
Adrian menyandarkan tubuhnya ke belakang, lelaki itu mengusap wajahnya, rasanya dia begitu malas menuruti keinginan Alice. Tapi, dia juga tidak bisa membiarkan alis pergi dengan supir karena sesibuk apapun Adrian dia selalu menemani putrinya kemanapun dan sekarang nasnya dia harus menemani putrinya untuk menemui Mayra, wanita yang sangat dia hindari.
Akhirnya jam kerja Adrian pun selesai, lelaki itu memutuskan bangkit dari duduknya kemudian keluar dari ruangannya.
***
“Alice kalau sudah siap?” tanya Adrian ketika Alice masuk ke dalam rumah dan ternyata Alice baru saja keluar dari arah dapur.
“Hmm, Daddy aku sudah siap. Aku sudah buat Cake untuk Bibi Mayra," kata Alice dengan riang, rasanya dia begitu semangat untuk bertemu Mayra.
“Ayo kita pergi sekarang,” kata Adrian hingga Alice pun mengangguk dengan semangat, lalu setelah itu mereka pun keluar dari rumah Adrian.
Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melihat ke arah Alice, terlihat jelas raut wajah gadis itu begitu berbinar ketika akan melihat Mayra. Dulu, Alice juga selalu bahagia ketika melihat Bianca. Namun saat ada insiden tersebut, Alice jarang sekali bertemu dengan Bianca dan sebagai ganti ada Mayra yang selalu menghampiri Alice, dan ternyata Mayra pun membuat dia nyaman.
“Alice” panggil Adrian hingga Alice menoleh.
"Hanya setengah jam, tidak lebih. Daddy lelah, dan ingin istirahat," kata Adrian hingga Alice mengangguk.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumah sakit tempat Mayra dirawat. Dia turun dengan malas, sedangkan Alice tentu saja turun dengan semangat, dan mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Daddy tunggu di sini saja, oke? Kau pergi ke dalam," kata Adrian setelah berada di depan ruang rawat Mayra, hingga Alice pun mengangguk.
Alice dengan riang memutar gagang pintu, kemudian gadis kecil itu langsung melongokkan kepalanya. Mayra terpekik saat melihat Alice masuk ke dalam ruangannya.
"Alice," panggil Mayra. Seperti biasa, Maira selalu tersenyum pada Alice. Mayra begitu terkejut dengan keadaan gadis kecil itu.
Kemarin-Kemarin dia mendekati Alice mungkin karena ingin mendapatkan simpati dari Adrian. Namun, ketika ingin melepas lelaki itu, Mayra rasanya mempunyai ketulusan yang nyata untuk Alice, hingga sekarang walaupun Alice menemuinya, dia tidak berharap bertemu dengan Adrian.
"Bibi," panggil Alice. Gadis kecil itu memegang tangan Mayra membuat hati Mayra tersentuh.
***
Setengah jam berlalu, Adrian bangkit dari duduknya. Rasanya dia ingin segera pulang, tapi dia juga tidak mungkin masuk karena dia tidak ingin melihat Mayra. Bisa besar kepala jika dia datang ke ruangan wanita itu, begitulah pikir Adrian. Namun rasanya, dia sudah tidak sanggup lagi menunggu. Dia ingin beristirahat, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk masuk.
Belum dia memutar gagang pintu, Adrian terpaku saat tanpa sengaja mengintip, di mana dia melihat Alice tertawa lepas di samping Mayra, bahkan posisi putrinya duduk di brankar.
Tak lama, Adrian menggelengkan kepalanya. Dia pun bergegas untuk masuk, hingga Mayra yang sedang berbicara dengan Alice langsung menoleh.
"Halo Mayra," ucap Adrian. Tidak seperti biasanya, karena biasanya Mayra yang akan tampak antusias ketika berbicara dengan Adrian. Tapi, kali ini Mayra hanya mengangguk dengan senyuman yang samar, membuat Adrian cukup terpaku. Namun, tak lama dia tersenyum saat melihat reaksi Mayra yang seperti ini. Setidaknya dia tidak perlu merasa risih lagi dengan sikap Mayra.
"Alice, ayo pulang," kata Adrian.
"Tapi aku masih ingin lama di sini," jawab Alice wajahnya terlihat sendu ketika mendengar ajakan pulang dari sang ayah.
Baru saja Adrian akan menjawab, Mayra sudah terlebih dahulu berbicara dan mengatakan, "bagaimana jika nanti kita bertemu setelah Bibi sehat?" tanya Mayra.
Adrian lagi-lagi dibuat heran, biasanya Mayra akan selalu menahan Alice demi mendapat simpati dirinya, tapi sekarang sebaliknya.
"Oh, baiklah Bibi," ucap Alice. Walaupun wajahnya terlihat sedih, tapi gadis kecil itu akhirnya turun dari brankar.
"Sampai jumpa, Bibi," kata Alice.
"Sampai jumpa Mayra," ucap Adrian.
Saat Alice berbicara, Mayra mengembangkan senyumnya, tapi ketika Adrian yang pamit, Mayra hanya mengangguk dengan senyuman yang samar.
