Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Berdebar


Tangan mungil Theresia mengelus perut Dareen hingga Darren tersenyum. Dia menjauhkan tangannya, membiarkan tangan Theresia berada di atas perutnya.


"Terima kasih, Theresia," kata Darren.


Theresia tidak menjawab, dia merebahkan kepalanya di brankar dengan membelakangi Darren, tapi tangannya tidak berhenti mengelus perut sang ayah, membuat mata Darren berkaca-kaca.


Setengah jam kemudian.


Theresia kembali menguap, sepertinya kantuk mulai melanda gadis kecil itu. Theresia menghentikan gerakan tangannya karena tanpa sadar dia memejamkan mata, membuat Darren terkekeh.


Perlahan, Darren bangkit dari berbaringnya kemudian dia langsung membopong tubuh Theresia, hingga Theresia kembali terbangun.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Theresia.


"Ayo tidur lagi," kata Darren.


"Tidak mau," jawab Theresia yang meronta


Namun, Darren tidak mendengar ucapan putrinya, dengan susah payah dia menarik lembut kaki Theresia agar naik ke arah brangkar, hingga kini Theresia tertidur dalam pelukan Darren. Tenaga Darren sepertinya sudah sedikit membaik hingga dia mampu menggendong putrinya. Rasa sakit di kepalanya juga sudah sedikit berkurang, dan pada akhirnya kali ini Theresia berada di pelukan sang ayah.


Nyaman, satu kata yang Theresia rasakan. Dia begitu nyaman ketika dia tertidur di pelukan Darren. Satu tangan Darren mengelus rambut Theresia, membuat mata gadis kecil itu berkaca-kaca. Entah kenapa, rasanya dia ingin menangis antara senang dan juga takut. Pada akhirnya, Theresia pun langsung terlelap karena pelukan Darren begitu nyaman.


Mata Dareen berkaca-kaca ketika memeluk putrinya. Untuk pertama kalinya setelah dia bertobat, mungkin ini pertama kalinya juga dia tidur sambil memeluk putrinya. Perlahan, Darren memalingkan tatapannya ke arah samping kemudian dia mengecup kening putrinya, lalu setelah itu dia pun ikut terlelap ketika Theresia sudah memejamkan mata.


***


Shelby terbangun dari tidurnya. Rupanya sedari tadi, Shelby terbangun ketika Theresia mengelus-ngelus perut Darren. Dia terbangun karena mendengar suara Theresia yang berbicara ketua pada Darren. Dia sengaja mengintip dan tidak menghampiri Theresia agar Thresia semakin dekat dengan Dareen, dan ketika melihat Darren dan Theresia sudah memejamkan mata, perlahan Shelby bangkit dari berbaringnya kemudian wanita cantik itu langsung berjalan dengan pelan ke arah brankar, lalu setelah itu dia menarik selimut untuk Darren dan juga untuk Theresia.


Ketika Shelby sudah memakaikan selimut untuk anak dan suaminya, Darren membuka mata. Tatapannya dan tatapan Shelby saling mengunci.


"Aku pikir kau tidur," kata Shelby.


"Tidak, perutku sakit," jawabnya. Seperti tadi, Darren berbohong. Dia ingin lebih dekat dengan Shelby, setidaknya dia ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya sebelum kondisinya kembali pulih, dan pasti Shelby akan kembali dekat dengan Mario.


Shelby menarik kursi kemudian dia mendudukkan diri di sebelah brankar, lalu setelah itu dia mengelus Darren. "Tidurlah, aku akan menghelus perutmu," kata Shelby dengan polosnya.


Darren mengangguk kemudian dia memejamkan mata. Satu tangannya bergerak untuk mengelus rambut Theresia dan pada akhirnya, setengah jam berlalu, Shelby merasa kantuk mulai menyerangnya dan tanpa sadar dia merebahkan kepalanya di brankar, hingga pada akhirnya wanita cantik itu pun terlelap.


Ketika Shelby menghentikan gerakannya, Darren membuka mata kemudian dia mengelus rambut Shelby.


"Seandainya Tuhan memberikan kesempatan untuk bersamamu, aku pasti akan menggunakannya sebaik mungkin," ucap Darren. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu. Dia menyadari mungkin saja sebentar lagi Mario akan berhasil mengambil hati Shelby.


Malam berganti pagi, Theresia dan Shelby memutuskan untuk pulang karena Theresia harus bersekolah dan dia pun harus segera mengajar.


"Darren, kau yakin tidak apa-apa menunggu di sini sendiri?" tanya Shelby.


Darren mengangguk. "Tidak apa-apa," jawabnya.


"Nanti setelah mengajar, aku akan kembali lagi ke sini," kata Shelby hingga Darren mengangguk, "ya sudah, sampai jumpa."


Shelby dan Theresia pun keluar dari ruang rawat Darren.


"Theresia," panggil Shelby ketika dia sedang menyetir mobil.


"Apa?" tanya Theresia yang sedang memainkan tabnya.


"Kau khawatir pada Daddy?" tanya Shelby yang berusaha memancing Theresia.


"Aku khawatir? Mana mungkin aku khawatir," jawab Theresia membuat Shelby terkekeh.


"Mommy tahu kau sakit hati pada Daddy, tapi kenapa kau tidak coba membuka hatimu untuk memaafkan Daddy? Bukankah dengan memaafkan hatimu bisa jauh lebih lega?" tanya Shelby.


"Mommy, apa Mommy tidak mengingat apa yang dilakukannya selama ini?" tanya Theresia, emosi Theresia berapi-api membuat Shelby menghela napas.


"Ya sudah," kata Shelby hingga Shelby pun langsung kembali fokus untuk mengemudi jalan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Shelby sampai di apartemen dan mereka pun langsung turun dari mobil, lalu berjalan untuk naik ke apartemen mereka.


