Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tak gentar


Setelah perdebatan dengan Sello di kamar mandi, Bianca langsung pergi ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan piyama dan setelah itu, ia langsung keluar dari walk in closet.


Selo yang sedang duduk membulatkan matanya saat Bianca memakai piyama. “Kenapa kau memakai piyama, bukannya kita akan pulang ke apartemen?” tanya Sello. Bianca menatap Sello seraya berdecih..


“Siapa juga yang mau pulang ke apartemen, sudah aku bilang aku ingin menginap di sini selama beberapa hari!” kata Bianca. Selloo mengusap dadanya berusaha tenang untuk menghadapi Bianca.


“Bianca, ayo kita pulang. Kita menginap di apartemen, aku berjanji aku akan mengabulkan apapun maumu asal kau ikut aku pulang!”


Sejenak Bianca terdiam saat mendengar ucapan Sello. Mungkin sebagian orang, ucapan Sello terdengar sangat manis. Tapi tidak di telinganya, ini begitu menyakitkan untuknya, hatinya bagi tersayat saat mendengar Sello seperti ini.


Karena ia tahu, ini bukan Sello yang sebenarnya, ini hanya kepura-puraan suaminya.


“Bianca!” panggil Sello. Bianca tersadar, lalu ia mengibaskan rambutnya. “Sudah kubilang tidak mau, jangan memaksaku!” balas Bianca. “Jika kamu memaksaku. Aku akan membocorkannya sekarang!” sambungnya lagi. Setelah mengatakan itu, Bianca langsung keluar dari kamar meninggalkan Sello begitu saja, membuat Sello mengusap wajah kasar. Ia pun mengikuti langkah Bianca, karena ia takut Bianca akan berkataa macam-macam pada kedua mertuanya.


Suasana di meja makan bergitu hening, mereka sibuk dengan acara mereka masing-masing, hingga pada akhirnya, Bianca menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu.


“Mommy Daddy, Aku lelah. Bolehkah aku langsung beristirahat saja?” tanya Bianca setelah menyelesaikan makannya. Ia bangkit dari duduknya, kemudian menatap kedua orang tuanya.


“Aku juga ijin pamit untuk ke kamar, Mom ... Dad. aku ingin beristirahat.” Sello pun ikut bangkit dari duduknya.


“Hmm, istirahatlah!” kata Maria. Setelah Sello dan Bianca pergi, Maria menoleh ke arah suaminya. “Dad, aku pikir mereka sedang ada masalah,” ucap Maria


Lyodra mengambil tisu, kemudian mengelap mulutnya. “Kita tidak boleh ikut campur urusan mereka sayang, biarkan mereka menyelesaikannya. Aku rasa masalahnya juga belum terlalu besar, dan hal wajar jika mereka mempunyai kendala di rumah tangga mereka." balas Lyodra, ia memang merasakan ada yang terjadi antara anak dan menantunya. Namun karena melihat Bianca masih baik-baik saja, Lyodra tidak ingin ikut campur di pernikahan anak dan menantunya.


••••


Sedari tadi masuk, Bianca tidak berbicara apapun pada Selo. Bianca hanya memberikan satu bantal dan menyuruh Sello untuk tidur di sofa.


15 menit kemudian, Bianca menyimpan ponsel, kemudian ia langsung mematikan ponselnya karena ia sudah mengantuk. Ia menaruh ponselnya di samping, lalu menarik selimut dan berniat tertidur. Ia sama sekali tidak memperdulikan Sello yang sedang berada di sofa.


Namun saat Bianca akan memejamkan matanya, ponsel Bianca kembali berdering. Satu panggilan masuk, hingga Bianca langsung mengangkat panggilannya.


“Hallo Roland kau belum tidur?” tanya Bianca, ternyata Bianca yang menelponnya.


••|


Selo menatap Bianca yang sedang menelpon tanpa berkedip, ini sudah setengah jam berlalu Bianca menelpon dengan seseorang dan selama setengah jam itu pula, Sello terus mendengarkan Bianca menelpon dengan seorang lelaki.


Dan ketika Bianca selesai menelepon, Sello bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke arah ranjang. “Siapa tadi yang menelpomu?” tanya Sello, Bianca yang baru saja menyimpan ponselnya menoleh.


“Temanku,” jawab Bianca. Tidur, di sofa dan jangan mengganggu aku.” Titah Bianca lagi.


••••