
"Maksudmu, Banca berbohong?" tanya Maria ketika mendengar ucapan Roland yang mengatakan bahwa dia tidak pergi ke luar negeri. Lelaki itu seperti memiliki semangat baru untuk menaklukkan Bianca, tentu saja itu semua karena dukungan Maria.
"Iya Bibi, aku tidak pergi ke mana-mana. Pekerjaanku juga sudah longgar," kata Roland lagi. Maria tampak terdiam saat mendengar ucapan itu. Dia mulai bingung kenapa Bianca berbohong.
"Apa Bianca mengatakan aku pergi ke luar negeri?" tanya Roland.
Maria tidak menjawab. Dia diam sejenak. Jika Roland mengatakan seperti itu, tandanya Bianca benar-benar berbohong.
"Bibi, kau masih di sana?" tanya Roland menyadarkan Maria dari lamunannya.
"Bibi masih di sini," kata Maria. "Roland bisa kita bertemu besok?" tanya Maria.
Roland ingin sekali berteriak senang ketika mendengar ucapan Maria yang mengajaknya bertemu. Dia mendapatkan lagi semangat untuk mengejar Bianca. Tentu saja karena saat ini Maria ada di pihaknya, dan dia yakin dia akan mendapatkan Bianca kembali karena bantuan wanita paruh baya itu.
Sayangnya, Maria benar-benar tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di belakangnya. Bagaimana Roland sebenarnya. Di pikiran wanita paruh baya itu, dia hanya ingin Roland terus bersama Bianca agar Selo tidak mengganggu lagi putrinya.
"Ya sudah, besok kita bertemu, Roland. Bibi akan mengirimkan alamat restorannya padamu," kata Maria lagi hingga Roland pun mengangguk walaupun anggukannya tidak terlihat.
Setelah mengatakan itu, Maria langsung menutup panggilan. Wanita paruh baya itu menyimpan ponselnya ke bawah. Maria melamun memikirkan tentang Bianca yang berbohong. Entah apa maksud putrinya berbohong dengan mengatakan Roland pergi ke luar negeri.
Memang terkesan sepele, tapi tidak bagi Maria. Ditambah lagi dia merasa ketakutan dengan keberadaan Selo yang terus mendekati putrinya, membuat Maria heran kenapa Bianca bisa sampai berbohong padanya.
***
Lyodra yang sedang mengintip, langsung mengutak-atik ponselnya kemudian lelaki itu menjauh dari kamar. Lalu setelah itu, dia menelepon Gabriel.
"Gabriel bisakah kau percepat saja penangkapan Roland?" tanya Lyodra. Dia melihat ke sana kemari, berharap tidak ada yang mendengar percakapannya dengan Gabriel.
"Kenapa? Aku masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi," ucap Gabriel di seberang sana membuat Lydora memejamkan mata.
"Besok, istriku akan bertemu dengan Roland. Tangkap dia saat bersama Maria agar Maria bisa melihat bagaimana lelaki itu," jawab Lyodra. Beruntung tadi dia mengintip dan mendengar semuanya. Setidaknya jika orang ditangkap di depan Maria, Maria akan percaya dan tidak menjodohkan lagi Bianca dengan lelaki itu.
Gabriel diam di seberang sana. Apa yang diucapkan ada benarnya. Selain karena memang Roland akan ditangkap, ada untungnya jika dia menyuruh polisi untuk menangkap Roland ketika dengan Maria, berharap setelah itu Maria bisa menerima Selo.
"Baik, akan aku pikirkan caranya agar bisa menangkap dia besok. Kabari saja jika Maria sudah pergi," kata Gabriel.
Setelah itu, Lyodra langsung mematikan panggilannya.
"Kenapa Roland harus ditangkap?" tanya Bianca membuat Lyodra langsung menjatuhkan ponsel karena terkejut dengan apa yang didengar.
Rupanya, saat Bianca akan pergi ke dapur dia menghentikan langkahnya kemudian memdengarkan pembicaraan sang ayah. Dia tidak berniat menguping hanya saja dia mendengar nama Roland disebutkan, apalagi sang ayah menyuruh untuk menangkap Roland besok ketika di depan ibunya.
