Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Ada aku di sini


“Aku minta maaf, Bianca. Sungguh aku menyesal. Beri aku lagi kesempatan!” kata Selo dengan nada mengiba.


Bianca tertawa. “Kesempatan? kesempatan apa yang kau maksud?” tanya Bianca dengan sinis.


“Jangan menangis, Bianca. Jangan menangis!” Bianca membatin saat menjawab ucapan Sello. Bahkan rasanya, saat ini ia ingin mengamuk dengan suaminya.


Pada akhirnya, Bianca bangkit dari duduknya karena rasanya ia tidak sanggup lagi melihat suaminya, hingga Selo pun dilanda kepanikan, dan ia pun langsung bangkit, kemudian ia berlutut di hadapan Bianca.


“Ampuni aku, Bianca!” kata Selo. Bianca tidak bereaksi sedikitpun, ia malah menatap Sello dengan tatapan hina.


Bianca menghela nafas, kemudian menghembuskannya “Aku memaafkanmu!” balas Bianca dengan singkat. Setelah mengatakan itu, Bianca pun langsung berjalan ke arah kamar, kemudian ia langsung membereskan pakaiannya. Sedangkan Sello, langsung menyusul Bianca.


“Bianca, kau mau ke mana?” tanya Sello saat Bianca mengemasi pakaiannya kedalam koper.


“Apa kau pikir aku bodoh, mau tinggal bersamamu di apartemen nerakaa ini!” Hardik Bianca.


“Oke, aku tidak akan menghalangi jalanmu. Tapi tolong bicara pada keluargaku jangan mencabut jabatanku dari perusahaan.” Bianca yang yang sedang membereskan baju ke dalam koper menghentikan gerakannya, lalu ia langsung menoleh ke arah Sello, ia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


“Sekarang aku mengerti, kenapa selama 4 bulan ini kau bersikap baik padaku!” ucap Bianca. Tangganya mengepal, ia tidak mampu lagi menahan emosinya, hingga Plakk ... Satu tamparan mendadak di pipi Selo, Bianca menampar Sello dengan keras, sedangkan Sello hanya terdiam Ia tidak mampu membalas Bianca.


“Demi apapun. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku tidak akan pernah rela kau hidup bahagia. Aku akan mendoakan semoga karma jatuh kepadamu. Aku akan berdoa, semoga kita dipertemukan bagai pasien dan dokter, berharap suatu saat aku bisa membedahh kepalamu dan aku akan mengambil semua otakmu.” Setelah mengatakan itu, Bianca pun kembali membereskan pakaiannya. Hingga akhirnya ia selesai. Lalu setelah itu ia menurunkan koper


“Ingat Sello, karma tidak akan pernah salah untuk melangkah!” Setelah mengatakan itu, Bianca pun keluar dari apartemen dengan membanting pintu, membuat Sello mengusap wajah kasar.


Sello sama sekali tidak perlu dengan perasaan Bianca, yang dia peduli adalah tentang perusahaan. Bagaimana dia hidup tanpa harta, sedangkan selama ini kehidupannya begitu kemewahan.


•••


Bianca menjalani mobilnya dengan kecepatan sedang, ia memegang stir kemudi dengan tangis yang berlinang. Bianca menangis sesegukan, menangisi semuanya, yang terparah, Ia menangisi kebodohannya yang masih mau memberikan Sello kesempatan dan ternyata Sello hanya memanfaatkannya


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Bianca sampai di tempat praktek Celine. Bianca tidak mampu memikirkan apapun saat ini, ia hanya butuh Celine, ia tidak ingin melukai dirinya sendiri karena penyakit bipolarnya dan menemui Celine adalah hal yang tepat yang bisa Bianca lakukan


Ia ingin melakukan hal seperti biasa, meminta Celine untuk menyuntikkan obat tidur padanya. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang di kendarai Bianca sampai di tempat Celine berdinas, ia pun langsung turun dari mobil kemudian masuk kedalam.


Bianca masuk kedalam ruangan Celine, Celine yang sedang diam di mejanya langsung menoleh, lalu bangkit dari duduknya. “Bianca, ada apa? tumben sekali ... Apa ada yang terjadi? kenapa kau ....” Celine tampak terkejut saat melihat tampilan Bianca yang kacau, tanpa basa-basi Bianca langsung menghampiri Celine dan memeluk Celine.


