
Sello terhuyung ke depan, hingga semua orang langsung terperanjat. Lalu melihat ke arah Lyodra, begitupun Sello yang langsung melihat ke arah belakang, wajah Sello memucat saat melihat ayah mertuanya
Melihat wajah Sello secara langsung, amarah Lyodra kembali terbakar hebat, ia langsung menghampiri Sello, kemudian ia langsung menarik jas menantunya. “Kemari kau!” teriak Lyodra.
Saat Lyodra menghajar Sello, Gabriel langsung menghampiri Amelia, kemudian ia langsung menyuruh Amelia berbalik. “Jangan melihatnya sayang!" kata Gabriel, lelaki paruh baya itu tidak ingin Amelia melihat kekerasan.
Lyodra terus menghajar Sello secara membabi buta, emosinya benar-benar berada di titik tertingginya. Sello tidak melawan sedikitpun, Ia juga membiarkan Ayah mertuanya menghajarnya
Sedangkan Agnia langsung pergi ke pinggir, ia memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat Sello dihajar.
•••
Lyodra langsung membanting tubuh Sello, kekuatannya mendadak bangkit saat ia menghajar menantunya. Hingga akhirnya, Lyodra membantingnya tubuh Sello, hingga tubuh Sello berguling-guling di bawah.
Tidak bisa dijabarkan lagi, betapa tersiksanya Sello saat dihajar oleh mertuanya, yang pasti hajaran Lyodra saja belum cukup dengan apa yang dilakukan Sello selama 5 tahun ini pada Bianca.
Lyodra berusaha mengatur nafasna, kemudian ia menoleh ke arah Gabriel. “Gabriel kau ingin menghajarku karena aku menghajar putramu?” tanya Sello, gabel terdiam .
“Itu hakmu Lyodra,” kata Gabriel, di satu sisi ia tidak tega melihat Sello seperti ini, apalagi ia seorang ayah, mana ada yang rela anaknya dipukuli orang lain. Tapi disisa lain, Ia juga mengerti. Ia pun akan melakukan hal yang sama ketika kedua putrinya disakiti seperti Sello menyakiti Bianca.
Tak lama pintu taman kembali terbuka, sosok Maria masuk dan ketika Maria masuk, Gabriel langsung dihinggapi kepanikan. Mungkin ia masih bisa berbicara dengan Lyodra. Tapi tidak dengan Maria, ia mengenal saudaranya.
Saat Maria menoleh ke arah Sello, ternyata Selo sudah tidak sadarkan diri. Rupanya, Sello kehilangan kesadarannya ketika ia dihajar oleh mertuanya.
“Maria!” panggil Gabriel.
“Gabriel, Apakah ini balasanmu padaku?” tanya Maria, ia menatap Gabriel dengan mata yang membasah.
“Kau membiarkan putramu menghancurkan putriku?” kali ini Maria berbicara dengan lirih, ia menatap Gabriel dengan penuh kekecewaan.
"Gabriel, aku, kau Gaby dan Ariana tumbuh bersama, kita bukan sekedar besan. Kita juga saudara, ayahku adalah keponakan ayahmu. Lalu, kenapa kau tega membiarkan putramu menghancurkan putriku?” ucap Maria lagi, demi apapun ia benar-benar kecewa pada Gabriel.
“Maria demi apa pun aku bersumpah, aku tidak tau kelakuan Sello di luar sana. Aku pikir mereka baik-baik saja." Akhirnya Gabriel berhasil melanjutkan ucapannya, hingga Maria langsung menghapus air matanya, kemudian ia langsung menoleh ke arah wanita yang ada di sisi dan Maria pun menghampiri Agnia.
Hingga kini, jarak Maria dan Agnia saling berdekatan. “Katakan, apa kau selingkuhannya?” tanya Maria, Agnia masih menunduk ia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Jawab aku, sebelum aku menamparmu!” kata Maria, hingga Aghnia memberanikan diri membuka matanya.
“I-ia nyonya.”
Seketika Maria tertawa. “Kau ingin menyayangi putriku yang berharga. Apa kau tidak berkaca!" teriak Maria. Tadi, Maria berbicara lirih pada Gabriel. Namun kali ini, Maria berteriak di hadapan wajah Agnia.
"Seejak kapan kau menjalin hubungan dengannya?”. tanya Maria. Rasanya, ia tidak Sudi memanggil nama Sello.
"Sejak kapan!” teriak Maria lagi.