"Daddy menyembunyikan sesuatu tentang Roland?" tanya Bianca.
"Tidak, Daddy tidak menyembunyikan apapun," ucap Lyodra.
Bianca sudah mulai kesal karena sang ayah terus menyembunyikan tentang Roland darinya.
"Aku mendengar semuanya, kenapa kau begitu ingin menangkap Roland. Apa dia berbuat kejahatan?" tanya Bianca lagi cepat, "Dad, katakan padaku karena aku yakin sedikitnya ini berhubungan denganku."
Bianca menatap sang ayah dengan tegas. Tatapan matanya seolah tidak ingin dibantah hingga Lyodra menarik napas kemudian mengembuskannya. Lelaki itu langsung mengambil ponsel yang terjatuh lalu meringis. "Ah, ponsel Daddy retak, Daddy harus segera memperbaiki ini," ucapnya.
Lyodra berniat untuk menghindari Bianca agar tidak menjawab pertanyaan dari putrinya.
"Mommy," panggil Bianca membuat mata Lyodra membulat hingga dengan cepat dia membekap mulut putrinya.
"Oke, oke Daddy bercerita tapi jangan beritahu siapa pun," ucap Lyodra yang melepaskannya hingga dengan cepat berkata, "ayo kita pergi ke taman."
Lelaki itu mendahului Bianca untuk pergi dan Bianca menyusul sang ayah hingga di sinilah mereka duduk, di sebuah taman yang ada di bagian barat agar Maria tidak mendengarkan percakapan mereka, dan juga di taman itu tidak ada CCTV hingga Maria tidak tahu bahwa dia berbicara secara sembunyi-sembunyinya dengan putri mereka.
"Katakan ada apa? Aku yakin ini ada hubungannya denganku," ucap Bianca.
"Ya Tuhan, dari mana menjelaskannya," ucap Lyodra.
"Bagaimana jika jelaskan saja dari awal? Kita tidak akan ke mana-mana dan masih mempunyai waktu banyak," ucap Bianca lagi.
Lyodra terdiam sejenak. "Kau tahu, 'kan, bagaimana hubungan Selo dengan istri keduanya?" tanya Lyodra.
"Maksudmu Aghnia?" tanya Bianca.
"Apa kau tahu lumpuhnya Selo saat itu adalah karena perlakuan Aghnia?" tanyanya
"Lalu apa hubungannya dengan Roland?" tanya Bianca.
Seketika, Bianca tertawa saat mendengar itu. "Daddy, kau ini terlalu banyak menonton sinetron," kata Bianca.
"Apa muka Daddy terlihat bercanda?" tanya Lyodra.
Bianca menghentikan tawanya. Dia mengatakan tidak ada raut bercanda sedikit pun. Sang ayah berkata dengan serius.
"Roland yang menyewa Aghnia untuk masuk ke dalam kehidupanmu dan kehidupan Selo. Dia juga yang membayarnya saat ini agar menghancurkan hubungan pernikahan kalian," ucap Lyodra dengan panjang lebar.
Bianca menatap sang ayah tanpa berkedip, sedangkan Lyodra menghentikan sejenak ucapannya karena melihat reaksi Bianca yang terkejut.
"Ceritakan semuanya lebih cepat," ucap Bianca.
Saat mendengar itu, rasanya bagaimana mungkin? Diantara percaya dan tidak percaya dengan ucapan sang ayah, karena walaupun bagaimanapun saat itu Roland-lah yang selalu ada di sampingnya dan Roland selalu menguatkannya di masa-masa sulit. Lalu bagaimana mungkin Roland akan berbuat culas padanya?
"Bianca, Roland terobsesi padamu. Dia ingin memilikimu hingga dia menyuruh Aghnia untuk menghancurkan hubunganmu dan Selo, bahkan dia sudah memantaumu saat kau masih berpacaran dengan Selo hingga dia bisa dengan mudah menyuruh Aghnia mendekat pada Selo, dan ya seperti yang sudah terjadi, Selo berhasil terjerat bujuk rayuan Aghnia. Lalu ketika kau berpisah dengan Selo, Roland masih tetap menyuruh Aghnia untuk menjadi istrinya agar Selo tidak kembali padamu dan agar Selo tetap menderita. Karena Aghnia sudah tidak tahan tahan berpura-pura baik pada Selo, Agnia akhirnya membuat Selo lumpuh dan mengembalikan Selo pada keluarganya," papar Lyodra.