Saat memeluk Celine, tangis Bianca kembali berlinang. Sepertinya, Bianca masih mempunyai stok air mata yang banyak, hingga ia kembali menumpahkan tangisnya di pelukan sahabatnya.


“Apa maksudmu, Bianca?” tanya Celine. Saat ini, mereka sudah terduduk di sofa dan Bianca langsung menceritakan semuanya.


Bianca menceritakannya dengan detail, tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Hingga Celine terperanjat. ”Maksudmu ....” Celine tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia bahkan tidak sanggup mendengar jawaban Bianca.


Ia menjadi saksi bagaimana kerasnya Bianca bertahan dengan pernikahan yang menyakitkan, dan sekarang semuanya terbuka, ia juga harus menjadi saksi bagaimana hancurnya Bianca.


“Celine, tolong suntikan dosis yang tinggi untukku. Aku hanya ingin tertidur lebih lama,” pinta Bianca dengan nada yang putus asa. Bianca berpikir, mungkin akan lebih baik ia tidak terbangun lagi, ia tidak ingin memikirkan apapun lagi selain hanya ingin memejamkan matanya dan melepaskan semua emosinya, walaupun ia tahu ... Setelah terbangun, kenyataan akan kembali menubruknya.


“Berbaringlah, kita akan memulainya!” balas Celine, mereka pun bangkit dari duduknya, kemudian Bianca melepaskan mantelnya, lalu berbaring di brangkar.


Setelah proses penyuntikan, mata Bianca mulai redup dan akhirnya Bianca memejamkan matanya. Setelah Bianca memejamkan mata, Celine menarik selimut, kemudian ia mendudukkan dirinya di sisi sahabatnya.


“Kenapa kau bodoh sekali, Bi. jelas-jelas ada Roland yang menunggumu!” kata Celine. Celine merogoh saku jasnya, kemudian ia langsung mengambil ponselnya, memutuskan untuk menelepon Roland.


“ Bianca sedang ada di sini. Jika kau mau menemui Bianca, kau bisa kemari saja!” kata Celine. Terdengar suara antusias daris seberang sana. Lalu setelah itu, Celine menutup panggilannya, karena Roland mengatakan akan datang.


Roland menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya ia tidak sabar lagi untuk sampai di tempat Celine berdinas. Sebenarnya, tadi Rolland ada saat di rumah sakit sama dengan Amelia.


Roland yang sedang mengantar ibunya mendengarkan perdebatan di ruang rawat Amelia karena saat melintas Roland mendengar suara Bianca, hingga ia langsung menguping dan Roland mengetahui semuanya.


Lalu setelah mengantar ibunya kembali, Roland langsung menelepon Bianca.Tidak peduli Bianca terus menolaknya, kali ini Roland tidak akan menyerah, ia akan terus bersama Bianca walaupun tembok Itu nyata.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Roland sampai di tempat Celine berdinas, ia pun segera turun kemudian masuk.


Roland membuka pintu hingga Celine yang sedang berada di mejanya langsung menoleh dan bangkit. “Akhirnya kau datang,” Kata Celine.


“Terimakasih Celine, sudah mengabariku!” balas Roland.


“Sama-sama, aku akan mengurus pasienku yang lain!” ucap Celine, yang ingin memberikan waktu pada Bianca dan Roland. Roland pun menggangguk. Setelah Celine pergi, Roland mendudukan dirinya di kursi, lalu setelah itu ia menatap wajah Bianca lekat lekat.


Roland menggenggam tangan Bianca, ia memberanikan diri mengecupnya. “Tidak apa-apa , Bianca. Sekarang ada aku di sini!” kata Roland. Tak lama, ponsel Roland berdering, satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Roland membaca pesan itu dengan seksama, kemudian menarik sudut bibirnya. Lalu tersenyum tipis,. setelah itu Ia memasukkan lagi ponselnya ke jas lalu kembali menggenggam tangan Bianca.


“Bianca, aku berjanji tidak akan lagi ada yang menyakitimu!" kata Roland matanya berbinar penuh kesungguhan.