
Tawa Roland begitu menggelegar. Lelaki tampan itu begitu puas saat melihat wajah Bianca yang memar. Ya, karena selain mencengkeram leher Bianca, Roland juga menampar Bianca beberapa kali, hingga pipi Bianca membiru, bahkan kepala Bianca juga berdarah.
Kali ini, Roland benar-benar seperti psikopat yang tidak peduli siapa yang dia hajar. Entah itu wanita atau lelaki, yang pasti barusan dia benar-benar melakukan hal yang mengerikan pada Bianca.
Jangan ditanyakan betapa ketakutannya dan kesakitannya Bianca saat ini, yang pasti rasa takut dan rasa sakitnya sudah berada di level tertinggi. Bianca untuk pertama kalinya dia melihat sisi Roland yang seperti iblis, sebab barusan Roland menamparnya dengan ekspresi yang dingin dan datar.
Sekarang, seluruh wajah Bianca terasa panas, perih. Kepala Bianca pun terasa nyeri karena dia dijambak dengan keras oleh lelaki itu.
Roland menghentikan tawanya kemudian lelaki itu langsung kembali duduk di kursi dan menggeser kursi yang ia duduki ke depan Bianca, lalu setelah itu dia menyeringai. Menatap wajah Bianca yang kacau.
"Apa kau tidak merindukanku, Bianca?" tanya Roland.
Bianca memejamkan matanya, bahkan tubuhnya gemetar. Jangankan melihat melihat Roland, mendengar suara lelaki itu saja rasanya sungguh menakutkan.
"Jawab aku, apa kau tidak merindukanku?" tanya Roland lagi.
Bianca masih diam membisu. Lidahnya seolah kelu untuk digerakkan dan tiba-tiba Roland memukul kepala Bianca dengan pistol. "Jawab aku, Sialan!" teriak Roland hingga tubuh Bianca semakin gemetar.
"Ah, aku ingat kau pernah menamparku saat di restoran," kata Roland.
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi di pipi Bianca, hingga Bianca hanya bisa meringis.
"Seharusnya kau tahu diri. Aku sudah ada di masa sulitmu dan kau malah mencampakanku begitu saja. Kau pikir kau istimewa? Kau pikir kau berharga?!" teriak Roland disertai dengan tawa yang menggema. Dia menatap Bianca dengan cemooh, sedangkan Bianca masih tidak berani mengangkat kepalanya. Dalam hati dia berdoa supaya kedua orang tuanya menemukannya. Dia tidak tahu dengan apa yang terjadi hari esok, jika tidak ada yang menemukannya di sini.
***
Maria mondar-mandir di depan rumah. Dia bingung kenapa Bianca belum pulang. Kemarin malam Bianca menginap di apartemen Maira, dan barusan dia menelepon Maira bahwa Bianca tidak pernah menginap di apartemennya dan seharusnya, jika Bianca tidak pergi ke manapun, Bianca akan pulang pada pukul lima sore. Namun sekarang, sudah pukul setengah dua belas malam.
"Bagaimana, apa kau menemukannya?" tanya Maria ketika Lyodra menghampirinya.
Rupanya, Lyodra baru saja pulang dari rumah sakit untuk mencari putrinya dan CCTV. Orang yang melintas dengan Bianca mengatakan bahwa Bianca sudah pulang pada malam tadi.
Ponsel Bianca mati hingga Lyodra tidak bisa melacak keberadaan putrinya, dan dia juga tidak menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Bianca, sebab Roland sudah tertangkap dan sekarang dia benar-benar tidak tahu di mana putrinya berada. Dia sudah menelpon Gabriel, berharap Bianca ada di sana, tapi Bianca juga tidak ada.
"Bianca tidak ada di sana," ucap Lyodra.
Tubuh Maria hampir ambruk ke lantai. Namun, beruntung Lyodra dengan cepat menahan tubuhnya. Perasaannya mendadak tidak enak. Dia takut ada yang sesuatu yang terjadi dengan putrinya.
"Ayo kita lapor polisi," ajak Maria. Lyodra pun mengangguk. Dia memang berencana untuk melaporkan kehilangan putrinya pada polisi, tapi dia ingin menjemput Maria karena dia tahu Maria pasti menunggunya.
