Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Dukungan


Saat melihat mobil Bianca terparkir di sebelahnya, Roland berusaha untuk tenang dia tidak boleh terlihat terlalu mengejar-ngejar Bianca, lelaki itu menghela nafas kemudian menghembuskannya. Lalu setelah itu dia turun dari mobil dan mengetuk kaca hingga Bianca yang sedang di dalam mobil tersadar.


Bianca sedikit aneh dengan perasaannya, biasanya dia akan langsung antusias ketika melihat Roland. Tapi sekarang, dia merasakan perasaan semacam rasa malas. Namun dia juga sadar dia tidak bisa menghindar begitu saja dari Roland, terlebih lagi Roland selalu menemaninya dalam masa sulit.


Bianca menghela nafas kemudian menghembuskannya. Pada akhirnya, wanita itu turun dari mobil dia mengembangkan senyumnya ketika melihat Roland membuat Roland nafas, ternyata Bianca masih tersenyum seperti biasa.


Padahal di dalam pikiran Bianca, menyimpan 1.000 keraguan atas perasaannya sendiri, yang sebenarnya tidak ingin bertemu Roland.


“ Bianca kau membuatku khawatir?” tanya Roland, dia berpura-pura mengkhawatirkan Bianca.


“Khawatir Kenapa?” tanya Bianca.


“Kau sulit sekali dihubungi, kau juga selalu menolak ketika aku mengajakmu keluar.”


“Aku sibuk, kau tau kan tahu kembali kuliah lagi.” Roland mengangguk-nganggukkan kepalanya, setidaknya dia bisa menghela nafas lega, kala mendengar ucapan Bianca, yang tidak menjauh.


“Ya sudah ayo masuk, kita mengobrol di dalam.” Walaupun sempat malas menemui Roland. Tapi Bianca sadar, dia tidak mungkin menyuruh Roland pulang, hingga dia mengajak Roland untuk masuk ke dalam.


“Silakan duduk Roland,” ucap Bianca ketika Roland sudah duduk di halaman depan. "Sebentar aku akan ....” Bianca menghentikan ucapannya ketika mendengar suara ponselnya berbunyi, hingga wanita itu pun langsung mengangkatnya.


“Oh baiklah, aku akan segera ke sana sekarang,” Jawab Bianca. Entah kenapa Bianca merasa senang ketika ada suster meneleponnya bahwa dia disuruh segera datang ke rumah karena karena ada dokter spesialis yang akan membimbingnya.


“Baiklah, Bi. Kalau begitu.” Roland pun bangkit kembali dari duduknya, lalu berjalan ke arah mobil disusul Bianca yang juga berjalan ke arah mobil, karena dia harus segera pergi ke rumah sakit.


“Bianca!” panggil Roland ketika Bianca akan menaiki mobil, hingga Bianca menoleh. “Jika kau santai, bisa kita makan bersama di restoran seafood favoritmu?” tanya Roland lagi, dia berusaha untuk mengambil hati Bianca, dengan dengan mengajak Bianca ke tempat favorite wanita itu.


Bianca tampak berpikir. “Tentu, kalau begitu sampai jumpa.” Bianca langsung masuk ke dalam mobil,.disusul Roland juga masuk ke dalam mobilnya.


***


Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, Selo memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia baru saja selesai les mengaji bersama gurunya.


“Mom Kau sedang apa?” tanya Selo ketika melihat Amelia sedang di dapur, tidak biasanya sang ibu memasak karena biasanya koki yang selalu masak untuk mereka..


“Bianca masih di rumah sakit, coba temui Bianca sambil membawa masakan Mommy. Mommy sudah memasak makanan yang diperbolehkan untuk Bianca, mommy juga menggunakan alat yang selalu Mommy gunakan untuk memasak makanan untukmu,” ucap Amelia, setidaknya Amelia tahu makanan yang tidak diperbolehkan atau dibolehkan untuk agama Islam, dia juga memisahkan alat masak untuk Sello agar tidak bercampur dengan milik yang lain.


Sebab dia tahu sang putra, tidak boleh memakan makanan yang sama dengan mereka. “Mommy tahu dari mana Bianca masih ada di rumah sakit? Tadi aku bertemu dengannya di masjid?” tanya Sello.


“Mommy tahu dari adikmu, adikmu sedang bersama Bianca sekarang di rumah sakit,” jawab Amelia, karena kebetulan Mayra sedang berada di rumah sakit dan dia melihat Bianca lalu mengabari keberadaan Bianca pada ibunya, menyuruh ibunya agar ibunya menyuruh Sello, agar Sello datang ke rumah sakit.


Sejatinya seluruh keluarga itu sedang berusaha untuk menyatukan kembali Selo dan Bianca, walaupun mereka tahu rintangan cukup berat karena mereka harus menghadapi Lyodra dan Maria.