Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Saling trauma


“Ya sudah kalau begitu, aku pergi. Kabari aku jika ada sesuatu,“ kata Sello hingga Bianca mengangguk. Setelah Sello keluar dari apartemen, Bianca pun langsung berbalik kemudian Wanita itu pergi ke dalam kamar berencana untuk mengganti pakaian.


Bianca mematut diri di cermin memastikan tampilannya sudah rapih. Sebelum pergi Bianca kembali mendudukkan diri di kursi lalu menatap wajahnya lekat-lekat, dia lelah harus terus terperangkap luka dan dia berharap Setelah dia menemui Celine dia akan bisa membebaskan lukanya dan akan bersikap selayaknya seorang istri pada Sello.


Sebab, Bianca sadar betul dia sudah keterlaluan mengabaikan Selo. 15 menit kemudian, Bianca pun bangkit dari duduknya kemudian dia keluar dari dari kamar dan langsung keluar dari apartemen.


Dan sekarang, di sinilah Bianca berada dia sudah sampai di rumah sakit tempat Celine praktek. Sebelum dia datang dia sudah menelpon Celine terlebih dahulu dan ternyata Celine sedang tidak ada pasien.


Bianca membuka pintu, ternyata Celine sedang melamun. “Maaf membuatmu menunggu lama Celine," ucap Bianca hingga Celine terkekeh.


“Silahkan duduk, Bi,” kata Celine hingga Bianca pun mengangguk wanita cantik itu langsung mendudukkan diri di sofa disusul Celine yang mendudukan diri di sebelah Bianca.


“Apa harimu baik?” tanya Celine.


“Jauh dari baik.” Celine menghela nafas kemudian menghembuskannya. Dulu, dia pernah menjadi saksi bagaimana hancurnya Bianca karena Sello dan sekarang juga menjadi saksi bagaimana Bianca harus sembuh karena ingin membuka hati untuk Sello.


“Celine, kau pasti berpikir aku bodoh kan?”tanya Bianca. Celine menggenggam tangan bianca.


“Kenapa aku harus menganggapmu bodoh?“ tanya Celine.


Celine mengusap punggung Bianca, menguatkan Bianca untuk bercerita. “Bagaimana perasaanmu saat kau tahu Selo menyelamatkan nyawamu?” tanya Celine, pertanyaan biasa tapi Celine sedang memancing Bianca mencerita.


“Entahlah saat itu aku hanya berpikir membalas Budi pada Selo karena telah menyelamatkanku. Tapi setelah menikah aku begitu asing.”


“Apakah sudah pernah mencoba menjadi istri yang seperti pada umumnya, maksudku seperti menyiapkan makanan pakaian dan lain-lain.” Bianca menggeleng.


“Setiap aku melakukan itu, aku selalu membayangkan bagaimana Agnia melakukan itu untuk Selo.” Bianca menunduk dengan mata yang berkaca-kaca “Aku pasti bodoh, karena aku menerima pernikahan. Tapi, aku sendiri yang seperti ini.”


“Bi, jangan menyalahkan dirimu sendiri, tidak ada yang tahu rasanya menjadi dirimu, tidak ada yang berhak untuk menghakimimu keputusan ada di tanganmu dan jika sekarang kau ingin berubah maka itu keputusan yang baik.”


“Tolong aku Celine. Aku ingin menjadi istri yang baik dan terlepas dari bayang-bayang masa lalu.” Celine mengangguk.


“Ayo kita mulai,” ucap Celine, saat Bianca bangkit Celine melihat punggung Bianca.


“Bianca, seandainya kau tahu, Selo juga mempunyai trauma yang hebat. Hanya saja Sello menutup itu darimu.’ Celine memnbatin karena faktanya selama 2 tahun ini Sello juga masih terus berkonsultasi dengan kekasih Celine yang juga sebagai psikiater hanya saja mereka praktek di rumah sakit yang berbeda.


Sello tidak pernah memberitahukan tentang kondisinya, hingga Bianca menyangka Sello baik-baik saja. Trauma yang dirasakan Selo adalah karena Roland, walau bagaimanapun siksaan Roland masih membekas walaupun sudah dua tahun berlalu dan juga tanpa Bianca sadari, terkadang Sello selalu mendadak tidak bisa berjalan ketika dia mengingat traumanya.