Setelah Adrian dan Alice keluar dari ruang rawatnya, Mayra mengusap dadanya. Ya, walau bagaimanapun dia merasa sesak, tapi ada yang aneh. Walaupun dia merasakan perasaan nyeri di dada, tapi Mayra juga bisa bernapas lega, kala ternyata dia mampu untuk mengalahkan perasaannya sendiri dan mampu untuk bersikap dingin pada Adrian.
***
Setelah masuk ke dalam rumah, Bianca langsung berjalan ke arah lift untuk naik ke kamarnya. Entah kenapa setelah memilih gaun pengantin dan setelah memilih cincin, Bianca merasa separuh jiwanya ikut hilang. Mungkin, reaksi Bianca karena apa yang terjadi di masa lalu, di mana trauma Bianca bener-bener luar biasa hebat, hingga sekarang ketika mengulang semuanya Bianca merasakan dirinya tak berdaya.
Karena tanpa disadari, Bianca belum sembuh sepenuhnya dari trauma masa lalunya, di mana dia belum bisa memaafkan Selo. Namun, Bianca sadar dia tidak bisa mundur. Mau tak mau, dia harus menikah dengan Selo dan itu yang membuat Bianca tertekan.
Setiap menit Bianca selalu berpikir bagaimana nasib hubungan pernikahan mereka. Bagaimana sikap Selo ke depannya? Apakah kisah lama akan terulang atau justru dia akan bahagia? Pikiran itu terus menghantui Bianca, hingga rasanya hidup Bianca dipenuhi kegelisahan.
"Bi," panggil Maria ketika Bianca akan naik ke dalam lift.
Bianca memejamkan matanya, pasti sang ibu akan bertanya.
"Iya," jawab Bianca.
"Mana gaun pengantinmu? Mommy ingin lihat," kata Maria.
Bianca tersenyum membuat Maria terpaku. Dia bisa melihat wajah Bianca yang tampak lelah. "Bolehkah aku beristirahat?" tanya Bianca.
"Bianca, kau tidak apa-apa?" tanya Maria.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya lelah," jawabnya. Bianca berbalik kemudian masuk ke dalam lift, membuat perasaan Maria tidak menentu. Apakah putrinya sedang tertekan?
"Ada apa, Sayang?" Tiba-Tiba terdengar suara Lyodra dari arah samping.
"Apa Bianca ada masalah? Dia sepertinya sedang tertekan," ucap Maria.
***
Setelah Bianca tidak terlihat, Selo langsung menegakkan tubuhnya kemudian lelaki tampan itu menyalakan dan menjalankan mobilnya, berniat untuk pulang. Selo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Lelaki tampan itu sesekali melihat ke arah paper bag yang ada di belakang, paper bag yang berisi gaun pengantin untuk Bianca dan cincin pernikahan.
"Selo, apa kau tidak bisa untuk menemaniku memilih cincin?" Tiba-Tiba ucapan Bianca saat itu terlintas di otak Selo, di mana saat itu Bianca mengajaknya mencari cincin. Namun, dia malah sibuk dengan Aghnia, dan sekarang dia merasakan betul bagaimana posisinya menjadi Bianca. Dia yang seorang laki-laki saja merasa sakit ketika diabaikan, apalagi Bianca.
"Selo, kau mau ke mana? Kenapa kau meninggalkan aku?" Lagi-Lagi Selo teringat saat malam pertama kali mereka, di mana dia sudah menyentuh Bianca, pagi harinya Selo langsung pergi tanpa menoleh lagi ke arah istrinya.
Selo meminggirkan mobilnya sejenak. Hati Selo terasa sesak, hingga dia berdiam diri sebentar. Saat sudah memarkirkan mobilnya, Selo menyadarkan tubuhnya ke belakang. Dia bernostalgia dengan kenangan lamanya dengan kelakuannya, hingga tanpa sadar bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Selo.
Mungkin Selo terkesan tidak tahu malu sudah melukai tapi mengajak menikah, walaupun dia juga berkorban untuk Bianca. Sekarang, Selo menyadari sesuatu. Apapun yang dia lakukan untuk calon istrinya, walaupun dia sudah bertaruh nyawa, tapi tidak mampu mengetuk hati Bianca yang terlanjur terluka.
Sekarang, pilihan apa yang Selo punya? Tidak, Selo tidak punya pilihan apapun. Dia juga tidak berniat mundur dari pernikahannya, sebab jika dia mundur, tidak akan ada cara untuk dia menebus semuanya. Dia akan menerima apapun yang Bianca lakukan. Dia akan menebus kesalahannya secara perlahan, sampai Bianca percaya padanya. Walaupun seumur hidup Bianca bersikap dingin, baginya tidak masalah.
Setelah bisa menguasai diri, akhirnya Selo pun langsung menegakkan kembali tubuhnya kemudian dia melanjutkan perjalanannya.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di mansion kedua orang tuanya. Lelaki itu pun turun kemudian masuk ke dalam, dan ternyata di dalam sang ayah sedang menerima tamu dan terlihat sangat serius.