Bianca merasa speechless saat mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh sang ayah. Tubuh Bianca benar-benar melemah saat mengetahui apa yang terjadi. Roland, lelaki yang paling dia percaya, lelaki yang beberapa waktu lalu dianggap malaikatnya karena selalu mendukungnya, tapi ternyata Roland juga menusuknya dari belakang, bahkan dibalik penderitaan ketika Bianca menikah dengan Selo.
Bianca membungkuk kemudian menutup wajahnya. Dia benar-benar merasa dunianya berhenti berputar. Dia paling percaya pada Roland tapi ternyata Roland mengkhianatinya.
Walaupun mereka belum menjadi sepasang kekasih, tapi tetap saja Bianca merasa dibohongi. Tetap saja Bianca merasa kecewa dan marah pada lelaki itu.
"Selama ini ternyata dia ...." ucap Bianca yang sudah tidak bisa menahan tangisnya hingga Lyodra langsung memeluknya.
Sekarang, Bianca mengerti kenapa beberapa waktu ini dia tidak nyaman berdekatan dengan Rolajd, dan inilah alasan kenapa saat itu Bianca terus menangis karena benar-benar syok dengan apa yang didengarnya, hingga pada akhirnya setelah lima belas menit berlalu, Bianca berhasil menenangkan diri kemudian wanita itu menegakkan tubuh.
"Dad, apa ada lagi yang kau tahu tentang Roland? Tentang kebusukannya?" tanya Bianca.
"Kau yakin ingin mendengarnya? Ini terlalu sadis untuk diceritakan. Daddy yakin kau tidak akan sanggup untuk mendengar," kata Lyodra.
Bianca menghapus air matanya kemudian menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku ingin mendengar semuanya. Tolong ceritakan," kata Bianca.
Lyodra menghapus air mata putrinya. "Roland memang terlihat baik, tapi sebenarnya dia adalah pembunuh, bahkan banyak sekali nyawa yang meregang di tangan Roland," ucapnya.
Mendengar ucapan sang ayah, Bianca semakin speechless. Rasanya dia benar-benar berharap ini adalah mimpi, tapi nyatanya Bianca sadar betul ini nyata.
“Roland yang selama ini dianggap baik, adalah seorang iblis yang bekerja sama dengan seorang mafia yang bekerja di pasar gelap, memperdagangkan senjata, obat-obatan dan organ tubuh.
Entah berapa banyak orang yang Roland tipu dengan berkedok memberikan pekerjaan di luar negeri, tapi nyatanya orang-orang itu dihabisi di sebuah pulau. Organnya diambil lalu dijual ke luar negeri. Beruntung paman Gabriel berhasil membongkar semuanya. Entah ratusan atau bahkan ribuan korban yang sudah Roland jebak untuk mendapatkan organ yang bisa dijual, dan dibalik Roland ada Aghnia yang membantunya. Selama ini Aghnia bergerak juga mencari korban untuk dibawa ke pulau dan dieksekusi di sana," ucap Lyodra, menghentikan sejenak ucapannya kala melihat wajah Bianca yang sepertinya benar-benar tidak percaya, bahkan raut wajah syok masih terlihat di wajah putrinya.
"Bi, kau tahu belakangan ini Daddy ketakutan sekali. Roland adalah tipe orang yang nekad, dan Daddy takut dia melakukan sesuatu padamu, itu sebabnya Daddy terkejut saat kau mengatakan meminta Roland menjauh. Daddy hanya takut dia dendam padamu," kata Lyodra.
"Kau tahu kenapa kami butuh waktu lebih lama untuk menangkap Roland? Itu semua karena Roland selalu lolos dari jerat hukum dan sekarang Paman Gabriel sedang berusaha mengumpulkan bukti agar benar-benar bisa dijerat, dan tidak bisa lolos dari hukum, sebab ini bukan pertama kalinya Roland berurusan dengan hal seperti ini, tapi dia selalu bebas," kata Lyodra.