***


Theresia mendudukkan diri di taman. Saat ini jam istirahat sedang berlangsung dan seperti biasa, Theresia kerap menghabiskan waktunya seorang diri di taman. Dia tidak pernah mau ditemani oleh siapa pun. Mungkin jika ada Tristan, Tristan yang akan menemaninya. Sayangnya, Tristan masih belum pulang dari melaksanakan turnamen bola.


Mata Theresia menatap ke arah depan. Sedari tadi dia merasakan tidak tenang karena dia teringat sang ayah yang sedang berada di rumah sakit, dan entah kenapa rasanya Theresia ingin kembali lagi secepatnya melihat keadaan sang ayah.


"Ekhem." Tiba-Tiba, Shelby berdeham, menyadarkan Theresia dari lamunannya hingga Shelby menoleh.


"Kenapa kau belum memakan makan siangmu?" tanya Shelby.


"Aku tidak lapar," balas Theresia dengan tidak semangat.


Shelby mendudukkan diri di sebelah putrinya kemudian dia membukakan kotak makan siang milik Theresia, dan setelah itu dia pun langsung menyuapi putrinya hingga Theresia langsung membuka mulut.


"Mommy," panggil Theresia, dia ingin bertanya tentang keadaan Darren. Mungkin saja Shelby tahu keadaan Darren sekarang.


"Apa?" tanya Shelby.


"Tidak jadi," jawabnya. Seperti biasa, gadis kecil itu masih gengsi untuk bertanya.


"Daddy baik-baik saja, dia juga sudah makan dan juga sudah minum obatnya," ucap Shelby yang mengerti apa maksud putrinya.


"Memangnya siapa yang bertanya tentang dia?" tanya Theresia, tapi wajahnya mengiyakan ucapan Shelby.


"Kau tidak khawatir pada Daddy?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku sudah bilang tidak khawatir," kata Theresia membuat Shelby mengangguk-anggukkan kepalanya.


Acara jam makan siang pun selesai.


Shelby mendahului untuk pergi ke kelas, sedangkan Theresia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Saat dia berjalan dan akan melewati lorong, tiba-tiba Theresia menghentikan langkahnya ketika dia merasa ada yang memperhatikannya hingga dia menoleh ke arah belakang.


Kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Theresia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk ke toilet, tapi lagi-lagi Theresia menghentikan langkahnya ketika dia masih merasa diperhatikan. Namun seperti tadi, tidak ada siapa pun di sana membuat Theresia kebingungan.


Gadis itu pun langsung melanjutkan langkahnya dengan cepat untuk pergi ke kamar mandi. Setelah Theresia pergi, Mia keluar dari persembunyiannya, wanita itu langsung menyeringai.


Ini sudah tiga tahun berlalu semenjak dia putus dari Darren, selama tiga tahun ini pula dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas lelaki itu, sebab dia masih mempunyai dendam yang luar biasa hebat pada Darren. Dia sengaja tidak bergerak saat itu karena dia yakin Darren akan membalasnya berkali-kali lipat, dan sekarnag waktunya pembalasan di mulai..Setelah Theresia tidak terlihat, Mia pun berbalik kemudian wanita cantik itu keluar dari area sekolah.


.Mia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, wanita cantik itu bersenandung ria karena bahagia sebentar lagi dia akan melihat kehancuran Darren. Dia tidak akan pernah membiarkan Darren hidup bahagia setelah menghancurkan hidupnya.


Tak lama, ponselnya berdering, satu panggilan masuk dari anak buahnya.


"Bocorkan nanti saja setelah aku memberikan perintah," kata Mia. Dia akan menyuruh anak buahnya untuk menyebarkan foto syur dirinya dan Darren. Dia juga akan menyebarkan data-data perusahaan yang berhasil dia kumpulkan, dan dia akan menjualnya ke perusahaan lawan agar perusahaan Darren kolaps.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mia sampai di basement apartemennya. Wanita itu langsung turun dari mobil kemudian dia langsung berjalan ke arah dalam.


"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Mia pada Rush.


"It's oke, no problem," kata Rush.


Ya, pada akhirnya Mia bekerja sama dengan Rush. Saat Tommy menangkap Rush, Tommy memberikan hukuman yaitu menyiksa Rush dan setelah Rush terlihat tidak berdaya Tommy menyuruh anak buahnya untuk mengembalikan Rush ke negaranya. Namun karena Rush yang masih dendam, tahun lalu setelah pulih dia kembali lagi ke Rusia karena dia masih merasakan rasa dendam yang luar biasa pada Darren.


Lalu karena tahu Mia sudah diputuskan oleh Darren, akhirnya Rush mendatangi wanita itu dan mengajak Mia untuk bekerja sama, dan tentu saja Mia menyetujui itu bahkan hubungan mereka jauh dari kerja sama. Mereka memutuskan untuk tinggal satu atap dan tentu saja, ada yang terjadi di antara mereka sebagai partner dendam pada Darren, mereka juga partner ranjang


"Kau sudah berhasil memata-matai Theresia?" tanya Rush. Dia mengulurkan tangannya pada Mia hingga Mia menerima uluran tangan Rush, lalu setelah itu wanita itu pun mendudukkan diri di pangkuan lelaki itu.


"Rasanya aku tidak sabar untuk segera menculik gadis itu. Aku akan membuat Darren memohon," kata Mia lagi, metode yang dipakai Mia untuk membalas dendam sebenarnya tidak jauh dari metode yang Rush lakukan dulu, yaitu menjadikan Theresia sebagai umpan agar Darren menuruti keinginannha, hanya saja sekarang mereka meminta Darren melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang kemarin Rush minta.


