
Freed menyipitkan matanya saat melihat Bianca begitupun Bianca, ia merasa tidak asing dengan wajah lelaki itu. Bianca mencoba mengingat wajah Fred. Namun dia tidak mengingatnya, ‘Mungkin hanya perasaanku saja.” Bianca membatin ia pun membuka lebar pintu ruangan Roland hingga Roland pun bangkit menyapa wanita yang ia cinta.
“ Kenapa kau tidak memberitahuku kau akan kemari?” tanya Roland.
Bianca tersenyum. “Tadinya, aku ingin mengajakmu makan bersama. Tapi aku rasa, kita bisa menundanya karena kau sedang ada tamu. jadi aku akan pergi lagi," balas Bianca, baru saja Bianca akan berbalik, Roland menarik tangan Bianca, kemudian menggeleng.
“Tidak, Ayo aku perkenalkan pada kakakku.”
“Hah!" Bianca menatap Roland dengan bingung. Bukankah Roland tidak mempunyai kakak. Namun tak urung dia pun mengikuti langkah Rolan yang sudah mulai masuk dan menghampiri Freed di sofa.
“Kak, perkenalkan ini Bianca dia ....” Roland bingung harus mengatakan apa pada Freed.
“Teman baik.” Kali ini Bianca yang menimpali hingga Roland langsung menoleh. Freed bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung mengulurkan tangannya.
“Aku Freed," ucap Freed, dan Bianca pun mengenalkan dirinya.
“Silakan duduk, Bi," ucap Roland yang mempersilahkan Bianca duduk. Saat Bianca duduk, Roland duduk di sisi Bianca membuat Freed menyipitkan matanya. Dia seolah mengerti sesuatu kemudian dia tersenyum tipis. Lelaki itu melihat jam di pergelangan tangannya.
“Kalau begitu aku pergi,” ucap Freed.
“Kau pergi ke mana, kau baru saja datang,” jawab Roland
“Aku menemui ayah dan ibu.” Roland mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian Freed pun bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu keluar dari ruangan sang adik.
“ Kenapa kau melihat kakakku begitu?” tanya Roland.
“Tidak, aku hanya terasa pernah melihatnya tapi aku bingung di mana," Jawab Bianca.
“ Dia jarang sekali pulang ke Rusia karena dia tinggal di Amerika.” Setelah menjawab itu, Tiba-tiba, Roland terpikirkan sesuatu. “Apakah hubungan kita hanya sebatas teman?” tanya Roland yang mempertanyakan ucapan Bianca yang menjawab pada Freed tentang mereka yang hanya teman dekat, membuat Bianca sedikit bingung dengan apa yang diucapkan Roland.
Bukankah mereka berteman dekat atau tidak ada hubungan diantara mereka, begitulah pikir Bianca. “Lalu kau mau aku membalas apa pada kakakmu,” jawab Bianca lagi, wanita itu menatap Roland dengan bingung. Tapi walaupun begitu dia mengerti apa yang dimaksud oleh Roland.
“Ah sudahlah kau tidak peka sekali!” gerutu Roland, Ia pun melihat ke arah depan dengan wajah yang cemberut. Bianca terkekeh saat melihat wajah Roland kemudian ia mencubit pipi lelaki itu.
“Kau menggemaskan sekali.”
pipi Roland memerah saat mendengar ucapan Bianca, lalu ia menoleh lagi ke arah wanita yang ada di sampingnya ini. “Ah Bianca, seandainya kita tidak berbeda.”
Tawa Bianca meledak saat mendengar ucapan Roland, hal yang selalu Rolan katakan ketika mereka sedang berdua dan membahas hubungan mereka.
Roland pun bangkit dari duduknya. “Kau mau makan di mana?” tanya Roland.
“Restoranmu saja.”
“ Bianca aku bosan, kau selalu mengajakku ke sana,” protes Roland.
“Jadi kau mau kemana?”
“Bagaimana jika kita maakan seafood di pinggir pantai.” Roland memberi ide, Bianca mengangguk. Dia pun memakai jasnya kemudian menyambar kunci mobil Lalu setelah itu mengulurkan tangannya pada Bianca.
“Apa?” tanya Bianca.
”Ayolah bergandengan tangan sekali-sekali,” Jawab Roland.
Setelah sampai di basement, Roland langsung membukakan pintu untuk Bianca dan setelah Bianca masuk ke dalam mobil, lelaki itu pun memutari mobilnya dan masuk ke dalam lalu menjalankan mobil tersebut.
Setelah mobil Roland pergi barulah mobil freed juga ikut pergi, rupanya sedari tadi Freed melihat interaksi Bianca dan Roland.
•••
Sello memarkirkan mobilnya di depan mansion kedua orang tuanya, setelah pulang dari rumah sakit Sello bukannya pergi ke apartemennya ia malah pergi ke mansion kedua orang tuanya karena ia mendapatkan pesan dari Grisya, sang kakak pertamanya.