Lyodra menegakkan tubuh Maria. Lelaki paruh baya itu memberikan kekuatan untuk istrinya. Dia benar-benar ketakutan ada yang terjadi dengan putrinya, dan firasat Lyodra juga sama seperti Maria, merasakan firasat yang tak baik.
"Ayo Sayang, kita pergi," ajak Lyodra. Dia pun memapah Maria untuk pergi ke mobil.
Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya, dia tidak sabar untuk pergi ke kantor polisi. Dia pergi ke kantor polisi yang tempat di mana Roland ditahan, untuk memastikan keberadaan lelaki itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lyodra sampai di kantor kepolisian.
Lyodra dan Maria pun turun kemudian mereka berjalan masuk, hingga mereka pun langsung melaporkan kehilangan Bianca.
"Apa Roland masih ditahan di kantor kepolisian ini?" tanya Lyodra.
Tubuh penyidik itu menegang. Namun, dengan cepat dia menormalkan ekspresinya. "Iya Tuan, tahanan Roland baru saja mendapatkan vonisnya tadi pagi," ucapnya.
Lyodra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sayangnya dia percaya bahwa Roland masih dipenjara, padahal saat ini Roland telah mengincar nyawa putrinya.
Akhirnya, acara pelaporan pun selesai. Lyodra dan Maria memutuskan untuk keluar dari kantor kepolisian, mereka memutuskan untuk mencari Bianca.
Selama dalam perjalanan, tubuh Maria gemetar. Tangannya saling menggenggam. Sebagai seorang ibu, feelingnya mengatakan ada yang terjadi dengan putrinya, bahkan tanpa sadar dia merasa seluruh tubuhnya terasa ngilu.
"Ke mana kita harus mencari Bianca?" tanya Maria dengan berlinang air mata.
"Sabar Sayang, kita pasti akan menemukan Bianca," ucap Lyodra. Walaupun Lyodra sendiri tidak yakin. Dia bertekad dia akan terus mencari putrinya.
***
Dua hari kemudian.
Tubuh Bianca terkapar di lantai. Rasanya dia sudah tidak berdaya. Bagaimana tidak, selama dua hari ini Bianca tidak diberikan minum dan juga tidak diberi makan, dan sekarang Bianca ditempatkan di suatu ruangan yang sempit, hanya ada kamar mandi di sana. Tidak ada alas dan tidak ada apapun, hingga Bianca berbaring dengan lantai yang sangat dingin.
Selama dua hari ini, Bianca mendapatkan kekerasan dari Roland. Roland bahkan memukulnya dengan kursi. Lelaki itu begitu kejam hingga tubuh Bianca mengalami luka. Jangan ditanyakan nasib hidup Bianca saat ini. Dia bahkan rasanya ingin mengakhiri hidupnya sendiri, karena tidak tahan dengan apa yang dilakukan Roland padanya.
Tak lama, terdengar suara derap langkah hingga Bianca semakin ketakutan. Wanita itu semakin meringkuk, dan kemudian pintu terbuka. Tiba-Tiba Roland menjambak rambutnya, hingga Bianca langsung terbangun dari tidurnya.
"Ayo ikut," ucap Roland yang menjambak rambut Bianca, dan mengajak Bianca untuk keluar. Bianca tidak ada tenaga untuk melawan.
"Lepaskan tanganmu dari dia, Brengsek!" teriak Selo ketika dia melihat Bianca dijambak oleh Selo. Rupanya setelah Bianca ditangkap, Roland langsung mengirimkan semua foto-foto Bianca pada Selo hingga tanpa basa-basi, Selo langsung pulang ke Rusia.
Lalu tanpa sepengetahuan Roland, Selo menelepon keluarganya, memberitahukan lokasi Bianca sebenarnya. Roland tidak masalah dengan itu, karena dia akan melepaskan Bianca dan akan menawan Selo.
Melihat kondisi Bianca seperti ini, rasanya Selo ingin sekali menerjang wanita itu, tapi sayang dia tidak bisa, sebab dia pun sedang dicekal oleh anak buah Roland.
"Wah, kalian ini pasangan yang serasi. Lihat, dia bahkan berani datang untuk menukarkan nyawanya," ucap Roland membuat Bianca yang sedang menunduk, langsung menatap ke arah Roland. Tatapan keduanya saling mengunci.
