
Setelah mengetahui yang terjadi, Darren pun langsung berjalan ke arah luar kemudian dia langsung mendudukkan diri di sebelah Shelby, dan tanpa sengaja Darren langsung merangkul tubuh istrinya. Saat memeluk Shelby, Darren merasakan rasa sakit yang luar biasa di dalam hatinya, apalagi saat merasakan Shelby gemetar. Tidak bisa dibayangkan bagaimana selama ini Shelby menjalani semuanya sendiri dan tiba-tiba dia teringat ketika saat itu, Shelby membopong tubuh Theresia dengan keadaan yang hujan.
"Tidak apa-apa, semua sudah selesai. Pengacaraku akan datang sebentar lagi dan kau akan bisa pulang," kata Darren menenagkan
Shelby sama sekali tidak sadar bahwa dia sedang dipeluk oleh suaminya, hingga mata Shelby terpejam. Rupanya, dia kehilangan kesadaran dirinya. Sepertinya, Shelby benar-benar lelah menghadapi hari ini hingga pada akhirnya tubuhnya tidak kuat lagi, dan akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian, Shelby mengerjap kemudian dia terbangun. Dia melihat sekelilingnya, aroma obat menguar di hidungnya, dan Shelby sadar dia sedang berada di rumah sakit.
"Akhirnya kau sadar," kata Darren yang sedari tadi duduk di sebelah brankar.
"Aku kenapa?" tanya Shelby, karena dia masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Kau tidak sadarkan diri," jawab Darren.
"Lalu bagaimana dengan ...."
"Sudah tidak apa-apa, pengacaraku yang mengurusnya," kata Darren membuat Shelby menghela napas.
"Theresia dan Tristan bagaimana?" tanya Shelby, karena tadi pagi sebelum dia pergi ke perusahaan Rush, Darren mengatakan akan menjaga Theresia dan Tristan.
"Aku minta Salsa menjemput mereka," kata Darren.
"Terima kasih, Darren," ucap Shelby. Darren langsung menggenggam tangan Shelby membuat mata Shelby membulat.
"Selama ini pasti berat menjadi dirimu," ucap Darren, netrnya menatap Shelby dengan penuh rasa bersalah.
Shelby menarik tangannya dari tangan Darren kemudian tersenyum. Dia sungguh asing ketika Dareen menggengam tangannya. "Semua sudah berlalu, kita hanya perlu menatap ke depan," jawab Shelby yang enggan lagi membahas apa yang terjadi di masa lalu.
***
Mia masuk ke dalam apartemen dengan sempoyongan. Wanita cantik itu baru saja pulang dari club. Saat Darren memutuskannya, dunia Mia seakan berhenti berputar. Walaupun dia memang mencintai Darren karena harta, tapi tetap saja sedikitnya ada rasa cinta yang dia simpan untuk lelaki yang sudah bersamanya selama empat tahun ini.
”Dareen, akanku Hancurkan kau!" teriaknya lagi. Jika ada orang pikir Mia tidak mempunyai rahasia tentang Dareen, tentu saja itu keliru. Mia punya banyak sekali rahasia, tentang perusahaan ataupun pribadi yang berkaitan dengan Dareen. Dia menyimpan banyak sekali foto syur antara Darren dan dirinya. Walaupun mereka memang pernah belum pernah berhubungan badan, tapi tentu saja mereka pernah bermesraan dan tanpa sepengetahuan Darren, Mia mengabadikan momen-momen tersebut dan sekarang Mia akan menyebarkan foto-foto itu. Dia juga akan menyebarkan kelicikan Darren yang menyabet aset perusahaan lain, begitulah pikir Mia.
***
Tiga tahun kemudian.
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa Ini sudah tiga tahun berlalu. Selama tiga tahun ini pula, Darren tidak henti terus mendekati Theresia. Namun setelah tiga tahun berlalu, Theresia tidak kunjung membuka hatinya untuk sang ayah. Sikap Theresia tetap sama, dia tidak pernah menggubris kehadiran Darren.
Sekarang semuanya terbalik. Dulu Darren yang tidak pernah menganggap kehadiran Theresia, dan sekarang Theresia yang tidak pernah menganggap kehadirannya.
