
Dengan cepat Dareen berlari ke arah seberang, kepanikan lelaki itu semakin menjadi-jadi ketika suara klakson terus terdengar dan dia bisa melihat sang kakak mengabaikan mobil yang sedang melintas.
“Salsa!" Teriak Dareen dia langsung menarik tangan kakaknya hingga Salsa tersadar. Dengan cepat, Dareen menarik tubuh Salsa hingga setelah itu dia langsung merangkul tubuh kakaknya.
Salsa yang dalam keadaan shock benar-benar tidak percaya bahwa dia sedang berada di tengah jalan, dia juga tidak sadar bahwa dia berjalan terlalu jauh.
“Salsa, Kenapa kau begitu bodoh, apa kau ingin mencelakai dirimu sendiri!” Hardik Dareen ketika dia sudah berhasil membawa Salsa menyebrang.
Sedangkan Salsa masih tidak mencerna apa yang Dareen katakan, karena dia begitu terkejut dengan apa yang dia lakukan.. Mungkin, Jika Dareen tidak melintas, mungkin saja Salsa tidak akan selamat.
“Salsa!” panggil Dareen dengan kesal. Dareen bahkan meninggikan suaranya karena kesal Salsa tidak menjawab. Mendengar teriakan sang adik tiba-tiba Salsa menangis, dia yang sedang kalut ditambah mendengarkan suara Dareen yang meninggi tentu saja semakin merasa sesak hingga Dareen membulatkan matanya dan dengan cepat dia langsung memeluk kakaknya.
Mungkin untuk pertama kalinya Dareen bersikap manis pada Salsa, karena selama ini mereka hanya berdebat berdebat dan berdebat. Shelby yang sedari tadi melihat interaksi Dareen dan Salsa merasa ada yang aneh dengan kakak iparnya, sebab sudah beberapa waktu ke belakang dia sering melihat Salsa melamun.
Ketika Dareen memeluknya, Salsa mengencangkan tangisannya membuat Daren kebingungan, dia tidak mungkin melepaskan pelukannya dari sang kakak walaupun beberapa orang-orang yang melintasnya melihatnya dengan aneh. Hingga 10 menit berlalu, Salsa melepaskan pelukannya dari sang adik, dia sudah mulai tenang.
“Salsa ada apa? apa ada yang tidak beres?” tanya Dareen, Salsa menggeleng.
“Tidak, aku tidak apa-apa,” Padahal dia baru saja melihat hal yang menyakitkan, hingga rasanya Salsa tidak berdaya.
“ Ayo masuk.” Dareen lebih memilih untuk mengajak kakaknya masuk
“ Sayang, ayo masuk,” kata Dareen pada Shelby setelah Salsa masuk ke dalam mobil hingga Shelby pun kembali masuk ke dalam begitupun dengan Dareen.
Dareen menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia melihat ke arah kakaknya dia tahu ini bukan waktu yang pas untuk bertanya kenapa Salsa seperti ini. Sebab dia tahu sekarang Salsa dalam kondisi yang terpukul. Walaupun dia tidak tahu masalah yang menimpa kakaknya dan Dareenn juga tahu, Salsa bukan orang yang terbuka tentang segalanya. Kakaknya cenderung menyembunyikan masalah dan tidak pernah mau berbagi dengan siapapun sekalipun dengan ayah mereka.
“Salsa, Kau ingin aku antar ke mana?” tanya Daren, dia berpura-pura tidak peduli pada Salsa. Sebab dia tahu kakaknya paling tidak suka dikasihani.
“Antar saja aku saja pulang,” kata Salsa hingga Dareen menggangguk, setelah itu Dareen angsung menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah kakaknya.
“ Salsa kau baik-baik saja. Apa ada kau pikirkan?” tanya Dareen ketika mereka sampai di kediaman Salsa.
Salsa menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Ya sudah aku turun." Salsa turun dari mobil, kemudian dia berjalan masuk ke rumah. Ketika salah satu turun, Daren langsung pergi dia melihat kakaknya dengan seksama.
“aku merasa ada yang aneh dengan Salsa,” kata Shelby.
“Hmm, Sepertinya dia sedang mengalami hal berat dan bodohnya dia tidak pernah mau mengatakan masalahnya,” kata deren yang mengumpat sang kakak.
