Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Memberi pelajaran pada Daren


“Kau benar ingin bekerja di kantorku, Shelbi?” tanya Rush, dia menatap tak percaya pada Shelby, “Lalu, pekerjaannmu bagaimana? Bukankah kau sedang mengajar?” tanya Rush lagi.


Shelby tampak berpikir, “Rush, apa boleh aku menjadi freelance saja?” tanya Shelby, “Aku berjanji akan melakukannya sesuai deadline dan tidak akan pernah mengecewakanmu." Shelby berusaha meyakinkan Rush.


Rush tampak berpikir. “Kau yakin bisa mengerjakanna?" Tanya Rush dengan tak yakin. Sheby mengaguk dengan mantap.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan mengirimkan kontrak kerjanya," ucap Rush lagi membuat Shelby menghela nafas lega.


“Terimakasih, Rush.”


“Kau mau ke atas?" tanya Rush lagi. Shelby menggangguk.


“Unit apartemenku ada di paling atas."


“Oh ya sudah ayo kita naik.” Rush berjalan mendahului Shelby dan Theresia.


Rush masuk ke dalam apartemen Dareen, sedangkan Shelby, naik ke apartemennya di atas. “Aku mengajak mantan istrimu untuk bergabung di perusahaanku," kata Rush, hingga Dareen yang sedang minum langsung tersedak.


“Kau memberikan dia pekerjaan di perusahaanmu?" Tanya Dareen, dia menatap Rush dengan tatapan tak percayam


“Memangnya kenapa?” tanya Rush lagi.


Dareen meminjamkan matanya, dia merasa geram dengan istrinya. “Memalukan sekali!” umpat Dareen.


“Kenapa? kau terlihat tidak senang?” tanya Rush.


“Aku sudah memberikannya uang yang banyak tapi dia masih harus saja bekerja dusta," dusta Dareen.


Satu bulan kemudian


Rush memarkirkan mobilnya, kemudian lelaki itu keluar dari mobil, lelaki tampan itu saat ini sedang berada di sekolah Theresia, karena dia berjanji akan mengajak Therisa makan bersama, itu sebabnya dia langsung menjemput Theresia di sekolahnya


Ini sudah 1 bulan berlalu dan selama 1 bulan ini Rush benar-benar memepet gadis kecil itu. Pada awalnya, Theresia tidak nyaman dengan pendekatan Rush tapi lama kelamaan sepertinya Theresia mulai nyaman, apalagi Rush selalu memberikan apa yang tidak dia dapatkan dari Dareen, dan itu semakin mempermudah jalan Rush untuk melakukan rencananya.


“Paman!” panggil Thresia, tiba-tiba Rush tersadar ketika mendengar suara yang memanggilnya hingga dia pun menoleh, lelaki tampan itu tersenyum pada Theresia dan setelah Theresia berada di dekatnya Rush menekuk kaki menyetarakan diri dengan gadis kecil itu.


“ Bagaimana harimu di sekolah?” tanya Rush.


“Sangat baik Paman," jawabnya lagi. “Paman, apa Mommyku akan pulang terlambat?” tanya Theresia, karena hari ini adalah hari Shelby libur mengajar dan dia sedang mengunjungi kantor Rush untuk bekerja di sana.


“Ibumu tidak akan pulang terlambat, setelah itu setelah kita makan, kau mau ikut ke kantor Paman? untuk bertemu Mommy-mu?’ tanya Rush lagi, Theresia mengangguk dengan semangat kemudian Rush bangkit. Lalu setelah itu membukakan pintu Theresia dan dia pun langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Rush sampai di restoran, karena memang ini waktu makan siang dan dia bis mengajak Theresia untuk makan siang bersama, sekaligus untuk lebih mendekati anak itu.


“Theresia ayo pilih menu," kau ingin makanan apa?” tanya Rush yang menyerahkan buku menu pada Theresia.


Theresia mengambil buku menu itu kemudian dia menatap satu persatu menu, mata Theresia membulat saat melihat isi buku menu tersebut, di mana harga di menu itu sangat fantastik. Gadis kecil itu terlahir dari keluarga konglomerat, tapi jika sedang bersama ibunya apalagi setelah mereka pindah ke apartemen atas, Theresia mengerti bahwa keuangan sang Ibu sudah tidak sebaik saat mereka tinggal di apartemen sang ayah, dan sekarang dia tidak mau membuat ibunya malu. Jika dia memilih menu malah, Thresia takut Rush menganggap ibunya tidak becus membelikan makanan yang seperti ini.