Hubungannya dengan Shelby semakin kesini semakin membaik, dan bisa dikatakan benih cinta di hati Darren sudah mulai tumbuh untuk istrinya. Tiga tahun bersama membuat perasaan Darren muncul, apalagi selama tiga tahun ini mereka tinggal kembali satu atap.
Jika sebelumnya mereka tidak saling mengenal, tapi setelah mereka memutuskan untuk berteman, semua mereka kerjakan bersama-sama. Darren bisa tahu bagaimana watak Shelby yang sebenarnya kuat tapi lembut dan juga penyayang dan se
Waktu menunjukkan pukul enam sore.
Darren masuk ke dalam apartemen, dia tersenyum ketika melihat Theresia sedang sedang menonton TV, sedangkan Tristan, hari ini bocah kecil itu tidak ada di apartemen karena dia mengikuti turnamen bola di luar kota.
Darren melepaskan tas kerjanya kemudian lelaki tampan itu langsung berjalan ke arah Theresia, lalu dia mendudukkan dirinya di samping putrinya.
Theresia yang menyadari kehadiran Darren, langsung berniat untuk bangkit dan meninggalkan ruang tamu. Dia enggan menatap ayahnya, tapi Darren menarik lengan Theresia.
"Tunggu di sini sebentar, Daddy benarkan ikatanmu," kata Darren karena ikatan rambut Theresia melorot ke bawah, hingga Darren kembali mengikat rambut putrinya.
Jujur saja saat ini mungkin Theresia sudah tidak terlalu membenci Darren. Tiga tahun ini, Theresia melihat betul bagaimana perjuangan sang ayah untuk mendekatinya. Namun, tetap saja walaupun dia sudah sedikit memaafkan ayahnya, dia tidak bisa bersikap untuk baik-baik saja.
"Sudah selesai," kata Darren hingga Theresia pun langsung turun dari sofa kemudian gadis yang berusia dua belas tahun itu, langsung masuk ke dalam, kembali ke dalam kamar.
Setelah Theresia tidak ada, Darren menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki tampan itu memejamkan matanya, tubuhnya benar-benar terasa lemas. Apalagi ini efek penyakit yang Darren derita. Darren mempunyai penyakit lambung kronis dan beberapa hari ini dia merasa kondisinya tidak baik-baik saja, apalagi selama beberapa hari ke belakang Darren kerap melewati jam makan siangnya. Dia terus berpacu dengan pekerjaan.
Tiga tahun lalu, selain ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarganya, Darren juga mulai bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya hingga kini Darren berhasil menjadi pemimpin yang bijaksana, tidak seperti dulu, di mana dia sering menindas dan sering menjadikan beberapa staf sebagai korban amarahnya jika dia sedang ada masalah.
***
Shelby masuk ke dalam apartemen. Dia berjalan masuk dan ternyata dia melihat Darren sedang berada di sofa.
"Darren," panggil Shelby hingga Darren yang baru saja sepertinya akan terlelap, langsung membuka mata.
"Oh Shelby, kau sudah pulang," kata Darren.
"Kau baik-baik saja?" tanya Shelby ketika melihawat wajah Dareen yang pucat.
"Aku baik-baik saja. Apa kau pulang diantarkan Mario?" tanyanya.
Shelby mengangguk. Setahun ini, Shelby dekat dengan Mario yang tak lain teman Darren, dan juga teman Shelby saat mereka kuliah. Mario mempunyai galeri lukis dan Shelby bekerja di sana.
Mario datang ke Rusia satu tahun lalu. Dia langsung menghubungi Darren karena Dareen selalu menjadi sponsor utama dalam berbagai pameran. Mario menghubungi Darren untuk meminta Dareen bekerja sama dengan galerinya, dan dari situ hubungan kerja sama mereka dimulai.
Ketika kerja sama Darren dan Mario dimulai, Darren melibatkan Shelby, meminta pendapat istrinya, karena Dareen tau Shelbi sangat menyukai seni. Tanpa diduga ketika mereka meeting bertiga antara Darren, Mario dan Shelby, Shelby menawarkan diri untuk bekerja di galeri lukis milik Mario, karena memang dia sangat menyukai seni. Apalagi Dia mengajar satu minggu sekali dan selebihnya dia akan bekerja di galeri lukis milik Mario.
