
Suasana di ruangan itu mendadak panas, Tommy dan Maira benar-benar melampiaskan hasrat mereka, ini memang bukan pertama kalinya untuk Mereka bercinta tapi tetap tidak mengurangi kehangatan yang mereka rasakan.
Hingga pada akhirnya sekarang, Maira ambruk di atas tubuh Tommy kedua Insan itu sama-sama mengatur nafasnya. 10 menit kemudian, Maira menegakkan tubuhnya wanita cantik itu langsung menatap Tommy yang juga sedang menatapnya.
“Dad, kau puas?” tanya Maira.
“Of course, kau selalu membuatku gula," kata Tommy dia menatap Mayra dengan penuh ketulusan dan dengan cepat Maira menunduk kemudian wanita itu langsung mengecup bibir suaminya..
“I love you.” Mayra berbiskik.
“I love you too.” Setelah itu, Maira langsung menggulingkan tubuhnya, lalu berbaring di samping suaminya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
” Aku lelah sekali," ucap Maira.
“Tommy, terkekeh. Bagaimana kau tidak lelah, kau terlalu bersemangat barusan,” jawabnya membuat Maira langsung mencubit pipi Tommy.
“Aku mengantuk, tapi Salsa ....”
“Biar Salsa bersamaku, tidurlah kau juga sudah pumping bukan, nanti aku yang menghangatkannya," kata Tommy lagi.
“Terima kasih, Dad." Maira memejamkan matanya dan hanya butuh waktu beberapa menit, akhirnya wanita cantik itu terlelap. Setelah Maira terlelap, Tommy langsung bangkit dari berbaringnya kemudian turun dari ranjang. Lalu setelah itu, lelaki itu pun langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
20 menit kemudian Tommy sudah, selesai dengan acara di kamar mandinya, hingga kini dia sudah memakai pakaian santai. lelaki itu melihat ke arah Mayra yang berbaring di ranjang. Lalu setelah itu dia menaikkan selimut istrinya, karena kebetulan di luar sedang hujan.
Sebelum keluar, dia mengecup pipi Maira Lalu setelah itu dia menegakkan tubuhnya dan keluar dari kamar untuk menyusul Salsa dan juga Alice.
Saat dia turun, Tommy tersenyum ketika melihat Alice sedang menatap Salsa yang tertidur di stroller. “Alice!” Panggil Tommy hingga Alice menoleh.
“Paman!" Panggil Alice dia masih canggung untuk memanggil Tommy Daddy.
“Kau sudah makan?” tanya Tommy. Alice menggeleng.
“Pelayan belum mengantarkan makanan untukmu?” tanya Tommy lagi.
“Belum Paman," jawab Alice.
”Sebentar Paman akan menyuruh pelayan ntuk menyiapkan makanan.” Tommy pun berbalik, kemudian lelaki tampan itu langsung menyuruh pelayan. Padahal tadi dia sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan cemilan.
“Kenapa kau belum menyiapkan apa yang aku minta?" tanya Tomi pada pelayanan hingga pelayan itu tergagap.
“Maaf tuan saya lupa," jawabnya dengan gugup.
“Ya sudah cepat buatkan," kata Tommy lagi Hingga pelayan itu langsung bergegas membuatkan makanan dan Tommy pun langsung berbalik untuk menghampiri Alice dan juga Salsa.
“Alice!” panggil Tommy hingga Alice menoleh. “Jika kau tidak nyaman memanggil Daddy, Kok bisa memanggil Paman," kata Tomi lagi hingga Alice mengangguk.
“Baik Paman."
“Kau tidak perlu sungkan di sini. Kau boleh melakukan apapun, meminta apapun pada Paman ataupun Mommy Mayra.”
Mendengar ucapan Tommy, membuat mata Alice berkaca-kaca.
“ Terima kasih Paman sudah mengijinkan aku untuk tetap dekat dengan Mommy Maira," ucap Alice, membuat Tommy terkekeh.
“Sama-sama, Salsa juga adikmu. Kau boleh selalu menjaganya,”
“Paman apa Selasa akan tidur terpisah dengan paman dan Mommy Mayra?" tanyanya
“Tidak, salsa akan tidur terpisah dengan dan tidur dengan baby sitter-nya. Kenapa?"
“ Bolehkah aku tidur Di kamar bersama Salsa?” tanya Alice dengan malu-malu.
“Tentu paman akan menyiapkan ranjang yang besar untuk kalian. Nanti akan ada baby sitter yang juga akan tidur dengan kasur yang berbeda," ucap Tommy lagi Hingga Alice mengangguk, menatap Tomi dengan berbinar.
"Terima kasih Paman," jawabnya.