“Ya sudah ayo kita pulang,” kata Shelby Dareen mengangguk, karena memang Salsa sudah tidak terlihat hingga lelaki itu pun langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.
"Apa kau ingin mampir membeli sesuatu?" tanya Darren ketika mereka sudah berada di perjalanan untuk pulang. Shelby tampak berpikir.
"Ayo kita berbelanja ke supermarket. Ada beberapa bahan yang habis,” kata Shelby hingga Darren mengangguk walaupun dia harus memutarbalikkan lagi mobilnya.
Pada akhirnya, mobil Darren terparkir di supermarket yang akan menjadi tempat mereka belanja. Shelby masuk sambil menggandeng tangan Darren membuat Darren cukup terkejut dengan gerakan Shelby, sebab selama ini Shelby tidak pernah mendekatinya terlebih dahulu. Harusnya Darren senang, tapi entah kenapa Darren merasa aneh, ini bagaikan sebuah firasat yang buruk untuknya.
"Kenapa?" tanya Shelby ketika Darren bergerak, "oh maaf, kau keberatan aku merangkul tanganmu?"
Baru saja dia akan melepaskan gandengan tangannya pada lengan Darren, Darren menghentikan gerakannya kemudian menggeleng.
"Tidak, aku hanya terkejut. Tidak biasanya kau bersikap manis, biasanya kau harus selalu dibujuk dulu untuk dekat denganku," jawab Darren.
Shelby tersenyum. Dia sudah banyak berpikir, semenjak percakapannya kemarin tentang membahas masa lalu, dia rasa tidak ada gunanya untuk berpura-pura lagi. Dia menyadari bahwa dia membutuhkan lelaki ini dalam hidupnya, tidak ada alasan untuk terus mengelak.
"Apakah kau keberatan?" tanya Shelby lagi yang gengsi mengakui bahwa dia ingin membuka hatinya untuk Darren.
“Kau terlihat sangat bahagia sekali," ucap Daren membuat Shelby menoleh.
"Aku selalu ingin melakukan ini, berbelanja bersama orang yang aku cint ...." Tiba-Tiba, Shelby menghentikan ucapannya saat tanpa sadar bahwa dia mengutarakan perasaanya, membuat Darren langsung menatap Shelby dengan tatapan tak percaya.
"Orang yang kau cintai? Berarti aku?" tanya Darren dengan seringai menggoda
"Tidak, bukan begitu maksudku," jawab Shelby.
"Oh, kau tidak mencintaiku?" tanya Dareen lagi yang semakin gencar menggoda istrinya.
"Bukan juga begitu," ucap Shelby, "ah sudahlah, kau ini menyebalkan sekali."
Shelby langsung mendahului Darren membuat Darren terkekeh, lalu setelah itu lelaki itu pun langsung mengikuti langkah istrinya dan pada akhirnya acara belanja pun selesai. Darren membawa kresek lalu berjalan ke arah mobil, sedangkan Shelby berjalan di belakangnya dan pada akhirnya mereka sampai di basement apartemennya.
Darren melihat ke arah Shelby, ternyata Shelby sedang tertidur. Rupanya tanpa sadar, wanita itu memejamkan matanya padahal hari masih sangat siang. Sepertinya Shelby kelelahan.
Darren memutuskan untuk tidak membangunkan Shelby. Dia malah mengambil ponselnya lalu memoto Shelby yang sedang tertidur dan mengunggah satu foto ke dalam Instagramnya dengan caption 'wanita terbaik dan terhebat'. Itu adalah unggahan pertama kalinya di sosial medianya, karena selama ini dia tidak aktif di dalam media sosial, karena tentu saja dia sibuk bekerja.
Namun karena Theresia dan Tristan memasuki dewasa, Darren harus mengontrol semua media sosial milik anaknya apalagi Theresia yang notabene seorang wanita yang membutuhkan penjagaan khusus.
Satu bulan kemudian.
