Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Memeluk Nisan


Tiga jam berlalu.


Alice masih setia dengan diamnya menatap nisan sang ibu. Wanita cantik itu tidak melakukan apapun, tidak berbicara apapun. Tatapan matanya menatap nisan yang bernamakan ibunya dengan mata yang membasah, karena sekarang tangis Alice benar-benar sudah berlinang.


Tak lama, Alice merasakan rasa lapar hingga dia merogoh tasnya kemudian dia mengambil roti, lalu setelah itu dia membukanya. Entahlah, Alice sama sekali tidak tertarik untuk pulang. Bahkan rasanya, dia juga tidak ingin pulang. Dia ingin di sini, di mana dia merasa damai walaupun dengan sakit yang sangat terasa.


Arthur terus melihat ke arah dalam. Lelaki itu merasa iba pada Alice. Dulu, dia sopir yang selalu mengantar Mayra ke sana kemari dan juga selalu mengantar Alice. Hati Arthur terasa nyeri ketika tadi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Alice diam-diam melihat Mayra.


Dia adalah sopir yang sudah lama sekali mengabdi pada keluarga Adrian, dan dia mengerti permasalahan apa yang sedang dialami oleh keluarga tuannya. Tak lama, Arthur terpikirkan sesuatu ketika melihat Alice makan roti dengan berlinang air mata.


Tadi, bahkan Alice tidak sarapan karena dia ingin melihat pernikahan Mayra, hingga Alice memintanya untuk membeli roti, padahal selama ini Alice paling tidak suka roti. Namun, mendadak tadi gadis remaja itu meminta berhenti di toko roti kesukaan Mayra.


Arthur pun berbalik kemudian dia berniat untuk pergi ke mobil untuk mengambil ponselnya. Dia rasa tidak ada salahnya menghubungi Mayra. Rasanya, dia tidak tega terus melihat Alice seperti ini. Walaupun ini hari pernikahan Mayra, tapi dia hanya ingin Mayra mengetahui tentang kondisi Alice.


Setelah sampai di mobil, Arthur langsung mengutak-atik ponselnya kemudian lelaki itu langsung menghubungi mantan majikannya, hingga pada akhirnya Mayra mengangkat panggilannya.


"Arthur, ada apa?" tanya Mayra di seberang sana.


"Nona Mayra, boleh aku berbicara sesuatu?" tanyanya.


Arthur pun menceritakan semuanya. Dia juga keluar dari mobil lalu mengirimkan foto Alice pada Mayra. Anehnya, setelah mengirimkan foto itu, Mayra langsung mematikan panggilannya membuat Arthur menghela napas.


Arthur pikir Mayra tidak peduli lagi pada Alice, padahal tidak. Mayra langsung mematikan panggilannya karena ingin menyusul gadis remaja itu.


Hari sudah mulai gelap. Alice memeluk tubuhnya karena udara yang dingin. Dia melihat ke sekitarnya dan baru menyadari, bahwa dia sudah sangat lama berada di makam ibunya. Rasanya, Alice begitu berat untuk meninggalkan tempat ini lagi, apalagi dia tau Di rumah neneknya, ada Adrian.


hingga pada akhi Alice melepaskan jaketnya, kemudian gadis remaja itu menyimpannya di tanah. Dia menyimpan tasnya di bawah, kemudian membaringkan tubuhnya di tanah dengan alas jaket yang tadi dia simpan dan menjadikan tas sebagai bantalan, lalu tangannya melingkar ke nisan sang ibu seolah sedang memeluk ibunya.


***


“Dad, bisakah kau menyetir lebih cepat!" Mayra terus berbicara pada Tommy, meminta suaminya untuk mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya, dia tidak sabar untuk segera sampai. Sayangnya, pemakaman yang dikunjungi Alice sangat jauh, hingga rasanya Mayra melewati waktunya dengan tersiksa. Mayra bercerita sesal yang dia rasakan. Seharusnya, dia menghubungi Alice terlebih dahulu.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Mayra sampai di pemakaman dan ternyata ada Arthur yang menunggu di sana.


"Mana Alice?" tanya Mayra.


"Alice di dalam, Nona," jawab Arthur.