
Bianca terdiam saat melihat Selo dan Roland. Entah kenapa, mereka bisa datang bersamaan.
"Bianca," panggil Roland hingga Selo menoleh ke arahnya karena dia tidak menyadari, bahwa Roland ternyata ada di rumah sakit yang sama.
Saat Roland mendekat ke arah Bianca, secepat kilat Selo melangkah maju, hingga kini mereka sama-sama berhadapan dengan wanita itu.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Bianca.
"Kami membawakan makan siang untukmu," ucap Roland dan Selo secara bersamaan.
"Hah?" Bianca menatap bingung pada keduanya.
Bianca sama sekali tidak meminta untuk dibawakan makan siang, bahkan tidak ada yang tahu juga bahwa dia tak membawa bekal dari rumah. Lalu kenapa bisa mereka ada di sini?
"Ini pemberian dari Mommy-ku, Bianca. Seperti biasa, yang memasak adalah koki yang juga selalu membuatkanku makanan, dan ini halal" ucap Selo yang lebih dulu menyerahkan paper bag pada Bianca.
"Bianca, ini juga makanan kesukaanmu," kata Roland.
Bianca sungguh bingung dengan apa yang terjadi pada mereka. Namun, dia memutuskan untuk mengambil kedua paper bag tersebut. "Terima kasih semua. Kalau begitu, sampai jumpa."
Tidak ingin berdebat, Bianca langsung berbalik meninggalkan Selo dan Roland yang kini membulatkan mata terkejut.
"Aku harap kau sadar tentang kesalahanmu pada Bianca. Kau tidak berhak mengharapkan dia kembali lagi padamu," ucap Roland secara tiba-tiba, yang sebenarnya ingin mencari tahu apakah Sello sudah mengetahui bahwa dia di balik dalang Adhnia.
Selo tersenyum getir. "Bukan urusanmu."
Pada akhirnya, Selo memutuskan untuk pergi meninggalkan Roland yang Entah nanti akan menyerangnya secara halus, ataupun terang-terangan.
Sementara itu, Bianca kini masuk ke dalam ruangannya. Wanita itu langsung membuka kotak makan dari Selo dan Roland, lalu tanpa memikirkan siapa yang memberikannya, dia langsung menyantapnya makan siang tersebut hingga habis.
***
Roland menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan. Lelaki itu tampak melamun, hingga akhirnya dia menginjak pedal rem ketika mengingat sesuatu.
Roland teringat Selo yang tadi membahas tentang makanan halal, pertanda bahwa dia sudah menjadi mualaf, dan juga pertanda bahwa Sello berniat mendekati Bianca kembali.
"Tidak, aku tidak bisa membiarkannya mencuri start," ucap Roland. Dia mulai berpikir untuk mencari kelemahan Selo, hingga dia pun berniat mendekati Maria dan mempengaruhinya agar melarang Bianca dekat dengan pria itu.
***
Agnia yang sudah sudah bersembunyi selama beberapa bulan, kini tengah mematut diri di cermin.
Setelah meninggalkan Selo, Agnia tidak pernah pergi dari apartemennya. Jika ingin sesuatu, dia selalu memesan lewat online karena merasa tidak aman jika harus keluar.
Namun tidak dengan sekarang, di mana Agnia berpikir bahwa dia sudah bisa keluar meski dalam mode penyamaran seperti sekarang, yakni dengan mengenakan pakaian serba hitam serta rambut yang diikat, kemudian ditutupi oleh topi. Selain itu, dia pun memasang masker di wajah.
Agnia yakin, dengan ini tidak ada yang akan mengenalinya di luar nanti. Dia juga berniat untuk cepat kembali ke apartemen setelah urusannya selesai.
Agnia kini berlalu pergi meninggalkan kamar dan keluar dari apartemen. Namun, baru beberapa langkah, dia tiba-tiba terdiam karena merasa ada yang mengikuti.
Agnia menoleh ke belakang, tapi dia tak melihat siapapun di sana.