"Thresia, kau sudah memilih?”


“ Paman bolehkah Aku mesan ini saja?” Theresia menjatuhkan pilihannya pada pasta yang tidak memakai toping apapun dan pasta itu juga menu termurah di sana.


“Kau tidak ingin menambah lagi?" Theresia terdiam, jari-jarinya saling bertautan jujur saja banyak sekali makanan yang ingin dia makan apalagi selama sebulan ini dia dan sang Ibu hanya memakan makanan yang sederhana .


“Tidak, paman," jawabnya dengan gugup.


“Ya sudah kalau begitu.” Sepertinya Rush tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Theresia hingga tanpa pengetahuan gadis kecil itu dia memesan menu lain untuk Theresia.


“Dareen!” tiba-tiba Rush memanggil Daren ketika melihat Dareen masuk ke dalam restoran, tentu saja dia datang bersama Mia hingga Daren langsung menoleh. Dareen menyempitkan matanya saat melihat Rush bersama Theresia. Entah kenapa dia mendadak kesal.


Selama sebulan ini, Dareen tahu betul bahwa Rush sedang mendekati Shelby dan Theresia, dia selalu merasa aneh ketika Rush selalu membanggakan Theresia yang manis. Dan selama sebulan ini, Dareen berusaha untuk tidak menggubris apapun yang Rush ucapkan tentang putrinya.


Dan sekarang, ketika melihat Rush duduk dengan Theresia, tanpa sadar Daren menuju meja yang ditempati oleh Rush dan juga Theresia. Saat melihat sang ayah, Theresia merasa jantungnya serasa diremas ketika melihat seorang wanita yang sedang menggandeng tangan ayahnya. Karena memang saat ini Mia berjalan di samping Dareen sambil menggandeng tangan lelaki itu.


Dan untuk yang kesekian kalinya, Theresia kembali hancur, selama ini sang ayah tidak pernah bersikap baik pada ibunya, tapi sekarang dia melihat ayahnya datang dengan seorang wanita dan terlihat jelas wanita itu terlihat sangat dekat dengan ayahnya.


Theresia menunduk karena matanya sudah membasah. Entah kenapa rasanya dia ingin datang dan memeluk sang ibu. “Bolehkah kami bergabung?" tanya Dareen, ia langsung menatap Thersia yang sedang menunduk, begitupun dengan Rush yang juga menatap Theresia.


“ Theresia apakah boleh mereka bergabung?” Theresia mengangkat kepalanya, kemudian dia mengangguk karena dia bingung harus menjawab apa dan lagi-lagi, Theresia kembali hancur Ketika sang ayah menarik kursi untuk mia, hingga kini posisi Daren dan Theresia duduk berseberangan.


Dareen mengangkat tangannya kemudian dia mengambil buku menu Lalu setelah itu dia memberikannya pada membiarkan pada Mia. “Ayo pilih Sayang," ucap Dareen, mendengar Dareen mengucapkan Sayang pada wanita lain, hati Theresia hancur untuk yang kesekian kalinya, sedangkan ayahnya tidak pernah bersikap baik pada ibunya, dan Theresia merasa ini lebih menyakitkan dari pada dia yang tidak akui oleh Dareen.


Setelah Dareen memesan makanan, pesanan Thersia dan Rush pun tiba hingga Theresia langsung mengangkat kepalanya, rasa sedihnya sejenak menghilang, mata Theresia berbinar ketika melihat makanan di depannya yang tampak menggugah. Namun dia tersadar, bahwa tadi dia hanya memesan pasta tanpa toping hingga wajahnya kembali meredup.


‘Tidak apa-apa, Theresia. Nanti kau bisa meminta pada Mommy jika Mommy udah memiliki uang.' Theresia membatin menguatkan dirinya sendiri< Setelah makanan sudah terhidang di meja Rush menarik sebuah piring yang berisi steak, kemudian dia langsung memotong steak itu lalu memberikannya kehadapan Theresia, membuat Dareen menyipitkan matanyam


“Pa-Paman, kenapa Paman memberikan ini padaku?” tanya Thersia.


