
Roland masuk ke dalam kamar, lelaki itu langsung mendudukkan diri di sofa. Dia lantas membuka jaket kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan rasa lelah yang menghinggapi.
Namun setidaknya, dia bisa tenang karena Aghnia sudah berada di tangannya, dan Gabriel tidak akan mengetahui apa yang dia lakukan pada Selo.
Tak lama, pintu terbuka membuat Roland menoleh, dan ternyata itu adalah kakaknya. "Bukankah aku sudah bilang, aku tidak ingin diganggu?" tanya Roland.
Freed menghampiri adiknya. "Kau tidak melakukan yang aneh-aneh di belakangku, 'kan?" tanya Freed.
"Memangnya aku melakukan hal-hal aneh apa?" tanya Roland, dia merubah ekspresi wajahnya agar terlihat polos, wajah Roland memang terlihat polos dan seperti tidak peduli dengan hal-hal yang berbau kriminal. Namun di luar itu, tentu saja dia sangat berbeda.
"Aku menemukan beberapa foto di mejamu, juga harga-harga organn tubuh. Bisa jelaskan apa itu?" tanya Freed.
"Sahabatku sedang menderita penyakit ginjal, aku hanya sedang mencarikan donor ginjal untuknya. Aku juga melihat-lihat harga karena aku yang akan membayar. Apa aku salah mencari tahu harga ginjal untuk sahabatku?" ucapnya lagi meyakinkan.
Tampaknya, Freed percaya. "Oh baiklah, maafkan aku yang telah salah paham."
"Keluarlah, aku ingin istirahat, aku lelah," ucap Roland.
"Oh ya, itu apa?" tanya Freed, "kau terkena darah apa?" tanyanya lagi karena masih penasaran dengan noda di tangan Roland.
"Ini hanya tinta, tadi aku membenarkan printer di kantor," jawab Roland.
Freed mengangguk walaupun tidak percaya, tapi dia memutuskan untuk keluar karena melihat wajah Roland yang begitu lemas.
Sepeninggal Freed, Roland menghela napas. Dia merasa begitu lelah juga ketakutan, apalagi orang yang selama ini melindunginya sudah menekan suatu hal, bahwa dia harus mencari target lagi, karena penjualan organ di pasar gelap sedang meninggi.
Tidak semudah itu untuk Roland mencari organ dalamm, anak buahnya yang khusus menangani ini harus mencari korban dengan kondisi kesehatan yang benar-benar baik.
Roland menaikkan kaki kemudian berbaring dengan menjadikan tangan sebagai bantal. Tatapan matanya lurus ke depan. Ada kalanya, dia menyesal mengambil bisnis hitam ini, tapi menjadi kesenangan tersendiri ketika dia bisa mendapatkan harta yang berlimpah.
Sebab, kantor yang selama ia dirikan juga bersumber dari dana yang dia dapat ketika bekerja di dunia hitam, dan mungkin jika dia berhenti maka perusahaan yang dia bangun pun akan hancur.
Setelah puas berpikir, akhirnya Roland pun memejamkan matanya dan memutuskan untuk tidur.
***
Roland terbangun dari tidurnya, lelaki itu langsung melihat ke arah jam. Ternyata sudah tiga jam dia tertidur. Dia kini merogoh saku kemudian mengambil ponsel dan mengutak-atiknya.
"Sedang apa dia?" tanya Roland pada anak buahnya.
"Masih belum sadarkan diri?" tanya Roland lagi ketika anak buahnya mengatakan, bahwa Aghnia masih belum tersadar.
"Rawat saja dia, bawa ke tempat biasa," ucap Roland. Dia tidak boleh membiarkan Agunia mati, karena wanita itu masih menyimpan data-data juga dana perusahaan.
Tak lama, Roland mematikan panggilannya kemudian kembali menelepon seseorang. Dia dia harus fokus pada obsesinya, yaitu mengejar Bianca.