***


Shelby dan Theresia keluar dari sekolah. Jam pelajaran sudah berakhir dan Shelby berencana untuk menitipkan Theresia di rumah kedua mertuanya.


Shelby mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan, sedangkan Theresia terus melihat ke arah jalan. Dia melihat jalan yang dilewati oleh ibunya.


Tak lama, Theresia mengerutkan keningnya kala sang ibu ke jalur bukan untuk ke rumah sakit, melainkan untuk ke rumah kedua kakek dan neneknya.


"Mommy, kenapa Mommy mengendarai mobil lewat kemari?" tanya Theresia.


Shelby menoleh. "Mommy harus menjaga Daddy di rumah sakit, kau bersama kakek dan nenek dulu, oke?" tanya Shelby.


Theresia tampak terdiam, dia tidak menjawab lagi ucapan ibunya hingga Shelby menoleh.


"Kau mau ikut ke rumah sakit menemui Daddy? Tristan nanti juga pulang.”


"Ya sudah, aku ingin menunggu Tristan saja di rumah sakit," jawabnya. Bagai mendapat angin segar, dan tidak memerlukan alasan lagi, Theresia dengan cepat mengiyakan ucapan Shelby yang menyuruhnya menunggu di rumah sakit hingga Shelby langsung memutarbalikkan mobilnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Shelby sampai di rumah sakit. Theresia pun turun diikuti Shelby di belakangnya.


Saat mereka turun, Theresia melihat lagi ke arah belakang. Entah kenapa perasaan tadi datang lagi, di mana saat tadi merasa diikuti. Theresia berbalik hingga Shelby melarutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Shelby yang merasakan putrinya bersikap aneh.


"Tidak apa-apa, ayo," ajak Theresia dan mereka pun melanjutkan langkahnya.


Saat masuk ke dalam ruang rawat, Shelby menghela napas ketika Darren duduk sambil memangku laptop. Sepertinya tadi Darren menghubungi sekretarisnya menyuruh sekretarisnya untuk membawakan laptop untuknya, dan setelah laptopnya tiba, dia langsung mengerjakan pekerjaannya. Sekarang, rasanya Shelby meradang ketika melihat Darren seperti ini.


"Darren," panggil Shelby hingga Darren langsung menoleh.


Mata Darren membulat saat melihat Shelby ada di depannya, lelaki itu langsung menutup laptopnya. Shelby maju ke arah brankar kemudian dia menarik laptop.


"Ini ...." Shelby menghentikan ucapannya ketika Darren tertunduk


"Tadi sekretarisku yang mengantarkannya kemari, dia mengatakan ada pekerjaan yang harus aku tangani," dusta Darren, padahal jelas-jelas dia yang minta sekretarisnya datang.


Shelby melihat ke arah nakas di mana Darren belum memakan makan siangnya, padahal ini sudah dua jam berlalu. Darren masih belum memakan makan siangnya dan malah fokus pada pekerjaan.


"Darren, kau belum memakan makan siangmu?" tanya Shelby.


Darren menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Aku lupa," jawabnya dengan cengengesan. Tatapan Darren langsung beralih pada Theresia yang juga sedang menatapnya dan setelah saling tatap, Theresia memalingkan tatapannya ke arah lain. Dua pun langsung mendudukkan diri di sofa bed.


Shelby menyimpan tasnya kemudian dia membuka penutup makanan yang ada di nampan. Wanita itu langsung mengaduk bubur.


"Shelby, aku bisa sendiri," kata Darren ketika Shelby akan menyuapinya hingga Darren pun langsung menarik mangkuk bubur dari lengan Shelby.


"Kenapa makanan di rumah sakit tampak tidak enak? Bisakah kita memesan saja di luar?" tanya Darren.


"Ayo, pesankan aku ayam goreng dan pizza," katanya lagi.


"Darren, kau ini benar-benar, ya. Makanlah seperti biasa." Ucapan Shelby bagi ultimatum untuk Darren. Apapun yang keluar dari mulut Shelby, langsung lelaki itu ikuti Padahal di masa lalu, jangankan seperti ini.


"Theresia, kay sudah makan?" tanya Darren sebelum dia memasukkan makanannya. Seperti biasa, Theresia tidak menjawab.


Darren langsung memasukkan makanannya ke dalam mulut, hingga akhirnya bubur di piring Darren pun kandas. Butuh waktu yang lama untuk Darren memakan makanannya, membuat Shelby merasa gemas.


"Ayo minum ini," ucap Shelby yang menyerahkan minuman pada Darren, dan juga setelah itu menyerahkan vitamin untuk suaminya.


Satu minggu kemudian.


Ini sudah satu minggu berlalu, akhirnya Darren diperbolehkan untuk pulang. Selama satu Minggu ini pula, Shelby dengan setia menjaga Darren. Dia selalu pulang ke rumah sakit setelah bekerja. Tristan dan Theresia menginap di rumah Tommy dan Mayra, karena tidak bagus untuk anak kecil jika terus diam di rumah sakit.


Darren mematut dirinya di cermin. Wajah lelaki itu sudah sedikit lebih segar dari sebelumnya, tidak lagi pucat seperti kemarin.


Saat Darren akan keluar, tiba-tiba pintu terbuka, muncul sosok Shelby dan Mario. Shelby baru saja pulang bekerja dan ternyata Mario ingin ikut bersama Shelby, hingga mereka datang ke rumah sakit bersama-sama. Seperti biasa, jantung Darren seperti tertusuk belati saat melihat Shelby dan Mario. Namun, dia menyamarkannya dengan senyuman.


"Kenapa kau kemari? Padahal aku baru saja akan pulang," kata Darren.


"Maafkan aku yang telat menjengukmu," kata Mario hingga Darren terkekeh.


