Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Masih menjadi misterius


Gengs hari ini aku kembali memulai kisah ini. jangan khawatir ya besok up kok 😍


Nafas Bianca mendadak tidak beraturan saat menyadari bahwa Selo yang menolongnya, dia yang sudah keluar dari mobil, langsung diam kl mematung, saat melihat tubuh Sello di gotong dan di Evakuasi oleh orang lain.


“Sello!” Bianca berteriak histeris. Setelah terdiam cukup lama, dia pun langsung berlari ke arah Sello, berniat memastikan kondisi mantan suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.


Bianca berusaha untuk memegang Selo. Namun orang menghalangi Bianca karena Sello akan dibawa ke rumah sakit oleh mobil lain dan setelah Selo di evakuasi, Bianca dengan segera masuk ke dalam mobilnya berharap mobilnya bisa melaju.


Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya mobil Bianca pun bisa dimajukan, hingga Bianca menyusul mobil yang membawa tubuh Sello. Bianca menjalankan menjalankan mobilnya dan kecepatan penuh, tangannya gemetar hebat wajahnya sudah memucat.


Bahkan rasanya, ia tidak sadar sedang mengendarai mobil dan beruntung Bianca menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit tinggi, hingga dia bisa mengejar mobil yang Membawa Sello ke rumah sakit.


Setelah melewati perjalanan cukup panjang akhirnya mobil yang membawa Selo sampai di rumah sakit tempat Bianca praktek, beberapa orang yang menolong Sello, langsung meminta tandu untuk membawa lelaki itu, hingga petugas medis pun keluar dan langsung mengevakuasi Selo.


***


Bianca mondar-mandir di depan ruang rawat Selo, karena Selo sedang diobati di dalam dan dokter sedang mengecek kondisi mantan suaminya. Bianca terlalu syok dengan apa yang terjadi, hingga dia tidak bisa memeriksa kondisi Selo dan dokter lain yang mengambil alih.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang rawat mantan suaminya.


“Dokter Verrel bagaimana keadaannya?” tanya Bianca yang langsung memberondong temannya dengan pertanyaan.


“Dia hanya mengalami syok, semuanya baik-baik saja alat vitalnya pun masih bekerja dengan baik,” jawab Verrel membuat Bianca menghela nafas saat mendengar ucapan Verrel.


“Kakinya mungkin sedikit terkilir, ada memar dipergelangan kakinya bisa saja dia sempat menjauhkan tubuhnya dari setir kemudi namun kakinya terkena oleh mobil yang menabraknya. Mungkin sebentar lagi dia sadarkan diri.”


Bianca mengganggu. ”Terima kasih, Dok.” setelah Verrel pergi, Bianca langsung masuk ke dalam ruang rawat yang ditempati oleh Selo.


Bianca meringis saat melihat kepala Selo diperban beruntung tidak terjadi pendarahan di kepala mantan suaminya. “Sello, Kenapa kau begitu bodoh kenapa aku mengorbankan dirimu sendiri,” lirih Bianca


Walaupun merasa bersalah pada Sello, tapi hati Bianca sama sekali tidak tergugah dia hanya sebatas merasa hutang Budi tidak ada perasaan yang lainnya, perasaan Bianca pada Selo sepertinya sudah benar-benar mati hingga dia benar-benar menganggap Sello sebagai saudaranya


Tak lama terdengar suara ponsel Selo yang tadi diletakkan oleh perawat di atas nakas, hingga dia pun langsung melihat siapa yang menelepon ternyata itu adalah Grisya, mantan kakak iparnya dan Bianca pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


Bianca menutup panggilannya setelah mengatakan pada Grisya bahwa Selo dirawat dia pun langsung menyimpan kembali ponsel Sello, Bianca menyimpan kembali ponsel Selo di atas nakas. Tak lama, tatapannya berhenti di dompet milik mantan suaminya, dompet Selo begitu lusuh membuat Bianca meringis. Padahal dulu Sello Selalu memakai yang terbaik bahkan untuk hal sekecil apapun tapi sekarang ...


Bianca menundukkan diri di kursi seraya terus melihat wajah Selo yang masih terpejam. Setengah jam kemudian, pintu terbuka membuat Bianca menoleh ternyata Grisya yang datang.


“ Bagaimana keadaan Selo?” tanya Grisya ketika masuk. Bianca mendudukan dirinya, kemudian menjelaskan kondisi Sello, membuat Grisya menghela nafas , ternyata kondisi adiknya tidak parah.


“Kak, Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak menyangka Sello akan menyelamatkanku,” ucap Bianca, walau bagaimana pun, dia harus minta maaf pada keluarga Sello.


Grisya mengelus punggung Bianca. “Kau tidak perlu minta maaf, tidak ada yang bersalah,” jawab Grisya, Tak lama ponsel Sello kembali berdering hingga kedua wanita itu menoleh ke arah ponsel tersebut, terpampang nama Aghnia di sana, hingga Grisya pun mengangkatnya.


