Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Aghnia menyerah


Maafin baru up ya


Setelah menelepon seseorang Freed langsung melihat ke arah luar, ia menyipitkan matanya saat melihat orang yang yang sangat di kenalnya.


Dia menghela nafas saat melihat Amora kekasihnya datang ke cafe.


Seandainya dia tahu Amora datang kafe ini, dia tidak akan mengajak Roland untuk bertemu di sini, dia terlalu malas menanggapi Amora yang cerewet. Bahkan dia tidak memberitahu Amora bahwa dia sedang berada di Rusia.


Dan benar saja, saat Amora masuk ke dalam cafe, Amora terperanjat saat melihatnya Freed, wanita itu langsung berjalan ke Freed.


“Keterlaluan kau, Freed. Datang ke Rusia tanpa memberitahuku,” hardik Amora yang tak lain kekasih Freed yang juga kakak sepupu Bianca.


Freed berpacaran dengan Amora. Tapi dia belum tahu bahwa Bianca adalah adik dari Amora, begitupun Bianca, dia juga tidak tau Freed adalah kekasih kakak sepupunya. Bianca hanya pernah melihat foto Freed sekilas di hape Amora, itu sebabnya saat pertama kali bertemu dengan Freed di kantor Roland, Bianca merasa tak asing


“ Aku baru saja tiba,” jawab Freed. Seperti biasa, tidak ada ekspresi apapun di wajah Freed, dan Amora sudah tidak aneh dengan sikap Freed, karena dia berpacaran dengan Fred sudah 4 tahun.


Amora menarik kursi kemudian mendudukkan diri di sebelah lelaki itu, “Apa mengabariku. adalah hal yang sulit?” tanya Amora, ketika dia sudah duduk. “Tidak lupakan saja, Seharusnya aku tidak bertanya kau memang selalu melupakan hal-hal kecil yang menurutku besar.”


“Ayolah, Amora jangan di perpanjang lagi. Aku malas berdebat denganmu.’


“Aku tidak mengajakmu berdebat, ya sudah aku rasa kau butuh waktu untuk sendiri." Amora pun lebih memilih bangkit dari duduknya, rasanya dia terlalu lelah untuk mendebat Freed yang dinginnya mungkin melebihi kutub utara, hingga Amora tidak mau capek-capek untuk memikirkan perasaan lelaki itu. Bahkan Amora pun sudah lelah menjalani hubungan dengan Freed.


Amora bangkit dari duduknya, kemudian berpindah ke meja lain. Lihatlah, Freed sama sekali tidak berusaha untuk mengejarnya, lelaki itu malah mengutak-atik ponselnya kembali membuat Amora menggeleng.


***


Setelah mematikan panggilan Roland Bianca menyimpan ponsel ke as ke dalam tasnya


dia menyandarkan tubuhnya ke belakang hari ini harusnya dia praktek, hanya saja dia tidak enak jika harus meninggalkan mantan kakak iparnya, dia akan terkesan tidak bertanggung jawab, sedangkan Selo yang menolongnya terbaring diberangkar.


Takrdengar suara terbuka pintu terbuka, hingga Bianca menoleh dan ternyata Grisya yang keluar lalu menundukkan diri sebelah Bianca


“Kau tidak praktik, Bi?” tanya Grisya.


“Aku praktek, Ka. Hanya saja tidak enak, aku akan terkesan tidak bertanggung jawab ketika aku bekerja dan meninggalkan Selo.”


“Tidak apa-apa. Sello ada istrinya.”


“Kak;” panggil Bianca, dia tampak berpikir haruskah dia mengatakan yang sebenarnya tentang kandungan obat yang ditemukan di tubuh Selo.


“Ada apa apa Bianca?” tanya Grisya


“Tolong jangan biarkan Sello dekat dengannya.”


Bianca pun mengatakan semuanya tentang dia yang menemukan kandungan obat aneh di diri Selo beberapa waktu yang lalu. “Jadi maksudmu ....” Baru saja Grisya akan bangkit bangkit untuk melabrak Aghnia, Bianca menarik tangan Griysa.


“Jangan sekarang, Kak. jika kau mau, kakak harus mencari bukti dulu.’ Grisya kembali terdiam saat mendengar ucapan Bianca, rahangnya mengeras saat mendengar mengetahui yang sebenarnya.


L


Roland sampai di rumah sakit, lelaki itu langsung berjalan ke arah dalam, beruntung saat tadi di perjalanan dia kembali menelpon Bianca dan bertanya di mana ruang rawat Selo, hingga akhirnya dia tidak perlu bertanya lagi ke resepsionis.


Saat berbelok, Roland mengembangkan senyumny dia saat melihat Bianca yang sedang duduk, dia pun langsung menghampiri wanita itu.


“Bianca!” panggil Roland. “Bianca!” yang sedang melamun langsung menoleh begitupun dengan Grisya yang sedari dari tadi duduk di dekat Bianca juga l adaangsung menoleh ke arah Roland


“Bi, dia pacarmu?” tanya Grisya pada Bianca.


“Hmm, yang aku pacar Grisya.” Tiba-tiba Roland berbicara membuat mata Bianca membulat.


“Ya sudah kalau begitu, Kakak masuk.” Setelah mengatakan itu, Griysa bangkit dari duduknya kemudian kembali ke ke ruang rawat Sello.


dua Minggu kemudian


Agnia meremass kertas yang ada di tangannya, rasanya dia ingin mengamuk. Selama 1 minggu ini, dia harus bertahan di rumah sakit karena harus menemani dan mengurus Sello.


Rasanya, hari ini dia sudah tidak sanggup lagi dia ingin bebas.


Beberapa kali dia mencoba untuk memberikan obat yang dia simpan pada Selo. Namun Entah kenapa Selo selalu lolos dan tidak mau pernah memakan makanan yang dia bawa dan rasanya sekarang Agnia benar-benar sudah kesal karena Selo selalu terus memerintahkannya.


Dan sekarang, Aghnia sudah di ambang rasa kesal, persetan dengan bayaran yang dia dapatkan dari pria itu, dia ingin mengakhiri semuanya sekarang juga.


Agnia yang sedang berada di kamar mandi langsung mengambil serbuk obat yang ada di saku belakang, kemudian dia menatapnya lalu tersenyum sinis. “Kau lebih baik lenyap, agar aku tidak harus mengurusmu lagi dan tidak akan lagi ada yang memerintahku..Persetan dengan uang, aku bisa mendapatkan uang dari cara lain bukan dengan cara mengurusmu,” ucap Agnia.


Dia juga menyerah dan tidak mengharapkan lagi uang dari orang yang memerintahkannya, ia ingin bebas dan tidak berhubungan lagi dengan Selo apalagi Sello sudah jatuh miskin. kali ini Agnia berencana untuk memberikan racun itu lewat makanan yang akan diberikan suster karena Selo karena Sello hanya mau makan makanan yang diberikan oleh suster.


***


Agnia mengembangkan senyumnya saat perawat itu akhirnya mau diajak bekerja sama tentu saja karena Agnia memberikan uang yang berjumlah fantastis. Setelah selesai dengan suster, Agnia pun kembali ke dalam ruangan dan 10 menit kemudian akhirnya suster masuk mendorong troli hingga Sello terbangun karena mendengar suara roda yang bergerak.


“Ini tuan makanan Anda, dan ini obat Anda,” kata suster.


“Kau mau aku suapi atau kau makan sendiri?” tanya Agnia, Sello tampak berpikir.


“Aku akan makan sendiri,” jawabnya. Aghnia langsung mengambil bubur itu kemudian memberikannya ke hadapan Selo.