"Mom," panggil Selo ketika Amelia melintas di hadapannya.
"Kau baru pulang?" tanya Amelia, dia melihat paper bag yang ada di tangan putranya.
"Kenapa Bianca tidak membawanya?" tanya Amelia.
"Oh, sepertinya tadi dia lupa," dusta Selo hingga Amelia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mom, sepertinya Daddy sedang ada tamu penting. Siapa?" tanya Selo.
"Oh, dia ayah dari dari Tommy. Sepertinya ayah Tommy ingin menjodohkan Tommy dengan Mayra," jawabnya hingga Selo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi ke kamar," ucap Selo. Dia pun berbalik kemudian berjalan ke arah lift.
***
Dua minggu kemudian.
Waktu yang mendebarkan bagi Selo dan waktu yang sangat menakutkan bagi Bianca pun tiba, di mana saat ini mereka akan melakukan ijab-kabul.
Saat ini, Selo sudah duduk di depan penghulu, wali serta para saksi. Mereka melakukan ijab kabul di masjid dan akan melakukan resepsi pada keesokan harinya. Berbeda dengan wajah Selo yang tampak berseri-seri, wajah Bianca tampak tidak bersemangat bahkan terkesan layu, seperti orang yang sedang sakit.
"Tuan Selo, apa bisa kita mulai?" tanya penghulu hingga Selo mengangguk.
Selo dan Lyodra pun berjabat tangan dan pada akhirnya, dengan satu kali tarikan napas Bianca kembali resmi menjadi istrinya. Ketika kata "sah" menggema, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bianca. Dua minggu ini Bianca benar-benar ketakutan. Dia menjalani harinya dengan tidak semangat, membayangkan bagaimana kembali menjadi istri Selo.
Saat sudah melepaskan jabatan tangannya dari Lyodra, Selo menoleh ke arah Bianca. Dia tersenyum kemudian menangkup kedua pipi istrinya lalu mencium kening Bianca.
Akhrinya, acara ijab-kabul pun selesai. Mereka menutup acara dengan makan siang bersama. Sedari tadi Bianca tampak melamun, berbeda dengan Selo yang tampak berseri-seri. Beberapa kali Bianca mencoba menyingkirkan tangan Selo yang sedang menggenggamnya di bawah meja, tapi tentu saja Selo terus menggenggam erat tangan istrinya.
"Permisi, aku ingin pergi ke toilet," ucap Bianca dia melepaskan paksa tangan Sello yang sedang menggenggamnya
"Mau aku temani?" tanya Selo, tapi Bianca menggeleng.
"Tidak, aku ingin sendiri," jawab Bianca.
Selo mengangguk, kemudian Bianca pun bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar mandi yang ada di restoran tersebut, karena kebetulan restoran tersebut sudah dibooking full oleh Gabriel untuk acara makan siang keluarga.
Bianca masuk ke dalam toilet, kemudian wanita itu mendudukkan diri di atas toilet lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Separuh jiwa Bianca seolah hilang, bersamaan dengan kata "sah" yang menggema. Dia melihat cincin di jari manisnya. Entah kenapa, melihat cincin ini rasanya begitu menyakitkan.
Entah kenapa, dia masih belum bisa lepas dari bayangan masa lalu, mungkin karena dia menikah dengan orang yang sama yang menorehkan luka yang luar biasa hebat.
Setengah jam kemudian, Bianca bangkit dari duduknya. Dia merasa sudah terlalu lama meninggalkan keluarganya, hingga dia pun langsung keluar dari kamar mandi.
"Ya Tuhan!" pekik Bianca ketika keluar dan ternyata ada Selo menunggunya.
Rupanya, Selo sedari tadi mengikuti Bianca, hingga dia pun sudah berdiri setengah jam menunggu Bianca keluar. Selo mengerti betul perasaan macam apa yang dirasakan oleh istrinya, itu sebabnya dia tidak mengganggu Bianca, dan lebih menunggu Bianca keluar dengan sendirinya.
"Sejak kapan kau menunggu di sini?" tanya Bianca.
"Barusan. Ayo," ajak Selo, mengulurkan tangannya pada Bianca. Namun, Bianca enggan menerima uluran tangan suaminya hingga Selo langsung menarik lembut tangan istrinya, dan mereka pun berjalan masuk ke dalam.
***
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Rasanya, Bianca begitu gugup. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan Bianca tahu itu adalah Selo yang baru saja mandi.
Selo langsung menyimpan handuk yang dia pegang ke atas sofa, kemudian dia berjalan ke arah Bianca yang sedang duduk di ranjang, lalu setelah itu dia berlutut di hadapan istrinya.
"Bi," panggil Selo.
Raut wajah Bianca tampak memucat, apalagi ketika Selo menggenggam tangannya hingga perlahan Selo bangkit lalu setelah itu, dia mendorong tubuh Bianca dan mendidihnya. Dia ingin membuat Bianca percaya padanya. Tubuh Bianca gemetar, baru saja Selo akan mencium bibirnya Bianca memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Aku belum siap," ucap Bianca, dia langsung memejamkan matanya saat Sello akan menciumya.