
Bianca mendudukan di sisi ranjang, ia memeluk lututnya kemudian menyembunyikan wajahnya di tengah-tengah lututnya, ia menangis sesegukan rasanya ini benar-benar menyakitkan. Tangis Bianca seolah tidak pernah berhenti, dia merasa gemetar, merasa sakit dan merasa malu.
.
Saat ini, ia sedang berada di apartemennya, setelah berbicara di rumah sakit dengan kedua mertuanya, Bianca memutuskan untuk pulang ke apartemennya untuk menenangkan diri, ia merasa ini mimpi. Tapi di sisi lain, dia juga tahu ini nyata.
4 bulan merasakan sikap Sello yang hangat, membuat Bianca kembali terbang. Tapi ternyata, kenyataan memukulnya. Hingga ia harus terhempas ke jurang yang paling dalam.
Tak lama, ponsel Bianca berdering, hingga Bianca langsung tersadar ia menguraikan lututnya lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang memanggilnya, dan ternyata Roland yang menelponnya. Tangis Bianca semakin keras, ketika melihat nama Roland.
4 bulan lalu, ia memang mencoba ingin dekat dengan Roland, dan menjalin hubungan dengan Roland. Tapi, ternyata ia terhanyut dalam sikap Sello dan meninggalkan Roland. Dan kini, setelah 4 bulan berlalu, ternyata Rolland kembali meneleponnya.
Bianca menghapus air matanya, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu setelah itu, ia langsung mengangkat panggilan dari Roland.
“Bianca!” panggil Roland dari seberang sana.
“Bianca, are you oke?” tanya Roland. Roland memanggil Bianca dengan khawatir.
“Roland,” jawab Bianca, ia tidak sanggup lagi untuk meneruskan ucapannya, hingga Ia pun langsung mematikan panggilannya. Lalu menjatuhkan ponselnya ke bawah, dan ia kembali menangis sejadi-jadinya.
•••
Sello masuk ke dalam apartemen, ia mengedarkan pandangannya ke apartemen yang selama 4 bulan ini ia tinggali bersama Bianca. Sekarang yang dipikirannya hanya satu. Bagaimana jika sang ayah menarik semuanya.
Bagaimana jika ayahnya mendepaknya dari perusahaan.
Sungguh, saat ini Sello begitu buntu, hingga ia tidak perduli bahwa ia telah melukai Bianca sebegitu dalam hati dan ia masih berani untuk meminta tolong pada istrinya.
“Bianca!” Sello mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan dari dalam, hingga Sello langsung membuka pintu dan ternyata Bianca sedang mendudukkan diri di lantai.
Perlahan, Sello maju ke arah Bianca, “Bianca, Ayo kita bicara!” ajak Sello. Bianca menghapus air matanya, kemudian Ia pun bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar, ia memutuskan untuk berbicara di sofa bersama Sello. Dan sekarang, mereka sudah duduk di sofa dengan posisi saling berseberangan.
Bianca bersedekap, ia menatap Sello dengan tajam agar Sello terintimidasi dengan tatapannya. Dia tidak ingin lagi terlihat bodoh di hadapan suaminya yang selama bertahun-tahun telah menipunya.
“ Bianca!” panggil Sello.
“Katakan apa yang ingin kau katakan, Selo!” Titah Bianca. Nada suaranya memang bergetar. Tapi ia masih berusaha untuk mengendalikan dirinya padahal Ia ingin mengamuk pada suaminya.
“Maafkan aku Bianca," ucap Sello.
“Maaf untuk yang mana? maaf karena telah berselingkuh dengan wanita lain, maaf telah mengabaikanku bertahun-tahun atau maaf ....” Bianca tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Jika mengingat perselingkuhan Sello. Rasanya tangis Bianca mungkin akan meledak, dan ia tidak mau menangis di hadapan suaminya.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam apartemen mereka. Hingga Sello dan Bianca menoleh. Mata Sello membulat saat melihat siapa yang masuk dan ....
Sementara di sisi lain, Agnia meminum wine yang ada di tangannya. kemudian menatap lelaki yang ada di depannya. “Bagaimana jika aku tidak mendapat pemasukan lagi dari Sello. Semua terbongkar, bukankah Sello akan di depak?” tanya Agnia, lelaki yang di depan Agnia terkekeh.
“Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjamin semuanya,” jawab lelaki tersebut yang tak lain adalah.”