"Darren, kau sudah siap? Ayo ikut dengan mobil Mario" kata Shelby hingga Darren mengangguk. Kini, ketiga orang itu keluar dari ruang rawat dan mereka pun langsung keluar dari rumah sakit.


Mario menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kali ini, Mario berbicara dengan Shelby, sedangkan Darren yang sedang duduk di belakang hanya menyimak Shelby dan Mario yang tampak sangat akrab. Jangan ditanyakan betapa panasnya hati Darren saat ini, yang pasti rasanya dia sedang terbakar api cemburu karena dia merasakan Shelby begitu nyaman berbicara dengan Mario.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mario sampai di basement apartemen Darren.


"Ayo Mario," kata Shelby yang mengajak Mario untuk masuk.


"Oh, kau ingin ikut ke apartemenku?" tanya Darren dengan spontan bertanya membuat Mario mengerutkan keningnya.


"Kau keberatan?" tanya Shelby.


"Tidak maksudku bukan begitu," jawab Darren.


"Sebentar lagi, 'kan, jam makan siang jadi aku akan membuatkan hidangan untuk kalian," kata Shelby dan entah kenapa, rasanya hati Darren begitu panas ketika mendengar Shelby mengatakan itu. Jika boleh protes, dia ingin protes dan melarang Shelby memasakkan makanan untuk Mario.


Mario mengerutkan kening saat melihat ekspresi. Sepertinya, dia mengerti bahwa dia sedang cemburu. Dia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Oh maaf Shelby, sepertinya aku tidak bisa. Ada meeting yang harus aku tangani," kata Mario. Darren bersorak saat mendengar ucapan Mario.


Raut wajah Shelby tampak kecewa.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Shelby. Dia pun turun dari mobil.


"Terima kasih, Mario, sudah mengantarkan kami," ucap Darren hingga Mario mengangguk. Setelah itu, Darren pun langsung turun dari mobil dan mereka pun berjalan dengan Darren di belakang tubuh Shelby.


"Shelby," panggil Darren. S.helby menoleh.


"Kau kesal Mario tidak ikut?" tanya Darren, dia sengaja bertanya seperti itu pada Shelby, dia ingin tahu jawaban istrinya sebab dia merasa raut wajah Shelby berubah ketika Mario tidak jadi mampir ke apartemen.


"Tidak, biasa saja," jawab Shelby.


Sebenarnya, Shelby ingin memasakkaan Mario sebagai rasa bentuk terima kasih, karena berkat Mario dia bisa mendapatkan relasi yang sangat berarti. Mario mendukung Shelby untuk Shelby membuka galeri lukis sendiri, dan sebagai rasa tanda terima kasih dia ingin memaksakkan Mario dan makan bersama. Namun ternyata, Mario tidak bisa hadir dan itu yang membuat Shelby merasa kesal pada Mario, apalagi dia sudah berjanji untuk memasakkan Mario makanan.


***


"Theresia, apa kau belum mau bermain bersama Daddy?" tanya Tristan.


"Kenapa kau harus membahas itu? Kau memperburuk mood-ku," kata Theresia. Saat ini mereka sedang di mobil untuk pulang.


Tristan bertanya karena dia penasaran dengan jawaban Theresia. Selama ini dia sudah membujuk adiknya untuk memaafkan Darren, dia juga sudah mendekatkan Theresia pada sang ayah, tapi Theresia tidak mau mendekat dan sekarang Tristan benar-benar lelah untuk membujuk Theresia.


Ini sudah tiga tahun berlalu, adiknya benar-benar keras kepala dan tidak mau memaafkan ayahnya, padahal Tristan ingin segera mendapatkan keluarga yang utuh. Namun, adiknya masih tidak mau berdamai. Tristan ingin seperti anak-anak lain, mengajak keluarganya untuk berlibur bersama. Namun selama tiga tahun ini, Theresia ia tidak pernah mau diajak dan sekarang dia benar-benar gemas padahal ayaha sudah berubah.


"Apa salahnya kau memaafkan Daddy?" tanya Tristan, nada suara Tristan berubah, terlihat jelas bahwa dia begitu kesal membuat Theresia menoleh.


"Kenapa kau kesal padaku? Memangnya apa salahku?" tanya Theresia.


Kedua anak kembar itu terus berdebat.


"Itu semua, 'kan, sudah berlalu, Theresia. Tidak bisakah kau berdamai? Kita bisa menikmati waktu berempat. Aku, kau, Mommy dan Daddy," ucap Tristan.


Seketika, Theresia dilanda kekesalan ketika kakaknya terus memojokkannya.


"Kau tidak tau rasanya menjadi aku, jadi kau tidak merasakannya!" Theresia berteriak, seperti biasa dia akan lebih meninggikan suaranya ketika Tristan kesal padanya. Seketika, Tristan mengatupkan bibirnya. Rasanya, percuma berdebat dengan sang adik. Lalu setelah itu, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang dan melihat ke arah jendela.


"Tristan kau tidak tahu rasanya menjadi aku. Kau pikir enak tak diacuhkan selama bertahun-tahun?" Pada akhirnya, Theresia pun mengatakan semua amarahnya pada Tristan, sedangkan Tristan langsung memejamkan matanya karena dia malas mendengar ocehan Theresia.


Sopir yang mendengar pertengkaran mereka, hanya bisa menggeleng sebab ini bukan sekali dua kali Theresia dan Tristan berdebat di mobil.


"Sudah berhenti menangis, aku minta maaf," kata Tristan ketika Theresia menangis. Rupanya setelah mengeluarkan unek-unek itu, Theresia tidak kuasa menahan tangisnya karena walau bagaimanapun apa yang dirasakan oleh gadis kecil itu sangat berat. Jika Tristan memintanya untuk memaafkan Darren, tentu saja Theresia akan seperti ini walaupun tanpa dia sadari dia sudah menerima kehadiran sang ayah.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh supir sampai di basement.