Setelah berdering beberapa kali, barulah Bianca mengangkat panggilannya. "Halo?" sapa Bianca.
"Bi, ayo kita makan malam bersama. Sudah lama sekali kita tidak keluar. Kita makan seafood favoritmu yang ada di pinggir pantai," ucap Roland dengan harapan Bianca tidak menolaknya.
Bianca menghela napas di seberang sana. "Ya sudah Roland, ayo kita pergi," jawab Bianca.
***
Bianca menutup panggilan kemudian melemparkan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Amora yang ternyata sedang berada di kamar Bianca.
"Roland," ucap Bianca.
"Roland? Oh temanmu yang selalu menemanimu?" tanya Amora lagi.
"Entah kenapa aku mendadak merasa tidak nyaman dengannya, padahal saat aku terpuruk dia selalu ada untukku. Apa aku wanita yang tidak tahu terima kasih?" tanya Bianca yang heran dengan perasaan sendiri.
Normalnya orang akan sangat berterima kasih ketika ada yang menemaninya di saat-saat terpuruk, apalagi Roland serius mendampinginya. Namun entah kenapa, Bianca benar-benar merasa berbeda.
"Jadi maksudmu, kau merasa asing dengan perasaanmu sendiri?" tanya Amora.
"Dan kau tahu? Selo pun terus mengejar-ngejarku. Apa dia bodoh? Apa dia tidak mempunyai kaca? Bagaimana mungkin dia kembali mendekatiku setelah apa yang dia lakukan?" ucap Bianca lagi. Dia langsung membanting tubuhnya ke ranjang karena terlalu bingung dengan lelaki di sekitarnya.
"Kenapa tidak kau coba tolak saja Roland dan Selo, lalu jalani harimu seperti biasa?" tanya Amora.
"Aku sudah menolak Selo beberapa kali, tapi dia tetap datang. Dia hanya akan pergi ketika aku menggunakan kata Mommy, tapi Roland, rasanya aku tidak enak. Apa tanggapannya jika aku menyuruhnya menjauh juga, sedangkan selama ini dia selalu ada untukku?" tanya Bianca.
"Mungkinkah hanya perasaanmu saja, Bianca? Jika dari ceritamu, aku yakin Roland orang yang tulus," kata Amora.
"Sungguh ini begitu rumit. Apa aku harus pindah saja ke Indonesia menghindari mereka?"
"Pindah saja ke Indonesia, di sana kau aman tidak akan diganggu oleh Roland maupun Selo," kata Amora.
"Tapi masalahnya, kakek-nenek, 'kan, sudah tidak ada di sana, hanya ada paman Magika dan bibi Arima. Mana mungkin aku merepotkan mereka?"
"Ah sudahlah, kau ini ribet sekali," ucap Amora. Dia mendadak hilang kesabaran karena mendengar curhatan Bianca yang plin-plan.
***
Bianca kini tengah berdiri di depan cermin, dia tampak rapi karena setengah jam yang lalu, Roland mengatakan sedang berada di perjalanan untuk menjemputnya.
Lalu ketika selesai berdandan, Bianca pun langsung keluar dari kamar, kemudian turun ke bawah. Dan saat dia keluar dari lift, dia mendengar suara Roland yang sudah tiba, dan sedang berbincang-bincang dengan Maria.
"Mom," panggil Bianca.
Maria menoleh. Dia tersenyum saat melihat Bianca. Wanita itu sepertinya lebih ingin putrinya dekat dengan Roland ketimbang bersama Selo.
"Kau sudah siap, Bi?"
"Aku sudah siap, Mom. Aku pergi dulu. Aku akan pulang sedikit malam karena restorannya cukup jauh," pamit Bianca.
Maria mengangguk. "Pergilah, Mommy tenang jika menitipkanmu dengan Roland," jawab Maria.
"Tidak, jangan terlalu malam." Tiba-Tiba, terdengar suara Lyodra dari arah belakang membuat semua orang menoleh.