
“Mayra, ini sudah 2 jam berlalu tapi kau masih belum membeli apapun. Lalu untuk apa kau mengajakku berbelanja,” ucap Bianca dia menggerutu kesal pada Mayra, sebab sedari tadi Mayra hanya berputar-putar tidak jelas.
“Bianca, jujur saja. Aku teringat kucingku, aku takut mereka tidak diberi makan.” Bianca menghentikan langkahnya kemudian dia menoleh ke arah Mayra.
“Kau ini aneh sekali, kau mengajakku berbelanja tapi kau masih mengkhawatirkan kucingmu.” Bianca terus mengomel, hingga tiba-tiba Bianca terpikirkan sesuatu.
“Bukannya kucingmu mempunyai pengasuh," ucap Bianca yang baru teringat bahwa Mayra mempunyai pengasuh kucing.
“Sudah aku pecat, karena biaya pengasuh kucingku sangat tinggi," jawab Mayra dengan asal.
“Omong kosong macam apa itu, bahkan keluargamu saja ... Ah sudahlah kau membuatku malas, ayo kita pulang." Pada akhirnya Bianca memutuskan untuk pulang, terlebih lagi dia ingin istirahat.
***
“Bianca kau tidak mampir dulu?” tanya Mayra ketika mereka sampai di mansion, karena tadi Mayra tidak membawa mobil, akhirnya Bianca mengantarkan Mayra pulang terlebih dahulu.
“Tidak nanti saja, salamkan saja untuk paman Gabriel dan bibi Amelia,” jawab Bianca.
“Kau tidak ingin menitip salam pada Selo?” tanya Mayra menggoda.
“Mulutmu Mayra!” Mayra tertawa kemudian wanita itu turun dari mobil. Lalu setelah itu berjalan ke arah dalam membuat Bianca menggeleng. Bianca menyalahkan kembali dan menjalankan mobilnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di rumah, Bianca pun langsung turun dari mobil kemudian berjalan ke arah dalam.
“Bi!” panggil Maria. Bianca menoleh lalu mengerutkan keningnya saat melihat wajah sang ibu yang tanpa khawatir, seperti sedang mencemaskan sesuatu.
“Ada apa Mom?’ tanya Bianca.
“Kemari ...Kemari,” ucap Maria, dia langsung menarik tangan Bianca, mendudukkan Bianca di sofa, hingga kini dia dan sang putri sudah duduk bersebelahan.
“Mommy kau kenapa, kau membuatku khawatir?” tanya Bianca yang menatap heran pada Sang ibu.
“Mommy hanya ingin memastikan.”
“Memastikan apa, Mommy?" Bianca menatap heran pada sang ibu.
Sejujurnya, Maria sedang ketakutan Bagaimana jika Bianca menerima Selo lagi, sungguh dia tidak akan rela Bianca Kembali pada Selo. Di masa lalu, mungkin sang kakak pernah membuat kesalahan yang sama dengan Sello, dia sungguh tak ingin kisah Bianca sama sepertinya kakanya, walaupun dulu dia sendiri yang membantu Ferhad untuk mendapatkan stevia.
“Mommy, kau membuatku takut,” ucap Bianca saat Maria masih terdiam.
“Bianca dengar Mommy.” Maria menjeda sejenak ucapannya, kemudian menggenggam tangan Bianca.
“Tolong jangan mengikuti kisah Paman Ferhad.” Bianca semakin bingung dengan ucapan Maria yang berputar-putar.
“Mommy, aku benar-benar tidak mengerti bisa Mommy to the point saja,” ucap Bianca lagi.
“Tolong, sebaik apapun Sello, seberubah apapun dia, entah dia menjadi mualaf karenamu atau karena keinginan sendiri, tapi Mommy sungguh tidak ingin kau kembali padanya. Mommy tidak akan pernah melupakan bagaimana rasa sakitnya saat kau terluka, kau mengerti kan maksud Mommy.” Rasa lega langsung menghinggapi Maria ketika sudah berbicara tentang keluh kesahnya.
Bianca menggeleng samar saat mendengar ucapan sang ibu, dia membalas genggaman tangan Maria. “Mom, apa aku terlihat bodoh?” tanya Bianca membuat Maria menatap Bianca dengan heran.
“Maksudmu, Bi?’