Berbeda dengan Rush yang balas dendam, Mario benar-benar datang murni karena pekerjaan. Dia tidak mempunyai dendam apapun pada Dareen, karena dia memang murni ingin membuka galeri lukis dan pada akhirnya, setelah setahun berlalu, Darren mulai menyesali keputusan yang melibatkan Shelby, sebab Shelby dan Mario begitu dekat bahkan Theresia pun juga dekat dengan Mario.
Shelby dan Mario kerap menghabiskan waktu bersama, tentu saja membawa Theresia dan Tristan, sedangkan Darren, dia tidak kuasa menolak ataupun melarang hingga pada akhirnya dia hanya bisa pasrah, tidak apa-apa dia mencintai Shelbh secara sepihak. Bagi Dareen sekarang jika Shelby bahagia dia pun ikut bahagia, dan bahkan dia sudah berpikir, jika Shelby meminta berpisah dan lebih memilih Mario karena nyaman dengan lelaki itu, Darren akan mundur. Dia menganggap ini sebagai hukuman atas apa yang terjadi di masa lalu dan atas kesalahannya selama ini.
Shelby mendudukan diri di sebelah Darren, kemudian dia membantu menarik lengan Darren lalu melepaskan jam yang terpakai di tangan suaminya. Ya, inilah Shelby, wanita yang penuh dengan ketulusan sekali pun Darren pernah melukainya sebegitu dalam.
"Ayo buka dulu mantelmu, Darren," kata Shelby.
Darren menurut kemudian dia langsung membantu Darren membuka mantelnya, lalu setelah itu Shelby pun langsung bangkit dari duduknya kemudian wanita cantik itu langsung berjalan ke dapur untuk mengambilkan minum.
"Darren, minum ini," kata Shelby. Dia juga langsung membawa vitamin yang selalu Darren minum, karena dia tahu lambung Darren sedang kambuh.
"Bagaimana mungkin kau melupakan jam makan malammu?" tanya Shelby ketika dia mengeluarkan obat dari botol.
Darren tidak menjawab. Dia hanya fokus menatap Shelby yang sedang menggerutu. Selain karena baik dan begitu tulus, Shelby adalah tipe cerewet jika berhubungan dengan kesehatannya dan juga kesehatan anak kembarnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Shelby.
"Tidak, tidak apa-apa," jawan Dareen. Lelaki itu pun bangkit dari duduknya "Aku sudah menyuruh koki untuk mengantarkan makanan kemari jadi kau tidak perlu memasak," ucap Dareen lagi. “Ya sudah kalau begitu, aku ingin beristirahat. Bangunkan aku jika jam makan malam," kata Darren hingga Shelby mengangguk, setelah itu Darren langsung berjalan ke arah kamar. Dia memutuskan untuk beristirahat sebelum dia ikut makan malam bersama keluarganya.
Setelah Darren pergi, Shelby pun bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah kamar, karena dia yakin putrinya sedang ada di sana dan benar saja, rupanya Theresia sedang memainkan tab milik Tristan.
"Theresia," panggil Shelby.
"Akhirnya, Mommy pulang.”
"Daddy sedang tidak enak badan, kau tidak ingin menjenguknya?" tanya Shelby. Selama ini, Shelby selalu menasihati Theresia untuk melupakan semuanya. Tapi, dia tidak memaksa Theresia dan hanya sebatas menasihati, apalagi sekarang Teresia sudah berumur 12 tahun, di mana pemikiran Thresia jauh lebih matang dari sebelumnya.
"Memangnya apa peduliku?" Omel Theresia.
Shelby tidak berbicara lagi, dia memilih untuk pergi ke walk-in closet dan dia ingin segera menyegarkan dirinya.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh hidangan yang sudah Shelby pesan sudah tersaji di meja makan. Dia berjalan ke arah kamar Darren. Wanita cantik itu berniat membangunkan Darren.
"Darren," panggil Shelby. Namun Darren tidak menjawab, hingga Shelby langsung membuka pintu. Ternyata Darren sedang tertidur.
