Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Perjuangan Tommy


Setelah memeluk Alice, Mayra langsung berjalan ke arah lift. Wanita cantik itu merasa dunianya benar-benar hancur.


Selama beberapa bulan ini Mayra merasa menjadi ratu di rumahnya sendiri, mendapatkan kasih sayang berlimpah dari Adrian, dia benar-benar merasakan dicintai layaknya seorang istri. Mayra pernah merasa terbang ke atas awan dan sekarang, ternyata dia harus terjerat dan terjatuh ke jurang yang paling dalam. Entah apa salahnya, entah apa dosanya. Dia sudah ingin bercerai dari Adrian sebelum mengandung, tapi Adrian malah menjanjikan kebahagian yang semu, dan pada akhirnya melukainya seperti ini.


Mayra menekan tombol lift, kemudian wanita itu langsung naik ke dalam lift tersebut dan ketika berada di lift, Mayra menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia menatap pantulan dirinya lewat cermin. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Mayra, yang pasti Mayra benar-benar hancur. Tidak pernah terbayangkan dia akan mengalami hal seperti ini.


Lift berhenti dan kemudian terbuka. Wanita cantik itu langsung berjalan dan keluar dari rumah, lalu berjalan ke arah mobilnya. Saat mengendarai mobil, Mayra menatap ke depan dengan tatapan kosong. Kenyataan ini benar-benar memukulnya. Adrian membohonginya sampai ke dasar.


Ini bukan soal Adrian saja yang berbohong ketika hubungan mereka sudah membaik, tapi ini tentang saat mereka awal menikah di mana saat itu Adrian berpura-pura pergi ke Korea, dan ketika saat itu Mayra menunggu Adrian, ternyata Adrian masih berada di negara yang sama dengannya.


Tiba-Tiba, terdengar suara bunyi klakson karena Mayra menyalip mobil di depannya hingga tak lama Mayra tersadar. Dia langsung melihat ke sekitarnya, kemudian menunduk melihat ke arah perutnya yang membuncit. Tidak, dia tidak boleh seperti ini, hingga pada akhirnya Mayra pun langsung memarkirkan mobilnya di pinggir, setelah itu Mayra langsung menangis sejadi-jadinya. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa nyeri. Wanita cantik itu menangis dengan sangat kencang.


Setengah jam kemudian, tangis Mayra sudah mulai mereda karena dia merasa perutnya keram. Saat itu juga, dia sadar dia tidak boleh seperti ini, dia harus sampai ke rumah orang tuanya dan menyetir dengan benar karena takut celaka dan bisa membunuh anaknya. Mayra kembali menegakkan tubuhnya kemudian wanita itu langsung menjalankan mobilnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mayra sampai di mansion kedua orang tuanya. Lalu dengan tubuh yang sangat-sangat lemas, Mayra turun dari mobil kemudian wanita cantik itu berjalan dengan tertatih-tatih disertai dengan tangis yang berlinang. Sekuat apapun Mayra menghentikan tangisnya, tetap tidak bisa. Ini begitu menyakitkan dan begitu menyesakkan.


Ketika sudah berada di depan pintu, Mayra sudah benar-benar kehilangan tenaganya, hingga wanita cantik itu langsung terkulai di lantai dengan keadaan menatap kosong ke depan seolah kehilangan jiwanya. Ini semua benar-benar membuat Mayra shock, hingga ketika sampai di mansion kedua orang tuanya, Mayra langsung berdaya.


Setengah jam kemudian, pintu terbuka. Pelayan yang melihat Mayra duduk di lantai dengan tatapan yang kosong, langsung berlari ke arah dalam untuk memanggil Gabriel dan Amelia, hingga Gabriel dan Amelia yang baru saja selesai makan malam langsung menoleh.


"Ada apa?" tanya Gabriel bingung.


"Nona Mayra," jawab pelayan itu tampak panik


"Ada apa dengan Mayra?" tanya Gabriel. Pelayan itu tidak menjawab, dia malah menunjuk ke arah pintu hingga Gabriel dengan cepat berlari ke sana.


"Mayra!" Gabriel berteriak histeris ketika melihat Mayra yang sangat kacau, dengan cepat lelaki paruh baya itu langsung membungkuk kemudian menggendong tubuh Mayra dan membawa Mayra ke dalam.