“Kau hanya memesan pasta mana mungkin kenyang," jawab Rush, tanpa sadar Theresia mengembangkan senyumnya dan entah kenapa itu membuat Darah Dareen terasa mendidih


“Bolehkan aku makan?” tanya Theresia dengan malu-malu.


“Tentu, mau Paman suapi?” tanya Rush, dengan cepat Thresia menggeleng.


Dareen menggertakan giginya, dia benar-benar merasa kesal ketika melihat interaksi Rush dan Theresia.


“Tidak, paman. Aku makan sendiri.”


Setelah itu, Rush menoleh ke arah Dareen, kemudian dia mengajak Dareen dan berbincang, hingga Dareen langsung tersadar, sesekali Dareen melihat ke arah Theresia yang tampak lahap.


‘Apa dia tidak pernah makan enak." Daren mengumpat putrinya. Namun di satu sisi lain ,dia merasa aneh ketika melihat Theresia seperti ini.


Sedangkan Theresia karena makanan yang dimakannya begitu lezat dia tidak memperdulikan pembicaraan antara Daren, Rush dan Mia, yang dia fokuskan hanya makanan di depannya, hingga pada akhirnya piring Therisa pun tandas dan dengan cepat, Rush langsung menuangkan air untuk Theresia kemudian dia memberikan pada gadis kecil itu, dan lagi-lagi Dareen merasa emosi ketika Rush melakukan itu pada putrinya.


Tak lama makanan Dareen dan Mia pun sampai hingga Rush yang sedari tadi menu yang belum makan karena menunggu pesanan Dareen dan Mia pun ikut memakan makanannya. Sedangkan Theresia, setelah makan langsung menunduk baru saja dia merasa senang karena mendapatkan makanan lezat yang sudah yang sebulan ini sudah tidak dia makan, tiba-tiba dia kembali merasakan rasa sakit lagi ketika mendengar suara sang ayah begitu hangat pada wanita lain, sebagai seorang yang dekat dengan ibunya tentu saja Theresia benar-benar merasakan hancur dan sekarang mata anak kecil itu kembali berkaca-kaca.


“Theresia, apa kau ingin memesan hidangan penutup?” tanya Rush, melihat Theresia melamun dia menghentikan acara makannya sejenak. Theresia mengangkat kepalanya terlihat jelas matanya berkaca-kaca begitupun dengan Dareen yang melihat mata Theresia yang berair.


“Paman Apa aku boleh ikut ke toilet?” tanya Theresia


“Oh, ya sudah ayo paman mengantarkanmu,” ucap Rush, lelaki itu langsung menyimpan sendok dan garpu yang sedang dia pegang, kemudian membantu Theresia untuk turun dan tanpa sadar Dareen menggebrak meja hingga Teresia dan Rush.


Saat Dareen membentaknya, Theresia langsung memegang tangan Rush dengan erat, dia memepetkan tubuhnya pada tubuh Rush, sedangkan Rush yang mengerti bahwa situasi mulai panas langsung mengajak Theresia untuk segera pergi dari meja dan ketika berada toilet, tanpa sadar Theresia langsung memeluk kaki Rush membuat Rush terpekik


“Theresia!” panggil Rush, dan sedetik kemudian Rush merasa bahwa tubuh gadis kecil ini gemetar.


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa." Rush yang mengerti perasaan Theresia langsung menenanhkan gadis kecil itu hingga Thresia semakin mengencangkan tangisnya.


“Paman bisakah kau antarkan aku pada Mommy?" Tanya Thresia Sambil menangis sesegukan. Dia melepaskan pelukannya dari kaki Rush, kemudian menghapus air matanya.


“Paman, tidak perlu mengantarku. Aku bisa pergi sendiri, bisakah Paman tuliskan alamat kantor Paman saja?” Theresia benar-benar merasakan sakit hingga dia tidak sanggup lagi untuk berada di dekat sang ayah apalagi barusan Dareen menatapnya dengan tatapan marah dan membentaknya. Padahal Theresia tidak melakukan kesalahan apapun.


“Ya sudah, paman bisa mengantarmu tidak perlu memakai taksi, kau tunggu di sini biar pamam mengambil kunci mobil terlebih dahulu," kata Rush lagi hingga There mengangguk, setelah itu Rush pun berbalik kemudian lelaki tampan itu langsung kembali ke mejanya.


