
Tommy menelepon Adrian beberapa kali, tapi Adrian tidak mengangkatnya padahal dia ingin berbicara serius pada lelaki itu. Setelah Mayra mengamuk seperti barusan, Tommy menyadari sesuatu, jika dialah yang berperan penting mengambil situasi. Dialah yang berperan penting untuk membuat semuanya baik-baik saja, itu sebabnya dia mengajak Adrian untuk berbicara, sebab jika keduanya tidak berbicara, tidak akan ada titik temu dan pasti akan terus seperti ini. Dia tidak mungkin menemui Adrian hingga dia memutuskan untuk menelpon lelaki itu.
Tommy kembali menelepon Adrian, hingga kali ini Adrian mengangkat panggilan dari Tommy.
"Halo?" jawab Adrian di seberang sana.
"Adrian, tolong dengarkan ini. Aku berusaha ada di tengah-tengah kalian. Dengarkan aku sebagai orang lain bukan sebagai orang yang akan menikahi mantan istrimu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memberitahukan Salsa bahwa dia bukan anak kandungku. Dia hanya boleh tahu aku ayahnya," kata Tommy dengan penuh ketegasan.
"Tidak bisa begitu. Aku ayahnya." Adrian berbicara dengan tidak terima.
"Jika kau tidak mau, kau tidak akan bisa bertemu dengan Salsa selama-lamanya. Kau mau itu terjadi?" tanya Tommy hingga Adrian terdiam di sana.
"Dengarkan aku, aku akan menikahi Mayra. Mental Salsa dipertaruhkan di sini. Jika dia tahu bahwa kau ayah kandungnya ketika dewasa, bagaimana jika Salsa mengetahui semuanya? Percaya padaku, suatu saat aku akan membawa Salsa ke depanmu, membiarkan Salsa tersenyum padamu, tapi bukan sebagai ayah. Aku harap kau mengerti ini demi mental Salsa dan juga mental Mayra. Setidaknya, lakukan ini untuk menebus kesalahanmu pada calon istriku. Bagaimana, apa kau setuju?" tanya Tommy.
Adrian terdiam di seberang sana. Dia memikirkan ucapan Tommy hingga pada akhirnya Adrian bertanya, "Baiklah. Tapi, boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?" tanya Tommy.
"Jika tidak keberatan, aku ingin meminta Mayra untuk menemui Alice," ucap Adrian.
"Akan kupikirkan itu. Aku rasa Mayra tidak akan keberatan, tapi dengan satu syarat, jangan pernah perlihatkan dirimu lagi di hadapan calon istriku. Aku tidak mau istriku tertekan lagi saat melihatmu," kata Tommy hingga Adrian pun mengiyakan ucapan Tommy.
Tommy pun langsung mematikan panggilannya, kemudian dia berjalan ke arah box karena melihat gerak dari sang putri dan rupanya Salsa membuka matanya.
Salsa membuka mata. Tommy tersenyum kemudian dia mengelus pipi putrinya. Tommy pun langsung menimbang-nimbang putrinya dan sebentar lagi, dia berencana untuk membangunkan Mayra agar memberikan ASI pada Salsa. Saat digendong, Salsa tampak tenang, padahal tadi dia seperti ingin menangis, hingga pada akhirnya dalam gendongan Tommy, Salsa kembali memejamkan matanya dan Tommy pun langsung menyimpan kembali Salsa di boxnya.
Setelah itu, Tommy menyelimuti putrinya kemudian dia berjalan ke arah ranjang, lalu membaringkan diri di sebelah Mayra kemudian dia mendekati Mayra.
Waktu menunjukkan pukul dua pagi.
Tommy meraba-raba sisinya, tidak ada Mayra hingga Tommy membulatkan matanya. Mata Tommy membulat saat tidak ada Mayra di sampingnya. Dia melihat ke arah box bayi di mana Salsa tidak ada di sana.
Seketika, ketakutan melanda Tommy. Dia takut terjadi apa-apa dengan putrinya, hingga dengan cepat dia pun langsung keluar dari kamar karena takut baby blues Mayra kembali kambuh. Namun saat berada di luar, Tommy menghela napas ketika Mayra sedang menimbang-nimbang Salsa.
Rupanya, tadi Salsa menangis hingga Mayra membawanya keluar karena dia tidak ingin membangunkan Tommy. Apalagi selama dia di rumah sakit, Tommy jarang sekali tertidur ketika malam.
"Sayang, kenapa kau di sini?" tanya Tommy ketika menghampiri Mayra.
Mayra tersenyum kemudian menoleh.
"Tadi Salsa menangis. Aku takut kau terganggu," jawab Mayra hingga Tommy langsung mengelus rambut wanita itu.
"Berikan Salsa padaku, biar aku yang menidurkannya. Kau istirahat saja," kata Tommy lagi.
Namun, Mayra menggeleng. "Tidak, kau yang seharusnya istirahat," jawab Tommy.
"Tidak apa-apa." Tommy pun mengambil Salsa dari gendongan Mayra, kemudian satu tangannya langsung merangkul pundak istrinya, lalu setelah itu dia pun langsung membawa Mayra ke kamar.
Mayra membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia meringkuk kemudian menjadikan tangannya sebagai bantalan, lalu setelah itu dia menatap Tommy. Mata Mayra berkaca-kaca saat melihat Tommy mengayunkan Salsa ke sana kemari. Rupanya, Salsa tidak jadi tertidur, itu terlihat karena Tommy terus mengajak Salsa berbicara walaupun Salsa tidak mengerti.
Satu jam kemudian.