"Mayra," panggil Amelia. Dia langsung mengikuti langkah Gabriel yang berjalan dengan cepat untuk membaringkan Mayra di sofa.


"Mayra, Mayra," panggil Gabriel. Dia langsung menepuk-nepuk pipi Mayra yang masih membuka mata dan menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Ambilkan air!" teriak Gabriel hingga pelayan pun dengan cepat mengambil air, dan setelah itu langsung kembali lagi ke Gabriel lalu memberikan air di sebuah wadah, dan tanpa menunggu lagi, Gabriel langsung mencipratkan air ke wajah Mayra.


Beberapa kali Gabriel memanggil Mayra dengan keras, serta mencipratkan air, tapi Gabriel tidak berhasil menyadarkan Mayra. Mayra tetap menatap kosong ke depan, hingga pada akhirnya Amelia duduk di sebelah putrinya, kemudian dia menarik lembut tangan Mayra lalu setelah itu dia menyimpan tangan Mayra di perut Mayra.


"Mayra," ucap Amelia dengan lemah lembut, "ayo sadar. Kasihan anakmu, Nak."


Benar saja, ketika mendengar itu Mayra langsung mengerjap. Dia langsung mengedip-ngedipkan matanya, melihat ke sekelilingnya.


"Mayra, ada apa?" tanya Gabriel.


"Daddy!" Mayra berteriak histeris, kemudian dia langsung bangkit dari duduknya lalu secepat kilat memeluk Gabriel. Dia memeluk Gabriel dengan erat seraya menangis kencang, bahkan mungkin tangisannya begitu menggelegar.


Gabriel mengelus punggung Mayra. Dia tidak bertanya tentang apapun. Dia membiarkan Mayra menangis dengan kencang agar Mayra bisa plong, sedangkan Amelia ingin sekali bertanya ada apa dengan putrinya? Namun, dia hanya mengelus rambut Mayra.


Satu jam kemudian, tubuh Mayra terkulai lemah di pelukan Gabriel. Sepertinya wanita itu terlalu lelah hingga pada akhirnya dia tak sadarkan diri.


Gabriel pun bangkit dari duduknya, lelaki paruh baya itu dengan tenang membopong tubuh Mayra untuk pergi ke klinik yang ada di mansionnya, meminta dokter untuk memeriksa keadaan Mayra.


Berjuta tanya menghampiri Gabriel. Ada apa dengan Mayra? Padahal beberapa hari lalu, Mayra mengatakan bahwa dia begitu bahagia dengan pernikahannya. Namun walaupum begitu, Gabriel tidak ingin dulu bertemu dengan Adrian. Dia ingin mendengarkan semuanya dari mulut Mayra secara langsung.


Satu jam kemudian, Mayra mengerjap kemudian dia membuka mata. Kenangan demi kenangan manis yang diciptakan oleh Adrian menubruk otak Mayra, hingga sampai kenangan terpahit membuat Mayra mengeluarkan air mata.


"Mayra," panggil Gabriel hingga Mayra menoleh.


"Daddy," ucapnyq dengan lirih.


"Tidak apa-apa, jangan bercerita jika kau belum siap," kata Gabriel.


Mayra menggenggam tangan Gabriel begitu erat, kemudian dia kembali menangis. Air mata seolah tidak cukup untuk mengungkapkan betapa sakitnya Mayra saat ini.


***


Setelah Mayra pergi dan Alice masuk ke dalam kamar, tubuh Adrian masih terdiam di tempat. Lelaki tampan itu merasakan separuh jiwanya pergi, ikut dengan Mayra. Dia tidak menyangka Mayra akan memergokinya. Dia sudah mati-matian meminta Mayra untuk tetap tinggal dan tidak jadi menceraikannya. Kemarin, dia berhasil, lalu saat ini bagaimana? Apakah Mayra akan takluk lagi dengan caranya?


Setelah cukup lama terdiam, Adrian langsung berbalik kemudian lelaki tampan itu berjalan dengan lesu ke arah kamar. Adrian membuka pintu kamar. Entah kenapa ketika membuka pintu itu, Adrian merasa sesak. Dia melihat Mayra sedang mondar-mandir seperti orang menunggunya, dan perlahan bayangan itu menghilang.