Perlahan Shelby mendekati ranjang, dia berniat untuk membangunkan Darren. Saat berada di dekat ranjang, Shelby terdiam sejenak. Dia menatap wajah Darren yang pucat. Jika ditanya apa Shelby sama mencintai Darren atau tidak, jawabannya, dia juga tidak tau. Shelby hanya menganggap Darren sebagai teman karena dia benar-benar tidak percaya lagi dengan sebuah ikatan.
Tiga tahun ini Shelby benar-benar merasakan enjoy yang luar biasa dengan hidupnya, tapi walaupun begitu, sampai detik ini Shelby tidak pernah memakai pemberian dari Darren untuk kebutuhan pribadinya, itu sebabnya dia tetap bekerja walaupun Darren sudah menawarkan Shelby untuk memfasilitasinya. Namun, Shelby menolak.
"Darren," panggil Shelby.
Dia mengelus tangan Darren, hingga Dareen membuka mata.
"Oh Shelby," panggil Darren, tapi tak lama Darren kembali menutup matanya.
"Darren, kau baik-baik saja?" tanya Shelby lagi.
Darren yang sedang merasakan kepalanya berputar-putar, mengangguk. "Aku baik-baik saja," jawab Darren. Dia bisa saja mengatakan seperti itu, tapi dia memejamkan matanya kemudian meringis. Shelby mendudukkan dirinya di sebelah Darren, kemudian dia langsung meraba kening suaminya, dan ternyata Darren panas.
"Darren, kau demam?" pekik Shelby.
Sstelah memanggil ambulans, Shelby kembali keluar dari kamar. Dia menghampiri Theresia yang sedang ada di kamar.
"Theresia," panggil Shelby hingga Theresia yang masih bermain tabnya menoleh.
Shelby menekuk kakinya, dia menyetarakan diri dengan Theresia. "Theresia kau mau ikut dengan Mommy?" tanya Shelby membuat Theresia mengerutkan keningnya.
"Memang Mommy mau ke mana?" tanyanya.
"Daddy harus dirawat di rumah sakit, dan tidak mungkin Mommy tidak menemani Daddy. Kau mau ikut?" tanyanya lagi .
Tiba-Tiba, tubuh Theresia mematung ketika mendengar kondisi Darren dari sang ibu, tapi pada akhirnya Theresia tersadar setelah itu dia menggeleng.
"Tidak mau, untuk apa juga aku mengantarnya," kata Theresia membuat Shelby menghela napas.
Shelby menegakkan tubuhnya kemudian dia sedikit membungkuk, lalu mengelus rambut Theresia.
"Jadi kau ingin menunggu di sini?" tanya Shelby lagi hingga Theresia tampak terdiam diam. Theresia memang terkadang sudah biasa sendiri, tapi entah kenapa hatinya meronta-ronta untuk ikut ke rumah sakit.
"Ya sudah jika Mommy memaksa," kata Theresia.
Diam-Diam, Shelby tersenyum saat melihat reaksi Theresia seperti ini. Sebenarnya dia sudah yakin bahwa Theresia sudah mulai bisa membuka hati untuk Darren, tapi dia tahu putrinya hanya gengsi. Ya, mungkin Darren butuh waktu sedikit lagi untuk bisa menggapai hati Theresia.
Akhirnya, ambulans pun tiba.
Beberapa tim medis masuk ke dalam apartemen sambil membawa brankar dan ketika tim medis akan membopong tubuh Darren, dia membuka matanya.
"Kalian siapa?" tanya Darren dengan terkejut.
"Darren, mereka tim medis. Aku ingin membawamu ke rumah sakit," kata Shelby yang tiba-tiba masuk. Dia yakin pasti Darren kebingungan.
"Apa kau memanggil mereka? Aku baik-baik saja," kata Darren.
"Darren," panggil Shelby dengan penuh penekanan.
"Ya sudah iya," kata Darren, jika Shelby sudah bersuara tegas, Dareen tidak punya pilihan.
Ucapan Shelby seperti ultimatum untuk Darren, hingga otomatis dia mengangguk.
