluh tahun ini dihancurkan oleh Darren? Itu membuat Shelby dilema. Dia juga pernah bertanya pada Theresia, haruskah mereka pindah dari sini? Namun, Theresia pun menolak. Dia tetap ingin bersama Tristan dan Darren.
***
Theresia membaringkan tubuhnya di ranjang. Gadis kecil itu menyatukan tangannya dan menjadikannya sebagai bantal. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Theresia saat ini, yang pasti dia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, hingga tanpa sadar bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Theresia. Entah terbuat dari apa hati gadis kecil itu. Walaupun tidak pernah dianggap, tapi rasanya Theresia juga tidak sanggup jika tidak melihat Darren dan Tristan, itu sebabnya dia tidak ingin pindah dari apartemen ini.
***
"Ayo Tristan, tiup lilinmu," kata Darren.
Saat ini, mereka sedang berada di halaman belakang, merayakan pesta kecil ulang tahun Tristan.
"Ayo Tristan, tiup lilinmu," kata Mia yang tak lain kekasih Darren. Tristan tampak terdiam, pikirannya malah melanglang buana memikirkan Theresia. Sebelum pergi, dia ingat betul Theresia meminta uang pada Darren untuk membelikan hadiah, dan Tristan tahu Theresia mengatakan itu karena ingin mendapat hadiah dari sang ayah.
"Tristan," panggil Darren hingga Tristan tersadar, kemudian menoleh lalu setelah itu dia langsung meniup lilin. Mia langsung bertepuk tangan, berbeda dengan Tristan yang masih tampak tidak bersemangat.
"Ayo potong kuenya," ucap Mia lagi. Bukannya menjawab, Tristan malah bangkit dari duduknya.
"Daddy, aku mengantuk," kata Tristan.
Darren menghela napas kemudian mengangguk.
"Ya sudah, kau masuk ke dalam kamar. Nanti Daddy menyusul," ucap Darren.
Tanpa menjawab lagi, Tristan pun melanjutkan langkahnya. Bocah kecil itu memutuskan untuk masuk dan memutuskan untuk menelepon sang ibu. Dia ingin berbicara dengan Theresia, karena dia tahu adiknya pasti sedang hancur.
"Sampai sekarang Tristan masih tidak bisa menerimaku," keluh Mia.
"Sudah, biarkan saja. Nanti juga dia dekat," ucap Darren yang menenangkan.
Mia bangkit dari duduknya, wanita cantik itu langsung berjalan menghampiri Darren kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Darren. Dia langsung menarik pinggang Mia.
"Darren, kita, 'kan, berpacaran sudah lama. Bukankah kita bisa melakukan hal yang lebih?" tanya Mia. Walaupun dia berpacaran dengan Darren sudah lama, tapi Darren tidak pernah menyentuhnya, dalam arti kata mereka belum pernah melakukan hubungan badan.
"Kau harus sabar, Baby. Setelah aku bercerai dengan Shelby, semua waktuku milikmu," ucap Darren. Tentu saja dia hanya menggombal. Jika dia menceraikan Shelby, bisa habis dia oleh sang ayah, Dia tidak ingin memeluk Mia takut Mia hamil anaknya, itu sebabnya dia selalu menahan dirinya, karena bagi Daren hanya Tristan putranya
"Wah kau ini," jawab Mia.
"Sabar, oke?" tegas Darren.
***
Dua hari kemudian.
Shelby melihat Theresia di kelas. Terlihat jelas Theresia sedang melamun. Mungkin, Theresia rindu Tristan karena sampai sekarang Tristan juga belum pulang dan belum pulang berlibur bersama Darren. Tiba-Tiba, ponsel Shelby berdering. Satu panggilan masuk dari dokter Theresia.
"Halo?" sapa Shelby.
"Kau belum mengambil vitamin Theresia? Awas, jangan sampai lupa," kata dokter lagi hingga Shelby menepuk kening.
"Aku lupa, nanti aku akan ke sana," jawabnya.
Theresia mempunyai penyakit autoimun sistemik, atau juga sering disebut lupus. Tidak ada yang tahu penyakit Theresia.