“Sello, kau di mana? ada orang bank yang datang ke apartemen. Bisakah kau pulang aku tidak mempunyai uang untuk membayar hutang kita.” Mata Grisya membulat saat mendengar ucapan Aghnia. Rupanya, Sello mempunyai hutang ke bank, ia membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnisnya Namun ternyata bisnisnya gagal dan Sello terlalu malu untuk menerima bantuan dari kakanya. hingga Sello mengambil jalan pintas.


“Sello kecelakaan datang ke rumah sakit sekarang.” Grisya langsung mematikan panggilannya tentu saja dia sudah memberi tau Sello di rawat di rumah sakit mana.


Aghnia menurunkan ponsel dari telinganya. “Ahh


Sebenarnya dia bisa saja meninggalkan Selo tapi ada orang yang membayarnya agar dia tetap bersama Sello dan mau tak mau dia bertahan bersama suaminya. Tunggu, tiba-tiba satu ide muncul di kepala Aghnia. Dia yang sedang berada kamar, langsung keluar untuk menghadapi orang bank dan menyuruh orang bank datang lagi nanti setelah Selo pulang dari rumah sakit.


Setelah orang bank pergi, Agnia kembali lagi ke dalam kamar dia terpikirkan untuk membawa obat yang selama ini dia simpan, sepertinya akan lebih mudah untuk dia mencampurkan obat saat Selo di rumah sakit.


***


Aghnia berada di depan pintu ruang rawat suaminya. sebenarnya dia malas bertemu dengan kakak iparnya. Tapi mau tak mau, dia harus terlihat baik.


Pintu terbuka, Grisya dan Bianca menoleh, Bianca langsung menatap Aghnia dengan perasaan yang biasa saja, berbeda dengan Grisya yang tanpak menggebu-gebu.


“Untuk apa Sello berhutang?” tiba-tiba Grisya bertanya tentang hutang Sello


Mendengar ucapan kakak iparnya yang tegas dan tatapan Grisya yang tajam Agnia menunduk. “Aku tidak tahu, Kak,” jawab Agnia tentu saja Itu hanya alasan karena dia bingung harus menjawab bagaimana.


“Kau tidak mungkin tidak tahu, dalam peminjaman bank harus ada tanda tanganmu Jadi untuk apa uang itu apa untuk membiayai hidupmu?” tanya Grisya dengan sinis, bahkan nadanya cenderung memojokkan Aghnia.


“ Tidak, Kak. Ak ....”


Tak lama terdengar suara yang lirih dari arah belakang hingga Bianca dan Grisya menoleh ke arah Selo. “Sello, kau tidak apa-apa, apa kau bisa mendengarku dengan baik apa Kau bisa melihatku dengan jelas.” Bianca menodongkan pertanyaannya bertubi-tubi pada Sello. Namun bukannya menjawab, Selo malah tersenyum.


“Syukurlah kau baik-baik saja, Bi” Hanya itu yang bisa Selo katakan, tidak ada rasa tersentuh dalam diri Bianca saat mendengar ucapan Sello yang menghawatirkannya.


“Hmm, aku baik-baik saja.” Tiba-tiba terdengar suara Aghnia dari arah belakang, membuat Bianca menggeser tubuhnya.


“Aku akan menunggu di luar,” ucap Bianca, rasanya tidak enak Jika dia berada di ruang rawat Sello, sedangkan Aghnia ada disana.


Bianca mendudukkan dirinya di kursi tunggu, dia merogoh tasnya lalu mengambil ponsel ternyata ada satu pesan masuk dari Roland.


“Bi, Ayo kita makan siang bersama. Aku akan menjemputmu di rumah sakit.” Tulis Roland dalam pesannya.


“Tidak bisa, Roland aku sedang ada sedikit problem di sini,” jawab Bianca. tiba-tiba satu panggilan masuk ke dalam ponsel Bianca, dan Roland memanggilnya.


“Bianca kau ada masalah apa?” Kok baik-baik saja kan?” tanya Roland terdengar nada suaranya begitu khawatir.


“Aku baik-baik saja hanya saja ....”


“ Tunggu sebentar, aku akan menyusulmu sekarang.”


***


Freed yang ada di depann Roland menoleh. “Kau mau ke mana ?” tanya Freed, karena memang saat ini mereka sedang menikmati coffee di cafe yang tak jauh dari kantor Roland.


“Aku harus menyusul Bianca, sepertinya ada yang terjadi sesuatu dengannya. Jangan pulang ke Amerika sebelum aku mengizinkanmu,” kata Roland, setelah itu, ia bangkit. Seperti biasa Freed hanya berdehem menjawab ucapan Roland, dan setelah Rolan pergi, Freed menelpon seseorang.


“Baiklah aku mengerti,” jawab Freed kepada orang di seberang sana yang tak lain adalah ....