Adrian mendudukkan dirinya di ranjang. Dia menatap sekelilingnya, suasana tampak hening. Biasanya, terdengar celotehan Mayra, terlihat gerak-gerik dari wanita itu. Sekarang, Mayra sudah pergi entah kembali atau tidak.


Adrian mengangkat kakinya kemudian langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia menjadikan tangannya sebagai bantal, lalu menatap ke depan. Kenangan soal Mayra terus berputar-putar di otak Adrian, dari mulai sikap Mayra yang menyebalkan sampai sikap Mayra yang baik hingga tanpa sadar bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu, ketika membayangkan Mayra akan pergi.


***


Beberapa hari kemudian.


Adrian mengetuk pintu kamar Alice, tapi Alice tidak membukakan pintu untuknya. Gadis remaja itu semenjak kepergian Mayra, Alice tidak pernah keluar dari kamar. Dia tidak mau sekolah dan tidak mau melakukan apapun, hingga Adrian khawatir. Ini sudah tiga hari berlalu Mayra pergi, dan selama tiga hari ini pula Adrian hanya diam merenung. Selain karena kepergian Mayra, dia juga harus menerima kebencian dari Alice, di mana Alice sama sekali tidak mau berbicara dengannya.


"Ya sudah jika kau tidak mau makan, panggil saja pelayan jika kau mau makan. Daddy akan pergi keluar," kata Adrian. Rasanya, dia bisa gila jika terus berada di sini, hingga dia memutuskan untuk mencari angin segar. Jujur selama tiga hari tidak ada Mayra, Adrian merasakan ada yang berbeda. Lelaki tampan itu merasa hampa, hingga sekarang dia memutuskan untuk mencari angin segar agar dia bisa mencari cara untuk meraih kembali Mayra.


***


Mayra mengerjap, dia terbangun dari tidurnya. Wanita cantik itu kemudian menatap ke depan. Ini sudah tiga hari berlalu, Mayra belum bercerita pada Gabriel maupun pada Amelia. Dia masih menyembunyikan pada ayah dan ibunya. Beberapa kali Gabriel mengatakan akan mendatangi Adrian untuk menanyakan apa yang terjadi, tapi Mayra melarang sebab dia tidak ingin Gabriel emosi di hadapan Alice.


Kemarin, Mayra dilarikan ke rumah sakit karena Mayra merasakan perutnya tegang dan Hari ini Mayra rasa bisa bercerita semuanya. Dia sudah bisa mulai mengendalikan diri. Mayra sudah bertekad untuk bercerai dengan Adrian, tidak peduli ada Alice di tengah-tengah mereka, dia masih bisa memberikan pengertian pada Alice, tapi Mayra berpikir seumur hidup terlalu menyakitkan jika dilalui dengan orang yang salah.


Tak lama, Mayra tersadar ketika Gabriel masuk ke dalam. Dia tersenyum saat melihat sang putri. Seperti biasa, senyuman sang ayah selalu meneduhkannya.


"Kau sudah merasa baik-baik saja sekarang?" tanya Gabriel.


Mayra mengangguk.


Gabriel mendudukkan diri di sebelah brankar kemudian menggenggam tangan Mayra, hingga Mayra mengubah posisinya menjadi menyamping, lalu setelah itu dia menggenggam tangan sang ayah.


"Cerita pada Daddy apa yang terjadi," pinta Gabriel. Pembawaan Gabriel tetap tenang karena dia tahu, Mayra paling tidak bisa bercerita jika dia terlihat emosi.


"Dad, aku malu," lirih Mayra.


"Malu kenapa?" tanya Gabriel. Jujur saja selain merasakan sakit, dia juga merasakan malu pada sang ayah. Dulu, mati-matian Gabriel memperingatkan Mayra untuk tidak menikah dengan Adrian dan dulu Gabriel sangat ingin Mayra menikah dengan Tommy. Di samping Tommy anak rekan bisnisnya, dia juga sudah mengenal keluarga Tommy luar dalam. Gabriel pun yakin Tommy adalah jodoh terbaik untuk Mayra. Namun, tentu saja Mayra menolak Tommy dan itu yang membuat Mayra malu.


"Katakan Mayra, ada apa? Sebenarnya kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Gabriel.