“Mom, saat aku menikah dengan Sello, aku melewati semuanya dengan penuh rasa sakit, penderitaan dan juga rasa pedih yang luar biasa. Butuh waktu untuk aku melupakan dia. bahkan saat kami bercerai aku masih mencintainya walau sedikit. Dan kini, aku sudah ikhlas, aku tidak ingin lagi kembali pada rasa sakit itu. Dulu, awal aku bercerai dengan Sello, mungkin orang lain melihat bahwa aku mulai bahagia, bahwa aku sudah lepas dari bayang-bayang masa lalu. Tapi ada kalanya, aku menangis. Ada kalanya aku menyalahkan diri sendiri, ada kalanya aku merasa aku tidak berarti di mata siapapun Tapi setelah bertahun-tahun berlalu, aku mulai bisa berdamai dengan diriku sendiri. Mommy tahu, kenapa aku bisa berdamai dengan diriku sendiri? karena aku berusaha ikhlas, karena aku berusaha untuk melupakan semuanya. Saat aku terpuruk, Daddy selalu menasehatiku untuk selalu memaafkan orang-orang yang telah menyakitiku, dari situ aku belajar dan mencoba untuk melupakan Selo dan pada akhirnya aku sudah enjoy dengan diriku sendiri, aku sudah bisa mulai mencintai diriku sendiri dan sekarang aku benar-benar menganggap Selo sebagai saudara, karena memang kita saudara bukan. Percayalah Mom, walaupun aku bersikap baik pada Sello tidak ada niatan sedikitpun untuk aku kembali padanya, karena aku tidak ingin merasakan sakit lagi seperti dulu.”
Bianca menutup ucapannya dengan senyuman, membuat Maria juga tersenyum Bianca mungkin saat ini yakin bahwa dia tidak akan kembali pada Sello, tapi tidak ada yang bisa menentang takdir Tuhan, entah Bianca akan kembali lagi pada Selo atau tidak yang pasti itu hanya rahasia takdir.
“Mommy bersyukur, jika kau memikirkan sejauh itu kami hanya takut kau akan kembali tersakiti lagi.”
“Tapi kalian tidak bisa melawan takdir bukan.” Tiba-tiba terdengar suara Ferhad dari arah belakang membuat Maria berdecak kesal.
“Kau ini bisa diam tidak sih, terus saja mengompori,” jawab Maria.
“Bianca, kau yakin kau tidak ingin kembali pada Sello siapa tahu ....” Ferhad menghentikan ucapannya ketika wajahnya dilempar bantal oleh Maria, dia sungguh muak dengan kakaknya.
“Pulang sana ke Turki,” kata Maria yang gemas dengan kakaknya.
“Bianca kau tahu, dulu yang menyatukan paman dan bibi Stevia adalah Mommymu sendiri, bahkan dia ....” Lagi-lagi Ferhad menghentikan ucapannya, ketika Maria melempar bantal membuat Bianca menggeleng.
“Ya sudah Mommy, paman aku pergi ke kamar dulu,” jawab Bianca. Setelah mengatakan itu, Bianca pun bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar.
“Dilihat-lihat, sepertinya kau pro sekali pada Selo. Apa karena kalian pernah melakukan kesalahan yang sama?’ tanya Maria seraya menyipitkan matanya.
“Aku pernah berada di posisinya dan kau, kan, yang menyatukan aku dan Stevia,” bukan kata Ferhad sambil tertawa, rasanya Maria ingin sekali memukul kakaknya ini.
***
“Morning, sapa Selo saat dia sudah berada di meja makan.”
“Wow, kau tampan sekali,” ucap Sayra ketika melihat kakaknya.
“Kakak tidak punya uang receh,” jawab Sello, membuat Sayra berdecak.
Amelia menekan bel, kemudian datang salah satu pelayan berhijab lalu menyediakan makanan untuk Sello. “Terima kasih,” ucap Sello, karena memang Amelia menyiapkan koki khusus yang beragama muslim untuk mengurus makanan Sello dan juga bakal Selo untuk ke kantor.
Acara sarapan pun selesai, Selo pamit pada keluarganya. Dia memutuskan untuk pergi lebih awal sebab Ia harus membereskan data-data sebelum dia meeting bersama stafnya.
Sello menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, hari ini rasanya dia begitu excited untuk memimpin kembali ke perusahaannya. Sebab saat menikah dengan Aghnia, Sello begitu susah, bahkan untuk memutarkan uang saja Sello selalu ragu-ragu. Bahkan, terkadang dia tidak percaya diri karena takut gagal untuk melangkah.
Tapi sekarang, Sello merasakan kembali percaya diri dalam bekerja dan dia yakin dia bisa lebih memajukan perusahaan yang sudah dia Tinggalkan.