"Kau kenapa, hm? Ada yang kau pikirkan?" tanya Tommy. Dia menghapus air mata Mayra.
"Tidak, aku tidak apa-apa.”
“ Sayang. Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja jangan dipendam. Kau boleh bercerita semuanya padaku," kata Tommy lagi.
Bukannya menjawab, Mayra malah berhambur memeluk Tommy hingga Tommy pun langsung membalas pelukan Mayra dan mengelus punggung istrinya.
***
Sementara di sisi lain, Adrian memegang kepalanya yang terasa nyeri. Suara musik yang membesar, membuat sakit yang dirasakan Adrian semakin menjadi-jadi, hingga pada akhirnya Adrian pun menundukkan kepalanya.
Saat ini, Adrian sedang berada di bar. Tadi, setelah Tommy meneleponnya dan mengatakan tentang dia yang tidak boleh mengakui Salsa sebagai putrinya, Adrian langsung pergi ke bar karena rasanya otaknya akan meledak. Belum hilang permasalahannya dengan Alice, dia kembali dihadapkan dengan dia yang tidak akan pernah bisa menyentuh Salsa.
Satu jam kemudian.
Adrian sudah tidak merasa pusing. Lelaki itu pun bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan. Beruntung, Adrian masih bisa berjalan dengan normal hingga dia pulang ke kamar hotel yang dia sewa dengan selamat, apalagi jarak bar dan hotel cukup dekat.
Adrian masuk ke dalam kamar kemudian membanting tubuhnya di ranjang, lalu setelah itu dia menatap ke arah langit-langit. Tak lama, Adrian tertawa keras. Dia bisa saja tertawa, tapi air mata tidak berhenti mengenai wajah tampannya. Saat ini, dia kembali merasakan hancur. Dulu, dia hancur ketika kehilangan istrinya dan sekarang dia juga hancur ketika dia juga kehilangan Mayra.
***
Dua bulan kemudian.
Sudah dua bulan berlalu semenjak Mayra melahirkan dan usia Salsa pun menginjak dua bulan, akhirnya penantian Tommy dan Mayra pun selesai, di mana saat ini mereka akan melakukan pemberkatan di gereja.
Tommy yang sedang menunggu di altar, menoleh ketika melihat suara derap langkah dan ternyata Mayra yang berjalan ke arahnya didampingi oleh Gabriel. Mata Tommy berkaca-kaca dan sedetik kemudian, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu ketika Mayra mendekat. Akhirnya, Tuhan benar-benar mengabulkan doa menjadikan Mayra sebagai istrinya.
"Aku titipkan putriku padamu," ucap Gabriel yang memberikan tangannya pada Tommy.
“Aku titipkan putriku padamu," kata Gabriel hingga Tommy pun mengambil tangan maira kemudian menggangguk ada Gabriel, lalu setelah itu mereka pun menghadap ke depan dan pada akhirnya kedua insan itu pun resmi menjadi pasangan suami istri.
Semua bersorak ketika Tommy mencium Mayra dan pada akhirnya acara pemberkatan pun ditutup dengan makan siang bersama di restoran yang tidak jauh dari tempat mereka menikah. Semua keluarga berbincang-bincang dengan hangat, begitupun dengan Mayra dan Tommy yang berbincang-bincang dengan kerabat mereka.
Suasana sukacita terlihat jelas di restoran tersebut. Tapi sayangnya Mayra tidak menyadari bahwa ada yang mengintip dan melihatnya dari jauh. Dan yang mengintip itu adalah alice.
Kemarin malam, Alice melihat postingan Instagram Mayra di mana Mayra mengatakan akan melakukan pemberkatan di gereja, beruntung Mayra menyebutkan gereja yang akan dijadikan tempat pemberkatan, Karena memang mereka sudah kembali ke Rusia.
Hingga tadi pagi dia meminta sopir untuk mengantarkannya ke gereja tersebut. Saat acara pemberkatan dimulai, Alice sama sekali tidak masuk dia hanya menunggu dan melihat semuanya dari luar.
Ketika melihat Mayra, rasanya Alice ingin menghampiri mantan ibu tirinya tapi dia tidak seberani itu. Dia takut Mayra menolaknya atau Mayra tidak mau mengakuinya atau yang lebih parah dia takut, Mayra berpura-pura tidak mengenalnya hingga pada akhirnya dia memutuskan melihat dari jauh.
Dan ketika semua keluarga Tomi dan Mayra keluar dari gereja termasuk Mayra dan Tommy, Alice langsung bersembunyi lalu dia meminta sopirnya untuk mengikuti rombongan pengantin tersebut dan ketika berada di restoran Alice mengintip dari lua.
Sedari tadi, mata Alice terus berkaca-kaca dia menahan tangisnya agar tidak pecah. Seperti tadi, rasanya dia ingin masuk kemudian memeluk Mayra dengan erat dan mengatakan bahwa dia sangat rindu mantan ibu tirinya. Tapi gadis remaja itu tidak seberani itu hingga pada akhirnya dia hanya bisa melihat dari Jauh.
Sedangkan Mayra, selama ini belum berbicara pada Alice karena dia merasa luka batinnya belum sembuh, Mayra berpikir Alice baik-baik saja karena Alice idak meneleponnya. Padahal Alice tidak meneleponnya karena takut Mayra tidak mengakuinya.
Alice terus melihat ke arah Mayra, dia tidak memperdulikan kakinya pegal, tapi sekitar apa pun Alice menahan tangisnya, pada akhirnya tangis Alice luruh, ternyata dia tidak sekuat itu untuk menahan tangisnya hingga pada akhirnya Alice memutuskan untuk berbalik dan pergi dari restoran tersebut.