“Dareen, Mia maaf. Aku tidak bisa meneruskan makan bersama kalian," kata Rush ketika sampai di meja.


“Kau mau kemana?” tanya Dareen.


“Aku ingin mengantar There pada Shelby," ucap Dareen, sebenarnya setelah Tere berbalik dan pergi ke kamar mandi, rasa bersalah langsung menghantam Dareen hingga sekarang tanpa sadar dia ingin mengantar putrinya.


“Kau mau mengantarkannya?” kali ini Mia menatap Dareen dengan tatapan tak suka hingga Dareen tersadar.


“Tidak, bukan begitu maksudku.” Dareen angsung meralat ucapannya dengan cepat karena dia tahu Mia tidak menyukai Shelby dan Theresia.


“Yasudah di kalau begitu sampai jumpa, Dareen tolong bayarkan dulu makananku," kata Rush hingga Dareen mengganggu. Lalu setelah itu Rush pun langsung menghampiri kembali Thersia yang sedang berada di kamar mandi.


***


Shelby mendudukkan diri sejenak di cafe yang tidak jauh dari kantor Rush, Entah kenapa sedari tadi dia merindukan Theresia. Dia merasakan ada yang aneh dengan perasaannya, tak lama seseorang berdehem membuat Shelby langsung menoleh, sesosok wanita cantik berdiri di depannya kemudian tersenyum padanya membuat Shelby mengerutkan keningnya, dia bingung siapa wanita ini. Namun sepersekian detik, dia mengingat siapa wanita yang barusan berdehem yang tak lain wanita yang dia lihat bersama sang ayah, yaitu Angela.


“Boleh aku duduk di sini?” tanya Angela, Shelby tampak ragu namun tak lama dia mengangguk.


“Silahkan," kata Shelby, hening tidak ada yang berbicara hingga beberapa menit berlalu akhirnya Angela mulai mengeluarkan suara dan bertanya.


“Apa aku boleh tahu namamu?" Tanya Angela, Shelby mengangguk.


“Aku Shelby.” Dia mengulurkan tangannya pada Angela, hingga Angela pun langsung melulurkan tangannya pada sang kakak.


“Aku tidak tahu harus mulai dari mana ...”


“Kau sudah tau hubungan antara aku dan ayahmu?" Tanya Shelby, yang motong ucapan Angela dan dia langsung to the point bertanya tentang hal tersebut.


Angela mengangguk, hari di mana dia bertemu dengan sang kakak di museum dan sang ayah mengatakan tidak mengenal Shelby, hari itu pula ia menyadari sesuatu, dia pernah melihat foto kecil Shelby di gudang dan walaupun sang kakan sudah dewasa, tapi dia bisa mengenal bahwa itu adalah putri ayahnya yang juga kakaknya dan dia juga menemui Shelby secara diam-diam, dia tidak perlu bertanya pada sang ayah tentang hubungan mereka di masa lalu, karena dia yakin ayahnya tidak akan jujur, itu sebabnya ketika melihat Shelby tadi di cafe dia langsung menghampiri kakaknya..


Angela mengangguk. “Aku mengetahui kalau kau anak ayahku yang juga Kakaku," jawab Angela.


Shelby engangguk-nganggukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa emosional, tentu saja karena saat membahas ini kenangan buruk itu kembali muncul. “Hmm, aku kakakmu tapi tidak usah dipikirkan, tidak perlu terganggu dengan hadirnya aku, lanjutkan kehidupan kalian seperti biasa Karena aku juga tidak ingin lagi mengenal dia," jawab Shelby, Angela tanpal termenung, sepertinya ada hal yang terjadi di masa lalu antara kakaknya dan ayahnya.


“Apa kalian pernah berselisih paham?" Tanya Angela, tanpa sadar dia memberikan pertanyaan yang memetik kemarahan di diri Selby.


“Hmm, kami pernah berselisih paham, dulu ayahmu mengusirku dan ibuku dan setelah itu ayahku menikah dengan ibumu, hingga lahirlah kau." Pada akhirnya, Shelby tidak bisa lagi membendung emosinya, hingga dia berbicara dengan berapi-api pada adiknya, emosinya emuncak ketika mengingat itu, bahkan dia mengatakan pada Angela dengan berapi-api.