"Ternyata, aku keliru. Aku salah memilih pasangan," kata Mayra.


Tubuh Gabriel sudah menegang ketika mendengar itu, rasanya dia ingin segera menghampiri Adrian, tapi dia harus mendengar semuanya dari Mayra.


Ketika mendengar suara sang ayah meninggi, Mayra menggenggam tangan Gabriel dengan erat, hingga Gabriel tersadar. Lelaki tampan itu langsung menatap ke arah Mayra. "Kenapa saat kau sadar, kau tidak langsung bercerai dengan Adrian?" tanya Gabriel.


"Itulah kebodohanku yang terlalu percaya padany,x jawab Mayra dengan menunduk, dia begitu malu menatap ayahnya.


"Biar Daddy yang urus, kau tunggu di sini. Daddy akan memberi pelajaran padanya." Mata Gabriel berkilat penuh amarah.


Saat Gabriel akan bangkit dari duduknya, Mayra menarik lengan Gabriel. "Tolong jangan lakukan apapun, Dad.”


"Mayra, dia tidak bisa dibiarkan," ucap Gabriel yang tidak mengerti dengan Mayra yang malah melarangnya.


"Ada Alice di sana," jawab Mayra lagi.


"Kau ini sudah disakiti, masih saja memikirkan mereka." Gabriel mulai kesal.


"Mungkin Adrian bersalah, tapi Alice tidak. Aku menyayangi Alice dan aku tidak mau mentalnya terluka," kata Mayra tulus.


Gabriel menghela napas. Dia mengusap wajah kasar, lalu kembali mendudukkan dirinya dan setelah itu dia menatap ke arah Mayra. "Lalu, kau ingin bagaimana?" tanyanya.


"Tolong urus perceraianku dan setelah ini, aku ingin pergi ke luar negeri," kata Mayra.


"Baik, tapi berjanjilah kau akan tetap baik-baik saja," ucap Gabriel lagi hingga Mayra mengangguk.


Gabriel keluar dari ruang rawat Mayra, lelaki itu mendudukkan diri di kursi tunggu. Beberapa tahun lalu dia baru saja menyelesaikan masalah putranya, dan sekarang dia harus menyelesaikan lagi masalah putrinya.


"Paman Gabriel." Tiba-Tiba terdengar suara Tommy dari arah belakang, hingga Gabriel menoleh.


"Tommy," panggilnya.


Gabriel pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia menerima uluran tangan Tommy.


"Sedang apa di sini?" tanya Tommy.


"Mayra dirawat," jawab Gabriel.


"Mayra dirawat?!" Tommy terpekik saat mendengar ucapan Gabriel, membuat Gabriel mengerutkan keningnya karena Tommy terlihat khawatir. Seandainya dulu dia memaksa Mayra dengan Tommy, pasti putrinya tidak akan seperti ini.


"Mayra kenapa, Paman? Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu dengan kandungannya?" tanya Tommy bertubi-tubi.


"Mayra baik-baik saja," jawab Gabriel yang tidak ingin terlalu banyak melibatkan Tommy karena dia tau, Tommy sudah bertunangan dengan Celine.


"Kau sedang apa di sini?" tanyanya balik.


"Oh, aku sedang meneman—"


"Tommy." Tiba-Tiba, terdengar suara Celine dari arah belakang yang tak lain tunangan Tommy.


"Halo, Paman Gabriel," ucap Celine.


"Halo, Celine,” jawab Gabriel.


Tommy masih terdiam di tempat. Rasanya, dia ingin sekali melihat Mayra, tapi dia sedang bersama Celine.


"Kau ingin menengok Mayra?" tanya Gabriel pada Tommy, karena dia mengerti Tommy terus melihat ke arah pintu.


"Tidak Paman, kami harus pulang." Kali ini, Celine yang menjawab, hingga Tommy menoleh. Dia menatap Celine dengan tatapan tak suka. Namun tak lama, dia menormalkan ekspresinya.


"Aku akan menjenguk Mayra nanti, Paman. Kami harus segera pulang," ucap Tommy hingga Gabriel pun mengangguk, lalu setelah itu Tommy dan Celine pun pergi dari hadapan Gabriel, sedangkan Gabriel terus menatap punggung lelaki itu.