"Paman, terima kasih," kata Tristan yang pamit pada sopir.


"Kalian tidak ingin Paman mengantarkan ke atas?" tanya sopir.


"Tidak usah, Paman. Aku akan naik bersama Theresia." Setelah itu, Tristan pun turun diikuti oleh Theresia.


"Theresia, tunggu aku," ucap Tristan ketika Theresia terus berjalan mendahuluinya. Theresia yang masih kesal pada Tristan, tidak menoleh. Dia terus berjalan meninggalkan sang kakak membuat Tristan menggeleng.


"Kenapa dia mirip sekali dengan Daddy?" tanya Tristan.


Setibanya di apartemen milik kedua orang tuanya, Tristan langsung merogoh tas kemudian mengambil ponsel lalu menelepon ibunya, meminta untuk membukakan pintu dan tak lama pintu terbuka. Saat pintu terbuka, Theresia langsung masuk. Dia bahkan tidak menyapa ibunya. Sepertinya, Theresia kembali bernostalgia dengan rasa sakitnya di masa lalu karena ulah Tristan, itu sebabnya saat pintu terbuka dia langsung masuk ke dalam tanpa menyapa sang ibu.


"Theresia, kau kenapa?" tanya Darren saat melihat Theresia masuk dengan wajah yang membasah. Theresia menghentikan langkahnya kemudian dia menatap Darren dengan tatapan marah.


"Theresia," panggil Darren lagi, dan pada akhirnya Theresia pun melanjutkan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Darren saat Tristan masuk.


"Kenapa Theresia seperti itu?" tanya Darren.


"Ah, lupakan," kata Tristan yang malas membahas kenapa adiknya bersikap seperti itu.


"Ya sudah kalau begitu. Kau pergi ke kamar dan ganti pakaianmu dengan piyama," ucap Shelby.


Tristan pun mengangguk karena memang saat ini, Tristan masih tidur bersama Dareen.


"Tunggu, aku ingin berbicara dengan Theresia," kata Darren.


"Kau yakin? Sepertinya Theresia sedang tidak bisa diganggu," kata Shelby lagi.


"Tidak apa-apa, biar aku berbicara dengan Theresia," kata Darren. Dia yakin apa yang dan terjadi antara Tristan dan Theresia menyangkut dirinya, sebab ini juga bukan pertama kali dia melihat Theresia seperti ini.


Darren masuk ke dalam kamar dan ternyata Theresia sedang duduk di sofa. Bahu gadis kecil itu bergetar, sepertinya Theresia masih merasakan rasa sesak karena membahas apa yang terjadi di masa lalu. Dia juga masih merasa kesal karena Tristan terus memojokkannya, seolah dia yang bersalah.


Darren menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Theresia. "Kau begini karena Daddy?" tanya Darren, dia menghapus air mata Theresia.


Theresia tidak menjawab, dia malah memalingkan tatapannya ke arah lain.


"Theresia, sekarang kau sudah berumur dua belas tahun dan kau mengerti apa yang akan Daddy ucapkan." Darren menjeda sejenak ucapannya kemudian dia menggenggam tangan Theresia.


"Seberapa pun Daddy mengatakan bahwa Daddy menyesal dan ingin menebus semuanya, Daddy tahu itu tidak akan cukup dan Daddy juga tidak akan menyerah untuk mengejar maafmu. Entah itu setahun, dua tahun atau selamanya, Daddy tidak akan pernah berhenti untuk membuktikan bahwa daddy benar-benar menyesal sekarang. Daddy sangat menyayangimu, menyayangi Tristan," ucap Darren. Dia kembali menghapus air mata Theresia ketika tangis putrinya kembali berlinang begitu saja saat mendengar penyesalan sang ayah.


"Kenapa kau begitu tega membedakan aku dengan Tristan? Apa salahku?" Theresia berbicara dengan menangis sesegukan, sepertinya gadis kecil itu ingat kekesalannya pada sang ayah.


"Katakan Theresia, katakan rasa sakit yang kau rasakan pada Daddy. Daddy akan mendengarkannya," kata Darren.


Pada akhirnya, emosi Theresia kembali memuncak ketika Darren mengatakan itu. Dia mengatakan semuanya dengan berapi-api, gadis yang sebentar lagi akan menginjak remaja itu, tidak berhenti mengeluarkan air mata karena dia mengingat rasa sesak demi rasa sesak yang dia rasakan karena ulah Darren di masa lalu, hingga setengah jam berlalu Theresia sepertinya sudah mulai kehilangan tenaganya.


Bukan hanya Theresia saja yang menangis, Darren pun juga menangis sebab Theresia benar-benar menumpahkan semua emosinya. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun berlalu, Darren mendengar semua dari mulut sang putri.


Setelah Theresia sedikit tenang, Darren menggenggam tangan putrinya. "Katakan Theresia, apa yang harus Daddy lakukan," ucapnya.


Theresia menatap sang ayah dengan mata yang basah.


"Katakan apa yang harus dilakukan untuk menebus semuanya? Kau ingin Daddy pergi dari hadapanmu dan tidak menunjukkan wajah Daddy di hadapanmu?" tanya Darren. Seketika, Theresia terdiam. Membayangkan hal itu saja membuat dia meringis.


"Oke Theresia, sepertinya kau butuh waktu untuk memaafkan Daddy karena Daddy terlalu memaksa masuk ke dalam kehidupanmu." Darren bangkit dari berlututnya.


"Untuk sementara waktu, Daddy akan pergi ke luar negeri dan Daddy akan kembali jika kau sudah memaafkan Daddy," kata Darren. Sebenarnya dia hanya mencoba bermain tarik ulur perasaan dengan Theresia, karena dia tahu Theresia tidak akan mungkin membiarkannya pergi.