“Su-sudah udah 6 tahun Nyonya.”
Plak satu tamparan mendarat di pipi Agnia. “Kurang ajar!” kali ini bukan tamparan saja, Maria juga menjambak rambut Agnia. Hingga Agnia berusaha melepaskannya, karena jambakan Maria begitu kuat..
Tidak ada yang menolongnya, begitupun Gabriel dan Amelia yang hanya diam saja melihat tingkah Maria, mereka tidak berusaha menghentikan Maria. Hingga akhirnya Bianca datang.
“Haisssh, kenapa Bianca harus datang,” ucap Saira kembaran Mayra.
“Mommy cukup!" teriak Bianca ketika Maria terus ingin menyerang Agnia. Namun, Bianca menahan tubuh ibunya.
“Mommy tidak akan cukup sebelum menghancurkannya!" teriak Maria lagi. Maria memang seorang wanita. Tapi ketika ada yang mengusik keluarganya, dialah juga ikut maju. Apalagi ayahnya lelaki yang sangat Arogan..
Tentu saja sifat itu menurun pada Maria. Hingga rasanya ia ingin menghancurkan orang yang telah menghancurkan putrinya.
2 bulan kemudian
Ini sudah dua bulan berlalu semenjak kejadian Lyodra mengajar Sello. Selama dua bulan ini pula, Bianca menyibukkan dirinya dengan bekerja di rumah sakit.
Walaupun Maria dan Lyodra sudah melarang Bianca untuk beraktivitas terlebih dahulu. Tapi Bianca tetap kekeh, ia ingin melupakan semuanya dengan bekerja.
Dan setelah 2 bulan berlalu, setelah melewati proses sidang yang lumayan menyita waktunya, akhirnya, saat ini Bianca dan Sello menghadapi sidang terakhir.
Bianca keluar dari ruang sidang, ia menghela nafas sedalam-dalamnya, karena Akhirnya proses sidang yang cukup melelahkan selesai. Hakim sudah menjatuhkan palu, dia dan Sello resmi bercerai.
Bianca tersenyum saat melihat sang ayah ada di depannya, kemudian ia langsung memeluk Lyodra. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bianca, saat memeluk sang ayah
Dua bulan ini ia melaluinya semua dengan berat. Tapi sekarang, akhirnya ia bisa bernafas lega tidak ada lagi yang ia sembunyikan, tidak ada lagi rasa sakit yang ia tahan walaupun tidak dipungkiri rasa sakit itu akan tetap ada.
“Bianca!” Tiba-tiba terdengar suara Sello dari arah belakang. Rupanya, Sello juga baru keluar dari ruangan sidang. Bianca melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Sello.
“Ayo kita pulang.” Lyodra Mengajak Bianca pergi, karena ia tidak ingin Bianca berbicara mantan menantunya.
“Dad, biarkan aku bicara aku dengan Sello!" ucap Bianca.
“Tidak, ayo kita pulang!” Lyodra kekeh tidak mengizinkannya.
“Dad!” panggil Bianca
”Baiklah Daddy menunggu di mobil.”
kini mantan suami istri itu berdiri berhadap-hadapan. Tidak ada raut dendam di wajah Bianca, Bianca lebih memilih mengikhlaskan semuanya. Bahkan sekarang, ia memberikan senyuman pada Sello membuat Sello dia terpaku.
Saat melihat senyuman mantan istrinya Sello hanya bisa terdiam. “Ada apa Sello?” tanya Bianca, kali ini nada suara Bianca juga begitu lembut, tidak emosi dan seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
“Aku minta maaf dan terima kasih!”
Bianca terkekeh, kemudian ia melepaskan cincin di jari manisnya. “Aku lupa belum mengembalikan ini,” ucap Bianca, Seo menerima cincin itu.
“aku minta maaf Bianca,” ucap Sello lagi karena hanya itu yang bisa ia katakan.
“Aku memaafkanmu,” jawab Bianca, lagi-lagi membuat selo terpaku.
“Semoga kau berbahagia dengan lelaki lain,” jawabnya.
“Semoga kau juga berbahagia dengan wanita itu. kalau begitu aku pergi!” Bianca berbalik, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat berbalik, ia bisa saja tersenyum pada Sello. Namun tidak dipungkiri, ia masih merasa sakit. tapi Bianca berusaha bijak, ia tidak ingin terperangkap luka, dia yakin semuanya akan berlalu.
Sedangkan Sello dan Aghnia.