"Tidak usah membopongku, aku berjalan sendiri," ucap Dareen ketika tim medis akan menggotongnya, karena dia memang tidak suka orang lain menyentuh tubuhnya. Namun, saat dia akan bangkit, Darren sempoyongan karena kepalanya terasa berputar-putar, dan itu membuat Shelby menggeleng hingga dia menyeru tim medis untuk membopong tubuh Darren dan menaikkan Darren ke brankar.
***
Shelby dan Theresia menunggu di kursi tunggu. Saat ini mereka sedang menunggu dokter keluar dari ruang rawat Darren, karena memang Darren sudah ditangani.
Saat melihat ayahnya berada di brankar dengan wajah yang memucat, Theresia sedikit merasa aneh dengan perasaannya. Sejujurnya mungkin gadis kecil itu khawatir, tapi karena tertutup gengsi, dia sama sekali tidak menyadari perasaannya.
Dokter pun keluar dari ruang rawat Darren, hingga Theresia dan Shelby langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Shelby yang tanpa sengaja dia masih menyebut Darren sebagai suaminya, walaupun memang Darren sebagai suaminya. Tentu saja hubungan mereka tidak seperti pasangan suami-istri pada umumnya.
"Pasien menderita maag kronis, lambungnya juga sangat buruk," kata dokter membuat Shelby menghela napas. Sepertinya dia harus mulai sedikit tegas pada Darren agar Darren tidak fokus pada pekerjaan dan tidak melewatkan waktu makannya.
"Baik, Dok. Terima kasih," kata Shelby. Setelah dokter pergi, Shelby langsung melihat ke arah Theresia. Dia tersenyum ketika Theresia tiba-tiba memalingkan tatapannya ke arah lain, karena Shelby tahu sebenarnya Theresia sedikit kepo dengan penyakit yang diderita oleh Darren. Shelby berjalan ke arah putrinya.
"Ingin ikut bersama Mommy masuk ke dalam?" tanya Shelby. Namun, Theresia menggeleng.
"Tidak mau, untuk apa juga aku ikut masuk ke dalam," kata Theresia lagi hingga Shelby mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, kau tunggu di sini saja. Biar Mommy masuk ke dalam," kata Shelby dan setelah itu Shelby pun langsung masuk ke dalam meninggalkan Theresia. Saat dia sudah masuk ke dalam ruangan, Shelby mengintip. Dia ingin melihat apa yang dilakukan Theresia setelah dia masuk dan ternyata Theresia terlihat sangat gelisah.
Shelby memutuskan untuk membuka pintu sedikit karena dia tahu pasti Theresia ingin mengintip. Shelby berbalik kemudian wanita cantik itu langsung berjalan ke arah brankar. Dia menarik kursi kemudian mendudukkan diri di sebelah brankar yang ditempati oleh Darren. Shelby menatap wajah Darren yang sedang memejamkan mata lekat-lekat. Dia benar-benar bersyukur Darren mau berubah dan menyesali semuanya.
Satu jam kemudian.
Darren mengerjap, lelaki tampan itu membuka matanya. Dia melihat ke sekelilingnya, aroma obat langsung menguar di hidungnya dan pada akhirnya dia mengingat bahwa tadi dia dibawa ke rumah sakit.
Tak lama, tatapan matanya teralih pada Shelby yang sedang duduk, lalu dia teringat Theresia. Bagaimana jika Theresia sendiri di apartemen?
Ketika ada pergerakan dari Darren, Shelby langsung melihat ke arah suaminya.
"Akhirnya kau sadar juga," kata Shelby.
"Di mana Theresia? Dia dengan siapa di apartemen?" tanya Darren. Bukannya menjawab, dia malah menanyakan putrinya.
Percaya atau tidak setiap melihat kekhawatiran Darren tentang Theresia, Shelby masih merasa tidak percaya.
"Shelby," panggil Darren lagi ketika Shelby melamun hingga Shelby tersadar. Shelby menoleh ke arah belakang dan tak lama dia tersenyum saat melihat Theresia yang mengintip.
"Theresia ada di sini, dia ada di luar," kata Shelby.