Darren membungkuk kemudian mengecup kening Theresia.


"Jaga dirimu baik-baik, Sayang," kata Darren. Setelah itu, dia berbalik.


Saat mengatakan Dareen akan pergi, tiba-tiba Theresia dilanda rasa sakit yang luar biasa. Entah kenapa dia seolah tidak rela ayahnya mengatakan itu dan ketika ayahnya berbalik Theresia melihat ke arah belakang, dia melihatmu ayahnya semakin menjauh.


Theresia kembali melihat ke arah depan, dia memejamkan matanya, meresapi perasaan yang berkecamuk dalam dada. Haruskah dia tetap bersikap seperti ini dan membiarkan Dareen pergi sampai dia siap lagi bertemu dengan sang ayah. Ataukah dia harus mengakhiri semua rasa sakitnya dan berdamai dengan masa lalu.


Walau bagaimanapun, selama 3 tahun ini dia sudah terbiasa dengan perhatian Dareen, dia sudah biasa dengan kehadiran ayahnya dan ketika ayahnya mengatakan akan pergi, tentu saja itu terasa aneh.


Dareen yang sudah akan keluar dari kamar memperlambat langkahnya, menunggu Theresia mendekat. Dia harap Theresia terkecoh dengan langkah apa yang diambil, jika Theresia tidak terkecoh dia harus benar-benar pergi, sedangkan mana mungkin dia pergi meninggalkan apartemen ini, dia tidak akan sanggup berpisah dengan putra-putrinya.


Saat berada di depan pintu dan bersiap untuk keluar dari kamar Shelby, Dareen menghentikan langkahnya, menunggu Thersia. Dan karena Tidak kunjung mendengar derap langkah, Dareen pun melihat ke arah belakang.


Mata Dareen membulat saat melihat therasia masih terduduk, dan tiba-tiba satu ide muncul di kepala Dareen, hingga Dareen pun langsung keluar dari kamar Shelby, dia akan berpura-pura membawa koper dan akan berpura pergi di hadapan Theresia.


“ Bagaimana apa keberhasilan berbicara dengan Theresia?" tanya Shelby.


“Sebentar," jawab Dareen, bukannya menjawab pertanyaan Shelby, Dareen malah pergi berlalu meninggalkan Shelby membuat Shelby kebingungan hingga dia langsung mengikuti langkah Dareen, karena dia rasakan ada yang akan Dareen lakukan.


“Dareen, kenapa kau membawa koper?" Tanya Shelby ketika Dareen membawa koper dan tak lama Shelby kembali mengerutkan keningnya ketika Dareen memakai mantel seperti orang yang akan pergi. “Dareen, aku sungguh tidak mengerti, kau memakai mantel dan kau membawa koper, sebenarnya kau akan pergi ke mana?" tanya Shelby lagi yang kebingungan.


“Aku sedang bermain tarik ulur perasaan dengan Theresia." Shelby semakin bingung dengan ucapan Dareen. “Kau tunggu saja di sini atau kau boleh ikut dan lihat apa yang aku lakukan," seloroh Daren. Akhirnya, Dareen pun melewati tubuh Shelby dan keluar dari kamarnya. Lalu setelah itu berjalan ke arah kamar Shelby. Sedangkan Tristan yang bermain ponsel sama sekali tidak fokus dengan apa yang kedua orang tuanya lakukan, dan setelah Dareen pergi, Shelbi pun menyusul suaminya.


Saat berada di depan kamar Selby, Dareen terdiam sejenak dia tidak langsung masuk ia berusaha untuk menormalkan ekspresinya agar terlihat sedih dan setelah merasa dia siap, Dareen pun langsung membuka pintu kemudian langsung masuk ke dalam dan ternyata Theresia masih berada di posisinya, yaitu duduk di sofa.


Dareen sedikit ragu ketika akan pamit pada Theresia, jika Theresia tidak mencegahnya seperti tadi. Dia benar-benar terpaksa harus pergi dari apartemen ini. ‘Tuhan tolong bantu aku.' Batin Dareen, hanya Tuhan yang bisa menolongnya agar putrinya benar-benar luluh.


Dareen berjalan ke arah Theresia sambil menggeret koper hingga Theresia yang sedang melamun langsung menoleh. ”Theresia!” panggil Dareen. Mata Theresia membulat saat melihat ayahnya membawa koper, dia juga cukup terkejut ketika melihat ayahnya sudah berganti pakaian seperti akan pergi.


“ Theresia!” Daddy akan pindah dari apartemen ini, jika kau sudah memaafkan Daddy dan sudah menerima Daddy, kau boleh menelpon Daddy dan Daddy akan datang. Mungkin, Daddy akan pergi ke luar negeri," ucap Daren dan itu semakin membuat mata Theresia membulat


“Kenapa pergi ke luar negeri?" tanya Theresia yang tanpa sadar bertanya seperti itu pada sang ayah. Dareen mengembangkan senyumnya saat melihat wajah putrinya yang terlihat sangat terkejut dengan ucapannya.


“Hmm, Daddy rasa pergi keluar negeri lebih baik. Ya sudah kalau begitu Daddy akan pergi sekarang jaga dirimu baik-baik." Dareen membungkuk kemudian dia menciumi seluruh wajah putrinya dan setelah itu dia kembali lagi berbalik sambil menggeret koper, dan setelah berbalik Dareen memejamkan matanya berharap putrinya mengejarnya.


Sedangkan Theresia langsung menoleh ke arah belakang dan tanpa pikir panjang, Theresia langsung bangkit dari duduknya. “Daddy!” panggil Thresia, akhirnya gadis remaja itu melunturkan gengsinya.