Gabriel terus menatap punggung Tommy yang semakin menjauh. Ada rasa sesal dalam diri Gabriel. Dia memang tidak terlalu mengenal Tommy, tapi ayah Tommy adalah sahabatnya, rekan bisnisnya dan juga partner terbaik. Dia yakin temannya juga mendidik Tommy dengan benar, itu terbukti dari tatapan Tommy yang menatapnya. Gabriel mungkin bisa menilai karakter seseorang hanya dari tatapan, dan menurut Gabriel, Tommy adalah benar-benar lelaki yang sangat baik.


Gabriel mendudukkan dirinya kemudian mengusap wajah kasar, dan tiba-tiba terdengar suara dari arah samping, ternyata Selo yang datang ke rumah sakit.


"Ada apa dengan Mayra? Kenapa dia?" tanya Selo. Baru saja dia akan masuk ke ruang rawat Mayra, Gabriel langsung menarik lengan sang putra.


"Jangan dulu diganggu, adikmu sedang beristirahat," kata Gabriel hingga Selo langsung mendudukkan diri di sebelah sang ayah. Kedua insan itu sama-sama terdiam.


"Apa dia disakiti oleh suaminya?" tebak Selo.


Gabriel mengangguk. Selo terdiam, dia mendadak merasa malu. "Apakah mungkin ini karma dari apa yang aku lakukan di masa lalu?" tanya Sello dengan lirih.


"Hmm ini mungkin karena dari yang kau lakukan," jawab Gabriel .


"Seharusnya kau tidak menjawab begitu, Dad. Seharusnya kau menenangkan aku," ucap Selo dengan entengnya.


Gabriel berdecak saat mendengar ucapan Selo, seperti biasa putranya tidak mau disalahkan, walaupun dalam hati Selo dia mengiyakan ucapan sang ayah bahwa memang benar ini seperti karma untuknya.


"Sudahlah jangan dipikirkan, adikmu pasti akan baik-baik saja," kata Gabriel.


Gabriel mengotak-atik ponselnya kemudian dia menelepon seseorang, lalu setelah itu orang yang dipanggil oleh Gabriel pun mengangkat panggilan Gabriel. "Siapkan penerbangan," titahnya. Setelah mengatakan itu, Gabriel pun langsung menutup panggilannya.


"Daddy akan membawa Mayra ke mana?" tanya Selo.


"Ke luar negeri," jawabnya.


"Mana Fatimah?" tanya Gabriel.


"Sedang bersama Bianca," jawabnya.


***


Celine masuk ke dalam mobil. Setelah masuk, Tommy melamun hingga Celine yang baru saja memakai seatbelt, menoleh. "Kau kenapa?" tanya Celine.


Tommy menoleh. "Tidak apa-apa," jawabnya.


"Ingat kita ini sudah bertunangan, jangan mengingat dia lagi," ucap Celine, karena dia tahu sampai sekarang Tommy masih mencintai Mayra. Itu terbukti dengan banyaknya foto Mayra di kamar.


Tommy terdiam, awalnya memang dia tidak menyetujui pertunangan ini, tapi Tommy adalah lelaki yang cukup hangat dan terbilang lelaki yang sangat baik, hingga walaupun pada awalnya dia bersikap dingin pada Celine, tapi dia berusaha untuk membuka hatinya dengan selalu menemani Celine ke sana kemari walaupun hatinya masih tertaut pada Mayra. Namun, sekian lama mencoba untuk menerima Celine, perasaan Tommy pada Mayra tidak berubah. Dia masih tetap mencintai wanita itu, dan ketika dia mendengar Mayra masuk rumah sakit barusan, Tommy merasa gelisah. Rasanya, dia ingin sekali untuk menjenguk wanita itu.


Tidak ingin berdebat dengan Celine, Tommy pun langsung menyalakan mobil dan menjalankannya. Tommy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menjalankannya sambil melamun. Tentu saja karena dia berpikiran tentang Mayra.


Tommy mengutak-atik ponselnya, tapi dengan cepat Celine mengambil ponsel dari tangan Tommy. "Menyetir saja yang benar. Bahaya," kata Celine. Seperti biasa, walaupun kesal, Tommy tidak pernah bisa marah pada siapa pun hingga akhirnya dia kembali fokus mengemudi.