Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tetap sama


Tommy masuk ke dalam kamar dan ketika dia masuk, Maira sepertinya masih berada di kamar mandi, wanita itu sepertinya ingin menenangkan diri. Walaupun tahu Tommy melakukan itu demi kebaikan Salsa. Tapi tetap saja dia seorang ibu yang tidak rela anaknya dibentak oleh siapapun termasuk Tommy.


Tapi Mayra juga sadar, bahwa dia tidak bisa menyalahkan suaminya. Tapi yang dia sayangkan kenapa Tommy tidak bertanya terlebih dahulu Padahal, Salsa tidak pernah membohongi mereka.


“Sayang!" Tiba-tiba terdengar suara Tommy dari arah luar, membuat Mayra tersadar.


“Hmm, sebentar.” Maira langsung bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah wastafel lalu setelah itu mencuci wajahnya, agar tidak terlihat menangis dan setelah itu dia pun langsung membuka pintu.


“Sayang!” panggil Tommy ketika Mayra keluar dari kamar mandi, wanita itu mengangkat wajahnya, kemudian tersenyum lalu setelah itu dia berjalan ke arah ranjang.


“Sayang aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu pada Salsa,” ucap Tommy.


“ Aku meminta maaf. Tidak seharusnya aku berteriak di hadapan Salsa dan juga ....”


“Aku tahu maksudmu baik,” jawab Mayra dia pun langsung membaringkan tubuhnya disusul Tommy di belakangnya, walaupun Mayra mengatakan seperti itu. Tapi Tommy mengetahui betul bahwa Mayra kecewa padanya dan Tommy paling tidak bisa melihat Mayra seperti ini.


Malam itu dilewati dengan berat oleh Tommy dan Mayra. Biasanya, setiap malam mereka selalu melakukan deep talk, sekadar menceritakan aktivitas masing-masing, tapi malam ini Mayra membisu, begitu pun dengan Tommy. Tommy bingung harus bagaimana minta maaf pada Mayra, karena dia mengerti betul Mayra pasti merasakan sakit, apalagi dia melukai Salsa. Bukankah itu hal yang lumrah dirasakan oleh setiap ibu?


***


Malam berganti pagi.


Tommy keluar dari kamar dengan setelan kantornya, kemudian dia berjalan ke arah meja makan di mana keluarganya sudah berkumpul.


"Morning," sapa Tommy.


"Morning," jawab Darren dan Mayra secara bersamaan.Tak lama, tatapan Tommy langsung teralih pada kursi yang biasa di duduki Salsa.


"Salsa mana?" tanya Tommy.


Mayra tersenyum. "Salsa sudah berangkat terlebih dahulu. Dia mungkin akan menginap di apartemen Alice selama beberapa hari," jawab Mayra.


"Maksudmu, Sayang?" tanya Tommy. Dia sungguh terkejut dengan ucapan istrinya.


"Jangan susul dia, mungkin dia butuh waktu," kata Mayra hingga Tommy pun mengangguk. Rasa bersalah kembali menghantam Tommy. Sepertinya, dia harus memberikan waktu untuk Salsa agar Salsa bisa memaafkannya.


"Memangnya, kakak kenapa?" tanya Darren. Lelaki itu tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada Salsa, apalagi semalam dia sudah ada di kamar.


"Tidak apa-apa," jawab Mayra.


Acara sarapan berlangsung dengan hening. Mayra mendadak membisu membuat Tommy sedikit khawatir, apalagi Mayra sedang tidak enak badan.


Mayra tersadar. "Iya," jawabnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Tommy lagi.


"Aku hanya tidak enak badan," Jawab Mayra dengan tersenyum samar.


Akhirnya, acara makan pun selesai. Tidak ada yang berubah dari Mayra, wanita itu tetap mengantarkan Tommy ke arah luar, sedangkan Darren tentu saja sudah berangkat.


"Hati-Hati, ya. Jangan pulang terlalu sore," kata Mayra. Senyum terlihat dari wajah Tommy ketika melihat Mayra seperti ini.


"Aku sungguh minta maaf," kata Tommm yang masih melihat Mayra berbeda. Saat Tommy akan berbicara lagi, Mayra memeluk tubuh suaminya.


"Tidak apa-apa. Sudah, jangan dipikirkan, aku baik-baik saja. Salsa juga pasti akan memaafkanmu." Mayra melepaskan pelukannya, membuat Tommy semakin dilema.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi," kata Tommy.


Tommy pun langsung berjalan ke arah mobil sedangkan Mayra langsung masuk ke dalam. Mayra mendudukkan dirinya di sofa. Entah kenapa, dia begitu sulit melupakan rasa sakitnya. Sebenarnya, Mayra sadar betul ini bukan salah Tommy, tapi tetap saja Mayra merasa sesak. Terlebih lagi teringat saat malam di mana Salsa menangis sesenggukan karena dibentak di depan umum oleh Tommy, dan tentu seorang ibu dia tidak terima anaknya dibentak oleh siapa pun, termasuk Tommy. Mayra juga dalam posisi tengah-tengah, di mana dia tidak bisa menyalahkan suaminya.


***


Setelah masuk ke dalam mobil, Tommy menyandarkan tubuhnya ke belakang. Rasanya, dia tidak pernah segelisah ini.


"Tolong antar ke kampus," kata Tommy pada sopirnya. Tadinya ia ingin memberikan waktu untuk Salsa. Tapi, sepertinya dia tidak ada akan tenang.


"Kampus Nona Salsa?" tanya sopir.


"Hm," jawab Tomny.


Sopir pun mengangguk kemudian kembali fokus mengemudi, dan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di kampus Salsa. Tommy langsung turun kemudian lelaki itu berjalan masuk, karena kebetulan Salsa berkuliah di universitas milik yayasan keluarganya, hingga dia tidak harus mencari-cari lagi Salsa dan langsung pergi ke kelas putrinya, berharap putrinya ada di sana.


Namun ketika Tommy akan berbelok, tiba-tiba Tommy menghentikan langkahnya ketika melihat ke arah taman. Dari arah belakang, Tommy tahu yang duduk di kursi itu adalah putrinya. Seketika, Tommy pun langsung berjalan ke arah taman dan ketika dekat kursi yang diduduki oleh Salsa, Tommy tidak langsung memanggil putrinya.


Saat mendekat Tommy mterdengar isakan dari Salsa. Dia juga melihat Salsa sedang mengusap tangannya.


Mata Tommy membulat saat melihat tangan Salsa yang bengkak dan memerah, bahkan gelang yang dipakai oleh putrinya hampir saja putus. Tommy tahu gelang itu berarti bagi putrinya, karena itu adalah gelang yang sangat Salsa inginkan dan butuh beberapa tahun untuk Salsa mendapatkan gelang itu. Itu sebabnya walaupun itu hampir putus dan dipakai di tangan yang bengkak, Salsa tidak melepaskannya.


Sekarang bagaimana cara Tommy meminta maaf pada putrinya.