"Lepaskan dia," ucap Selo hingga Roland langsung menghempaskan tubuh Bianca hingga Bianca terhuyung ke depan. Wanita itu langsung terkapar.
"Bi," panggil Selo dengan napas yang tidak beraturan. Dia berusaha untuk menghampiri Bianca dan membantu Bianca untuk bangkit, tapi tangannya dicekal oleh anak buah Roland.
"Kisah cinta yang sangat mengenaskan," ucap Roland.
"Bi," panggil Selo. Dia tidak mempedulikan dirinya sendiri. Dia tidak mempedulikan nyawanya yang mungkin sebentar lagi akan di tangan Roland, yang dia inginkan Bianca bebas secepatnya dari tangan lelaki gila ini.
Tiba-Tiba, kepala Selo dipukul oleh anak buah Roland hingga Selo pun terkapar di lantai. Wajah Selo dan wajah Bianca begitu dekat. Saat Selo akan bangkit, punggung Selo diinjak oleh Roland hingga Selo tidak bisa bergerak.
"Ayo saling tatap, siapa tahu ini pertemuan terakhir kalian," ucap Roland.
Tubuh Bianca gemetar saat melihat Selo dan saat mendengar ucapan Roland. Sungguh jika seperti ini, Bianca lebih memilih dia yang mati daripada harus mengorbankan orang lain.
"Selo," panggil Bianca dengan suara yang serak.
Selo tersenyum. "Jangan khawatirkan aku, Bi. Kau akan keluar dari sini," ucap Selo dengan penuh ketulusan membuat Bianca ingin sekali menangis, hanya itu yang Selo bisa katakan dan tak lama kepala Bianca dan kepala Selo dipukul secara bersamaan, hingga keduanya tidak sadarkan diri.
Setelah itu, Bianca ditinggalkan di tempat tersebut. Dia yakin sebentar lagi akan ada yang datang menjemput Bianca, lalu setelah itu mereka membawa Selo dan akan menjadikan Selo sebagai tahanan permainan sebentar, lalu setelah itu dia akan menelepon Gabriel menawarkan kesepakatan.
***
Iringan mobil terlihat di jalan raya. Mobil Gabriel, mobil Lyodra serta beberapa polisi bergerak untuk pergi ke tempat yang disebutkan oleh Selo. Pada akhirnya, mereka mengetahui bahwa Bianca disekap oleh Roland. Tentu saja mereka mengetahui itu dari Selo.
Setelah mengatakan bahwa Bianca disekap oleh Roland, Gabriel langsung mendatangi kepolisian. Dia bahkan langsung menghajar kepolisian yang bertanggung jawab menangani kasus Roland. Tenaga Gabriel seolah bertambah berkali-kali lipat hingga polisi yang ada di sana langsung terkapar, dan setelah itu dia langsung meminta kepolisian yang lain untuk mengawal mereka. Sungguh, Gabriel bersumpah tidak akan melepaskan polisi yang menutupi kaburnya Roland.
Lyodra mengendarai mobilnya sengan kecepatan penuh. Jantung lelaki itu seperti akan terbelah ketika melihat foto-foto Bianca yang dikirimkan oleh Selo.
Ya, Roland memang mengirimkan foto Bianca dalam kondisi mengenaskan, dan Selo mengirim foto itu pada ayahnya hingga semua mengetahui keadaan Bianca.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya rombongan Gabriel dan Lyodra sampai di tempat. Mereka pun langsung bergegas keluar, lalu setelah itu berlari ke arah masuk.
Brak!
Lyodra langsung menendang pintu hingga pintu terbuka.
"Bianca!" teriak Lyodra saat dia melihat Bianca terkapar di tanah, dia pun langsung bergegas menghampiri putrinya dan ternyata putrinya tidak sadarkan diri.
Ketika sudah berada di dalam, Gabriel serta anak buahnya dan para polisi mencari Selo di sekitar tempat tersebut. Gabriel mencengkeram erat meja yang ada di depannya, ketika dia menemukan lembaran kertas yang bertuliskan, 'Tuan Gabriel, putramu akan aman bersamaku.'
Tulisan Roland dalam kertas itu membuat rahang Gabriel mengeras. Dia pun langsung bergegas untuk keluar dari salah satu ruangan yang ada di gudang tersebut, lalu setelah itu dia mengajak anak buahnya untuk pergi, sedangkan Bianca sudah dibawa oleh Lyodra.