"Jika boleh jujur, Daddy ingin kau kembali pada Selo, tapi semua keputusan ada padamu dan yang paling penting, Daddy harus menyadarkan Mommy bahwa Roland tidak sebaik itu, sebab Mommy terlanjur pro pada Roland. Kau mengerti, 'kan maksud Daddy?" tanya Lyodra.
Bianca tidak menjawab. Wanita itu sekarang menatap lurus ke depan. Fakta ini benar-benar membuat Bianca syok. Mungkin seumur hidupnya, untuk pertama kalinya Bianca terkejut seperti ini, rasanya seperti dulu dia dikhianati oleh Selo.
Saat Bianca masih melamun, Lyodra merangkul pundak putrinya kemudian lelaki itu memeluk Bianca, dan ketika dipeluk oleh sang ayah Bianca langsung menangis tergugu. Dia menangis sekencang-kencangnya, yang pasti hari ini dia benar-benar kecewa, marah dan rasanya dia ingin menghajar Roland karena telah berani mempermainkannya.
Namun di sisi lain, Bianca bersyukur dia dijauhkan dengan lelaki seperti Roland.
***
Bianca masuk ke dalam kamar dengan langkah yang lesu. Wanita itu benar-benar masih menyangka ini adalah mimpi. Tidak pernah terbayangkan olehnya dia akan mendapatkan kenyataan yang menyakitkan ini.
Tak lama, tubuh Bianca ambruk di lantai kemudian dia menangis sejadi-jadinya. Bianca kecewa bukan karena mempunyai perasaan pada Roland. Bianca kecewa karena Roland membuat hidupnya hancur. Dia meratapi rasa sakit saat Selo berkhianat dan ternyata di balik penghianatan Selo, ada Roland di dalamnya. Walaupun Bianca juga sadar, Selo bersalah karena walau bagaimanapun Selo yang tergoda.
***
Roland bersorak ketika Maria sudah mematikan panggilan Lelaki itu merasa terbang di atas awan. Dia akan mengadu dombakan Maria dan Bianca, juga akan membuat Bianca salah di mata wanita paruh baya itu, agar dia mendapatkan dukungan.
Roland membanting tubuhnya di ranjang. Dia merasa lega sebab barusan sebelum Maria menelepon, dia mendapatkan kabar bahwa Kaisar sudah bertemu dengan pimpinan polisi dan meminta pimpinan itu untuk melindunginya. Tentu saja Kaisar harus merogoh uang yang banyak untuk membayar polisi tersebut, dan itu membuat Roland lega. Dia tidak akan berurusan dengan hukum ketika semuanya selesai.
Sekarang, Maria seperti akan memberikan dukungan padanya. Tentu saja Roland merasa berada di atas awan, tanpa Roland sadari sebenarnya pimpinan polisi terlebih dahulu bekerjasama dengan Gabriel, karena kepala kepolisian yang bertugas sekarang tidak mudah untuk disuap dan datangnya Kaisar pada pemimpin kepolisian menambah barang bukti agar Kaisar bisa diproses.
Kali ini, Gabriel akan memastikan bahwa Kaisar beserta jajarannya tertangkap, belum lagi Aghnia sudah ditangkap dan sudah memberikan informasi secara detail, dan yang tidak akan pernah kalian bayangkan adalah besok saat dia berencana mengadu domba Bianca dengan Maria, besok pula semuanya akan selesai. Di mana nama baiknya akan hancur, karena semua sudah bersiap untuk menangkapnya.
Roland memejamkan mata. Akhirnya, dia bisa tertidur nyenyak. Kemarin-Kemarin dia tidak bisa tertidur karena Aghnia ada di tangan Gabriel, dan karena takut Aghnia mengadu macam-macam, tapi setelah Kaisar mengatakan bahwa sudah menyogok kepolisian, Roland tidak khawatir lagi. Dia masa bodoh dengan apapun yang dilakukan Gabriel pada Aghnia, hingga sekarang dia bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan hari esok bagaimana. Padahal hari esok adalah awal mimpi buruk baginya, di mana dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.