Dia tidak ingin Darren tahu tentang apa yang terjadi pada putrinya, tentu saja dia tidak ingin Darren menertawakan Theresia.
Selama ini, Theresia selalu minum obat dari dokter agar penyakitnya tidak kambuh, sebab jika penyakit Theresia kambuh, Theresia tidak akan bisa berjalan bahkan akan terbaring. Otak, jantung dan juga ginjalnya akan rusak, itu sebabnya pengobatan Theresia benar-benar tidak main-main. Shelby selalu memeriksakan kondisi Theresia ke rumah sakit, juga Theresia rutin sekali minum obat.
Tak lama, Shelby pun langsung berjalan ke arah ruang guru. Dia harus memeriksa laporan tentang murid-muridnya. Ya, Shelby memutuskan untuk menjadi guru di sekolah Tristan dan juga Theresia. Dia melakukan itu untuk menemani Theresia agar dia bisa dekat dengan putrinya selama dua puluh empat jam, sebab dia harus mengawasi kondisi Theresia ketika Theresia di luar, itu sebabnya dia memilih menjadi guru.
"Theresia," panggil Shelby dari arah belakang. Rupanya, Shelby baru saja keluar dari kelas lain dan dia langsung memanggil putrinya ketika putrinya berjalan. Theresia berbalik kemudian dia berjalan ke arah sang ibu.
"Theresia, are you oke?" tanya Shelby dengan panik. Dia langsung memeriksa tangan Theresia yang tertutup. Shelby menghela napas lega kala tidak melihat bercak di tangan putrinya. Itu berarti putrinya baik-baik saja.
"Aku hanya tidak enak badan, Mommy," jawab Theresia hingga Shelby kembali dihinggapi rasa was-was. Pasti setelah Theresia merasakan seperti ini, akan ada gejala lain yang menyusul yang akan dirasakan oleh Theresia.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit," ajak Shelby. Theresia tidak menjawab, dia mengikuti langkah sang ibu.
***
Shelby mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan. Sesekali, dia melihat ke arah Theresia yang melamun.
"Theresia," panggil Shelby.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Shelby.
"Aku rindu Tristan," jawab Theresia.
"Mommy akan menelepon Daddy dan menyuruh Tristan untuk segera pulang," kata Shelby.
"Tidak perlu, Mommy," kata Theresia lagi. Sepertinya, Theresia dalam fase menyerah untuk berharap pada Darren. Entah kenapa, saat ini dia justru hanya ingin memeluk Tristan. Dia rindu saudara kembarnya.
Seetelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Shelby sampai di rumah sakit. Shelby dan Theresia pun turun lalu masuk ke dalam.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Theresia tertidur lebih awal dari biasanya, mungkin karena efek obat yang diminum oleh gadis kecil itu.
Shelby mendudukkan dirinya di sebelah Theresia, kemudian wanita cantik itu langsung menarik selimut untuk putrinya. Tiba-Tiba, mata Shelby memanas ketika mengingat ucapan dokter. Sekarang, kondisi psikis Theresia sedang down hingga berpengaruh pada fisiknya. Tadi saat di sekolah, Shelby tidak menemukan ruam di kulit Theresia, tapi pada saat pulang dari rumah sakit, kulit Theresia dipenuhi merah-merah. Kelopak mata Theresia juga membengkak, dan itu adalah reaksi dari penyakit lupus yang diderita Theresia.
Mungkin besok ketika Theresia sudah baikan, Shelby akan mengajak Theresia berlibur ke tempat yang bercuaca sejuk, karena Theresia tidak boleh terkena paparan sinar matahari.
Tak lama, terdengar suara gaduh dari luar dan Shelby yakin itu Tristan. Shelby pun bangkit dari duduknya kemudian dia langsung keluar dari kamar, dan benar saja ternyata Tristan yang datang bersama Darren.
"Mommy!" Tristan berteriak pada Shelby, hingga Shelby langsung tersenyum, kemudian lelaki itu langsung berlari ke arah sang ibu, lalu meloncat ke pangkuan Shelby, begitu pun dengan Shelby yang langsung menangkap tubuh sang putra.