Helaan nafas terlihat dari wajah tampan Dareen, ketika Theresia memanggilnya dia yakin putrinya terpancing di dalam permainannya dan tak lama Dareen langsung menoleh ke arah belakang hingga tatapannya langsung bersih bobrok dengan Theresia yang sudah berlinang air mata.


Perlahan Theresia berjalan ke arah Dareen, hingga Dareen langsung menekuk kaki menyetarakan diri dengan Theresia dan lelaki itu langsung merentangkan tangannya karena dia tahu Theresia akan datang memeluknya dan benar saja setelah dekat, Theresia langsung memeluk sang ayah. Dia mengalungkan tangannya pada leher Dareen, kemudian memeluk ayahnya dengan erat dan ketika Theresia memeluknya.


Helaan nafas terlihat dari wajah tampan Dareen, akhirnya putrinya luluh. dengan cepat Dareen langsung membalas pelukan putrinya, dan sedetik kemudian bahu Dareen bergetar. Akhirnya perjuangannya selama 3 tahun ini selesai, putrinya datang sendiri ke pelukannya begitupun dengan Theresia dia menangis dipelukan sang ayah.


Shelby memalingkan tatapannya ke arah lain saat melihat interaksi Dareen dan juga Theresia, dia pun untuk keluar dari kamar meninggalkan Dareen dan Theresia karena dia yakin kedua ayah dan anak itu butuh waktu untuk berbicara.


Sepuluh menit kemudian.


Akhirnya Daren menguasai diri begitupun dengan Teresia, demi apapun ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Dareen, di mana Theresia memeluknya 3 tahun yang penuh dengan perjuangan, terbayar dengan hari ini.


Dareen melepaskan pelukannya begitupun dengan Theresia hingga kedua anak dan ayah itu saling menatap. Dareen menghapus air mata Theresia.


“Kau memaafkan Daddy kan sekarang?" tanya Dareen.


Theresia menggigit bibirnya. “Daddy Tidak akan jahat lagi, kan?" Tanya Theresia. Dia berbicara sambil menangis. padahal barusan dia sudah berhasil menghentikan tangisnya.


.“Hmm, Theresia. Daddy tidak akan seperti duluz Daddy akan memberikan semua hidup Daddy pada kalian," kata Dareen dengan penuh ketulusan dan sedetik kemudian Theresia langsung berhambur memeluk Dareen kembali.


Dareen bangkit dari duduknya sambil memangku Teresia, dia pun langsung mendudukkan diri di sofa hingga kini Theresia duduk di atas pagkuannya, lelaki itu tidak henti-hentinya mengelus punggung Theresia, sedangkan Theresia terus menangis sesegukan di pelukan ayahnya.


Room


“Mommy ada apa?" Tanya Tristan ketika Shelby mengintip, walaupun sudah keluar dari kamar. Tapi Shelby memutuskan untuk mengintip kembali karena dia penasaran dengan apa yang terjadi di dalam, dan ternyata apa yang terjadi benar-benar sungguh mengharukan di mana sekarang Dia melihat Theresia duduk di pangkuan Daren sambil memeluk lelaki itu.


Shelby membuka pintu kemudian mengisyaratkan Tristan untuk melihat ke arah dalam. Mata Tristan membulat saat melihat adiknya memeluk sang ayah. “Akhirnya Tuhan mengabulkan doaku," kata Tristan. Seperti biasa, anak lelaki itu begitu tulus.


“Mommy, bolehkah aku masuk?" tanya Tristan hingga Shelby pun mengangguk, dan kini Tristan langsung masuk ke dalam. Dia berjalan dengan pelan ke arah sofa di mana ayahnya dan adiknya sedang duduk di sana.


“ Daddy ... Theresia!" Panggil Tristan. Dareen menghapus air matanya kemudian dia menoleh ke arah Tristan, begitupun dengan Theresa. Saat Tristan akan duduk di samping Dareen, Theresia mendorong tubuh sang Kakak.


“jangan duduk di sini!" Theresia hampir saja berteriak ketika Tristan akan duduk di sebelah Dareen.


“Theresia apa-apaan kau!' omel Tristan.


“Daddy milikku sekarang," kata Theresia lagi sepertinya saat ini dia tidak ingin Dareen direbut oleh siapapun termasuk sang kakak, di dalam pikiran gadis kecil itu kakaknya sudah terlalu lama mendapatkan perhatian dari Dareen dan sekarang dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama sang ayah dan hanya berdua.


Tristan menghela nafas kemudian dia melihat ke arah Dareen, hingga Dareen menggangguk, mengisyaratkan agar Tristan mengikuti ucapan Theresia, dan karena ingin menggoda adiknya Tristan maju kemudian dia menarik rambut Theresia, menjambaknya ke belakang. Lalu setelah itu dia keluar kamar sambil tertawa membuat tangis Thresia meledak.


“Daddy lihat!’ Theresia sambil mengencangkan tangisnya, membuat Dareen ingin sekali menangis dan tertawa secara bersamaan. Dengan cepat, Dareen langsung membawa Theresia ke dalam pelukannya kemudian dia memeluk Theresia dengan erat, begitupun dengan Theresia.


setengah jam kemudian.


“kau lapar?" tanya Dareen. Setengah jam ini Theresia masih anteng terdiam diperlukan Dareen dia merebahkan kepalanya di dada sang ayah sepertinya Theresia benar-benar nyaman di posisi ini, hingga dia tidak bergerak sedikitpun dan setelah setengah jam berlalu Dareen mendengar suara perut Theresia berbunyi.


“Kau lapar?" Tanya Dareen lagi.


Theresia menegakkan kepalanya kemudian dia menatap sang ayah. “Aku ingin makan di sini dan aku ingin disuapi," kata Theresia. Ya, benar Gadis itu sedang meminta Dareen melakukan hal yang selalu Dareen lakukan pada Tristan.