Dia mengingat detik-detik sang ayah mengusirnya karena saat itu ayahnya mengusirnya dan sang ibu di depan Ibu Angela dan Shelby, tidak akan melupakan bagaimana raut puas Ibu Angela ketika ayahnya mengusir dia dan ibunya.


“Ke-kenapa kau memarahiku?” tanya Angela. Shelby menghela nafas kemudian berusaha meredam amarahnya.


“Aku anggap pertemuan ini tidak pernah terjadi, jalani hidupmu dan jangan pernah mengusikku,”; kata Shelbi lagi, setelah itu dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan meja lalu membayar kasir dan keluar dari kafe


“Sombong sekali dia," kata Angela. Padahal dia ingin mendekatkan dirinya pada Shelby.


***


“Mommy ....” Tiba-tiba Shelby yang akan masuk ke dalam kantor langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Theresia memanggilnya hingga dia pun menoleh.


Mata Shelby membulat ketika Teresia datang, dia langsung berlari menghampiri putrinya. Lalu setelah itu dia memeluk Theresia begitu erat, kedua anak dan ibu itu sepertinya sedang tidak membaik hingga mereka saling memeluk satu sama lain.


“Rush, maaf jika merepotkanmu. Aku tidak menyenangkan Theresia akan meminta untuk datang kemari.”


“Tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf."


”Minta maaf?” ulang Shelby.


“Tadi tanpa sengaja kami bertemu Daren di restoran dan ....” Rush menghentikan ucapannya ketika melihat wajah Shelby yang berbeda, wajah Shelby langsung berubah, dia langsung menoleh ke arah Theresia.


“Kalian makan satu meja dengan Dareen?” tanya Shelby.


“ Maafkan aku Shelby ...."


“ Tidak apa-apa, Paman. Aku benar-benar tidak apa-apa." Theresia dengan cepat meminta maaf hingga Shelby tersadar.


“Tidak apa-apa, Rush," jawab Shelby.


Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, Shelbi keluar dari rumah sakit, wanita itu memutuskan untuk mendudukkan diri sejenak di kursi tunggu. Hari ini, rasanya Shelby enar-benar hancur, tapi dia dipaksa harus tetap kuat. Apalagi saat ini Theresia sedang dirawat di rumah sakit, karena kondisinya sedang drop.


Tadi saat berada di kantor Rush, kondisi Theresia memang baik-baik saja hanya saja Theresia lebih banyak melamun dan ketika pada sore hari, saat dia akan pulang dia melihat telapak tangan Theresia penuh dengan bintik merah, hingga dengan cepat Shelby langsung membawa Theresia ke rumah sakit. Sepertinya, Mood Theresia sedang memburuk, tentu saja karena kejadian di restoran, dia drop karena memikrikan Dareen.


Dan sekarang Theresia sudah ditangani oleh dokter, beruntung kondisi Theresia tidak separah dahulu, mungkin Theresia hanya akan dirawat di rumah sakit selama 2 hari dan setelah Theresia tidur, sekarang Shelby memutuskan untuk pulanh. Dia memutuskan untuk membawa pakaiannya dan juga pakaian Theresia.


Jujur Hari ini adalah hari terburuk bagi Shelby ,di mana dia tadi bertemu dengan Angela dan juga Theresia bertemu dengan Dareen.


***


Shelby turun dari mobil. Dia baru saja sampai di basement apartemen, wanita itu pun langsung turun dam saat akan berjalan tiba-tiba Shelby menghentikan langkahnya, dia merasa kepalanya berputar-putar dan tak lama dia kembali melanjutkan langkahnya lalu berjalan ke arah lift


Sepertinya Hari ini kesabaran Shelby benar-benar diuji, di mana saat ini dia melihat Dareen ada di depan unit apartemen miliknya, sudah dipastikan lelaki itu akan mengajaknya berdebat..


“Ayo kita bicara," ucap Dareen, rasanya Shelby benar-benar ingin menghancurkan lelaki di depannya ini, tapi dia sungguh tidak ada tenaga.


“Aku lelah Jangan aku," kata Shelby, baru saja dia akan membuka kode apartemen, Dareen menarik tangan Shelby dan detik itu pula kesabaran Shelbyb habis dan seketika Shelby berbalik kemudian dia menghajar Dareen.


Dia benar-benar menghajar Darren secara membabi buta, melampiaskan rasa marah dan rasa lelahnya, sedangkan Daren yang tidak siap tidak bisa melawan.