"Aku rindu sekali pada Mommy," katanya dengan antusias.
Sedangkan Darena langsung pergi ke kamarnya. Seperti biasa, lelaki itu masuk ke dalam kamar tanpa menyapa Shelby terlebih dahulu, begitu pun dengan Shelby yang tidak ingin melihat suaminya.
"Bagaimana liburanmu di sana?" tanya Shelby.
"Membosankan," jawab Tristan.
"Mommy, mana Theresia?" tanya Tristan.
Seketika, Shelby dilanda kepanikan. Dia takut Tristan bertanya tentang apa yang terjadi pada Theresia, karena wajah Theresia sedang dalam tidak keadaan baik.
Belum Shelbie menjawab, Tristan sudah terlebih dahulu meninggalkan Shelby untuk pergi ke kamar, sepertinya bocah cilik itu tidak sabar untuk melihat sang adik. Saat masuk ke dalam kamar, Tristan langsung berjalan ke arah ranjang dan ketika mendekat, mata Tristan membulat ketika melihat kondisi Theresia.
Shelby dengan cepat menutup pintu kamar, karena dia tidak ingin Darren mendengar pembicaraannya dengan Tristan.
"Momny, Theresia kenapa?" tanya Tristan, dia berbicara dengan suara yang pelan karena Shelby sudah menyimpan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Tristan tidak berisik.
Shelby menekuk kaki, menyetarakan diri dengan Tristan. "Tolong jangan katakan kondisi Theresia pada siapa pun, termasuk pada Daddy. Kau mengerti?" tanya Shelby.
Tristan tidak mengerti, tapi dia mengangguk saja. "Theresia kenapa? Apa dia sakit? Kenapa kelopak matanya membengkak?" tanya Tristan lagi.
"Theresia terkena alergi. Besok juga akan sembuh," dusta Shelby karena dijabarkan panjang lebar pun akan percuma, hingga dia hanya menjawab seperti itu.
"Tapi Theresia bisa sembuh?" tanyanya lagi, hingga Shelbi mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu, pergi ke kamar Daddy. Ganti bajumu dan istirahat. Apa kau sudah makan?" tanya Shelby, hingga Tristan mengangguk. Bocah kecil itu maju ke arah ranjang kemudian lelaki itu langsung mengecup pipi Theresia, lalu setelah itu dia keluar dari kamar Shelby. Beruntung, sikap Tristan begitu manis hingga Theresia tidak terlalu bersedih karena Tristan peduli pada Theresia.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, di luar hujan sangat deras di sertai petir saling bertautan
Shelby yang sedang tertidur, langsung terbangun karena merasa getaran dari samping. Dia menoleh ke arah Theresia, mata Shelby membulat saat tubuh Theresia kejang.
Shelby pun dengan cepat bangkit dari berbaringnya kemudian wanita cantik itu langsung merangkul tubuh Theresia.
"Theresia," panggil Shelby. Namun, Theresia tidak merespon, gadis kecil itu malah terus kejang, membuat Shelbie panik.
Tanpa menunggu apapun lagi, Shelby langsung melepaskan tubuh Theresia kemudian dia berlari mengambil mantelnya, dan juga mantel Theresia karena di luar sedang hujan.
Setelah itu, Shelby langsung menggendong tubuh putrinya kemudian dia berlari ke arah laci untuk mengambil kunci mobil.
Shelby berlari keluar dari kamarnya, dan setelah itu dia keluar dari apartemen. Tidak peduli dalam keadaan apapun, padahal hari sudah malam dan juga hujan sangat lebat. , yang terpenting dia harus segera membawa Theresia ke rumah sakit.
Darren mengerutkan keningnya ketika melihat Shelby berlari sambil menggendong Theresia, karena Darren sedang menonton televisi di luar dan dia juga belum tertidur.
"Kenapa mereka," lirih Daren. “Kenapa juga aku memikirkan mereka," ucapnya lagi.