"Pulang saja temani Theresia, dia tidak akan nyaman ada di rumah sakit ”
Shelby menggeleng. "Tidak apa-apa, di sini juga ada sofa bed. Aku dan Theresia bisa berbaring di sana," ucap Shelby, "maag-mu sudah sangat parah. Jangan terus pikirkan pekerjaan dan jangan terus melewatkan jam makanmu," kata Shelby yang langsung menceramahi Darren.
"Oh Tuhan, aku baru saja membuka mata. Jangan menceramahiku," kata Darren.
Shelby menggeleng kemudian dia langsung bangkit dari duduknya. Wanita cantik itu langsung mengambilkan minum untuk Dareen, dan setelah itu dia pun membantu Dareen untuk minum.
Setelah Dareen minum m, Selby langsung berbalik kemudian dia berencana untuk menyusul Theresia. ”Theresia!" panggil Shelby. Theresia yang baru saja duduk karena dia barusan mengintip langsung menoleh, gadis kecil itu berusaha menormalkan ekspresinya dan berusaha mengatur nafasnya Karena sekarang nafasnya tidak beraturan akibat tadi dia berlari.
“Apa," jawab Theresia
“Ayo masuk ke dalam, kita tunggu di dalam. Ada kemungkinan Kita menginap malam ini," kata Shelby, Thresia mengangkat bahunya acuh.
“Ya sudah jika Mommy memaksa," gadis kecil itu langsung turun. Lalu setelah itu dia masuk ke ruangan Dareen, membuat Shelby menggeleng.
Shelby pun langsung mengikuti langkah Theresia.
Ketika Theresia masuk ke dalam, Dareen yang sedang melamun langsung menoleh m, dia tersenyum saat melihat Theresia yang sedang melihat ke arahnya. Namun dengan cepat Theresia langsung berjalan ke arah sofa, dia tidak ingin membalas senyuman Dareen. Tapi, di dalam hati anak kecil itu dia merasa lega karena sang ayah sudah membuka mata.
Satu jam kemudian.
“Theresia!” panggil Dareen. Theresia yang sedang melihat televisi berpura-pura tidak menoleh, hingga kali ini Shelby yang memanggil putrinya.
“Theresia!” panggil Shelby karena Theresia tidak mendengar panggilan Dareen.
“Apa!”
” Theresia kemari, tidur bersama Daddy," ucap Dareen.Theessua berdesak kesal, gadis kecil itu malah membaringkan di sofa bed.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi, Theresia terbangun dari tidurnya karena dia mendengar suara dari arah berangkar dan ternyata dia melihat sang ayah yang sepertinya kesusahan mengambil minum.
Dia ingin membangunkan ibunya tapi dia tidak tega. Karena masih merasa gengsi, Teresia pun kembali berpura-pura tertidur. Namun sekian lama rasanya Theresia tidak tahan lagi karena dari tadi Dia mengintip dan ayahnya masih kesusahan mengambil minum.
Pada akhirnya Thresia pun bangkit dari berbaringnya, kemudian dia menghampiri berangkar. Lalu setelah itu dia mengambil minum membuat Dareen tersenyum.
Theresia langsung menyerahkan sedotan ke hadapan mulut sang ayah, kemudian Daren. meminumnya. ”Terima kasih, Theresia," ucap Darren, Thresia tidak menjawab. Dia malah menaruh lagi gelas di atas nakas.
“ Theresia!’ anggil Dareen hingga Theresia menoleh.
“Apa?” tanya Teresia dengan ketus.
“Perut Daddy sakit, bisa kau bantu mengelusnya?" Tanya Dareen
“Merepotkan saja,” kata Theresia. gadis kecil itu pun berbalik kemudian dia berjalan ke arah sofa bed dan berencana untuk berbaring lagi di sana.
Dan setengah berbaring, Theresia mengintip dan ternyata Dareen masih mengelus perutnya Beberapa menit berlalu rasa tidak tega bersemayam di dalam hati gadis itu, hingga tanpa sadar dia pun kembali bangkit.
Sayangnya Theresia tidak tahu bahwa Dareen sedang mencari perhatiannya, Dareen berpura-pura perutnya sakit dan akhirnya Dareen memang Theresia bangkit dari berbaringnya dan kembali ke arah berangkar.