***
Lyodra mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang. Rasanya, dia tidak sabar untuk segera pergi ke rumah sakit. Dia terus sesekali dia melihat ke arah di mana Bianca terbaring di pangkuan Maria.
Maria menangis sesenggukan melihat wajah putrinya, dan keadaan putrinya yang sangat mengenaskan, bahkan yang membuat Maria hancur adalah kepala Bianca terus mengeluarkan darah. Wajah Bianca yang memar.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lyodra sampai di rumah sakit. Lelaki itu pun bergegas untuk masuk lalu menggendong putrinya.
Lyodra berlari kemudian membawa Bianca ke ruang IGD. Dia berteriak memanggil tim medis agar Bianca segera ditangani.
***
Maria dan Lyodra menunggu dengan harap-harap cemas. Saat ini, Bianca sudah ditangani oleh dokter. Tubuh Maria rasanya benar-benar lemas memikirkan apa yang terjadi pada Bianca selama dua hari ini. Tak bisa dibayangkan betapa kesakitan putrinya menerima apa yang Roland lakukan.
Tak lama, dokter keluar hingga Maria dan Lyodra langsung berjalan menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan putriku?" tanya Maria.
"Kondisi pasien kritis. Pasien mengalami perdarahan di otaknya. Giginya patah, belum lagi mengalami luka memar. Kami akan segera menyiapkan ruang operasi. Tolong segera tanda tangani berkas-berkasnya," ucap dokter.
Tubuh Maria ambruk ke lantai saat mendengar apa yang dokter ucapkan, begitupun dengan Lyodra. Namun, secepat kilat dia berbalik lalu menenangkan Maria. Karena jika dia ikut panik dan ikut terpukul, Maria mungkin akan drop hingga setelah Maria tenang, dia langsung berjalan mengikuti dokter untuk menandatangani berkas-berkas.
Saat Lyodra pergi, Maria langsung masuk ke dalam ruang rawat putrinya, di mana Bianca terbaring dengan tak sadarkan diri. Maria menjerit. Dia meraung kelihatan ketika melihat ternyata bukan wajah Bianca yang memar, seluruh tubuh Bianca juga ikut memerah. Bagaimana tidak, Bianca dipukul oleh tongkat baseball dan juga kursi.
Maria memeluk putrinya. Berjuta-juta kata maaf dia gaungkan untuk Bianca. Dia memeluk tubuh putrinya begitu erat.
Beberapa menit berlalu, akhirnya pintu ruang rawat Bianca terbuka. Muncul beberapa suster yang akan membawa Bianca ke ruang operasi.
"Maaf Nyonya, kami akan membawa pasien untuk pergi ke ruang operasi," ucap suster.
Maria menghentikan tangisnya. Dia berusaha menguatkan dirinya hingga Maria mengangguk, lalu membiarkan Bianca dibawa oleh suster dan Maria mengikuti dari belakang.
"Dad," panggil Maria ketika Lyodra dari lift, hingga Maria tidak mengikuti Bianca ke ruang operasi. Dia memeluk istrinya. Lelaki paruh baya itu rasanya juga ingin meraung, menangis memanggil nama putrinya, tapi dia harus tetap bisa menyembunyikan perasaannya demi membuat Maria tenang dan tidak apa-apa.
***
Selo berteriak ketika Roland menyetrum tubuhnya. Tubuh Selo sudah lelah. Bagaimana tidak, sedari tadi sampai di tempat ini, Roland langsung menyiksa Selo dengan cara memukul, menyetrum dan juga melakukan hal lain, hingga sekarang tubuh Selo benar-benar tidak berdaya. Selo hanya bisa berteriak guna melampiaskan rasa sakitnya. Roland tertawa saat melihat Selo seperti ini.
"Kemarin kau sombong sekali. Lihatlah sekarang kau tidak bisa melakukan apapun," ucap Roland.
Selo tidak menjawab. Dia bahkan tidak sanggup menegakkan kepalanya. Darah sudah mengucur dari kepala dan hidungnya.
"Kau pikir ayahmu yang hebat itu bisa menyelamatkanmu? Oh, tentu tidak. Mereka tidak akan bisa menyelamatkanmu," jawab Roland. Dia sudah memilih tempat yang aman dan yakin Gabriel tidak akan menemukannya.