Shelby terdiam lesu di atas toilet, di tangannya sudah memegang testpack bergaris dua. Pada akhirnya apa yang dia takutkan terjadi, yaitu dia kembali mengandung. Bukan dia tidak bersyukur, bukan dia tidak ingin mengandung, hanya saja tentang sebuah kehamilan dia bingung bagaimana sekarang caranya memberitahukan pada Daren, Bagaimana jika Darren seperti dulu tidak mau menerima anaknya? Tidak mau menerima kehamilannya? Lalu apa yang harus Shelby lakukan jika Darren seperti itu?
"Sayang." Tiba-Tiba, Darren memanggil dari arah belakang membuat Shelby tersadar. Dia langsung mematahkan testpack lalu setelah itu membuang ke kamar mandi. Tidak, dia belum mau memberitahukan pada Darren bahwa dia sedang mengandung. Dia masih ingin menikmati sikap manis Darren, karena bisa saja setelah Darren tahu dia hamil, Darren akan kembali mencampakkannya.
Shelby bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan ke arah pintu, lalu setelah itu dia membuka pintu.
"Kenapa kau lama sekali? Apa ada yang terasa? Perutmu sakit?" tanya Darren bertubi-tubi, dan ketika mendengar Darren seperti ini rasanya Shelby ingin sekali menangis. Bagaimana tidak, Darren benar-benar membuatnya seperti ratu, memerhatikan sedetail apapun yang terjadi padanya dan rasanya Shelby ingin memeluk suaminya karena dia tidak tahu apakah nanti setelah Darren tahu dia hamil, dia akan seperti ini atau tidak.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Darren yang menyadarkan Shelby dari lamunannya.
"Aku baik-baik saja," balas Shelby yang tidak mau menatap wajah Dareen.
Darren merasa ada yang disembunyikan oleh istrinya, sebab Shelby tidak mau melihat ke arahnya.
"Aku tidak akan pergi ke galeri hari ini, aku ingin beristirahat," ucap Shelby.
Sebelum Darren menjawab, Shelby sudah terlebih dahulu pergi ke ranjang. Dia membaringkan tubuhnya sedangkan Darren yang baru saja akan pergi untuk mandi, membatalkan niatnya kemudian dia berbalik lalu setelah itu dia kembali membaringkan tubuhnya di dekat Shelby, kemudian memeluk Shelby dari belakang membuat Shelby menggigit bibirnya karena pelukan Darren begitu membuatnya takut.
"Kenapa? Ada yang mengganggumu? Jika kau terus diam, aku tidak akan tahu apa yang membuatmu tidak mau menatapku." Lagi-Lagi, ucapan Darren begitu menyakitkan di telinga Shelby. Apakah jika Darren tahu dia mengandung, akan tetap bersikap baik atau seperti dulu? Apa yang dirasakan oleh Shelby bukanlah hal yang berlebihan, mengingat ketika dia mengandung Theresia dan Tristan, dia mendapatkan hal yang menyakitkan dari Darren, hingga rasa percaya itu kembali tumbuh walaupun Darren sudah berubah seratus delapan puluh derajat dan kehidupan mereka sudah membaik.
Terdengar suara isakan dari Shelby dan itu membuat Darren yakin bahwa istrinya sedang mengalami sesuatu, hingga Darren mengangkat kepalanya kemudian menyangganya dengan tangan, lalu setelah itu membelai rambut Shelby. Dia tidak bertanya dan membiarkan Shelby menangis hingga pada akhirnya, Shelby kembali berbalik. Dia sendiri yang mau menatap Darren dan kini posisi keduanya berhadap-hadapan.
"Kenapa? Apa ada yang mengganggumu? Apa aku membuat salah sampai kau tidak mau menatapku?" tanya Darren, mengelus rambut Shelby membuat tangis Shelby yang sempat terjeda kembali terurai. "Katakan, Sayang, ada apa?" tanya Darren lagi.
"Jika aku mengandung lagi, apa tanggapanmu?" tanya Shelby sambil menangis sesenggukan.
Mata Darren langsung berkaca-kaca saat mendengar itu dari Shelby, dan sepertinya dia mengerti dengan apa yang terjadi pada istrinya.
"Kau mengandung?" tanya Darren dengan nafas yang memburu serta nada suara yang berat. Shelby memejamkan matanya kemudian mengangguk
"Kau pasti akan seperti dulu lagi," ucap Shelby sambil menangis layaknya anak kecil. Hingga ....