Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Menghindar


Selo menyimpan ponselnya di pinggir. Lelaki itu menatap ke arah langit-langit. Tatapan mata Selo lurus ke depan, seperti banyak sekali hal yang ada di pikirannya.


Selo sadar betul dan tahu, sebenarnya Bianca ragu untuk melangkah, tapi Selo tidak bisa mundur. Dia juga tahu pernikahan macam apa yang akan dia jalani bersama Bianca, tentu saja di dalamnya pasti banyak sekali keraguan yang dirasakan oleh calon istrinya. Namun, inilah yang bisa Selo lakukan, mengikat Bianca lalu setelah itu meyakinkan istrinya bahwa dia bisa berubah.


Tak lama, ponsel Selo berdering. Satu pesan masuk dari Bianca membuat mata Selo berbinar. Tak biasanya Bianca mengirimnya pesan, padahal barusan dia baru saja menelepon.


'Besok aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku tidak enak badan,' tulis Bianca dalam pesannya. Sepertinya Bianca masih mencoba menghindar untuk pergi besok bersama Selo, yang di mana Selo pasti akan mengajaknya untuk mencari gaun pengantin.


'Tadi suaramu dengar baik-baik saja,' jawab Selo.


'Pokoknya aku sedang tidak enak badan. Jadi, jangan datang,' jawab Bianca lagi. Setelah itu, Bianca langsung mematikan ponselnya karena dia tidak ingin berbalas pesan dengan Selo.


Bianca menatap ke depan. Jujur saja kemarin-kemarin memang dia yang mengajak Selo untuk menikah karena balas budi, tapi entah kenapa rasa ragu itu kembali menggelayutinya, terlebih lagi jika kenangan-kenangan buruk itu terputar di otaknya.


'Ya Allah, aku harus bagaimana?' Bianca membatin. Membatalkan pernikahannya pun tidak bisa, jelas-jelas dia sendiri yang mengajaknya dan dia juga tahu Selo bukan orang yang mudah menyerah, dan sekarang Bianca termakan sendiri oleh ucapannya. Seandainya saat kemarin dia mengatakan harus lebih jauh dulu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.


"Ah, sudahlah. Pusing sekali," gumam Bianca. Wanita itu pun menarik selimut, kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya, berharap bisa terlelap agar tidak terus memikirkan permasalahannya.


***


"Bianca, Bianca." Terdengar suara Maria memanggil dari arah luar, hingga Bianca membuka matanya. Dia melihat jam di dinding ternyata waktu menunjukkan pukul enam pagi, wanita itu mengucek matanya, berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Ada Selo menunggumu di bawah," ucap Maria.


"Apa?!" Bianca terpekik saat mendengar ucapan Maria. Mata yang tadinya begitu berat untuk terbuka, kini terbuka dengan sempurna saat mendengar ucapan sang ibu. Lelaki itu benar-benar, padahal semalam dia sudah mengatakan pada Selo dan melarang Selo untuk datang, tapi lihatlah.


"Ayo cepat turun, jangan lupa mandi dulu," titah Maria.


"Sepertinya Selo akan mengajak untuk fitting pakaian pengantin pagi ini," ucap Bianca.


"Ya sudah cepat pokoknya kau ganti baju. Pergi ke kamar mandi dan ganti bajumu dulu," ucap Maria.


Bianca berdecih saat melihat sang ibu yang tampak semangat, hingga pada akhirnya dia pun berbalik, sedangkan Maria langsung pergi untuk menemani calon menantunya di bawah.


"Bagaimana, apa Bianca sudah bangun bibi?" tanya Selo saat Maria menghampirinya.


"Bibi sudah menyuruhnya untuk bangun. Dia akan turun bentar lagi," bawanya.


"Bibi," kata Selo, "Bibi terima kasih sudah mengizinkanku untuk kembali pada Bianca," ucap Selo karena memang dia belum berterima kasih lagi pada Maria.


"Jangan dipikirkan. Pokoknya kalian harus menggelar pernikahan yang sangat mewah," kata Maria lagi hingga Selo mengangguk dengan semangat.