“Ya sudah paman pergi ke ruang kerja Paman," kata Tommy lagi Hingga Alice mengangguk. Tommy pun langsung berjalan ke arah lift, lelaki itu memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya dia ingin membereskan beberapa pekerjaan yang tertunda.
Tommy masuk dalam ruang kerja, kemudian lelaki itu langsung mendudukan diri di kursi kerjanya. Namun saat dia akan membuka laptop, tiba-tiba dia teringat Adrian
Tommy menghela nafas kemudian menghembuskannya. Lalu setelah itu, dia mengambil ponsel lalu menelepon Ardian. Setelah Beberapa kali berdering pada akhirnya Adrian mengangkat telepon darinya.
“Kau sudah siap untuk mendengarkanku?" tanya Tommy. Adrian tidak menjawab, hingga Tommy kembali berbicara. " Ya sudah, dengarkan saja ini, Jangan pernah memaksa putrimu untuk pulang. Biarkan saja dia ada disini."
“ Apa maksudmu?" tanya Adrian yang tidak terima di seberang sana.
“ Jika kau memaksa dia pulang, maka Alice akan semakin marah, tentu saja karena dia belum menyembuhkan luka hatinya. Biarkan dia tetap di sini sampai pada akhirnya dia menyadari bahwa dia juga merindukanmu. Aku harap kau mengerti maksudku. Tapi, jika kau ingin jemput Alice jemput saja, tapi resikonya Alices akan semakin membencimu."
Setelah mengatakan itu, Tommy pun langsung mematikan panggilannya. “Sudah diberi nasehat masih tetap tidak terima!” gerutu Tommy, dia pun langsung menegakkan tubuhnya menyalakan laptopnya. Lalu setelah itu dia mengutak-atiknya laptop untuk mulai pekerjaannya.
Adrian melemparkan ponselnya, kemudian dia membanting tubuhnya di ranjang, hingga kini dia berbaring dengan posisi telungkup. Taapan Adrian menatap dengan tatapan nanar. Lagi-lagi, dia teringat kenangannya bersama Maira.
Selalu seperti ini, setiap dia sendiri merenung di kamar kenangan demi kenangan ketika Maira masih berada di sisinya, kenangan ketika dia melihat wajah Alice yang bahagia saat ada Maira terus berputar-putar di otaknya, dan sekarang semuanya lenyap.
Tanpa terasa, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. ini sudah berbulan-bulan berlalu, tapi dia masih belum bisa menghilangkan sosok Maira di dalam hatinya. Apalagi selama ini Adrian adalah sosok yang sangat sulit untuk jatuh cinta.
Dulu saat kehilangan istrinya, dia terus terperangkap dengan cintanya hingga cinta untuk istrinya hilang ketika dia mulai tertarik dengan Bianca, dan ketika Bianca sudah menikah dia masih belum bisa membuka hatinya walaupun dia sudah menikah dengan Mayra.
Dan sekarang ketika dia jatuh cinta dengan Maira, dia juga pasti akan terperangkap dengan perasaannya sendiri, karena dia adalah tipe orang yang sulit untuk jatuh cinta dan itu adalah hukuman yang harus Adrian tanggung, tersiksa dengan perasaannya sendiri karena telah mengabaikan Maira yang tulus mencintainya.
***
Maira terbangun dari tidurnya. Rupanya dia sudah tertidur 2 jam, wanita itu melihat ke sana kemari. Tidak ada Tommy di manapun, dan sepertinya Tommy sedang bersama Salsa dan Alice.
Maira pun langsung menyingkirkan selimut dari tubuhnya, kemudian dia bangkit dari berbaringnya. Lalu, turun Dari ranjang dan berjalan ke kmar mandi untuk membersihkan dirinya.
Maira tersenyum ketika dia turun ke bawah dan melihat Tommy sedang memasak dia melihat ke arah samping di mana Alice sedang memegang DOT Salsa.
“Kau memasak apa Dad?” tanya Maira Tommy.
“Ya Tuhan, Sayang. Kau mengagetkanku!” Tommy terpekik ketika Maira memanggilnya secara tiba-tiba.
“ Kenapa kau memasak. Kenapa kau tidak menyuruh koki?" Tanya Maira.
“Tidak apa-apa, aku ingin memasakan makanan untukmu. Kau sudah lama sekali tidak memakan makanan buatank," jawab Tommy, membuat Mahira terkekh.
Maira menarik kursi kemudian mendudukkan diri di depan Tomi yang sedang memasak. “Dad!" Panggil Maira.
“Kapan kau akan pergi ke kantor?” tanya Maira lagi, karena memang semenjak di Polandia Tommy meninggalkan kantornya dan dia tahu suaminya pasti banyak sekali pekerjaan.
“Sebenarnya aku tidak ingin pergi, aku ingin menemani kalian," kata Tomi. “Tapi pekerjaanku banyak sekali.”
