Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tertangkap


"Tu-Tuan, Gabriel," ucap Agnia dengan wajah memucat. Jantungnya seolah akan keluar dari rongga dada saat melihat siapa yang ada di depannya.


Jangan ditanyakan betapa takutnya Agnia saat ini, yang pasti ketakutannya sudah ada di level akut. Dia pikir sudah tersembunyi dengan sempurna, karena selama beberapa bulan dia merasa aman.


Agnia berpikir bahwa Roland, Gabriel atau orang-orang yang mencarinya, karena ini sudah berbulan-bulan berlalu. Tapi, ternyata dia salah.


Ternyata, setelah Gabriel mencari ke seluruh negara, dan tak kunjung menemukannya, lelaki paru baya itu pun mulai curiga dan menyuruh anak buahnya untuk mengecek CCTV di dekat apartemen tempat tinggal Selo dulu.


Lalu diketahuilah bahwa ternyata Agnia tidak pergi meninggalkan apartemen, dia justru naik ke lantai atas yang merupakan tempat sebenarnya bersembunyi.


Gabriel sudah mengetahui itu sejak dua minggu lalu, hanya saja dia menunggu waktu yang tepat untuk menangkap Agnia.


Lalu kebetulan, tadi Agnia keluar dari apartemen, yang tanpa sesadarnya ada anak buah Gabriel yang berjaga di sekitar, hingga dia bisa dengan mudah diringkus.


"Apa kau pikir kau bisa bersembunyi dariku?" tanya Gabriel terdengar dingin, wajahnya menggelap, membuat siapa pun yang melihatnya bergidik.


Meskipun dapat dihitung jari berapa kali dia bertemu Gabriel, tapi berita tentang kekejaman pria ini sudah menyebar. Ayah Selo tersebut tidak akan segan-segan untuk menghancurkan siapapun yang mengusik keluarga mereka, apalagi Agnia tahu kesalahannya cukup fatal, yaitu membuat Selo lumpuh.


Gabriel yang sedang duduk di kursi, langsung berdiri kemudian menghampiri Agnia. Dia bersidekap tangan di depan dada, membari menatap wanita itu tajam.


"Seharusnya kau tahu sudah berurusan dengan siapa," ucap Gabriel.


"Buka tirainya," titah Gabriel pada anak buahnya, membuat tirai seketika terbuka memperlihatkan ruangan bernuansa putih.


Saat melihat ruangan itu terbuka, Agnia masih berpikir bahwa dia hanya akan dikurung, dan dia bisa dengan mudah meminta maaf pada Gabriel sebelum kemudian terbebas. Tapi, ada yang Aghnia tidak tau bahwa ruangan yang bernuansa putih itu adalah ruangan yang mematikan.


"Bawa dan masukkan dia ke dalam san!” Titah Gabriel.


Agnia tidak melawan apalagi memohon ampun, karena dia yakin hukumannya hanyalah kurungan tanpa dia ketahui bahwa di dalam sana, sudah tersedia siksaan yang luar biasa untuknya.


Agnia kini didorong masuk ke dalam sana, kemudian pintu dikunci. Wanita itu melihat ke arah jendela, di mana Gabriel sedang menatapnya membuat dia menunduk kemudian mendudukkan diri di lantai.


"Argh!" Tiba-Tiba, Agnia berteriak ketika kakinya tersetrumm.


Tanpa sepengetahuan Agnia, bahwa lantai tersebut sudah dialiri arus listrik yang membuat kakinya terasa tersengat.


Tidak cukup sampai di situ, hawa mendadak sangat panas, karena ternyata anak buah Gabriel menyalakan pemanas di ruangan itu, membuat tubuh Agnia semakin kesakitan.


Sementara Gabriel yang di luar, hanya tertawa. Pria itu mungkin adalah sosok ayah dan suami yang hangat juga penyabar, tapi jika di luar tentu beda lag.


Suara teriakan Agnia terdengar merdu di telinga Gabriel membuatnya merasa begitu puas. Wanita itu kini tersadar, bahwa ruangan serba putih ini bukanlah tempat "tiada arti" seperti yang dia bayangkan sebelumnya.


***


Roland yang baru selesai olahraga, masuk ke dalam kamar. Semula, dia ingin mengajak Bianca makan malam, tapi wanita itu tidak mengangkat panggilannya membuat dia memilih menghabiskan waktu di tempat gym.


Setelah masuk, Roland duduk di sofa dan beristirahat sejenak di sana. Tak lama, ponselnya berdering karena sebuah panggilan dari anak buahnya.


"Bagaimana, apa aku menemukan Agnia?" tanya Roland.


"Yah, kami menemukannya. Ternyata dia ada di apartemen tempatnya tinggal dulu, hanya saja dia pindah ke lantai atas," jawab anak buah Gabriel di sebrang sana.


Roland memejamkan mata karena merasa bodoh, menyadari Agnia lebih pintar darinya.


"Ya sudah, cepat tangkap dia."


"Tapi Tuan ...." Anak buah Roland menggantungkan ucapannya membuat Roland mengerutkan kening.


"Tapi apa?"


"Tapi Agnia tidak ada di apartemennya, dan dari CCTV kami melihat seseorang yang kami ketahui adalah Tuan Gabriel."


“Apa!’ Roland terpekik saat mendengar ucapan anak buahnya, bisa gawat jika Aghia membuka mulut.