Tak lama muncul sosok Grisya keluar dari gerbang. Wanita itu langsung menghampiri di Sello, Grisya mengetuk jendela dan setelah itu wanita itu pun masuk ke dalam mobil sang adik.
“Ini masakah buatan Mommy, makanlah yang banyak," ucap Griysa yang menyerahkan paper bag yang berisi makanan ke arah Sello.
“ Terima kasih, kak," jawabnya. Selama 2 tahun ini memang hanya Grisya yang masih mau memberi perhatian padanya, Grisya juga terkadang selalu membantunya bahkan kemarin saat di rumah sakit Gracia juga datang menjenguknya.
Dan saat itu Sello meminta Grisya untuk membawakan makanan Amelia, hingga Grisya berpura-pura pada sang ibu bahwa makanan itu untuknya. Tapi walau begitu Sello tidak pernah berani menatap Grisya karena ia malu pada kakaknya.
“kondisimu sudah baikan?” tanya Grisya, Sello menggangguk.
“Hmm, sudah baikan, Kak.” Grisya membuka dompet yang tadi ia bawa, kemudian ia mengeluarkan black card dan menyerahkannya pada Sello.
“Pakailah ini jika kau dalam kesulitan, aku tahu keuanganmu tidak terlalu baik,” ucap Grisya lagi.
Sello menggeleng. “Tiidak Kak, aku masih punya sedikit tabungan,” jawab Sello. Tapi dia pun tidak yakin dengan ucapannya karena kemarin dia membayar biaya rumah sakit yang begitu membengkak dan ia tidak tahu berapa lagi uangnya di rekeningnya.
“Kakak akan marah jika kau tidak memakainya jadi pakailah.” Grisya kekeh memberikan black card itu pada Sello. Namun, Sello tetap menunduk.
“Jangan mempersulit dirimu sendiri, Sello. kakak tahu bisnismu juga sedang tidak baik-baik saja.”
Sello menoleh, ia menatap Grisya dengan tetapan berkaca-kaca. Lalu setelah itu ia langsung berhambur memeluk kakaknya, untuk pertama kalinya Sello menumpahkan tangisannya dipelukan orang lain, ia benar-benar rindu pada kedua orang tuanya. Tapi sayang, Ia hanya bisa memeluk Grisya.
Sedangkan Grisya mengelus punggung Sello. “Tiidak apa-apa, semua pasti akan berlalu. Mommy dan Daddy juga pasti memaafkanmu,” ucap Grisya.
Seetelah bisa menguasai diri, Sello melepaskan pelukannya. “Uangku masih cukup, Kak. Aku akan minta bantuan ketika aku benar-benar sudah tidak punya uang lagi,” jawab Sello. Dulu dia bagai putra mahkota yang sangat bergelimbang harta. Tapi sekarang, dia benar-benar harus merasakan rasanya merangkak dari bawah, merasakan bagaimana harusnya menghemat mati-matian dan memikirkan kedepannya.
“Baiklah kalau begitu, kabari kakak jika kau butuh sesuatu, kalau gitu kakak akan masuk.” Setelah itu Grisya pun turun dari mobil, kllalu berjalan ke arah mansion. Ketika Grisya pergi, Sello langsung membuka paperbag yang berisi kotak makan, tanpa menunggu lagi ia langsung menghabiskan makanan buatan sang ibu dengan berlinang air mata. Dan setelah selesai, Sello langsung kembali menyalakan mobilnya dan menjalankannya menuju pulang ke apartemennya.
***
Sello masuk kedalam apartemen, dia mengurutkan keningnya saat apartemen tampak sepi, seperti tidak ada orang. “Agnia ... Agnia!” panggil Sello. Namun, Aghnia tidak ada di manapun, ia merogoh saku kemudian mengambil ponsel Lalu setelah itu menelpon Aghnia.
“Aghnia kau di mana?” tanya Sello.
“Aku di apartemen," jawabnya di seberang sana membuat Sello tersenyum getir, Aghnia berbohong padanya. Jelas-jelas dia sedang berada di apartemen mereka dan Aghnia tidak ada.
“Sello kau ada di mana?” tanya Agnia di seberang sana.
“Aku masih di rumah sakit,” dusta Selo. Setelah mengatakan itu, Sello menutup panggilannya kemudian ia berjalan ke arah sofa. Lalu setelah itu mendudukkan dirinya di sana. Sello melihat ke sekelilingnya semuanya begitu berdebu, dan Sello yakin, bahwa selama dua minggu ini Aghnia tidak ada di apartemennya
Sello mengutak-atik ponselnya dia langung membuka Instagram miliknya, dan ketika ia membuka Instagram itu, langsung muncul foto Bianca bersama Rolland yang sedang berpose di pinggir pantai. Sello memegang dadanya, “Kenapa ini terasa sakit.”