“Apa tidak bisa dikerjakan di rumah saja?" tanya Maira. Tommy menggeleng.
“Tidak apa-apa, kau kan bisa pulang lebih awal."
“Bagaimana jika kau dan Salsa ikut ke kantor, Alice juga boleh ikut," kata Tomi lagi. Maya tidak menjawab. Dia malah menopang kepalanya dengan tangan lalu menatap Tommy, entah terbuat dari apa hati lelaki ini.
8 tahun berlalu
Tidak terasa ini sudah 8 tahun berlalu, Waktu demi waktu yang ditempuh Maira dan Tommy dipenuhi kebahagiaan. Mereka sudah lama menikah, tapi tidak ada yang berubah. Tommy sama sekali tidak berubah sedikitpun.
Jika lazimnya seorang lelaki akan berubah ketika sudah mendapatkan Pujaan hatinya, tapi berbeda dengan Tommy, sikapnya tetap sama memprioritaskan keluarga di atas segalanya, 6 tahun lalu Mayra kembali mengandung hingga kini Anak bungsu Mayra dan Tommy sudah menginjak usia 5 tahun sedangkan Salsa menginjak 7 tahun.
Mayra melahirkan anak laki-laki yang sangat lucu yang mereka beri nama Deren. Selama 8 Maira dan Tommy tetap merahasiakan bahwa Adrian adalah ayah kandung dari Salsa. Karena Tommy hanya ingin dunia tau, bahwa Salsa adalah putrinya, walaupun Salsa bukan anak kandungnya. Tapi demi apapun, Tommy menyayangi Salsa sama seperti Tommy menyayangi Darren.
Sedangkan Alice sekarang, Wanita itu sudah emasuki kuliah hubungannya dengan Adrian memang sudah membaik apalagi ini sudah bertahun-tahun berlalu, tapi untuk sehari-hari Alice lebih banyak tinggal di rumah Mahira dan juga Tommy bersama adik-adiknya.
***
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, Maira terbangun dari tidurnya, wanita itu merasakan sekujur tubuhnya begitu remuk sebab semalam dia dan Tomi bercinta cukup hebat, apalagi Tommy sudah berpuasa karena dia mengalami masa periode.
Maira melihat ke arah nakas dia menemukan sebuah catetan. “Sayang aku sedang pergi ke pantai dengan Dareen dan Salsa, aku akan pulang ketika keduanya lelah bermain ais.” tulis Tommy dalam pesannya.
Maira tersenyum hal yang sangat sederhana tapi mampu membuatnya bahagia , wanita itu pun langsung turun dari ranjang kemudian dia melihat untuk membersihkan dirinya.
“Daddy, Ayo kita pulang kulitku terasa terbakar," ucap Salsa. Gadis kecil yang kini berusia 7 tahun itu berteriak pada Tommy yang sedang bermain air bersama Deren.
“Deren kita pulang, Kakak sudah ingin bermain," katakan Tommy.
“Tidak mau, Biarkan saja kakak pulang sendiri," ucap Deren yang masih betah bermain air
“Deren!" teriak Salsa.
“Ia ...Ia," kata Dereen lagi, dia selalu takluk dengan apapun yang kakaknya katakan hingga Tommy pun langsung menuntun Deren untuk mendekat pada Salsa.
“Daddy ayo gendong aku," ucap Salsa ketika Tommy mendekat. Tommy membungkuk hingga Salsa langsung meloncat ke punggung sang ayah, sedangkan Tommy langsung merangkul tubuh Deren dan menggendongnya di depan, hingga kini Tommy menggendong Salsa di belakang dan menggendong Dereen di depan.
Mata Adrian berkaca-kaca ketika melihat pemandangan itu, rasanya dia ingin menghampiri Salsa dan mengatakan yang sebenarnya. Ya, saat ini Adrian mengikuti sedang berada di Fila Tommy. Dia kemari mengantarkan Alice yang ingin menyusul Maira, dan dia tidak menyangka akan melihat pemandangan yang menyakitkan seperti ini.
Ini bukan kali pertamanya dia melihat kedekatan Tommy dan Salsa, seharusnya dia sudah merasa terbiasa. Tapi sayangnya setiap melihat kebersamaan mereka Adrian ingin sekali menenggelamkan dirinya.
Selama ini, Salsa selalu menatapnya dengan tatapan tidak suka dan itu yang membuat Adrian sesak, sedangkan selama ini hubungannya dengan Maira juga sama sekali tidak membaik.
Maira bahkan selalu membuang muka ketika melihatnya, Maira hanya akan berpura-pura ramah ketika dekat dengan Alice, selebihnya Maira selalu menatapnya dengan asing sama seperti Salsa. Dan selama bertahun-tahun berlalu, cinta itu masih tetap ada, dia masih mencintai Mayra.