Dari kaca, dia bisa melihat Bianca sedang duduk bersama seorang lelaki. Bahkan mereka terlihat berbincang hangat. Mood yang tadinya membaik menjadi memburuk saa melihat adegan tersebut.
Nafas Sello mendadak tercekat, dia merasakan rasa cemburu yang luar biasa. Namun tak lama Selo tersenyum getir, kala menyadari dia tidak berhak merasa cemburu dan dia merasakan sakit ketika membayangkan bagaimana dulu menjadi Bianca, di mana saat itu dia berselingkuh dengan Aghnia.
Sello kembali menggelengkan kepalanya, mengingat pada prinsipnya, dia hanya akan mengikuti alur seperti air. ‘Ya Allah kuatkan aku.’ Sello membatin, tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang, rupanya lampu merah sudah berganti dengan hijau hingga Sello kembali menjalankan mobilnya.
Semangat yang tadi menggebu-gebu untuk memimpin perusahaan hilang begitu saja saat melihat Bianca dengan lelaki lain, sebagai seorang manusia biasa, tentu saja Sello takut bahwa Bianca akan menemukan lelaki lain.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Sello sampai di perusahaan, Sello turun dari mobil, lelaki itu langsung berjalan ke arah lobi beberapa orang menatap Sello dengan kagum.
Sebab mereka sudah lama tidak melihat Sello, dan ketika melihat lagi Sello, mereka merasa Sello berkali-kali lebih tampan dan gagah dari sebelumnya.
Sello masuk ke dalam ruangan dia tersenyum saat melihat ruangannya, karena dia rindu sekali tempat ini, dia tidak menyangka dia akan kembali menginjakkan kakinya ruangan ini.
Lagi-lagi Sello tersenyum ketika melihat meja kerjanya, di mana di sana ada papan nama bertuliskan Muhammad Selo, dia mengambil papan itu kemudian menciumnya.
Sello membuka jasnya, kemudian mendudukan diri di kursi kerjanya, baru saja dia akan membuka laptop, tiba-tiba Sello menghentikan gerakannya, ketika pintu terbuka dan ternyata yang masuk adalah Grisya, sang kaka.
Grisya masuk kedalam ruangan sang adik, sambil membawa buket bunga, membuat Selo mengembangkan senyumnya. Sello pun bangkit dari duduknya, kemudian dia langsung menghampiri sang kakak, lalu memeluk kakanya.
“Selamat atas kembalinya jabatanmu," ucap Grisya, ketika melepaskan pelukannya.
“Terima kasih, Kak.” Sello mengambil buket bunga, menyimpannya di meja dan kini Grisya sudah duduk di sofa, di susul Sello yang mendudukan diri di sebelah Grisya.
“Tumben sekali kakak kemari, aku yakin kakak datang ke sini bukan hanya untuk memberikanku ucapan selamat,” tebak Sello dari gerak-gerik kakaknya, dia bisa melihat ada yang kakaknya ingin tanyakan
Grisya berdehem, “Sebenarnya apa yang kau rahasiakan dengan Nick?’ tanya Grisya, dia langsung memberondong adiknya dengan pertanyaan. Sebab, kemarin saat saat Sello menelepon. Dia sedang berada di samping suaminya. Namun, saat mengangkat panggilan Selo, Nick langsung pergi dan itu mematikan rasa penasaran di diri Griysa.
“Aku tidak menyembunyikan apapun,” jawab Sello.
“Oh, Sello. Ayolah, aku mantan detektif dari gerak-gerik Nick, aku tahu ada yang sedang dia selidiki,” jawab Grisya, karena memang Grisya dulu seorang polisi. Namun, memutuskan untuk berhenti karena dia ingin fokus pada keluarganya.
“Aku hanya ingin menanyakan ....” Sello kembali terdiam, dia bingung harus menjawab apa.
“ Kenapa kau tidak tanyakan saja pada suamimu?” tanya Sello yang langsung mengubah topik pembicaraan.
“Kau pikir suamiku akan mengatakanya padaku. Ya sudah Jika kau tidak mau mengatakannya.”
“Untuk apa juga aku memberitahumu,” jawab Sello dengan menyebalkan, membuat Grisya berdecak kesal. Grisya tidak mau buang waktu, hingga dia pun langsung bangkit.
