Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Tidak Menuruti


Beberapa saat berlalu, Bianca kembali mengangkat kepalanya dia menatap Roland, mencari jawaban dari wajah lelaki itu.


"Jadi, kau ingin menjauhiku karena tidak nyaman denganku?" tanya Roland, "setelah apa yang kita lalui bersama?" Roland tetap tenang, padahal dadanya bergemuruh.


"Aku bahkan rela menjadi mualaf untuk menikah denganmu, dan kau malah mengatakan seperti ini, Bi? Apa kau tidak mempunyai perasaan?" Roland mulai mengungkit tentang masa lalu Bianca, hingga wanita itu menghela napas. Sepertinya, tidak ada gunanya berdebat dengan Roland.


"Roland, aku minta maaf mungkin ini hanya perasaanku saja dan ketika aku sudah nyaman denganmu, mari kita bertemu lagi," ucap Bianca.


Pada akhirnya, Roland mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya dia berpikir tidak ada gunanya meyakinkan Bianca, tapi tentu saja Roland tidak akan tinggal diam. "Aku tidak bisa memaksamu, jika memang kau merasa tidak nyaman denganku, oke aku akan menjauh," jawab Roland.


Roland tersenyum, di mana Bianca melihat senyuman Roland adalah senyuman tulus. Namun tidak di mata Roland, itu adalah senyuman mematikan.


"Terima kasih pengertiannya," ucap Bianca. Ada hal aneh yang dia rasakan ketika sudah jujur pada Roland, dia merasakan lega luar biasa.


Roland kini melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian menoleh ke arah Bianca. "Ya sudah, Bi, aku pergi duluan. Kebetulan, aku juga ada meeting di kantor," kata Roland hingga Bianca mengangguk. Roland melemparkan bunga yang dia bawa ke belakang, tak mungkin dia memberikan bunga pada Bianca.


"Terima kasih atas waktunya, Roland."


Roland bangkit dari duduknya kemudian pergi begitu saja membuat Bianca menghela napas. "Satu selesai, tinggal menyadarkan Selo," gumam Bianca.


Bianca tiba-tiba terdiam karena kursi bekas Roland duduk ditarik oleh seseorang. Baru saja dia mengatakan bahwa dia harus membuat Selo sadar, ternyata pria itu sudah duduk di depannya.


"Kau ini seperti hantu, muncul di mana saja," ucap Bianca dengan kesal, sedangkan Selo hanya tersenyum.


"Kau, ingin aku menghantuimu," kata Selo, sengaja membuat Bianca kesal.


Bianca menyadarkan tubuhnya ke belakang kemudian bersidekap lalu menatap Selo. "Jangan bilang kau mengikutiku dari tadi?" tanya Bianca.


Selo mengangguk tanpa ragu. "Aku mengikutimu, dan aku bangga padamu karena kau mengambil keputusan ini," kata Selo.


"Keputusan apa?" tanya Bianca.


"Meminta orang itu menjauhimu," jawabnya.


"Keputusan itu juga sama denganmu, jauhi aku dan jangan pernah datang lagi," kata Bianca.


Berbeda dengan Roland, Selo tampak tak acuh. Dia hanya mengangguk-anggukkam kepalanya membuat Bianca berdecak kesal.


"Kau dengar tidak?" tanya Bianca.


"Dia sudah patuh, jangan datang padaku dan jangan menggangguku seperti ini lagi," ucap Bianca, kali ini dia berusaha tegas, sedangkan Selo kembali mengganggu-anggukan kepalanya dengan wajah yang menyebalkan.


"Iya Bi, iya, aku tidak akan mengganggumu, tapi aku tidak berjanji," jawab Selo. Dia berbicara dengan suara kecil di akhir kalimat.


"Selo, bisakah kau tidak menyebalkan?" tanya Bianca.


"Memangnya aku menyebalkan?" tanyanya lagi.


"Oh ya Tuhan, kenapa aku mempunyai mantan suami se-idiot ini?"


"Jadi, Bianca kau menyebutku idiot?" tanya Selo, "kenapa kau bisa mengatakan lelaki setampanku idiot?" tanya Selo.


Sello menjadikan tangannya sebagai penyangga wajah, lalu menatap Bianca dengan sedikit memajukan wajahnya, hingga kini wajahnya dan Bianca berdekatan.


"Selo, jika aku menjabarkan keidiotanmu, kau akan malu nanti," kata Bianca.


"Tidak apa, jabarkan saja, Bianca. Aku siap mendengarkannya" kata Selo.


Sungguh, rasanya Bianca ingin menyiramkan kopi panas yang ditinggalkan Roland ke wajah mantan suaminya ini. "Selo kumohon, aku tetap akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang aku katakan pada Roland, aku mohon untuk berhenti menggangguku, karena aku merasa tidak nyaman."


"Kenapa kau merasa tidak nyaman? Kau bilang menganggapku sebagai saudara, jadi aku rasa tidak ada masalah," kata Selo, dia benar-benar berbeda dengan Roland.


Di saat Roland pasrah, Selo malah terus berbicara, menantang keinginan Bianca yang menolak diganggu.


"Sungguh, aku bingung kenapa duli aku bisa mencintai lelaki sepertimu?" tanya Bianca, mengumpat.


"Itu pujian atau cacian?" tanya Selo.


"Aku rasa tidak ada gunanya lagi berbincang denganmu," kata Bianca sembari dari duduknya, "ingat kata-kataku tadi, jangan pernah datang dan menggangguku lagi. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya."


"Tidak, aku tidak berjanji," ucap Selo.


Tidak ingin terpancing, Bianca pun langsung berbalik meninggalkan Selo di meja tersebut, membuat pria itu tertawa. Bukannya marah, dia malah senang.


"Ya Allah, kenapa aku dulu bisa menikah dengan lelaki seperti dia?" gerutu Bianca ketika keluar dari kafe. Dia tidak habis pikir dengan mantan suaminya.


Setelah Bianca pergi, Selo pun langsung bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kafe. Mobil Bianca sudah tidak ada, hingga dia memutuskan untuk pergi.