“Kau turun dulu, biar Daddy menngambil makanan," ucapnya Theresia turun dari pangkuan Dareen, kemudian mendudukkan diri di sofa Lalu setelah itu Daren pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah luar untuk mengambil makanan dan ternyata Shelby dan Tristan ada di meja makan, sepertinya mereka sedang menunggunya dan juga menunggu Theresia.


“Shelby .... Tristan. Maaf Daddy harus menemani Theresia makan di kamar, dia ingin disuapi,” kata Dareen hingga Shelby dan Tristan mengangguk.


“Sebentar." Shelby bangkit dari duduknya kemudian dia menuangkan makanan ke dalam piring, sedangkan Tristan langsung menggeleng.


“Manja sekali dia,” kata Tristan membuat Dareen mengusap rambut putranya.


“Tidak ada apa-apa kan untuk sementara Daddy menghabiskan waktu dengan Thresia?" tanya Dareen. Tristan mengangguk.


“Dia akan mengamuk nanti jika Daddy tidak mengikuti ucapannya.” Dareen membungkuk kemudian mencium kening putranya.


“Kau anak hebat," puji Dareen pada putranya. Jika di pikir, watak Theresia begitu mirip dengannya yang keras kepala, sedangkan Tristan sangat mirip dengan Shelby yang penuh dengan kelembutan.


“Tentu, aku memang anak hebat," jawabnya.


“Apa Daddy tidak ingin mencium kening Mommy, Mommy juga ibu yang hebat." Tiba-tiba Dareen dan Theresia saling tatap, mata mereka sama-sama membulat saat mendengar ucapan Tristan. Bagaimana mungkin putra mereka bisa mengatakan hal seperti ini.


“Kenapa kalian tampak terkejut?" Tanya Tristan sambil memakan kentang goreng, dia menikmati raut wajah terkejut kedua orang tuanya. Tristan mengangguk mungkin lebih dewasa di usianya yang kini menginjak 12 tahun, dan memang pada awalnya Shelby sudah menjelaskan tentang apa yang terjadi antara dia dan Dareen.


Karena saat itu Tristan bertanya kenapa ayah dan ibunya tidak tidur satu ranjang. Padahal sudah berdamai dan Shelby pun menjelaskan semuanya dia tidak tahu Tristan mengerti atau tidak apa yang dia ucapkan, tapi saat itu Tristan hanya mengatakan bahwa dia mengerti dan sejak saat itu, Tristan idak pernah lagi bertanya macam-macam pada ayah dan ibunya, dia mengerti bahwa ayah dan ibunya memutuskan untuk berteman.


“Teristan, apa yang kau katakan, kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanya Shelby dengan wajah yang memerah, begitupun Dareen yang juga salah tingkah.


“Kenapa? mommy juga ibu yang hebat bukan?” Entah kenapa Tristan begitu senang melihat interaksi kedua orang tuanya seperti ini.


“Hmm, Mommy ibu yang hebat," jawab Dareen, yang memutuskan pembicaraan agar Tristan tidak lagi membahas hal seperti ini.


“Daddy saja mengakui, berarti Daddy harus mencium Mommy." Tristan kekeh dengan ucapannya. Hingga Dareen melihat ke arah Shelby yang juga sedang melihat ke arahnya, Shelby menggeleng pertanda Dareen tidak boleh melakukan itu.


Namun sepertinya Dareen tidak memperdulikan peringatan Shelby, lelaki itu berjalan ke arah Shelby membuat mata Shelby membulat dan tak lama cup, satu kecupan mendarat di kening Shelby membuat mata Shelby terbelalak. bagaimana mungkin Dareen menciumnya.


Sedangkan Tristan langsung tertawa saat melihat wajah sang ibu yang lucu. “Terima kasih Shelby," ucap Dareen sambil mengambil piring yang sudah disiapkan makanan oleh Sheby, lelaki itu pun langsung berbalik kemudian pergi ke kamar Theresia karena dia juga terlalu malu untuk menatap Shelby. Untuk pertama kalinya selama 13 tahun menikah, dia mencium istrinya.


Jantung Shelby berdetak dua kali lebih cepat ketika dareen menciumnya, sedangkan Tristan benar-benar menikmati momen ketika melihat sang ibu yang tampak salah tingkah.


“Mommy!" panggil Tristan, menyadarkan Shelby lebih dari lamunannya, hingga Shelby menoleh ke arah Tristan.


“Hmmm?"


“Kenapa wajah Mommy merah begitu?” tanya Tristan membuat Shelby langsung memalingkan tatapannya ke arah lain, sepertinya Shelby salah tingkah hingga dia pun memutuskan untuk pergi ke dapur Padahal semua makanan sudah tertata rapi di meja makan.


Dareen masuk ke dalam kamar, lelaki itu langsung mendudukkan diri di sofa di sebelah putrinya.


“Kau mau makan yang mana dulu?" tanya Dareen.


“Yang ini saja," kata Theresia Darren pun memotong sosis kemudian menyuapkannya pada mulut sang Putri dan pada akhirnya acara makan pun selesai.


“Daddy, kenapa Daddy tidak membawa minum?" tanya Theresia.


Dareen memejamkan makan matanya. Bagaimana mungkin dia kembali keluar setelah apa yang terjadi barusan.


“Daddy!" Panggil Theresia lagi


“ Oh iya, Daddy akan bawa minum." Dareen pun bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah luar. dan ketika berada di meja makan, Dareen langsung mengambil gelas kemudian menuangkan air tanpa berani menatap ke arah Shelby, begitupun dengan Shelby yang juga tidak berani menatap ke arah Dareen.