“Kau dan suamiku sama saja. Aku tarik kembali ucapan selamatku," omel Grisya, dia pun langsung berbalik dan keluar dari ruangannya membuat Selo tertawa.
setelah grisia pergi Selo menyadarkan tubuhnya ke belakang matanya menerawang pada langit-langit.
Saat mengetahui Roland dibalik yang kelakuan Aghnia, rasanya Sello ingin mengamuk pada lelaki itu, dia ingin mengatakan pada Bianca, menyuruh Bianca untuk menjauh dari Roland
Tapi setelah diselidiki, tidak semudah itu Sello untuk memberi pelajaran pada Roland. Dia harus menguak sesuatu terlebih dahulu, dia tidak boleh ke gegabah, karena sedikit saja dia salah, Bianca bisa menjadi korban Roland.
Mendengar apa yang di ucapkan Aghnia saat itu, Sello bisa menyimpulkan bahwa Roland bukan mencintai Bianca, melainkan hanya terobsesi.
Setelah dia pulih, dia mencoba untuk berkonsultasi dengan Nick, sang kaka ipar, dia mencoba mencari kelemahan Roland, dan ternyata, Roland memiliki banyak sekali catatan kriminal di masa lalu.
Namun saat itu Roland berhasil bebas karena kekuasaan yang dia miliki. Dan sekarang kakak iparnya sedang bergerak untuk mencari bukti satu persatu yang bisa menjebloskan Roland ke dalam penjara.
Jika mereka salah melangkah, yang paling parah Bianca bisa menjadi tawanan, itu sebabnya saat ini Selo tetap bersabar untuk terus mencari bukti dan tidak bertindak gegabah.
karena di balik wajah Roland yang terlihat baik, Roland menyimpan seribu catatan kelam di masa lalu, beberapa nyawa hilang karena ulah lelaki itu.
***
Bianca melihat jam di pergelangan tangannya. “Dok, aku harus pergi ke rumah sakit. Terima kasih atas traktiranmu, hari ini," ucap Bianca, hari ini dia shift pagi dan saat membeli sarapan ke Cafe, ia melihat Adrian yang sepertinya juga sedang sarapannya hingga Bianca menghampiri Adrian.
Adrian melihat jam di pergelangan tangannya.
“Ya sudah hati-hati," jawab Adrian. “Aku akan mengambil cuti selama dua hari, kau bisa mulai melihat-lihat video saat aku mengoperasi pasien apalagi dengan teknik seperti kemarin," ucap Adrian.
Bianca mengangguk. “Sampai jumpa, Dok.” Bianca berbalik, kemudian dia keluar dari cafe sedangkan Adrian terus menatap punggung Bianca lalu tersenyum. Jika ditanya apa dia menyukai Bianca, ya dia sangat menyukai Bianca.
Entah cinta atau hanya sebatas rasa suka. Dia selalu merasa senang ketika berada dekat dengan wanita itu terlebih lagi putrinya juga lumayan dekat dengan Bianca, bahkan ketika putrinya ikut ke rumah sakit yang dicari adalah Bianca terlebih dahulu karena memang Adrian adalah seorang duda.
***
Waktu menunjukan pukul 12 siang, Bianca melepaskan jas dokternya, wanita itu memutuskan untuk membeli roti ke supermarket karena hari ini dia tidak membawa bekal. Sebab ibunya sedang tidak enak badan.
Bianca keluar dari ruangannya dia menyapa beberapa perawat yang berpapasan dengannya, dan ketika dia sampai di luar Bianca menghentikan langkahnya ketika melihat Selo yang sepertinya baru saja akan masuk ke dalam rumah sakit.
Rupanya Sello datang ke rumah sakit karena ingin mengantarkan makanan untuk Bianca. Tadi, Ferhad memberitahu Sello bahwa Bianca tidak membawa bekal, hingga setelah mendengar itu Sello menelpon sang ibu, meminta sang ibu menyuruh koki untuk memasakkan makanan untuk Bianca, dia rela meninggalkan meetingnya untuk mengantarkan makan siang.
“Sello, kau sedang apa di sini?” tanya Bianca ketika mereka sudah berhadap-hadapan
“Oh, Mommy menyuruhku untuk membawakan ini untukmu, ini juga dimasak oleh Koki muslim, dan ini halal,” dusta Sello, karena dia tidak ingin terlalu menonjol.
“Ah, kebetulan sekali, aku belum makan," ucap Bianca.
” Bianca.” Tiba-tiba terdengar suara Roland dari belakang, sepertinya lelaki itu juga membawa makan siang untuk Bianca, hingga kini Roland dan Sello saling tatap.